The Reason part II END (Another Story Of Ooppss!!)

Cast: Han Ha Jae (OC/You), Kim Jong In| Other cast: (temukan sendiri.. ^^) | Genre: Romance, sad, Angst | Rating: PG-17 | Length: Twoshoot| Disclaimer : All story is mine. I Hate plagiat!

TEASER | Part 1

“Namaku Han Ha Jae. Siapa namamu?”
“Jongin… Kim Jong In nona Hajae”

Happy Reading ~.~

Joseon Era

Hajae Pov

3 day latters

Aku sudah menceritakan semuanya pada ibu. Tentang Jiaheng, hubungan rahasiaku dan putusnya kami kemarin. Aku dan ibu menangis bersama karena kejadian ini. Sebenarnya ibu sudah melarang ku datang ke pasar karena itu hanya akan membuat lukaku semakin bertambah. Kalian tentu belum lupa jika kios kecil ibuku bersebrangan dengan toko tuan Li.
Walaupun sakit hatiku belum sembuh, namun aku tetap ingin membantu ibu dipasar. Aku tak mungkin menjadi putri yang egois hanya karena sedang patah hati.

“Eo!! Nona muda Hajae!!”
Aku sedikit tersentak mendengar suara itu, suara yang terasa familiar ditelingaku. Tubuh ini sedikit berputar mencari si pemilik suara.

“Jongin?”
Lagi-lagi pria manis itu tersenyum dan mendekat kearahku.

“Hai…aku tak menyangka kita akan bertemu lagi nona”

“Jangan panggil aku nona. Aku bukanlah dari kasta atas. Aku hanya gadis biasa. Panggil aku Hajae”

Jongin mengerutkan alisnya. Apa aku salah bicara? Tapi memang benar aku bukan gadis dari kasta atas yang pantas dipanggil nona. Soojung lebih cocok dengan sebutan itu.

“Ternyata kau sama saja dengan orang-orang itu. Hey! Sadarlah…tak selamanya kasta bisa dijadikan pedoman. Kau memiliki paras yang pantas disebut nona muda. Jika semua orang selalu menjadikan kasta sebagai pedoman..maka..”

Jongin menggantung kalimatnya

“Maka?” sahutku

“Hehe..aku lupa kelanjutannya”
Aku tertawa lepas setelahnya. Kim Jong In, terimakasih karena kau orang pertama yang membuatku tertawa setelah kejadian itu.

“Aku senang kau bisa tertawa” ucap Jongin seolah mengerti apa yang sedang kupikirkan

“Apa yang kau lakukan disini Jongin?”

“Aku? Aku liburan..sambil mengantar beberapa sayur untuk para pedangang disini”

“Liburan? Kau bekerja?”

“Tidak, aku mahasiswa sungkyungkwan semester 2. Dan saat ini adalah hari cuti untuk para mahasiswa. Eo, apakah kios ini milikmu?”

Aku mengangguk kecil

“Hajae!”
Aku dan Jongin memutar kepala mencari sumber suara itu.

Deg

Soojung dan…Jiaheng?
Sejak kapan mereka bisa sedekat itu? Bahkan tangan merekapun saling bertautan. Ya tuhan apa lagi ini?

Soojung tertawa kecil dan menghampiriku.

“Hajae-ya..apa kau mengenalnya? Dia Li Jiaheng, pria yang dipilihkan ayahku. Dia anak paman Li, pemilik toko disebelah sana”

Aku menatap mata Jiaheng. Sesekali ekor mataku melirik Soojung yang sibuk mengarahkan tangannya ke kios Jiaheng. Sungguh, tak ada hal yang lebih baik selain tiba-tiba menghilang diantara mereka.

“Kau pasti tidak asing dengan temanku ini kan? Tokonya bersebrangan dengan milik ayahmu” Soojung menghadap kesamping tubuh Jiaheng.

“Iya..aku mengenalnya” Jawab Jiaheng singkat

Bodoh

Hatiku semakin sakit…tidak, aku tidak bisa membenci Soojung apapun yang terjadi. Dia juga tak tau apa-apa. Ini salahku karena telah merahasiakan identitas Jiaheng, jika saja aku lebih terbuka pada Soojung. Mungkin perjodohan ini masih bisa dibatalkan. Sekarang aku hanya bisa menangisi kebodohanku.

“Omo Hajae…pria ini..apa dia adalah kekasihmu yang kau sembunyikan selama ini?”

“Mwo? Maksudmu aku?” Jongin membelalakkan mata sambil menunjuk dirinya sendiri. Aku segera menggeleng dan…

Grrepp

Jongin merangkulku, aku menatapnya tak percaya.
“Benar….aku adalah pacarnya. Namaku Kim Jong In” Jongin menglurkan tangannya.
Dapat kulihat Jiaheng semakin terpaku dengan ucapan Jongin.

“Aku Jung Soo Jung”

“Li Jia Heng”

“Hajae-ya..mengapa kau menyembunyikan pria seperti Jongin dari semua orang? Apa kau takut para wanita akan memburunya eoh? Apa jangan-jangan kau juga takut jika aku menyukainya pacarmu?” soojung tertawa ringan sambil menyenggol pelan lenganku

“Ania….bukan begitu Soojung”

“Haaahh sudahlah…tapi seleramu ternyata cukup tinggi Hajae. Eo, Jongin kau bisa membawa Haje menghadiri pernikahanku. Besok aku akan menikah. Kuharap kalian bisa datang”

“Ne aku akan datang Soojung.”
Jawabku dengan senyum dipaksakan.

“Soojung…bisakah aku mencuri temanmu ini sebentar? Kami tadi sedang bertengkar. Jadi aku butuh waktu untuk merayunya lagi”

Aku sontak menatap Jongin tajam. Apa maksud pria ini??

“Omo…pacarmu romantis sekali” pekik Soojung

Tak lama, langkah kakiku bergerak mengikuti Jongin. Yah..setidaknya ini lebih baik dari pada harus melihat Soojung dan Jiaheng. Aku manusia biasa yang juga butuh waktu untuk menerima semuanya.

“Kita sudah sampai”

Jongin mengajakku ke suatu bukit yang luas. Tak terlalu jauh dari pusat kota. Namun karena jalannya yang tidak bisa dilalui tandu dan kuda, makanya bukit ini terlihat sepi.
Jongin merentangkan tangannya dan tersenyum menyambut angin yang menerpa tubuh kami.

Author Pov

“Aku dulu sering kemari bersama ayah dan adikku. Sambil menunggu ibu mengawasi para pekerja kami dan menyiapkan makan malam, kita akan bermain di bukit ini sampai lelah”

Jongin mulai mengajak Hajae untuk duduk bersantai diatas rumput-rumput itu.
Manik mata Hajae menatap hamparan bukit yang luas. Bukit ini indah, saking indahnya sampai Hajae merasa tak asing lagi dengan tempat itu.

“Aku baru pertama kali kesini. Tapi aku sangat menyukai tempat ini” Hajae berujar tanpa menatap Jongin. Gadis itu masih betah terpesona dengan pemandangan bukit.

“Saat aku merasa sedih, atau merindukan Ayah dan adikku…aku pasti akan mengunjungi tempat ini”

“Merindukan Ayah dan adikmu? Kemana mereka?” Hajae melipat lututnya dan menatap Jongin dari samping

“Mereka meninggal dalam kecelakaan sewaktu aku masih berumur 7 tahun. Saat kami sedang dalam perjalanan kerumah nenek, tandu yang ditumpangi mereka jatuh ke sungai. Mayat ayahku ditemukan 3 hari setelah kejadian itu, namun Seo In….”

Rasa sesak itu tiba-tiba muncul bergemuruh di dada Jongin. Entah mengapa sampai saat ini lidah Jongin terasa kelu saat mengucapkan nama adiknya. Secara spontan tangan Hajae tergerak untuk membelai punggung Jongin. Memberikan sedikit kekuatan pada pria itu

“Mayat Seo In belum ditemukan hingga saat ini. Mereka selalu berkata bahwa mungkin saja mayat adikku sudah dimakan buaya atau hewan buas lainnya. Tapi aku tetap yakin suatu saat nanti pasti bisa memeluk nisan adikku atau mengetahui dimana makamnya”

Air mata Jongin sudah tak dapat dibendung lagi, keluarganya dulu begitu sempurna hingga kecelakaan itu. Ibu Jongin bahkan tak mau memakan apapun selama 3 hari saat mengetahui suami dan putrinya telah tiada.

“Jonginna…kupikir kita sama. Aku juga sampai saat ini tak tau tentang keberadaan kedua orang tua kandungku. Apakah mereka masih hidup? Atau telah tiada. Han Heebeen adalah seorang malaikat yang berbaik hati mau mengangkatku sebagai anaknya. Ia menemukanku sebatang kara saat itu. Aku sudah lupa kejadian persisnya seperti apa. Yang kuingat adalah, aku memiliki ibu angkat yang sangat baik dan mencintaiku dengan tulus. Banyak orang berkata bahwa mungkin saja kedua orang tuaku membuangku karena aku tak pantas. Tapi ibu selalu meyakinkanku bahwa pasti keadaannya bukan seperti itu. Bahwa sebenarnya bukan keinginan dari orangtuaku untuk berpisah denganku”

“Ibumu benar…pasti kau terpisah bukan karena keinginan orang tuamu. Mungkin saja mereka terpaksa berpisah denganmu”

Jongin menggenggam erat tangan Hajae, seolah tak ingin ada yang memisahkan mereka. Ini konyol, mereka bahkan baru saja berkenalan. Tapi mengapa rasanya sudah sedekat ini. Apa ini bisa disebut cinta?

“SEO IN-AH…ORABEONI(kakak laki-laki) BERJANJI AKAN MENEMUKAN MAKAM-MU!! AKU BERJANJI AKAN MENGANTAR IBU UNTUK MENGUNJUNGI MAKAM-MU SUATU SAAT NANTI. KAU HARUS MENUNGGU LEBIH SABAR LAGI NE!!! NE!!” Jongin berteriak di tengah hamparan rumput yang luas, sambil memandang langit biru.

“EOMMA APPA!! DIMANAPUN KALIAN BERADA, KUHARAP KALIAN BISA TERUS BERBAHAGIA. AKU DISINI MAKAN DENGAN BAIK DAN HIDUP DENGAN SEHAT. KALIAN TAK PERLU MENGKHAWATIRKANKU, ARRA!!! AKU BAIK-BAIK SAJA!” Hajae juga berteriak untuk kedua orang tuanya.

Mereka berdua terengah-engah, kedua pasang mata itu bertemu dan saling melempar senyuman. Kedua pasang mata yang apabila di perhatikan lagi, terlihat mirip. Apa ini karena faktor mereka memiliki kisah yang sama walaupun dalam konteks yang berbeda?
Hati Jongin tiba-tiba menghangat saat bertatapan dengan sepasang mata Hajae. Seperti menemukan sesuatu yang telah hilang selama ini. Sebenarnya ini sangat tidak masuk akal bagi Jongin. Bagaimana bisa ia merasa nyaman pada gadis yang baru saja dikenalnya. Sedangkan sebelum ini Jongin adalah mahasiswa dingin yang sangat pemalu pada lawan jenis. Tapi hatinya berkata bahwa Hajae berbeda, tatapan mata gadis itu membuat kegelisahan yang selama ini tumbuh dalam diri Jongin, menjadi lebih tenang. Iya…Jongin merasa tenang bersama Hajae, ia merasa tak ada lagi yang perlu dicari atau ditangisi. Hajae…Han Hajae, apa sebenarnya yang kau punya?
.
.
.
Waktu terus berlalu, tak terasa sudah 6 bulan Hajae menjadi akrab dengan Jongin. Mereka terus melakukan surat-menyurat saat Jongin sedang dalam masa pendidikan. Gadis itu bahkan telah lama melupakan perasaannya pada Jiaheng. Bukankah ia tak seharusnya tetap bertahan mencintai suami sahabatnya? Apa salah nya jika sekarang Hajae mulai membuka hati untuk Jongin. Pria itu bahkan terlihat lebih baik daripada Jiaheng (dimata Hajae). Besok Jongin berjanji akan menemuinya karena pria itu sedang dalam masa cuti mahasiswa. Seharian ini Hajae terus tersenyum membayangkan tempat-tempat indah yang akan didatanginya bersama Jongin.

“Besok kau jadi bertemu dengan Jongin?” Tanya Heebeen

“Ye eomma”

Heebeen tersenyum melihat binar mata dari sang putri.

Next Day

“Hai..kau sudah lama menungguku?” ucap Jongin yang kini menempatkan diri duduk disebelah kekasih-nya.

“Ani…aku juga barusan datang” Jawab Hajae

Jongin menyerahkan sebuah kotak makanan untuk Hajae. Sedangkan gadis itu menatap Jongin bingung.

“Ibuku yang membuatkannya khusus untukmu. Ia ingin kau menghabiskan semuanya”

Mata Hajae membulat sempurna. Ibu Jongin? Apa benar ibu Jongin yang membuatnya? Apa itu artinya Ibunya mau menerima gadis biasa seperti Hajae?

“Jonginna…ibumu mengetahui hubungan kita?”

“Tentu saja! Aku adalah anak satu-satunya. Aku selalu menceritakan apapun kepada ibuku. Termasuk dirimu. Aku berkata bahwa kekasihku menyukai kimbab dan telur gulung, beliau langsung berkata ingin membuatkan bekal khusus untukmu. Wae, apa kau merasa terganggu?”
Jongin menatap Hajae dengan teduh, secara otomatis membuat jantung Hajae berpacu lebih cepat dari biasanya.

“Bu-bukan begitu…apa ibumu tau latar belakangku? Maksudku, aku hanya gadis biasa yang-“

“Ssstt….” Jongin menangkup wajah murni Hajae dengan kedua tangan besarnya. Ibu jarinya membelai pipi lembut Hajae dengan hati-hati, seolah takut melukai pipi mulus gadisnya.

“Hajae-ya…kau bukan gadis biasa. Kau murni, aku suka itu. Ah tidak, aku amat menyukainya. Ibuku-pun juga sama. Tak semua orang di Joseon masih mendewakan kasta Hajae. Keluargaku tak pernah ambil pusing dengan hal seperti itu. Aku sudah menceritakan semuanya pada ibuku, namun dia tetap menyukaimu. Ibu berharap bisa segera menemuimu”

“Jinjjayo?”
Jongin mengangguk dan mulai mebuka kotak makan itu. Setelahnya tangan besar Jongin terulur menyuap Hajae dengan telur gulung.

Bahagia…Hajae merasa amat bahagia dan bersyukur pada surga. Ia tau betul latar belakang keluarga Jongin. Jongin bukan orang biasa, pria itu berada di kasta yang sama dengan Jiaheng dan Soojung. Namun, keluarga Jongin menyukai kesederhanaan dan menghargai budak. Jongin tak pernah menyebut pelayan keluarganya sebagai budak, tapi ‘Pekerja kami’. Sungguh manis bukan? Hajae agak menyesal, mengapa surga tak mempertemukannya dengan Jongin lebih dulu sebelum Jiaheng. Dengan begitu maka ia mempunyai lebih banyak waktu untuk mencintai seorang Kim Jong In.

Mereka kini telah berada di depan rumah Jongin. Tangan Hajae bahkan terasa kebas, demi apapun ini pertama kalinya bagi Hajae. Sebelumnya gadis itu hanya menjalani hubungan rahasia tanpa ada seorangpun yang tahu. Namun kini…bisakah hubungan ini dikatakan serius? Mengingat Jongin begitu bersemangat mengenalkan Hajae pada ibunya.

“Tak apa, ibuku tak akan memakan mu. Dia wanita yang baik”
Bisik Jongin sambil menuntun Hajae memasuki pekarangan rumahnya.

“Jonginna…”
Seorang wanita paruh baya, menghampiri mereka. Suaranya terasa amat lembut ditelinga Hajae. Jujur saja, hati-nya merasa tenang mendengar suara ibu Jongin.

“Eomoni…kau berkeringat? Apa kau berkebun lagi eoh?” Jongin mengusapkan sapu tangannya di kening sang ibu. Pria itu memang tak pernah suka jika ibunya mengerjakan pekerjaan kasar. Biasanya ibu-ibu dari kasta atas seperti orang tua Jongin, selalu mengadakan pertemuan khusus seperti memamerkan kain sutra mereka atau emas nya. Namun, ibu Jongin berbeda…ia tak menyukai kegiatan semacam itu. Dia lebih tertarik dengan berkebun bersama para pekerja mereka sambil sesekali bersenda gurau. Jongin tau betul ini dilakukan oleh ibunya agar tak lagi sering bersedih, memikirkan mayat sang adik yang hingga kini belum ditemukan.

“Aku masih terlalu muda untuk duduk diam dirumah seharian tanpa melakukan apapun” wanita itu berujar dengan senyumannya.

Tanpa disadari Hajae ikut tersenyum mendengar penuturan ibu Jongin.

“Omo…apakah dia Han Ha Jae?”

“Ye..eomoni. dia Hajae. Aku membawanya untuk mu” Jongin tersenyum bangga

“Anyeong nyonya, saya Han Ha Jae. Senang bertemu dengan anda” Hajae membungkuk melakukan penghormatan pada ibu Jongin.

“Aigoo…jangan memanggilku nyonya. Pangil saja aku eomoni”

Ibu jongin langsung merangkul lengan Hajae. Ia sangat menyukai Hajae walau baru kali ini bertemu, dan dalam hatinya sangat yakin bahwa Hajae gadis yang baik.

“N-ne eomoni” Hajae gugup namun juga bahagia.

“Hajae-ya..apa kau bisa membuat kimchi?”

“Ye eomoni”

“Assaa!!! Mari kita membuat kimchi bersama” Jang Dae Yoon (ibu Jongin) segera mengajak Hajae untuk melangkah ke dapur, meninggalkan Jongin sendirian.

“YA! Eomoni! Hajae-ya! Kalian meninggalkan-ku? Aigoo dasar wanita” Jongin pura-pura kesal menatap punggung kedua wanita yang amat dicintainya.

“Hyung! Kau perlu bantuan?” Jongin menawarkan bantuannya pada salah satu pekerja yang terlihat kerepotan membawa dua karung lobak.
.
.
Hajae dan Daeyoon tengah duduk di meja makan dengan pandangan antusias terhadap Jongin. Mereka menantikan reaksi Jongin setelah makan kimchi hasil karya kedua wanita itu.

“Otte, Jonginna??” Tanya Daeyoon

“Rasanya seperti biasa. Wae?” Jongin menjawab dengan santainya

“Aigoo, tak bisakah kau mengatakan sesuatu yang lain? Kali ini Hajae ikut memasak. Ternyata kau sangat buruk dalam hal menjaga perasaan wanita. Pantas saja kau tak pernah berkencan diusiamu yang sudah tua ini”

“Eomoni hentikan…jangan mempermalukanku di depan Hajae” ucap Jongin sambil terus menyantap kimchi-nya

“Aku berbicara sesuai dengan kenyataan. Omo…jadi kapan kalian akan segera menikah?”
Pertanyaan Daeyoon sontak membuat Jongin dan Hajae tersedak. Wajah mereka bahkan merona dengan cepat.

“Eomoni..aku bahkan belum lulus”

Jongin merasa ini mungkin terlalu cepat bagi Hajae, mereka baru menjalani hubungan selama 6 bulan. Setidaknya tunggu sampai Jongin lulus, dan Hajae bisa benar-benar yakin terhadapnya. Jongin tau Hajae sangat mencintai Jiaheng dulu, mungkin saja saat ini ia belum bisa benar-benar melupakan suami Soojung itu. Tapi percayalah, itu hanya pemikiran Jongin saja. Tuan muda kim belum sadar betul bahwa Hajae memang sudah memihaknya 100%.

Hajae sebenarnya agak kecewa dengan jawaban Jongin, dia ingin menjadi bagian dari keluarga ini. Namun sepertinya gadis itu perlu bersabar lebih lama lagi.

“Eyyhh…. Temanmu Joonmyeon bahkan sudah memiliki bayi arra? Dia juga bisa tetap melanjutkan kuliahnya. Lagipula tidak baik pria sepertimu terus-terusan menyentuh kulit seorang gadis polos seperti Hajae”

“Emoni!” Baiklah, kali ini Jongin benar-benar merasa malu sekaligus tak enak dengan Hajae.

“ Emoni sangat menyukai Hajae, jadi cepatlah menikah ne? ne?”

“Jongin membutuhkan waktu untuk berpikir lagi eomoni. Pernikahan bukan hal yang sepele” Hajae berujar sambil tersenyum menatap ibu dan anak itu.

“Tapi bagaimana denganmu Hajae-ya? Kau setuju kan dengan pernikahan ini? Jongin akan lulus 5 bulan lagi, baimana jika kalian menikah satu minggu setelah kelulusan Jongin eoh?”

Baru saja Hajae ingin menjawab, namun ekor matanya tanpa sengaja menatap lukisan seorang pria. Hajae jelas tak asing dengan pria itu. Entah kenapa tubuhnya menengang karena menatap mata lukisan pria itu. jangan…kumohon jangan…aku tak siap dengan kenyataan ini. Pikirannya seolah menerawang pada percakapannya dengan Jongin di bukit itu. otakknya menyusun beberapa cerita Jongin dengan kehidupan masa lalunya.

“J-jongina, pa-paman itu..apakah dia juga keluargamu?” tangan Hajae bergetar menunjuk lukisan pria itu

Pertanyaan Hajae langsung membuat Jongin dan ibunya menatap Hajae intens.

“Kau mengenal ayahku?”

Deg

Kalimat Jongin membuat air mata Hajae meluncur begitu saja. Dia merasa hatinya amat sakit. Hajae sungguh mencintai Jongin dengan segenap hatinya. Kenapa takdir begitu kejam. Hajae menangis pilu di pelukan ibu Jongin. Wanita itu tak tau apa-apa, namun nalurinya membuat kedua tangan itu tergerak memeluk Hajae penuh kasih. Sedangkan Jongin, hatinya tiba-tiba berdegup amat kencang. Dia takut melihat Hajae yang menangis pilu, Jongin terus berdoa agar ia dan Hajae bisa bersatu sebagai pria dan wanita. Iya, dia tidak ingin membayangkan hal miris apapun itu.
.
.
.
“Hajae kutemukan dalam keadaan penuh luka seperti telah terlibat sebuah kecelakaan tragis. Dan aku menemukan lukisan seorang pria dewasa merangkul seorang pria kecil dan Hajae, di dalam tasnya pada saat itu. Aku mengenalkan pria dewasa itu adalah ayahnya dan pria kecil itu adalah kakaknya. Karena aku pikir seperti itu” Heebeen memberikan penjelasan kepada dua orang dihadapannya, sesekali ia menoleh kebelakang melihat putrinya tengah bersandar pada dinding, dengan tatapan kosong.

“A-aku yang melukis mereka. Ini, lukisanku” Daeyoon bergetar mengucapkan hal itu, tangannya menggenggam lukisan Jongin, Seoin dan ayah mereka. Ia juga meremas tas kain yang dikenakan Seoin saat kecelakaan itu terjadi.

“Jadi, kalian benar-benar keluarga Hajae?” mata Heeben berkaca-kaca menatap Jongin dan Ibunya.

Heebeen selalu pergi ke kuil untuk memohon pada surga agar mempertemukan Hajae dengan keluarga kandungnya. Ia ingin Hajae-nya bahagia, namun bukan pertemuan seperti ini yang diharapkannya.

“Seo in dan ayahnya terlibat sebuah kecelakaan tragis, saat mereka hendak menjemputku dan Jongin yang sedang berlibur ke rumah ibuku. Tandu mereka jatuh ke jurang. Mayat suamiku ditemukan setelah 3 hari berita kecelakaan itu, namun putri kecilku. Hiks…sepatu putriku ditemukan mengambang disungai bersama dengan hiasan rambutnya. Aku melihatnya…sepatu dan hiasan rambut Seo In penuh dengan bercak darah. Itu yang membuat kami semua berasumsi bahwa mayat Seo in telah dimakan hewan buas”
Jongin merangkul sang ibu yang tengah menangis sambil memberikan penjelasan kepada Heebeen. Jongin tak mampu mengucapkan sebuah kalimat, percayalah…hatinya amat sakit walaupun diluar ia Nampak tenang.

Heebeen lantas beringsut duduk disebelah Hajae sambil memeluk gadis malang itu. dia tau bahwa Hajae sangat berharap banyak pada Jongin, namun apa daya harus seperti ini kenyataannya.

“Seo In-ah..bolehkan eomoni memelukmu eoh? Uri Seoin(Seoin ku) hiks” Dae Yoon ikut duduk disebelah Hajae sambil menatap mata kosong putrinya.

“Namaku bukan Kim Seo In. Aku Han Ha Jae eoh? Namaku Ha Jae. Han Ha Jae” Hajae meremas Hanboknya sambil menunduk
Ia tak sanggup bertatapan mata dengan ibu Jongin

“Arraseo..Hajae-ya… anakku, bolehkah aku memelukmu?” hati Daeyoon teriris menyaksikan putrinya yang kini lebih mirip mayat hidup, padahal tadi pagi ia melihat Hajae tersenyum bahagia saat di dekat Jongin.

“Aku bukan anakmu. Aku Han Ha Jae”

“Kim Seo In jeball” Jongin memohon di depan Hajae. Demi ibunya, iya…ini semua pasti yang terbaik

“ANIA! Namaku Han Ha Jae!!! Aku bukan adikmu!!! Aku bukan Kim Seo In!!!” Hajae menangis pilu menatap Jongin. Gadis itu juga meraung merasakan hatinya yang sangat perih. Dae Yoon reflex memeluk Hajae saat mendengar tangisan pilu gadis itu.

Mereka semua menangis. Ini harusnya menjadi momen bahagia.

Parang Junior High School 2009

“Waahhh…nama lainmu ternyata Kang Hyo Bin” Joona menatap teman di depannya

“Lumayan juga” Ucap Seukhye sambil menatap kertas berisikan tanggal bulan dan tahun kelahirannya.

“Hyun Soo-yaa! Apakah kau tak ingin mencoba?” Tanya Seukhye pada teman sebangkunya itu

“Shireo! Tadi malam aku sudah mencobanya, tapi hasilnya aneh” Hyunsoo menompang dagu diatas lipatan tangannya

“Haha…waeyo? Tadi malam kau sangat antusias hingga mengirimiku banyak SMS. Setelah mendapatkan jawabannya, kau malah seperti ini dasar aneh. Padahal namamu juga tak buruk menurutku” Joona menggelengkan kepalanya prihatin melihat Hyunsoo yang masih sangat labil, padahal mereka sudah menjalani tahun kedua di SMP.

“Jinjjayo? Jadi siapa nama lahir Hyunsoo?” Seukhye bahkan mencondongkan kepalanya kebelakang, penasaran dengan jawaban Joona.

“Hyunsoo lahir 9 Juli 1996. Karena angka belakang tahun-nya 6, maka nama marganya adalah Han. Karena ia lahir pada bulan juli maka nama tengahnya adalah Ha. Dan angka 9 adalah Jae. Han Ha Jae, itulah nama lahir Hyunsoo”

“Whoaa… namamu bagus Hyunsoo, kenapa kau malu eoh?” Seukhye menyenggol pelan lengan Hyunsoo, sedangkan gadis itu hanya diam sambil cemberut

“Aku bahkan telah mencoba sebuah aplikasi dan mencari nama lain Hyunsoo selain Han Ha Jae. Dan nama lainnya adalah Kim Seo In. heuuhh, tapi Hyunsoo tetap tak menyukainya” Joona memanyunkan bibirnya imut, pikirannya melayang pada kejadian semalam. Kadang ia terkekeh sendiri mengingat reaksi Hyunsoo.

“Aiihhh…Hyunsoo benar-benar tak tau diuntung, namanya sudah bagus kenapa ia malah tak suka. Ckckck” Seukhye mencibir Hyunsoo

“Bagus apanya?! Aku tak suka nama Han Ha Jae, itu nama kuno. Dan Kim Seo In, aigoo…nama macam apa itu? aneh, aku tak menyukai keduanya. Untung eomma dan appa memberiku nama Shin Hyun Soo. Nama itu lebih baik dari semuanya”

“Cih..percaya diri sekali. Eoh, Joona-yah..aku ingin mencoba aplikasi nama-mu itu. jadi apa nama aplikasinya?”

“Joseon era…entahlah, nama aplikasinya seperti itu” Joona mengendikkan bahunya

Back to Joseon Era

“Seo In-ah…malam ini tidurlah dengan eomoni ne? aku sangat merindukanmu” ucap Daeyoon berkaca-kaca

Satu minggu setelah identitas aslinya terungkap, Hajae mulai ikut tinggal bersama dengan Jongin dan ibunya. Penampilannya pun berubah menjadi gadis dengan kasta atas, hanbok sutra kualitas nomor satu, perhiasan dan makeup yang mahal kini menjadi miliknya. Tapi kita semua tau, bukan ini yang diinginkannya. Jujur saja, ini masih sangat berat bagi Hajae.

Namun ikatan batin ibu dan anak tetap menang jauh, tak peduli seberapa sakit dirinya, gadis itu tetap memutuskan untuk tinggal seatap dengan keluarga kandungnya.
Hajae memandang nanar pada ibunya, dia juga merasa bersalah. Bukan hanya dirinya yang tersakiti disini. Ibu kandungnya juga sakit, apalagi dengan sikap Hajae yang pendiam dan dingin sekarang.

“Eomoni” bisik Hajae, gadis itu menangis sambil memeluk sang ibu. Daeyoon sendiri langsung membalas pelukan Seo In. akhirnya sang putri mau menerimanya. Jika diingat-ingat ini pertama kalinya Ha Jae mau menyebutnya eomoni setelah identitasnya terungkap.
.
.
Hajae menatap langit-langit kamar ibunya, ia ingat sekarang. Gadis itu mengingat semuanya.

Flashback

“Orabeoni(kakak laki-laki), jangan tinggalkan aku lagi” Seoin merengek menatap Jongin yang tengah sibuk menenangkan gadis itu

“Aku minta maaf Seoin, aku janji tak akan meninggalkanmu lagi. Maaf, karena aku berlari terlalu kencang hingga kau tertinggal jauh”

“Aku benci sendirian. Kau harus tetap berada disampingku seperti eomoni dan abeoji. Abeoji tak pernah berlari kencang hingga meninggalkan eomoni” Seo In kecil memanyunkan bibirnya lucu

“Arrasseo, kita akan bersama terus seperti eomoni dan abeoji. Tapi itu tandanya kita juga harus menikah seperti mereka” Jongin kecil tertawa menatap mata Seo In, entah mengapa pria itu amat bahagia menatap adiknya. Dia belum sadar bahwa ini sangat salah

“Aku ingin segera menikah denganmu Jongin orabeoni. Aku akan mengatakan pada eomoni” Seo In kecil tak kalah bersemangat.
.
.
Seo In kecil berlari menghampiri Daeyoon yang saat itu tengah melukis bunga di depannya.

“Eomoni! Aku ingin menikah dengan Orabeoni (kakak laki-laki era Joseon). Aku ingin terus bersama Orabeoni seperti eomoni dan abeoji”

“Tidak bisa sayang. Seo In dan orabeoni adalah saudara. Kalian tidak bisa menikah” Daeyoon membelai lembut surai putri kecilnya

Mimik Seoin langsung berubah drastis. Tersirat sebuah kekecewaan yang mendalam dari tatapan mata gadis berusia 3 tahun itu. Seoin menangis.

“Huwaaa….hiks..aku tak mau menjadi saudara Jongin orabeoni. Aku ingin menikah dengannya. Hiks..eomoni, tolong bantu aku. Huwaaa….hiks” Seoin menangis kencang, membuat Daeyoon akhirnya mengalah. Dia tau Seoin masih terlalu kecil dan belum mengerti betul apa yang telah keluar dari mulutnya.

“Arraseo arraseo…Seoin bukan saudara Jongin orabeoni. Jadi jangan menangis lagi ya? Putriku terlihat buruk saat menangis” Daeyoon menepuk pelan bahu Seoin. Dan gadis kecil itu mulai berhenti menangis.

Flashback end

Ingin rasanya Hajae berteriak, dia sadar. Ini bukan pertama kalinya ia kecewa. Bukan…masalahnya tidak se-sederhana itu. Hajae menyadari bahwa dirinya sudah mencintai Jongin sebagai pria saat masih berumur 3 tahun. Dan dia salah jika menganggap Jiaheng adalah cinta pertamanya. Cinta pertama Hajae adalah Kim Jong In, kakaknya sendiri. Mengapa mereka harus saling mencintai jika ternyata ini adalah dosa besar? Hajae merasa sangat berdosa kepada ibu dan ayahnya. Dia amat malu, karena cintanya untuk sang kakak sangat besar.

Langkah kaki Hajae menelusuri rumah Jongin, dia meninggalkan sang ibu yang tengah tertidur pulas. Tentu saja, ini masih jam 11 malam. Hajae tak bisa tidur karena potongan masa lalu yang terus berputar dengan tak tau diri, di dalam pikirannya. Perlahan ia membuka pintu rumah, berusaha agar tak menimbulkan suara sedikitpun. Hajae tak ingin membangunkan Jongin ataupun ibunya. Gadis itu perlu waktu untuk sendiri(lagi)

Deg

Jantungnya berpacu amat cepat saat melihat Jongin yang tengah duduk di gazebo halaman rumah mereka, sambil terus memandangi bintang. Hajae refleks menahan nafasnya, dan itu membuat Jongin menyadari keberadaannya. Pria itu menoleh ke arah pintu rumah, sedikit terkejut mendapati sosok yang sangat dicintainya(hingga saat ini) tengah berdiri terpaku.

“Kau berniat untuk kabur?” Tanya Jongin dengan datar

Hajae hanya menggeleng sebagai jawaban. Dia merasa amat canggung, karena sejak seminggu lalu sepatah kata pun tak pernah ia keluarkan untuk Jongin. Hajae melangkah perlahan menuju gazebo dan duduk disebelah Jongin.

“Aku tak akan kabur. Jadi kau tenang saja” jawab gadis itu pelan

Jongin meremas tangannya sendiri. Dia merasa berdosa karena saat ini, ia sangat ingin mendekap Hajae sebagai kekasihnya. Bukan Seoin yang sebagai adiknya.

“Aku mencintaimu Jongin” Hajae berucap tanpa menatap lawan bicaranya. Ia menatap langit yang malam ini terlihat lebih cerah dari biasanya.

“Aku yakin perasaanmu akan hilang dengan sendirinya. Perasaanmu tumbuh karena selama 6 bulan terakhir kita menjalani sebuah hubungan. Itu jelas bukan perasaan yang kuat”

Sebenarnya perlu kekuatan batin bagi Jongin untuk mengucapkan kaliamat itu. Bagaimanapun juga dia sangat mencintai Hajae lebih besar dari yang gadis itu pikirkan. Tak peduli walaupun bulan depan ia akan membicarakan sebuah pernikahan dengan gadis lain, tapi tetap hatinya tercipta untuk Hajae…selamanya.

“Ini tak se-sederhana yang kau kira. Aku sudah ingat semuanya. Ak-aku mencintaimu sejak dulu, saat masih berusia 3 tahun. Aku yakin kau masih ingat percakapan kita tentang pernikahan saat itu. Aku sudah mencintaimu bahkan saat aku tau bahwa kita bersaudara. Perasaan kecewa ini tak asing lagi bagiku. Aku sudah pernah menangis dan memohon pada eomoni saat itu agar kita bisa menikah”

Hajae sama sekali tak ingin menangis dihadapan Jongin, tapi Kristal bening itu tetap mengalir bagai sungai di pipinya.

“Ha Jae…” Jongin menatap mata Hajae yang tengah memandangnya nanar. Demi tuhan saat ini dia juga ingin menangis bersama Hajae. Matanya bahkan sudah mulai berkaca-kaca. Dia muak pura-pura tegar di depan adik dan ibunya.

“Bulan depan kau akan melamar seorang gadis bukan?” Hajae menggenggam tangannya sendiri, berusaha menguatkan batin saat mengucapkan kalimat itu. Ia kemudian tertawa miris.

“Haha…aku tak menyangka, harus memberikan pria yang sangat kucintai kepada gadis lain lagi. Aku sudah mengalah pada Soojung dan memberikan Jiaheng begitu saja. Dan sekarang surga menyuruhku memberikanmu kepada gadis lain juga? Kenapa tak sekalian mengambil nyawa ku lagi hah?”

Walaupun suara Hajae terdengar parau, namun Jongin tahu bahwa gadis itu sangat marah sekarang. Tangan besarnya mulai menggenggam erat tangan Hajae. Dia menangis, runtuh sudah pertahanannya selama ini. Jongin merasakan rasa sakit Hajae.

“Aku benar-benar mencintaimu Jongin….sangat mencintaimu dan-“

Chu

Jongin tak tahan, dia mempertemukan bibirnya dengan bibir Hajae lembut. Ini pertama kalinya bagi Jongin maupun Hajae sejak mereka menjalin hubungan 6 bulan yang lalu. Mari kita lupakan sejenak tentang status saudara bagi mereka. Jongin ingin menyalurkan perasaannya pada Hajae, tangan besarnya menarik pinggang Hajae, memperkecil jarak tubuh mereka. Hajae yang tadinya cukup terkejut, kini mulai menikmati kecupan demi kecupan yang diberikan oleh Jongin, dia merasa amat lega sekarang. Perlahan ciuman Jongin turun ke-leher Hajae, mengcupnya banyak-banyak tanpa meninggalkan bekas. Tangannya mulai bergerak menyentuh bagian yang disukainya, sedangkan Hajae mulai merintih pelan. Jongin melepas hanbok bagian atas Hajae dengan perlahan. Mengecupi bahu dan sesekali memberikan tanda kepemilikan di dada Hajae. Ia lalu kembali melumat bibir Hajae yang sudah membengkak akibat ulahnya, sesekali tangannya meremas pantat Hajae.

“Hhhh…aku sangat mencintaimu Hajae, itu sebabnya aku merasa sangat berdosa sekarang”

Jongin melepaskan tautan mereka sambil mempertahankan jarak keintimannya. Kedua tangannya masih menangkup kepala Hajae.

“Mari kita melakukannya. Kita lakukan apa yang biasa dikerjakan oleh sepasang kekasih sampai matahari terbit. Aku mohon, kita bisa pergi berkencan dan setelah itu kembali ke rumah ini sebagai kakak dan adik. Aku berjanji akan menganggapmu sebagai kakak setelah ini dan menghapus perasaanku. Aku akan hidup dan mati sebagai Kim Seo In suatu saat nanti. Malam ini, anggaplah aku sebagai Han Ha Jae eoh? Ayo berkencan denganku untuk terakhir kalinya” Hajae menatap mata Jongin

“Arra….malam ini hingga matahari terbit, kita singkirkan fakta bahwa kau adalah adikku. Hingga matahari terbit, kau adalah kekasihku. Han Ha Jae” Jongin tersenyum hangat dan dibalas Hajae dengan kecupan singkat di bibirnya.

“Tapi kau, harus segera memakai Hanbokmu lagi dengan benar. Aku tak ingin kehilangan kendali malam ini” ucap Jongin dengan seduktif di telinga Hajae, membuat gadis itu langsung merona dan segera mengambil bagian atas hanboknya.
.
.
Mereka berjalan beriringan menuju pasar malam, sebentar lagi tepat jam 12 malam dan akan ada banyak lampion yang diterbangkan saat itu. Jongin dan Hajae menikmati kencan mereka, kedua insan itu bersemangat menyaksikan lampion-lampion itu berterbangan. Jongin memeluk Hajae dari belakang dengan erat, karena Hajae mengeluh kedinginan sejak tadi.

“Apa masih dingin hm?” bisik Jongin di telinga Hajae

“Sudah tidak lagi” Hajae menjawab singkat karena ia terbuai dengan keindahan lampion itu.

Jam masih menunjukkan pukul 2 dini hari dan pesta lampion telah usai.

“Aku tau rumah makan yang masih buka jam segini” ucap Jongin antusias sambil terus menggenggam lengan Hajae

“Jinjjayo? Apakah kau yakin enak?” Tanya Hajae

“Tentu saja! Aku berkali-kali kemari bersama teman-teman kampusku”

Jongin mengajak Hajae untuk duduk di tempat makan yang sudah dipilihnya. Mereka memesan sup ayam kimchi dan juga sedikit alcohol untuk menghangatkan tubuh.

“Ini enak” Hajae memakan sup nya dengan perasaan senang

“Ku bilang juga apa” Jongin menepuk dadanya dengan bangga

“Setelah ini kau mau kemana?” Tanya pria itu sambil mengusap lembut tangan Hajae

“Mari kita berdoa ke kuil.” Hajae tersenyum puas menatap wajah Jongin
.
.
Mereka berdua berdoa di kuil, doa mereka bukan tentang merubah takdir yang sekarang sedang terjadi. Ini tentang masa depannya dengan Jongin. Hajae memejamkan mata dengan khusuk mengajukan permohonannya. Dia tau bahwa dosanya sudah kelewat batas, namun bisakah ia berharap pada surga…agar mendapatkan masa depan yang lebih baik dengan Jongin. Dalam doanya, Hajae tersenyum. Karena ia melihat seorang gadis yang sangat mirip dengannya tengah tidur pulas dengan seorang pria yang amat mirip dengan Jongin. Dan yang membuat perasaanya lebih membuncah lagi adalah, ditengah-tengah mereka ada seorang balita yang tampan. Balita itu menyebut seorang wanita yang mirip dirinya dengan sebutan ‘Eomma’, dan menyebut seorang pria yang sangat mirip Jongin dengan sebutan ‘Appa’. Iya, dia yakin masa depannya akan sangat menyenangkan. Dan percayalah, Hajae sangat tak sabar untuk itu.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi dan keduanya kini tengah berada tepat di depan pagar rumah mereka. Keduanya saling melempar senyuman satu sama lain. Mereka berdua merasa lega.

Chu

Jongin kembali melumat bibir Hajae, kedua tangannya menangkup kepala mungil Hajae menekan bibir gadis itu lebih dalam. Jongin berjanji ini yang terakhir kalinya ia melumat bibir adiknya. Walaupun ia sendiri tidak sepenuhnya yakin, karena demi apapun bibir Hajae adalah candu baginya. Ciuman mereka telah usai, Jongin mengusap bibir bengkak Hajae dan memeluknya dengan erat.

“Aku sangat mencintaimu walaupun suatu saat nanti aku akan menikah dengan gadis lain. Mari kita akhiri hubungan ini” jongin memejamkan matanya dan mengecup surai Hajae.

“Arra…aku setuju dengan semua keputusanmu. Aku akan segera menghapus perasaanku. Aku janji tak akan membebanimu lagi dengan rasa cintaku”

Mereka melepas pelukannya dengan perasaan sedikit tak rela. Jongin mengacak rambut Hajae pelan. Dan perlahan mereka memasuki pekarangan rumah keluarga kim. Langkah kaki mereka yang melewati pagar rumah, mengisyaratkan bahwa setelah ini hanya ada kisah Kim Seo In dan Kim Jong In. kakak dan adik, tanpa melibatkan perasaan di dalamnya
.
.
.
“Eomoni!” Seo In memeluk Daeyoon dari belakang, saat sang ibu tengah menyiapkan sarapan untuk mereka

Daeyoon merasa jantungnya berdebar begitu cepat, suara putrinya sudah ceria…bahkan lebih ceria dari pada sebelum ia mengetahui identitasnya. Daeyoon bahagia karena surga telah menjawab setiap doanya.

“Seo In-ah…” Daeyoon menggenggam jemari Seo In

“Eomoni, apa yang selama ini kau lakukan? Mengapa tanganmu begitu kasar? Aku tak menyukai kau berkerja dengan keras. Hari ini aku tak ingin kau berkebun lagi. Ayo kita berbelanja beberapa kain sutra, makeup dan perhiasan” Seoin kini duduk menggengam tangan sang ibu

Daeyoon tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Dia mengangguk antusias mendengar rencana Seoin.

“Orabeoni, kapan kau kembali ke asrama?” Tanya Seoin sambil menyantap sarapannya

“Besok lusa. Waeyo?” jawab Jongin tak kalah cuek

“Kenapa kau begitu sering di rumah? Setahuku mahasiswa tingkat akhir sepertimu harusnya belajar dengan giat di asrama. Kau terlihat begitu percaya diri” Seo In mengacungkan sumpitnya di depan wajah Jong In.

“Aku, adalah mahasiswa berprestasi di Sungkyungkwan. Kau saja yang tidak mengerti. Tanya saja pada eomoni kalau tidak percaya. Aku bahkan mendapat beasiswa karena prestasiku” Jongin membela dirinya sambil memasukkan telur gulung kedalam mulut

Daeyoon merasa bahagia mendengar perdebatan kakak beradik ini.

“Cih…kau tidak pernah berubah. Rasa percaya dirimu sungguh diambang batas. Kuharap kakak iparku besok sanggup dan tidak jadi membatalkan pernikahan kalian”

“Dia akan menjadi gadis yang sangat bodoh jika menolak menikah denganku. Kau tahu? Aku sangat tampan”

“Ouuhhh…aku mual” Seo In memegang perutnya seolah-olah ingin muntah

Sedangkan Jongin yang tidak terima langsung menyuapkan potongan ayam yang amat besar kedalam mulut sang adik.

“YA!” Seo In berteriak menatap punggung kakaknya yang telah menghilang dibalik pintu.

Daeyoon bahkan tertawa lepas menyaksikan pertengakaran kedua anaknya.

“Eomoni kenapa tertawa!!!! huweeee” Seo In mengeluarkan ayamnya dan merengek menatap sang ibu.
.
.
Seo In melakukannya dengan baik. Dia membawa sang ibu berkeliling pasar dan mengenalkannya pada keluarga Soojung juga Jiaheng. Ayah Jiaheng bahkan sempat terkejut melihat penampilan gadis yang dulunya ia kenal sebagai Han Ha Jae. Karena Kim Seo In terlihat anggun dan berkelas mengenakan kain sutra, dan juga sesuatu mahal lainnya yang menempel pada tubuh gadis itu. Begitu pula dengan Daeyoon, walaupun wanita itu terbiasa berkebun, namun ketika ia memakai pakaian khas kaum bangsawan, maka semua mata akan mengakuinya bagaikan dewi elegan. Like mom like daughter.

Seo In bukan kacang yang lupa pada kulitnya, gadis itu tetap rajin setiap hari mengunjungi Heebeen. Bahkan Daeyoon memberikan rumah yang pantas untuk ditinggali oleh Heebeen. Tak hanya itu, dia juga merenovasi kios kecil Heebeen menjadi sebuah toko yang besar. Bahkan lebih besar dari milik Jiaheng. Itu sebagai ungkapan kecil rasa terimakasihnya karena telah menyelamatkan dan merawat Seo In selama ini. Walaupun bagi Daeyoon mungkin butuh waktu seumur hidup untuk berterimakasih pada Han Heebeen.
.
.
.
Seoin menatap bayangannya di cermin, bohong besar jika ia benar-benar merelakan Jongin. Seoin bahkan lebih memilih menjadi seorang Han Ha Jae asalkan bisa terus bersama Jongin. Namun janji adalah janji. Gadis itu sudah berjanji kepada Jongin akan Hidup dan mati sebagai Kim Seo In. walau sebenarnya ia tak mau. Matanya berkaca-kaca mengingat beberapa minggu lagi adalah penentuan tanggal pernikahan Jongin. Tak mudah berada di posisinya. Kemarin dia baru saja merelakan Jiaheng menikah dengan sahabatnya. Dan setelah ia bisa sembuh dari patah hatinya karena Jongin, Seoin harus menyerahkan Jongin pada gadis lain juga. Mau tak mau.

Dari awal ia sudah membuat keputusan. Mempertahankan Jongin atau melepaskannya. Mempertahankan berarti tetap hidup dan berusaha demi cintanya, entah ia akan membujuk Jongin agar mau kabur bersamanya. Ke sebuah tempat yang amat jauh hingga tak ada seorangpun yang tau bahwa mereka saudara kandung. Atau melepaskan Jongin yang berarti jelas….melepaskan hidupnya.

Sreetttt

Desember 2012, Jaeil High School

Hyunsoo melangkah, menghampiri bangku Moran untuk meminjam carger Hp. Ia lupa membawa powerbank. Gadis itu menepuk bahu Moran dari belakang.

“Moran-ah…apa kau membawa….Omo! kau kenapa?”

Hyunsoo terkejut mendapati Shim Moran yang baru saja menoleh ke arahnya. Mata gadis itu bengkak seperti habis menangis. Eerrrr, maksudnya saat ini pun Moran sedang menangis.

“Sooyaaa!!! Hatiku sakit…huaaaaa” Bukannya tenang, Moran malah semakin menangis dan memeluk pinggang Hyunsoo. Dia merasa khawatir jika rok-nya terkena eyeliner Moran yang bisa saja luntur, atau yang lebih parah…bisa saja Moran mengeluarkan ingusnya dan….ANDWE. Hyunsoo segera menyingkirkan kepala Moran dengan telunjuknya.

“Singkirkan kepalamu”

Moran lalu melepaskan pelukannya, dan mengambil beberapa tissue di bangkunya.

“Aku membaca FF angst, berjudul Lost. Kau harus membacanya, ini sangat bagus” Moran menunjukkan smartphone –nya kepada Hyunsoo.
Ia mulai tertarik dan memutuskan untuk duduk disebelah Moran.

“Kisahnya tentang hubungan Jongin oppa dan seorang gadis bernama Minri yang harus berakhir, karena ternyata mereka berdua adalah saudara satu ibu. Dari awal Minri merasa janggal dengan Jongin yang tiba-tiba meninggalkannya. Namun beberapa tahun kemudian ia kembali bertemu dengan Jongin di suatu perusahaan, dan pada saat itu ia mengetahui bahwa alasan Jongin meninggalkannya adalah karena hal itu. Padahal mereka masih saling mencintai walau sudah terpisah beberapa tahun”

Moran menjelaskan sebagian kecil dari kisah FF itu. Namun entah mengapa hati Hyunsoo menjadi ikut sakit. Ia bahkan langsung terlihat lesu, mungkin setelah ini gadis itu tak akan memasukkan makanan apapun, kedalam mulutnya.

“Hyunsoo-ya, apa yang akan kau lakukan, jika kau menjadi yeoja dalam cerita itu?”

“Tentu saja aku akan bunuh diri. Kau pikir walaupun aku menyukai Kai oppa, aku rela menjadi adiknya? Cih..aku tak mau menerimanya sebagai kakak! Lebih baik menjadi fans saja daripada saudara. Karena mereka tak bisa saling memiliki”

“Kenapa harus sampai bunuh diri?! Kau berbicara seolah-olah pernah bunuh diri karena mencintai kakakmu sendiri. Dasar gadis aneh. Eoh, kenapa tadi kau menghampiriku?”

Moran kembali membenarkan tatanan rambut yang sempat berantakan, karena ia mengacaknya pada saat menangis tadi.

“Tidak jadi, aku sedang tidak mood melakukan apapun hari ini” Hyunsoo segera beranjak dari bangku Moran dan kembali ke tempat duduknya. Entah mengapa mood-nya turun drastis hanya karena cerita kacangan itu.

“Heol….dia jadi lesu hanya karena sebuah FF? apa kewarasannya sudah hilang eoh?” Moran menatap Hyunsoo heran

Back to Joseon era

“Seoin-ah, ini sudah jam 6 pagi. Tak baik gadis sepertimu masih tidur dengan nyenyak. Kita harus memasak sayang. Bukankah semalam kau berkata ingin mencoba menu baru?”

Tok tok tok

Daeyoon merasa ada yang janggal, ia memutuskan membuka pintu kamar Seoin yang memang tak pernah dikunci. Dan apa yang ia lihat selanjutnya, membuat wanita paruh baya itu berteriak histeris

At Sungkyungkwan dorm

Jongin baru saja bangun dari tidurnya dengan terpaksa. Ini masih jam 6 pagi namun Kwon Ji Young (senior kampusnya, sekaligus teman sekamarnya) membangunkan pria itu.

“Hyung…ini masih pagi, kenapa kau mengganggu tidurku” Jongin duduk dengan mata setengah terpejam.

Puk

Jiyoung melempar sebuah amplop hingga mengenai dahi Jongin.

“Surat dari seorang gadis. Untukmu.” Jiyoung menatap Jongin sejenak, kemudian bersiap hendak kembali tidur

“Aiiissshh…kau bisa memberikan kepadaku nanti”

“Satpam terus mengetuk pintu kamar sejak tadi tapi kau tetap tidur. Di sampulnya tertulis penting, kau belum membaca nama pengirimnya kan? Kim Seo In”

“APA?” jongin langsung membulatkan matanya

“Aku tidur” dan Jiyoung benar-benar terlelap setelahnya

Jongin membalik amplop itu, benar..ini dari Seo In.

Orabeoni??

Apa kau benar-benar membacanya?
Haha, jujur saja aku lebih nyaman memanggil-mu “Jonginna”
Kau tenang saja, aku tak akan membebanimu.
Aku hanya ingin kembali mengingatkanmu. Bahwa hatiku tetap untukmu.
Aku sangat mencintaimu, bukan maksudku untuk mengingkari janji.
Aku justru tengah berusaha menepati janjiku padamu
Kau harus tau, bahwa dari awal aku hanya punya dua pilihan. Yang pertama bertahan tetap hidup dan memperjuangkan-mu apapun yang terjadi. Kita bisa saja kabur dari rumah dan hidup bersama bukan?
Yang kedua adalah melepasmu yang berarti melepas hidupku…
Kumohon jangan merasa terbebani! Ini sudah menjadi pilihanku, hanya ini yang bisa kulakukan agar bisa melepasmu.
Kau ingat janjiku bukan?
Aku akan hidup dan mati sebagai Kim Seo In.

Saranghae

“JONGINNA. KIM JONG IN!!!” Junmyeon membuka paksa pintu kamar Jongin

Pria itu menoleh menatap Joonmyeon dengan tatapan nanarnya, sebagian dari pikirannya berusaha tetap yakin bahwa Seoin tetap baik-baik saja sekarang. Sampai satu kalimat dari Joonmyeon berhasil membuatnya sadar….

“Adikmu ditemukan bunuh diri di kamarnya, dia memotong nadinya sendiri hingga tewas”

Jongin langsung berlari keluar, ia bahkan tak menggunakan alas kakinya. Jongin berlari amat kencang menuju rumahnya, hatinya amat kacau. Bahkan untuk menangispun, dia sudah tak mampu lagi…
.
.
.
1 tahun kemudian

Jongin tengah berdoa kepada dewa. Ia melempar kayu, berharap kedua kayu itu memiliki arah yang sama. Dan harapannya terkabul, kedua kayu itu menunjukkan arah yang sama, itu berarti apapun harapan Jongin pasti akan terkabul. Pria itu tersenyum dan segera menutup matanya.

‘Aku ingin dimasa depan, takdir tak lagi mempermainkan kami. Aku dan Hajae akan bisa bersatu sebagai pria dan wanita. Kami bisa menikah dan memiliki bayi. Hidup kami akan diselimuti dengan kebahagiaan’

Jongin membuka matanya sambil tersenyum, ia juga menoleh kesamping dan mendapati abu Ha Jae disana.

Setelah pemakaman Seo In, Jongin membatalkan pernikahannya. Pria itu juga sudah bertekad tak pernah menikah dan mengabdikan hidupnya sebagai polisi di Istana. Daeyoon sendiri sudah menyetujui keputusan Jongin. Apapun asalkan Jongin bahagia, mengingat bahwa sekarang hanya Jongin-lah harta yang paling berharga bagi wanita itu.
Jongin masih setia menatap abu Hajae

“Aku berjanji akan kembali di masa depan sebagai Kim Jong In, Hajae-ah. Agar kau bisa tetap mengenalku” Jongin tersenyum hangat.

“Kau tak perlu mengikuti janji yang sudah kubuat Hajae. Walaupun dimasa depan nanti namamu bukan lagi Han Hajae, aku yakin akan tetap mengenalimu. Aku pasti akan mencintaimu lagi”

SEOUL, November 2013

“Kim Jong In imnida” kata kai ramah

“Shin Hyun Soo imnida, bangapta” ucap hyunsoo dengan senyumannya yang mengembang, jauh berbeda dengan keadaannya beberapa hari lalu setelah ia mengetahui tentang perjodohan ini. (Ooppss!! Chap 1)

END

Haaaaiiiiii!!!!! Ya ampun udah lama banget ya, aku gak menyapa kalian begini. Hampir setahun, saya PHP-in kalian…mian *bow. Sebagai balasannya aku tuntasin FF the reason dengan Service yang super. Perlu kalian tau, FF ini berisikan sekitar 6.600 karakter. :O semoga kalian suka ya sama chapter ini, dan semoga gak ngebosenin aja hehe. Kesannya memang ini cerita sad ending. Tapi dimataku, FF ini justru Happy ending lohh, yang sependapat sama aku let show your mind via comment. Haha… Maaf kalo ff ini kalimatnya masih sangat berantakan. Maklum yeehhh, soalnya ilmu menulisku kan masih abal-abal juga.
Big thanks buat kalian yang masih mau ngeh baca FF aku. Love you all, doakan semoga otakku masi jalan buat bikinin Ops another story partnya si SENO yaaahhhh. Doa kalian sangat berarti guys!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s