Damn Words! [Part 1/2]

miss-a-suzy-reveals-eye-contact-training-you-need-to-look-at-people-in-the-eyes

Tittle » Damn Words!

Author » Namitsu Titi

Cast » Bae Suzy [Miss A], Kim Myungsoo [Infinite]

Genre » School-life, Romance, and Marriage-life

Rate » T+

Length » Shortfic, Twoshoot

Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. Tapi, alur cerita milik saya.

© 2015 Namitsu Titi

“Baiklah Suzy, karena kau sudah membuatku seperti ini, kau harus membuatku ‘senang’ saat ini juga, arraseo?”

Last present before HIATUS!

.

~Happy Reading~

.

.

.

.

Myungsoo mengayunkan kaki panjangnya dengan cepat menuruni anak tangga rumahnya. Ia sungguh panik melihat raut wajah istrinya yang begitu buruk. Myungsoo sampai tak memperdulikan dirinya yang hampir terpeleset di lima anak tangga terakhir sebelum mendarat di lantai utama, karena Suzy, yang sudah diikat Myungsoo sebagai istrinya, jauh lebih penting daripada nyawanya sendiri.

Suzy kesal pada Myungsoo karena tindakannya yang kurang tegas. Padahal Myungsoo tahu sendiri kalau Suzy sangat membenci hal itu, tapi Myungsoo tetap menyetujui meski sebelumnya Myungsoo sudah keras kepala menolak permintaan gurunya.

 

~oooo00000oooo~

 

Myungsoo terlihat resah dalam duduknya. Myungsoo meremas sprei-nya, pandangan matanya tertuju pada Suzy yang tengah memakai sepatunya. Dilihatnya Suzy telah selesai mengikat kedua sepatunya, lalu berbalik memandangnya.

“Ayo Myung, kita ke meja makan,” ajak Suzy dengan senyum hangat di bibirnya. Manik hitam Suzy terlihat cerah, seperti biasanya. Karena itu, Myungsoo sungguh tak tega meredupkan sinar bola mata indah Suzy hanya karena permintaan gurunya yang sungguh mengganggu.

Benar-benar sialan!

Lain kali Myungsoo tak akan pernah mau meskipun dirinya dihantam omongan pedas teman sekelasnya dikarenakan dirinya tidak bertanggungjawab dan profesional. Myungsoo tak perduli.

Kini Myungsoo harus mempersiapkan mental yang kuat untuk menghadapi sikap Suzy yang akan datang. Karena percuma jika ia tetap berbicara ataupun tidak, hasilnya akan sama.

Ne, Zy.” Myungsoo berusaha menekan rasa gelisahnya untuk tak muncul di permukaan wajahnya. Dan sepertinya berhasil, karena tatapan Suzy padanya tidak berubah.

Suzy tersenyum sekali lagi, kemudian melangkah lebih dulu, diikuti Myungsoo di belakangnya. Bahkan Myungsoo tak bisa mengendalikan raut wajahnya sekarang. Sebelum Suzy benar-benar menarik gagang pintu kamar mereka, Myungsoo berusaha memanggil Suzy.

“Sayang …,” panggil Myungsoo, yang sudah tak mampu menyembunyikan ekspresi gugupnya. Dilihatnya Suzy menghentikan pergerakan tangannya yang akan menarik gagang pintu, kemudian menoleh ke belakang, ke arahnya. Suzy memandangnya heran, mungkin menyadari raut wajahnya yang seperti ini.

Ne? Ada apa, Myung?” sahut Suzy, mengangkat sebelah alisnya.

Myungsoo sedikit tersentak dengan ekspresi yang ditunjukkan Suzy yang terkesan mendesaknya, seolah-olah sudah mengetahui maksudnya-yang sungguh sialan.

Myungsoo benar-benar termakan kepanikannya sendiri, hingga ia berpikiran seperti ini.

Nyatanya, Suzy hanya memandangnya dengan pandangan bertanya, dan ekspresi wajahnya yang nampak imut ketika melontarkan pertanyaannya.

“Eummm …,” gumam Myungsoo bingung-bukan, ia hanya ragu dengan apa yang akan disampaikannya pada Suzy. Hanya diam beberapa detik yang dilakukan Myungsoo sebelum akhirnya memutuskan untuk mendekati Suzy. Myungsoo berharap keberaniannya akan bertambah di setiap langkah yang ia ayunkan, sehingga dirinya bisa dengan lancar mengutarakan maksudnya.

‘Drap … drap … drap …’
‘Deg … deg … deg …’

 

Myungsoo sempat menahan napas ketika sudah berada di depan Suzy. Sialnya, Myungsoo malah jadi berdebar seperti ini. Ayolah, wajar saja jika Myungsoo merasa berlebihan begini. Ini adalah pertama kalinya Myungsoo akan membangkitkan hal yang dibenci Suzy. Oke, mungkin hal yang dibenci Suzy termasuk kekanakan dan berlebihan, tapi Myungsoo cukup senang akan itu. Berarti Suzy sangat mencintainya.

“Zy … hari ini aku … eunggg …,” jawab Myungsoo tersendat saat ia akan mengucapkan ‘kata’ yang membuatnya gelisah sedari tadi. Terlebih lagi, getaran di dadanya semakin menggila, membuatnya benar-benar tak fokus. Padahal ia bukan sedang menyatakan cinta di acara ‘menembak’ sang pujaan hati, tapi percayalah, ini rasanya sungguh berat. Istrinya itu sensitif jika berhubungan dengan … wanita lain. Myungsoo dan wanita lain? Ow … tenang, ini bukan persoalan perselingkuhan.

“Apa, Myung? Katakan saja.” Suzy menatap gemas Myungsoo dengan senyum tertahan di bibir plum-nya. Suzy jadi teringat bagaimana Myungsoo ‘menembak’nya dua tahun lalu, yang terlihat malu-malu, bedanya saat itu tingkah Myungsoo lebih parah dari ini.

“Katakan.” Suzy maju selangkah-masih menahan senyum-mendekati suaminya yang sangat dicintainya itu.

Suzy menatap Myungsoo penuh perhatian, tapi Myungsoo masih tetap bungkam. Suzy jadi semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan Myungsoo padanya. Apakah itu sesuatu yang spesial? Hingga Myungsoo terlihat gugup seperti ini?

“Myung?” desak Suzy, menautkan kedua alisnya. Suzy semakin heran pada Myungsoo yang tak kunjung mengeluarkan suaranya.

Melihat ekspresi penuh tanya Suzy, Myungsoo mendesah napas berat, menetralkan rasa gugupnya, kemudian mulai menyahuti Suzy dengan kaku, “Eunggg … Zy … maaf … j-jujur ini b-bukan kemauanku … tapi aku … aku bertanggung jawab atas k-kelasku,”

“Lalu, masalahnya?”

“Eum … i-itu … karena Guru Lee begitu memaksaku untuk menjadi perwakilan kelas dalam … m-menyanyi … akhirnya aku menyetujui, t-tapi ternyata Guru Lee j-juga memasangkanku dengan orang lain untuk … b-berduet. Dan dia adalah … P-Park … Cha … Chaerin.” lirih Myungsoo semakin menciut di akhir kalimatnya. Myungsoo menundukkan kepalanya, tak berani menatap mata Suzy, yang ia yakini kalau Suzy tengah menatapnya nyalang dan emosi yang menggemuruh di dadanya.

Perlahan, kerutan bingung yang awalnya menghiasi dahi Suzy, menghilang, tergantikan dengan raut wajahnya yang datar.

Myungsoo akan berduet dengan Chaerin? Hari ini?

Damn it!

Ingin sekali Suzy berteriak emosi pada Myungsoo, khususnya Guru Lee. Suzy tak suka saat Guru Lee memasangkan Myungsoo dengan Chaerin. Gadis itu-Chaerin, sungguh tak tahu diri. Setelah tiga bulan Chaerin tidak mengganggu hubungannya dengan Myungsoo, kini Chaerin akan muncul kembali dihadapannya dan Myungsoo dengan alibi berduet?

Shit!

‘Aku kesal, aku benci padamu Guru Lee!’

Suzy kesal pada Guru Lee karena beliau mendukung Chaerin, yang tak lain adalah Sepupu Guru Lee sendiri.

Suzy menatap tajam Myungsoo, kedua tangannya terkepal-ia juga kesal pada Myungsoo karena tetap menyetujui. Suzy menginjak keras sebelah kaki Myungsoo, kemudian pergi dari hadapan Myungsoo sekaligus menutup pintu kamar mereka keras.

“Awwhh … Zy!” ringis Myungsoo. Ia langsung panik ketika Suzy meninggalkanya dengan aura dingin yang mengelilingi istrinya.

“Zy! Zy! Tunggu!” teriak Myungsoo sambil menahan ringisannya. Myungsoo buru-buru menegapkan tubuhnya lagi, kemudian mengejar Suzy, mengabaikan rasa sakit di kakinya.

 

Akhirnya seperti ini, Suzy benar-benar marah padanya.

 

=_oooo00000oooo_=

 

“Suzy! Suzy!” panggil Myungsoo lagi. Ia melihat siluet Suzy yang baru saja menutup pintu rumahnya. Myungsoo semakin capat menyeret kakinya menyusul Suzy.

Mereka … bahkan melupakan sarapan yang akan mengawali momen indah mereka di pagi hari, sebelum aktivitas melelahkan dimulai.

 

***

 

‘Blam!’

 

Myungsoo menutup pintu mobilnya, kemudian menatap Suzy sendu. “Zy, aku mohon mengertilah.”

Suzy menghiraukan ucapan Myungsoo. Wajahnya datar sekali. Membuat Myungsoo menghembuskan napas berat.

“Zy … ayolah …” Myungsoo mengelus lembut pipi halus Suzy. Namun tak lama, Suzy menepis tangan Myungsoo. Myungsoo mendesah kecewa kemudian.

Suzy melirik arlojinya, dan langsung melebarkan bola mata cantiknya. “Cepat jalankan mobilnya. Aku tak ingin telat, Myungsoo,” ujar Suzy dengan nada dingin.

Myungsoo menatap Suzy sedih, kemudian menyalakan mesin mobilnya, melirik Suzy sebentar, kemudian melajukan mobilnya, meninggalkan pekarangan rumah mereka-hadiah dari orang tua Myungsoo.

 

Kim Myungsoo dan Bae-Kim-Suzy sudah melangsungkan pernikahannya sejak dua bulan yang lalu. Keduanya menikah bukan dikarenakan perjodohan, melainkan saling mencintai. Pernikahan ini terjadi atas usulan Myungsoo pada kedua orang tua mereka, mengingat di zaman modern ini pergaulan bebas semakin merajalela. Myungsoo berpikir bahwa menikah muda adalah jalan terbaik untuk ‘menyelamatkan’ hubungannya dengan Suzy agar tidak terjerumus pada hal tersebut-karena Myungsoo itu errr … sedikit mesum. Tentu saja Myungsoo sudah memikirkan ini matang-matang dan sudah disetujui Suzy.

Memang apa yang harus dikhawatirkan jika mereka menikah muda? Myungsoo rasa tidak ada. Ayolah, Myungsoo itu pintar, ia memiliki otak yang jenius. Begitu juga dengan Suzy. Apalagi Orang tua Myungsoo dan Suzy bukan dari kalangan biasa, salah satu pemilik perusahaan ternama di Korea. Yah, meskipun Orang tua Myungsoo awalnya keberatan, tapi melihat tekad dan keyakinan Myungsoo yang begitu kuat, akhirnya mereka menyetujui. Lagipula Myungsoo dan Suzy hanya enam bulan lagi berada di Infinite High School. Jadi, jika terjadi sesuatu pada Suzy-hamil-tidak terlalu berdampak untuk kelanjutan sekolahnya.

 

***

 

Mobil Audi hitam Myungsoo terparkir di area parkiran sekolah. Beruntung Myungsoo mengendarai mobilnya lebih cepat daripada biasanya, sehingga mereka-nyaris-tidak datang terlambat. Ya, setelah mobil Myungsoo melewati pintu gerbang sekolah, pintu tersebut langsung ditutup.

Suzy membuka pintu mobil Myungsoo, kemudian turun dengan cuek, mengabaikan Myungsoo yang sepertinya akan mengatakan sesuatu.

“Suzy tunggu!” teriak Myungsoo, membuat beberapa pasang mata yang dilaluinya menoleh pada Myungsoo, sedikit mengernyit heran melihat penampilan Myungsoo yang tidak serapi biasanya, tapi sedetik kemudian mereka mengabaikan pemuda tampan itu.

“Sayang~” gumam Myungsoo, tangannya melingkari pinggang ramping Suzy. Myungsoo menyunggingkan senyum lebarnya ketika Suzy menoleh padanya.

Suzy berdecak sebal dengan apa yang tengah dilakukan Myungsoo. “Orang-orang melihat kita, Myungsoo!” desis Suzy.

Myungsoo mengubah raut wajahnya menjadi mode cemberut. “Ayolah Zy, berhenti memanggilku dengan sebutan ‘Myungsoo’, cukup ‘Myung’ saja. Aduh sayang, tentu saja mereka melihat kita, kita manusia, bukan makhluk transparan.”

Suzy memutar bola matanya, jengah, “Tanganmu, Myungsoo!”

“Huh? Memangnya ada apa dengan tanganku?” Myungsoo memasang wajah polosnya, kemudian melirik tangannya yang ada di pinggang Suzy, dan mengeratkan rangkulannya.

Yak!” Suzy menghentikan langkahnya, lalu berteriak kesal. Dan Myungsoo suka itu. Meskipun Suzy sedang dalam keadaan marah atau kesal sekalipun, jika Myungsoo menggodanya-sejauh ini-Suzy selalu merespon. Tapi hanya sebatas itu dan itupun hanya sekali. Setelahnya ya kembali pada aksi mendiamkan.

Myungsoo menahan tangan Suzy sebelum keduanya berpisah, memasuki kelas masing-masing.

“Zy, kau belum memberikanku morning kiss. Seharusnya aku sudah mendapatkannya sebelum berangkat sekolah,” keluhnya.

Suzy mengangkat sebelah alisnya, kemudian menghempaskan tangan Myungsoo. Berbalik, dan meninggalkan Myungsoo dengan santainya, menganggap penuturan Myungsoo hanyalah orang asing yang baru saja melewatinya.

Oah … malang sekali dirimu Kim Myungsoo.

 

***

 

Myungsoo berjalan melewati beberapa kelas dengan hati gelisah. Ia tidak akan pernah tenang jika Suzy masih kesal padanya. Kalau dipikir, ini memang masalah sepele, hanya karena sebuah kecemburuan yang memang seharusnya tak dilakukan Suzy-apalagi gara-gara Myungsoo akan berduet dengan seorang wanita. Oh yeah, beda lagi jika wanita yang dimaksud adalah orang yang pernah mengejar-ngejar Myungsoo dulu. Tapi, Myungsoo sudah menjadi milik dan suami syah Suzy. Jadi, apa yang harus dikhawatirkan?

Hmmm … yeah, kita juga harus berpikir lagi bagaimana ‘kondisi’ mereka. Ya, jawabannya se-simpel dengan kata sepele. Bukankah Kim Myungsoo dan Bae-Kim-Suzy itu masih remaja? Yang mungkin hanya beberapa persen saja sifat kedewasaan melekat pada diri mereka.

Myungsoo tersenyum senang begitu memasuki kelas Suzy, karena Suzy langsung menoleh padanya. Mungkin ikatan batin. Pikirnya gembira, diikuti kekehan dalam hatinya.

“Zy!” seru Myungsoo bersemangat, seolah-olah lupa bahwa Suzy sedang kesal padanya. Bukannya membalas senyuman Myungsoo, Suzy malah membuang muka, tak merubah raut wajahnya yang datar. Myungsoo meringis melihat itu.

Ya Tuhan, apakah Suzy benar-benar kesal sampai separah ini?

Eonnie! Eonnie! Sepertinya mereka tengah bertengkar,” bisik seorang gadis berambut sebahu pada teman sebangkunya ketika pandangannya tak sengaja tertuju ke tempat duduk Suzy yang terhalang beberapa meja di depannya.

“Mereka siapa?” tanya temannya bingung, sebelah alisnya terangkat.

“Tuh! Sepasang kekasih yang ada di depan kita,” tunjuk gadis tadi  pada Myungsoo dan Suzy menggunakan dagunya.

Temannya menoleh ke arah yang ditunjuk gadis berambut sebahu, kemudian mengangguk setuju, ” Um! Suzy dingin sekali. Pasti yang memulai Myungsoo.”

“Sepertinya begitu, Eonnie. Wow, berarti hari ini kita tidak akan melihat kemesraan mereka yang tidak ingat tempat.”

Dan gadis-gadis itu langsung berhenti membicarakan topiknya saat Myungsoo menoleh pada mereka.

“Zy, berhentilah mendiamiku seperti ini. Kalau kau masih keberatan, aku akan mengundurkan diri.”

“….”

“Zy … ayolah, mereka bahkan sampai membicarakan kita.”

“Huh, apa peduliku!” ketus Suzy.

Srettt!

Yak!” kaget Suzy dengan suara tertahan.

“Masih mau mendiamiku seperti, eoh?” bisik Myungsoo seduktif, tepat di sisi daun telinga Suzy. Tangannya melingkari pinggang Suzy dengan mesra, kedua bibirnya membentuk senyum menyeringai.

.

.

.

.

TBC dulu ya :v

 

Ini adalah FF terakhirku sebelum hiatus. Oke aku hiatus sampe UN selesai ya. Sebenarnya ini adalah oneshoot, tapi belum selesai lanjutannya. Kalo aku selesain bulan ini, kayaknya gak bakal jadi, aku harus ngurus proposal untuk Ujian Kejuruan sebelum tanggal 20 February. Terlebih lagi, di tanggal tersebut, aku akan menjalani UPK. Jadi harus mempersiapkan dari sekarang.

Maaf ya ini setengah-setengah post-nya. Nanti dilanjut lagi setelah UN, ok😀

3 thoughts on “Damn Words! [Part 1/2]

  1. wahhh bkalan lama nunggu post part slanjutnya dong…but its ok real life lbh penting dr apapun…

    myungsoo ayo kluarkan jurus andalanmu bwt bkin suzy g mrah lg sm kmu..(emng myungsoo pnya jurus gitu kkkk)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s