UNTIED SHOELACES

19. Untied Shoelaces

Title                : Untied Shoelaces

Author            : Luhoney77 (@chikacharlotte/@Preciousonen)

Cast                : Sunny (SNSD)-Sunny Lee

Genre             : Romance, AU

Rated              : PG-15

Length            : Drabble [840 words]

Desclaimer      : Hello reader I love kpop Fan fiction kesayangan, author kembali setelah akhirnya bisa masuk akun ini lagi. ^^ kali ini autho post FF yg udh pernah author posi di page author sendiri LUHONEY77. FF kali ini bakal jadi seri FF SNSD yang judulnya 9 Fairytears. Enjoy~ and don’t forget to leave comment ya~^^

“Ever heard someone said that shoelaces can be more dangerous than a sword?”

“Sun…”

Steve lee, kembali berlutut dihadapan adik perempuannya, berkutat dengan 2 helai tali sepatu yang tidak terikat.

“Kau bisa terjungkal.” Ujarnya ketika bangkit dari posisi berlutut kemudian sedikit mengacak surai berwarna karamel pekat adiknya yang ia tahu sudah dirapikan sejak dini hari tadi.

OPPA!!!”

Sunny Lee, sang empunya surai karamel pekat mengeluarkan suara tingginya merasa terganggu dengan kebiasaan menyebalkan kakak laki-lakinya.

“terimakasih, oppa.” Ucapnya sembari berjinjit mendaratkan ciuman pagi pada pipi steve yang notabene lebih tinggi 20 cm darinya.

“Sunny, Steve, sarapan sudah siap!” alarm pagi yang menyenangkan bagi kedua kakak beradik ini terdengar dari arah ruang makan.

”Baik bu.” Keduanya menjawab dengan serentak kemudian bergegas menuju ruang makan, dimana diatas meja telah tersedia 3 set roti panggang dengan telur mata sapi dan sosis goreng, khas makan pagi ala negeri Paman Sam, untuk Steve, Mrs. Lee, dan Mr. Lee, dan satu mangkuk sereal gandum favorite Sunny, gadis berusia 19 tahun yang seleranya tidak kalah dengan murid TK berusia 5 tahun.

Tidak ada yang ganjil dengan suasana makan pagi saat itu, hingga Steve Lee, putra tertua keluarga Lee kembali membicarakan masalah yang sama sekali tidak pernah dibahas kecuali saat Sunny tidak ada.

“Aku akan menemui Lilly malam nanti.”

Hening begitu lama dan dingin, suasana ruang makan mendadak dingin, seolah ribuan dementor tiba-tiba datang berusaha merebut kebahagiaan keluarga Lee.

Sunny menjatuhkan mangkuknya yang masih berisi setengah dari sereal yang Mrs. Lee siapkan, memecahkan kesunyian panjang yang entah mengapa justru terasa memekakan telinga.

“Sun!”

Mr. Lee berteriak melihat apa yang dilakukan putri bungsunya, membuat Mrs. Lee bangkit dari bangkunya dan beralih ke sisi Sunny, mengusap pundaknya, berusaha menenangkan.

“Katakan sekali lagi, oppa.” Datar, kata-kata itu meluncur dari bibir kecil Sunny tidak dengan suara ultrasonic yang biasa ia gunakan, melainkan dengan nada rendah dan sangat datar.

“Sun, usiaku sudah hampir menginjak kepala 3, dan kau juga yang paling tahu bahwa aku mencintai Lilly.”

Ia terbelalak, membuat iris kecoklatannya terlihat sangat jelas, indah namun menyeramkan, tidak percaya dengan apa yang baru saja Steve Lee katakan.

“Aku pikir kau mencintaiku, oppa.” Suaranya semakin mengecil dan tidak terdengar terlalu jelas kecuali kau berada dekat dengannya, karena kini Sunny lee menunduk sangat dalam hingga sebagian wajahnya tertutup syal yang melilit lehernya.

“Sunny Lee!” Mr. Lee kembali menaikkan suaranya setelah mendengar apa yang Sunny ucapkan.

“Benar Sun, aku mencintaimu, lebih dari siapapun di dunia ini, namun kau juga harusnya lebih mengerti bahwa kau adalah adikku, yang paling berharga. Selayaknya aku saat ini menemukan Lilly sebagai gadis yang aku cintai setelah kau, kau juga akan menemukan pemuda yang akan kau cintai lebih dari aku, kakakmu, Sun.”

Kesunyian panjang yang mebuat suasana rumah menjadi lebih kelabu dari saat matahari tertutup awan kembali terjadi.

“Sun..” Mrs. Lee memecah keheningan dengan menepuk pundak Sunny memastikan putri bungsunya baik-baik saja.

“Tidak akan ada yang mengikatkan tali sepatuku lagi jika kau bersama Lilly.”

“Kau bisa belajar mengikat tali sepatumu sendiri, Sun.”

“Baiklah,” ujarnya kemudian menegakkan kepalanya.

“Apakah kau mau mengajariku mengikat tali sepatu sebelum kau pergi menemui Lilly, oppa?” suaranya sudah kembali seperti sedia kala, nada ultrasonic lumba-lumba itu kembali terdengar, wajahnya juga kembali ceria, matanya bersinar, bersinar indah, namun seperti menyimpan rencana dibaliknya.

“Tentu saja.” Steve Lee menyetujui.

“Steve, ponselmu berbunyi! Lilly menelepon. Steeeve?” Mrs. Lee berlarian membuka ruangan demi ruangan dengan ponsel steve yang tidak berhenti berdering di genggaman tangan kanannya.

“Suuun.. apa kau bersama steve?” kali ini ia berada di depan pintu kamar Sunny yang berwarna merah muda cerah, dengan tanda “Do not enter without my permission!”.

Oppa? Iya dia bersamaku bu.” Suaranya terdengar nyaring, khas ultrasonic seperti biasanya.

“Bolehkah ibu masuk? Ponsel steve berdering sejak tadi, Lilly menelepon.”

“Masuklah.” Masih dengan suara ultrasoniknya, Sunny Lee mengijinkan ibunya masuk ke dalam kamar yang terlihat begitu berbeda dengan kepribadian Sunny, begitu gelap dan lembab seolah tirai dan jendela besarnya tidak pernah terbuka.

“Sun, kenapa gelap sekali.” Mrs. Lee bertanya dengan tangan yang berusaha meraba tombol untuk menyalakan lampu.

“Disebelah kanan, bu..”

“Ah, iya.. begini kan lebih-“

“SUN APA YANG TERJADI!!!!” Mrs. Lee berteriak dan terjatuh begitu lampu menyala dan melihat ke arah sofa tempat Sunny berada, bersama Steve Lee yang terlihat, ganjil.

“Aku sedang belajar mengikat tali sepatu, bu.” Masih dengan suara cerianya,

Sunny Lee menunjuk pada sepasang sepatu dengan tali yang melilit di sekitar leher jenjang Steve Lee, terikat sangat erat.

“Tidak Sun! Katakan pada ibu, ini tidak benar, katakan pada ibu, ibu hanya berhalusinasi.” Mrs. Lee tidak bisa menggerakan tubuhnya, masih terkejut dengan apa yang ia lihat dihadapannya, dan menangis menolak mempercayainya.

“Tidak bu, ibu tidak berhalusinasi, apa yang ibu lihat semuanya nyata. Aku meminta oppa mengajariku mengikat tali sepatu dan ia menyutujuinya, aku berhasil. Dengan begini bukankah semua masalah terselesaikan, aku bisa mengikat tali sepatuku sendiri dan oppa tidak akan pergi menemui Lilly.” Sunny Lee, mengakhiri penjelasannya dengan senyum manis tersungging dibibirnya, dengan wajah tanpa dosa, dan mata indah penuh misteri yang sangat mengerikan.

Shoelaces can be more dangerous than a sword if a mental ill person do not know how to tie it.

2 thoughts on “UNTIED SHOELACES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s