Ooppss !! Chapter 12

Untitled-1

Cast: Shin Hyun Soo / Kim Hyun Soo (OC), Kai EXO/ Kim Jong In| Other cast: (temukan sendiri.. ^^) | Genre: Romance, Marriage life | Rating: PG 17! | Length: Chaptered | Author: Mrskim88 (@alsaalz) | Disclaimer : All story is mine. I Hate plagiat!

Ost: Miracle In December – EXO, Lyn – Back In Time, Taeyang – Eyes Nose Lips

Happy Reading ^^

Jongin Pov

“Ikut aku” kataku dingin pada Hyunsoo

“Nugundeyo(kau siapa)?” kata gadis itu dengan sinis

Ya, gadis yang menghinaku di depan Hyunsoo saat ini tengah menatapku dingin. Aku bersyukur karena tak seorangpun dari para mahasiswa disini dapat mengenaliku, kecuali Hyunsoo.

“Aku oppa-nya” ucapku sambil menarik tangan Hyunsoo

“Hya! Urusanku dengan adikmu belum selesai!” pekik gadis itu

Langkah kakiku terhenti ketika mendengar pekikkannya. Kuputuskan untuk membalikkan badan dan menatap tajam mata gadis itu.

“Sekarang sudah selesai” kataku tegas
.
.
At Apartement

Aku segera membuang kacamata dan wig-ku ke sembarang tempat. Kulepaskan genggaman tanganku pada Hyunsoo.

“Apa yang kau pikirkan huh? mengapa kau bisa berkelahi dengan temanmu sendiri?” ucapku sedikit membentakknya.

“Dia bukan temanku” sahut Hyunsoo dengan tatapan kesalnya

“Kapan kau akan belajar dewasa eoh? Kau ini sudah menikah! Apa pantas yeoja yang sudah bersuami terlibat dalam pertengkaran seperti itu!”

“Aku hanya berusaha membelamu oppa! Gadis busuk itu terus menghinamu di depanku”

“Tak bisakah kau hanya diam dan tak mempedulikan setiap perkataanya?! BERSIKAPLAH DEWASA!”

“Mengapa kau malah membentakku! Apa salahku! Aku membelamu, setidaknya ucapkan terimakasih tuan Kim”

“Kau! Kau tak tau apa yang kurasakan! Bagaimana jika gadis itu benar-benar menuntutmu atas dugaan penganiyayaan? Jika kau masuk penjara bagaimana denganku? Apa kau tak menganggapku ada? Apa aku bukanlah seorang suami di matamu NYONYA KIM?”

Sebenarnya yang membuatku kecewa adalah….sikapnya tadi yang seolah-olah tak pernah menganggapku ada. Walaupun pernikahan ini tersembunyi, bukan berarti bahwa Hyunsoo bisa melupakan kenyataan jika dia kini telah menjadi istri sah ku. Mengapa dia tak bisa berpikir panjang, aku bersikap seperti ini karena aku takut terjadi hal buruk padanya. Aku takut berpisah dengannya. Aku bahkan rela di hina dan harga diriku di jatuhkan oleh orang lain, asalkan Hyunsoo tetap menjadi milikku.

“Ania! Bukan seperti itu…aku takkan pernah bisa mendengarmu dihina secara terus menerus oleh orang lain. Aku tak bisa diam saja. Bahkan jika aku masuk penjara, itu tak akan jadi masalah besar buatku. Di dunia ini tak akan pernah ada orang yang terima, jika bias sekaligus suaminya dihina seperti itu. Kau bisa berkata demikian karena kau tak pernah merasakan apa yang kami rasakan sebagai fans. Kau hanya menerima rasa cinta dari fans tanpa tau bagaimana rasanya mencintai idol.”

Hyunsoo menatapku tajam, aku tau dia masih marah dengan gadis itu.

“Kim Hyun Soo….bisakah kau menatapku sebagai Kim Jong In suamimu dan bukan Kai biasmu?” aku menatapnya sendu

Suasana hening menyelimuti kami, kulihat Hyunsoo masih membisu.

Drrrtt drrrrttt

Getaran ponselku memecah keheningan yang ada.

“Yoboseyo…Soojung-ah wae?”

Hyunsoo langsung menatapku tajam ketika nama Soojung lolos dari mulutku. Tuhan..mengapa Soojung menghubungiku di saat yang tidak tepat.

“Eo..Jonginna, apakah kau ada di apartement saat ini?” Tanya Soojung dari sebrang sana

“Ne, Wae?” jawabku

“Aku akan ke apartementmu, ada yang ingin kuberikan padamu. Apakah Hyunsoo ada disana? Aku juga ingin menemuinya”

“Ani..Hyunsoo tak ada disini. Kita bertemu di lobby rahasia saja”

Bip

Aku memutuskan sambungannya. Aku mempunyai alasan mengapa aku berbohong pada Soojung. Aku tak ingin dia menemui istriku saat ini. Hyunsoo sangat sensitif bila menyangkut hal tentang Soojung, aku tak mau Soojung mempunyai anggapan buruk terhadap istriku. Saat ini emosi Hyunsoo sedang tidak stabil. Kuputuskan untuk menemui Soojung sendirian.

“Oppa! Apa yang dia katakan? Mengapa kau berbohong padanya?”

Emosi Hyunsoo semakin tak terkendali, aku benar-benar tak tahan dengan sifat barunya ini. Atau memang aslinya seperti ini?!

“Tetap disini sampai aku kembali” kataku dingin kemudian segera melangkah keluar apartement.

Aku menutup pintu dengan asal dan berlari menuju lobby rahasia milik SM. Apartemenku sangat dekat dengan Lobby rahasia SM dan Dorm Exo. Hanya perlu berjalan kaki untuk sampai kesana.

“Ada apa?” tanyaku pada Soojung yang kini tengah berdiri dihadapanku

“Eo? Ini” ucapnya sambil memberikan undangan padaku.

Tunggu..undangan pertunangan? Aku menatapnya dengan memiringkan kepalaku. Mencoba mengerti apa maksudnya.

“Aku akan bertunangan dengan Minhyuk oppa!” serunya

Kulihat Krystal terus tersenyum padaku, aku merasakan aura kebahagian dari senyumannya. Syukurlah ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Krystal memang sudah mencintai Minhyuk hyung sejak dulu.

“Jeongmallyo? Apa kau yakin hyung mengetahui rencana ini?”

Senyumannya langsung hilang setelah mendengar ucapanku. Haha, aku tau dia marah.

“Kemarilah..aku akan mencekikmu hitam!”

“Kekeke..Cukkhae Krystal-sshi”

“Apa kau tak ingin memberikan pelukan selamat pada chingu-mu hm?”
Aku tersenyum dan mulai memeluknya. Ini murni tanda ucapan selamat seorang teman.

“Apa yang kalian lakukan eoh?!”

Ucap Hyunsoo sambil berusaha memisahkan pelukanku dengan Krystal. Tersirat amarah di matanya, aku tau dia marah. Aaarrrgghhh, mengapa ia harus mengikutiku kemari. Aku khawatir Hyunsoo akan salah paham.

“Dan kau! Sudah kubilang jangan memeluk suami orang sembarangan!!”

Hyunsoo mendorong Krystal hingga terjatuh setelah menyelesaikan kalimatnya. Aku hanya bisa menatapnya tak percaya. Sejak kapan Hyunsoo menjadi gadis yang kasar dan tempramental? Aku segera membantu Krystal untuk berdiri.

“Soojung-ah..gwenchana? maafkan Hyunsoo. Dia tak bermaksud menyakitimu” ucapku penuh sesal

“Mengapa kau membantunya? Apa kau masih mencintainya eoh? Tsk”

“HYUNSOO GEUMANHERAGO!!!” aku membentakknya

Kulihat ia tersentak mendengar teriakanku. Kesabaranku sudah habis menghadapi yeoja seperti dia, aku menarik pergelangan tangannya dengan kasar dan membawanya kembali ke apartement.
.
.
(Silahkan play tune MID-Exo, biar Feel-nya dapet)

BUGH

Aku menghempaskan tubuhnya pada sofa ruang tamu kami. Ia menangis merintih kesakitan sambil memegang perutnya.

“Cih! Apa sekarang kau sedang ber-akting di depanku eoh? Cukup, hentikan Shin Hyun Soo..aku benar-benar lelah dengan sikapmu”

Ia meloloskan death glare setelah mendengar ucapanku. Hyunsoo mengusap air matanya dengan kasar kemudian berdiri dan menatapku.

“Majjwo(benar) aku hanya ber-akting. WAE? Apa kau merasa terganggu?!”
Aku menghela nafas kasar

“Dengar! Aku sudah muak dengan sikapmu akhir-akhir ini. Emosi tak stabil, kasar, seenaknya sendiri. Walaupun aku mencintaimu, bukan berarti bahwa kau bisa bersikap semena-mena terhadapku! Apakah sifat aslimu memang seperti ini huh?! sepertinya aku telah salah menikahi yeoja”

“Kau benar! Kau telah salah menikahiku. Maka dari itu..lebih baik kita akhiri semuanya dan aku akan berhenti menjadi exofans!” pekik Hyunsoo

Aku tersenyum kecut menanggapi ucapannya.

“Baiklah..mari kita akhiri semuanya Shi Hyun Soo. Mari kita akhiri pernikahan ini!”

“Arra! Besok aku akan mengurus surat cerai kita” hyunsoo menatapku tajam

“Aku akan dengan senang hati membantumu mengurusnya!!” kataku sambil merapatkan gigi

Hyunsoo menatapku nanar, matanya berkaca-kaca. Sebenarnya apa yang sedang terjadi padaku? Mengapa aku dengan bodohnya menyetujui untuk bercerai dengannya. Sedangkan sampai saat ini perasaanku tetap sama. Aku tetap tak tahan melihatnya menangis, aku tetap mencintainya, aku tetap takut kehilangan Hyunsoo.

“Kau tau? Aku menyesal telah memberikan semua yang kupunya kepadamu. Aku membencimu Kim Jong In”

Hyunsoo berjalan cepat menuju kamar dan menutup pintunya dengan kasar. Aku mengacak rambutku frustasi, logikaku memerintah untuk segera pergi dari tempat ini. Tapi hatiku berkata aku harus tetap disini. Ingin sekali aku melangkah untuk keluar, namun entah mengapa tubuhku tak mampu beranjak dari sofa. Akhirnya kuputuskan untuk tidur di sofa setidaknya sampai besok pagi.
.
.
Flash~
“Appphhh~ Apppaaa”
Aku melihat sepasang bayi kembar laki-laki dan perempuan sedang menatapku, mereka memanggilku dengan sebutan ‘appa’. Aku tersenyum menatap keduanya. Aku merasa sangat bahagia dengan sebutan itu. Langkah kakiku mendekat ke arah mereka, namun saat aku akan menyentuh putra putriku..tiba-tiba mereka menghilang begitu saja…
.
.
“Bayikuuu!!”

Aku terbangun dari mimpi itu, mimpi yang sangat singkat tapi bisa membuat hatiku teriris. Mimpi itu juga membuatku merasakan sebuah penyesalan yang amat dalam. Tatapanku kini tertuju pada pintu kamar yang masih tertutup rapat, entah mengapa perasaanku menjadi was-was. Aku berlari dan mengetuk pintu kamar dengan kasar.

“Hyunsoo-ya buka pintunya!!” ucapku sambil terus menekan knop pintu.

“Soo-ya!! Jika kau tak mau membukanya maka aku akan mendobrak pintunya”

Aku merasakan ada yang janggal, tidak biasanya Hyunsoo seperti ini. Aku tau ia pasti akan menjawab saat aku mengancam akan merusak pintunya.

BRAKKK

Aku berhasil mendobrak pintu kamar. Mataku sekarang terpaku menatap Hyunsoo yang tidur dengan wajah pucat dan berlumuran darah.

“Soo-ya…Soo-ya!! Apa yang terjadi padamu??? Apa kau bunuh diri? Soo-ya jawab aku kumohon” aku menangis sambil membawa tubuhnya dalam dekapanku. Aku salah,, Hyunsoo tidak tidur…dia pingsan. Aku segera mengeluarkan ponselku dan menghubungi dokter Im.

“Yoboseyo dokter Im..bisakah kau kemari? Istriku pingsan dalam keadaan berlumuran darah” ucapku panik
.
.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu dokter Im tiba di apartementku. Saat ini ia sedang memeriksa Hyunsoo. Tuhan..semoga tak terjadi apapun pada Hyunsoo.

“Bagaimana uisia Im? Apa yang terjadi pada Hyunsoo?”
Dokter Im memberikan tatapan seriusnya padaku. Namun tatapan itu justru membuatku semakin was was.

“Ambulance akan datang sebentar lagi. Lebih baik kau sekarang bersembunyi di dalam kamar mandi. Aku akan menghubungimu setelah mereka membawa Hyunsoo ke rumah sakit”

Yang bisa kulakukan saat ini adalah menuruti perintah dokter Im, dan benar saja..aku mendengar dari dalam kamar mandi suara sirine ambulan dan beberapa perawat yang tengah membawa Hyunsoo keluar dari apartement. Aku menangis dalam diam..aku menangisi diriku yang tidak berdaya saat istriku sedang meregang nyawa. Harusnya sekarang aku berada di sampingnya, ikut bersama ambulance itu. Bukannya berada disini seperti pengecut.

From : Dr. Im Seung Han
Kau bisa menuju Rumah sakit Kwanghee sekarang. Jangan lupa gunakan penyamaranmu dan tunggulah aku diruanganku. Akan kujelaskan semuanya

At Dr.Im’s Room

“Apa yang terjadi padanya dok?” kataku

Aku tak tau mengapa hatiku rasanya bisa sesakit ini. Air mataku terus mengalir tanpa henti.

“Hyunsoo mengalami pendarahan parah. Kami harus segera melakukan tindakan…”

Belum usai dokter Im menyelesaikan ucapannya, aku sudah lebih dulu memotongnya

“Tunggu. Apa maksudmu? Istriku mengalami pendarahan? Sebenarnya penyakit apa yang sedang dihadapi Hyunsoo?!”

“Kupikir kau sudah mengetahuinya. Hyunsoo sedang mengandung. Usia kandungannya 4 bulan”

“MWO? Istriku hamil? Ini tak mungkin dok, dia baru saja datang bulan beberapa minggu yang lalu”

“Itu bukan datang bulan Jongin. Darah yang dimaksud Hyunsoo bukan darah menstruasi. Itu adalah darah yang dihasilkan saat calon ibu merasakan kontraksi pada janinnya. Sepertinya Hyunsoo juga belum menyadari kehamilannya”
Aku seolah kehilangan nyawaku saat itu juga. Pikiranku melayang pada rintihan kesakitan Hyunsoo tadi, istriku tidak sedang bersandiwara. Dia serius akan rasa sakitnya, mengapa aku begitu jahat.

“Jika saja Hyunsoo memeriksakan keluhannya sejak awal, aku yakin tak akan separah ini. Dari hasil periksaan tadi, aku memperoleh data bahwa Hyunsoo kurang memberikan asupan gizi yang baik untuk bayi kalian. Itu mungkin disebabkan karena Hyunsoo tak menyadari bahwa ada dua nyawa yang bersemayam dalam rahimnya”

“Dua nyawa?”

Dokter Im mengangguk singkat

“Bayi kalian sepasang. Perempuan dan laki-laki, namun sayang…..kita harus mengorbankan salah satu dari mereka”

Deg

Tubuhku merosot jatuh ke lantai saat mengetahui kenyataan pahit ini. Air mataku terus mengalir menatap nanar ke arah dokter Im. Apa yang harus kulakukan?

“Maafkan aku Jongin, tapi kita harus secepatnya mengambil keputusan. Bayi mana yang akan di korbankan. Di mejaku ada map berwarna merah dan biru. Jika kau menandatangani map berwarna biru, maka kami akan menyelamatkan putrimu. Namun jika kau menandatangani map berwarna merah, maka kami akan menyelamatkan putramu.” Lirih dokter Im.

“Ahjusshi…apakah ini masuk akal? Aku seorang ayah, bagaimana bisa aku diberi pilihan keji seperti itu?! Aku ingin kedua bayiku selamat, aku ingin mereka tetap hidup. Mereka…mereka darah dagingku” ucapku dengan susah payah, hatiku terasa perih…aku menyesal, benar-benar menyesal terhadap anak dan istriku. Aku merasa gagal menjadi seorang suami, setan apa yang tengah merasukiku hingga tadi aku tega menghempaskan tubuh Hyunsoo begitu saja.

“Rahim Hyunsoo saat ini tak memungkinkan untuk mengandung bayi kembar. Terjadi kerusakan parah pada rahimnya akibat pendarahan ini. Jika kita tidak segera mengambil tindakan, maka Hyunsoo akan kehilangan nyawanya. Jonginna..kehamilan ini adalah yang pertama dan mungkin yang terakhir untuk Hyunsoo”

Aku membelalakkan mataku setelah mendengar ucapan dokter Im, ya Tuhan..belum cukupkah engkau akan mengambil salah satu dari bayi kami?!

“Ti-tidak mungkin” ucapku parau

“Setelah Hyunsoo melahirkan bayi kalian, maka akan sangat kecil kemungkinan dia bisa hamil lagi. Rahimnya hampir tak berfungsi setelah ia menjalani masa persalinan. Ku harap kau bisa mengerti, 30 menit lagi aku akan kemari dan segera mengambil map yang sudah kau tanda tangani”

Dokter Im segera berlalu keluar dari ruangan ini. Aku memejamkan mataku, aku merasa benar-benar hancur. Ini semua begitu mendadak dan terasa amat perih untukku. Apa yang harus kukatakan pada Hyunsoo besok? Aku merasa tak pantas untuk hidup, aku sudah melakukan dosa besar terhadap keluarga kecilku.

“Aegi-a (anakku)…appa mianhe” ucapku sebelum menandatangani salah satu map yang ada di meja dokter Im.

Next Day

Author Pov

Sinar matahari mulai memasuki celah pada jendela ruangan serba putih itu. Terlihat seorang gadis tengah menggeliat kecil dalam tidurnya. Gadis itu mulai membuka mata dan merasakan perih pada bagian perutnya. Dia memandang ruangan itu dengan tatapan asing, tatapan matanya beralih pada sang ibu yang sedang tertidur di sofa dengan mata sembab.
“Apa aku sudah mati?” gumam gadis itu

“Omo!” hyunsoo memekik tertahan ketika menyadari Kai tidur disampingnya dengan keadaan yang mengenaskan. Air matanya terus mengalir walaupun sedang tertidur. Hyunsoo menghapus air mata suaminya dengan lembut, ini pertama kalinya Hyunsoo melihat keadaan Kai begitu hancur. Bahkan saat Kris keluar dari Exo, keadaan suaminya tak separah ini.
Jongin yang merasakan tangan hangat Hyunsoo tengah menyentuh kulitnya kemudian membuka mata, menatap wajah polos istrinya.

“Kau sudah bangun?” Tanya Jongin dengan suara serak. Suaranya telah habis karena menangis semalaman.
Hyunsoo hanya mengangguk tersenyum menatap Jongin. Dia senang Jongin telah kembali lembut seperti biasanya.

“Mengapa oppa menangis?”
Jongin langsung memeluk Hyunsoo dengan erat, sesekali pria itu mengecup puncak kepala istrinya.

“Kau semalam membuatku takut. Aku takut kehilanganmu. Aku menyesal Hyunsoo, maafkan aku…kumohon maafkan aku hiks.. Aku janji akan berubah, kita mulai semua dari awal ne?” jongin menangis tersedu

Hyunsoo yang tak tau apa-apa, menaruh sejuta pertanyaan di benaknya. Ia juga bingung akan tingkah suaminya.

“Oppa uljima..aku juga minta maaf, aku terlalu egois. Baiklah, kita mulai semua dari awal. Aku juga akan berubah untukmu oppa”

Hyunsoo masih bertahan dengan kepolosannya, ia masih belum menyadari bahwa ada yang hilang dari bagian tubuhnya.

“Ani..kau tidak salah, aku yang salah karena berperilaku kasar padamu. Aku… hiks aku minta maaf… apapun yang terjadi kumohon tetaplah disisiku” ucap Jongin sambil melepas pelukannya dan menatap manik mata sang istri.

“Ne oppa, aku akan tetap berada di sampingmu. Apapun yang terjadi”

‘Maafkan aku karena telah membunuh bayi kita Hyunsoo. Apa kau akan tetap menatapku seperti ini jika kau mengetahui yang sebenarnya? Aku janji akan berubah jika kau tetap disisiku Kim Hyun Soo’ bisik Jongin dalam hati
Pria itu menyingkirkan beberapa anak rambut yang menempel pada wajah gadisnya.

“Oppa, sebenarnya apa yang terjadi padaku? Tadi malam perutku terasa perih hingga rasanya aku ingin mati. Dan sekarang aku terbangun di ruangan seperti ini, aku juga merasakan ada perban di perutku. Apa aku barusan menjalani oprasi?”

Pertanyaan Hyunsoo membuat Jongin terpaku seketika. Ia belum siap.. pria itu belum siap menerima reaksi Hyunsoo setelah mengetahui kejadian semalam.

“Eoh”

Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Jongin. Benar-benar jawaban yang tak pernah diharapkan oleh Hyunsoo. Gadis itu mengerutkan keningnya, setelah mendengar jawaban dari Jongin.

“Lalu oprasi apa itu? Apa aku menderita penyakit yang parah?”

“Ani..kau baik-baik saja” ucap Jongin sambil menggenggam tangan sang istri.

“Soo-ya..putriku, kau sudah bangun?”

Jaehyun barusan bangun dari tidurnya. Ia cukup terkejut melihat Hyunsoo yang kini sudah sadar dan terlihat ceria seperti biasanya.

“Aku sudah bangun lebih dulu eomma” jawab Hyunsoo seraya menampilkan senyuman manisnya.

“Soo-ya, oppa hari ini sedang ada jadwal. tak apa kan, jika kau kutinggal sebentar? Nanti malam aku pasti kembali”

“Ne oppa..pergilah dan cepat kembali”

“Aku akan menjaganya Jonginna, kau tak perlu khawatir” ucap Jaehyun lembut

“Ne eomoni, kamsahamnida”

Jongin mulai melangkah keluar ruangan.

“Jadi, apa kau lapar hm?” Tanya Jaehyun

Hyunsoo merasa ada yang aneh dengan ibunya. Ia merasa eomma-nya menjadi lebih lembut dari biasanya, namun Hyunsoo tak mau ambil pusing dan memilih untuk menikmati sikap baru ibunya.

“Ne eomma, tapi aku tak ingin makan makanan rumah sakit. Aku lebih baik makan pizza saja”

“Aigoo dasar gadis manja, kau harus makan dengan baik. Makanlah sesuatu yang bergizi”
Jaehyun kembali mengomel dan itu membuat Hyunsoo menarik kembali apa yang telah ia pikirkan terhadap ibunya.

Ceklek

Pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya dengan senyuman yang senantiasa bertengger pada wajahnya. Wanita itu membawa beberapa kantong plastik.

“Hyunsoo-ya, kau sudah bangun?” ucap wanita itu yang tak lain adalah ibu Jongin.

“Eo, eomoni” seru Hyunsoo, gadis itu tersenyum melihat mertuanya.

“Hyejin-ah, kau cepat sekali kembalinya?”

“Eyyyhh, aku juga ingin menjaga menantuku” ucap Hyejin sambil meletakkan beberapa kantong plastik pada meja.

Tadi malam saat oprasi pengangkatan janin sedang berjalan, Kai menghubungi kedua orang tuanya dan juga orang tua Hyunsoo. Mereka semua ikut prihatin dan terpukul dengan musibah ini, bahkan ibunya Hyunsoo hampir pingsan menyadari keadaan putrinya sekarang. Nyonya Kim juga menangis tersedu mengetahui keadaan Hyunsoo yang begitu memilukan, bagaimanapun juga Hyunsoo telah ia anggap seperti anaknya sendiri. Apalagi kenyataan bahwa Hyunsoo akan sulit mendapatkan keturunan setelah proses bersalin nanti, membuat mereka semua berpikir. Bagaimana mungkin gadis cantik dan muda seperti Hyunsoo mendapatkan musibah seperti ini? Hyunsoo masih terlalu muda untuk mendapatkan takdir se-kejam ini. Sejak tadi malam mereka semua berkumpul untuk menjaga Hyunsoo, dan malam itu mereka semua membuat kesepakatan untuk tetap menyembunyikan kenyataan ini, sampai Jongin sendiri yang akan memberitahu pada Hyunsoo apa yang sebenarnya terjadi. Mereka semua merasa, saat ini Jongin-lah orang yang paling berhak atas Hyunsoo.

“Eomma, eomoni..apa kalian disini menemaniku sejak tadi malam?”

“Ne chagi, tapi tadi aku pulang sebentar untuk mandi dan membawakanmu beberapa makanan” ucap Hyejin

“Eumm, kalian pasti tau..semalam oprasi apa yang ku jalani. Tadi aku sudah bertanya pada Jongin oppa, tapi ia menjawabnya dengan singkat”

Hyejin dan Jaehyun saling bertatapan satu sama lain. Kedua wanita itu bingung, apa yang harus mereka jelaskan pada Hyunsoo. Sangat tak mungkin bila menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Keuge..itu hanya oprasi kecil Soo-ya” ucap Jaehyun, saat ini Ia berusaha untuk tidak menitikkan air mata dan bersikap setenang mungkin.

“Oprasi kecil? Apakah aku menjalani oprasi usus buntu? Aku merasakan ada yang hilang disini” ujar Hyunsoo seraya memegang perutnya.

“Soo-ya, eomma mau ke toilet dulu ne”

Jaehyun segera berjalan ke kamar mandi. Wanita itu tak kuasa menahan buliran air mata yang sudah sejak tadi mendesak untuk keluar, ia merasa kasihan pada putrinya. Sementara Hyejin, wanita itu berusaha menenangkan dirinya dan mengalihkan topik pembicaraan.

“Omo..Soo-ya, bukankah kau menyukai Spagetty? Aku sengaja membawakan Spagetty untukmu”

Ekspresi Hyunsoo berubah antara terkejut dan senang menjadi satu. Sepertinya Hyejin berhasil mengalihkan pembicaraan mereka tadi.

“Sungguh eomoni? Anda membawakannya untukku?” seru Hyunsoo

“Ne..tentu saja untukmu. Aku sengaja membuat yang special untukmu” ucap Hyejin sambil mengeluarkan Spagetty nya.

Hyunsoo yang melihat pemandangan itu langsung memekik kagum. Ia merasa ini adalah hari terbaik dalam hidupnya. Dimulai dari sikap Jongin yang berubah menjadi lebih lembut dari biasanya, dirawat inap di rumah sakit sehingga Hyunsoo tak perlu susah-susah berangkat kuliah, dan juga dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.

“Eomoni, apa kata dokter aku bisa berjalan-jalan?” ujar Hyunsoo setelah menghabiskan makanannya

“Berjalan-jalan?” Tanya Hyejin bingung

“Nde..aku hanya ingin mengelilingi rumah sakit dan menikmati udara segar” ujar Hyunsoo

“Boleh saja, asal harus menggunakan kursi roda”

“Mengapa harus menggunakan kursi roda? Aku sudah merasa sehat”

Mendengar ucapan Hyunsoo membuat Hyejin berjalan mendekat, mengikis jarak antara mereka berdua. Hyejin menyentuh perut Hyunsoo dengan lembut. Ia merasakan ada yang bergerak di dalam sana, wanita itu tersenyum kemudian menatap Hyunsoo yang saat ini tengah mengerutkan keningnya.

“Soo-ya..apa kau pernah merasakan ada sesuatu yang bergerak dalam perutmu?” ucap Hyejin lembut

“Eo..aku pernah merasakannya, bahkan sering. Tapi kupikir itu karena siklus bulananku tidak teratur akhir-akhir ini”
Hyejin tersenyum mendengar jawaban polos dari Hyunsoo.

“Kau harus menggunakan kursi roda karena luka oprasimu masih belum sembuh total chagia” ucap Hyejin lembut.

“Begitukah? Baiklah aku akan menggunakan kursi roda”

Hyejin dengan telaten membantu Hyunsoo untuk duduk di kursi rodanya. Ia kemudian mendorong kursi roda itu menuju keluar kamar, namun Hyunsoo menahannya.

“Aku bisa berjalan-jalan sendiri. Eomoni istirahat saja disini, aku tau eomoni lelah. Terimakasih karena telah menjagaku semalaman”

“Tapi kau..”

“Aku janji akan hati-hati eomoni. Percayalah padaku, aku hanya berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit saja”
Hyunsoo kembali memamerkan senyumannya. Senyuman yang membuat siapapun akan merasa tenang melihatnya.

“Baiklah, tapi 30 menit lagi kau harus kembali untuk meminum obatmu” ujar Hyejin lembut, sambil membelai surai coklat hyunsoo.

Gadis itu mengangguk singkat pada mertuanya, ia mulai membuka pintu kamar dan menggerakkan kursi rodanya. Hyunsoo benar-benar menikmati udara Seoul hari ini, sebenarnya gadis itu merasa sedikit terganggu dengan aroma obat-obatan yang menyeruak masuk ke rongga hidungnya. Hyunsoo terus menggerakkan kursi rodanya sampai akhirnya ia memutuskan untuk berhenti. Yeoja itu sengaja menguping pembicaraan para suster disana, ke-empat suster itu menceritakan hal yang menarik bagi Hyunsoo.

“Kau tau pasien yang dibawa ke ruang UGD semalam?”

“Eoh, aku mengetahuinya. Gadis itu masih sangat muda namun sudah mengandung bayi kembar sepasang, laki-laki dan perempuan”

“Apa mungkin gadis itu hamil di luar nikah? Ia masih terlalu muda untuk menikah. Aku juga tak melihat suaminya disana”

“Memang berapa usianya?”

“Dia masih 19 tahun(usia Korea)”

“Mwo? Itu seumuran dengan adikku”

Hyunsoo yang mendengar pembicaraan itu, tiba-tiba merasa jantungnya berdegup kencang.
“Gadis itu seumuran denganku” gumamnya

“Ne, dan semalam dia menjalani oprasi pengangkatan salah satu janinnya. Pendarahannya sungguh parah. Aku merasa kasian padanya karena ia hamil di luar nikah. Hanya ada keluarga yang menunggu di luar ruang oprasi”

“Daeyul-ah, kurasa analisamu salah. Aku yakin suaminya ada disana namun kita yang tak melihatnya. Oprasi pengangkatan janin harus disetujui oleh ayah dari sang bayi. Dan keluarganya baru datang saat oprasi itu sedang berlangsung”

“Omo! Jadi dia benar-benar kehilangan salah satu bayinya?”

“Majjwo..aku sendiri yang membantu Dr.Im saat mengoprasinya. Rahimnya mengalami kerusakan yang sangat parah hingga kami harus mengorbankan salah satu dari bayi itu. Dan karena pendarahan ini pula, gadis itu akan sulit untuk memiliki keturunan setelah menjalani proses bersalin nanti. Kehamilan kali ini adalah kehamilan yang pertama bahkan mungkin yang terakhir”

“Ouhhh..malang sekali nasibnya, dia masih sangat muda. Tapi, kau pasti tau bayi mana yang di korbankan. Namjaeyo anim Yeoja(Laki-laki atau perempuan)?”

“Bayi yang dikorbankan, adalah yang berjenis kelamin…”

“Eonnie..palli katakan padaku! Yang mana yang dikorbankan? Aigoo, malang sekali nasib gadis itu. Eonnideul, apa kalian tau? Gadis itu seumuran denganku, makanya aku tertarik dengan cerita kalian. Jadi, bayi mana yang dikorbankan?”
Gerakan Hyunsoo yang tiba-tiba menyela pembicaraan para suster di sana, membuat mereka semua shock bukan main. Mereka saling berbisik sambil menatap Hyunsoo dengan gugup.

“Cwesonghamnida nona, kami permisi dulu” ucap salah seorang perawat.

“Eonnie! Menangapa kalian pergi, aku hanya ingin tau saja. Aku berjanji tak akan melaporkan kalian pada kepala rumah sakit, karena telah membicarakan pasien” kata Hyunsoo yang kini tengah menatap punggung suster-suster itu.

Hyunsoo Pov

Gezh! Mengapa mereka harus pergi, aku benar-benar penasaran dengan cerita itu. Ah molla, masih banyak yang lebih penting dari pada masalah pelik gadis itu. Entah mengapa aku kembali tersenyum bila mengingat perilaku Jongin oppa tadi, ia terlihat sangat takut kehilanganku. Aku jadi semakin merindukannya, ku keluarkan ponsel dari saku piama rumah sakit yang kukenakan.

“Yoboseyo oppa, apa kau sibuk?”

“Ani, 1 jam lagi aku perform” jawab Kai dari sebrang sana

“Eo, apa aku mengganggumu? Apa yang sedang kau lakukan?”

“Aku sedang di make up. Wae? Apa ada sesuatu yang terjadi?”

“Eumm, aku hanya merindukanmu”

Aku memejamkan mata saat mengatakan hal itu. Assshh, ada apa denganku? Mengapa aku jadi seperti pacarnya Shamhoo yang sangat labil. Aku merasa menjadi gadis yang memalukan, tapi aku juga sangat ingin mengatakan hal itu pada oppa. Aku mendengar tawa Jongin oppa di sebrang sana, dan itu justru membuat semburat merah pada wajahku.

“Nado bogosippeo, ehem..apa kau mau kubawakan sesuatu saat aku pulang nanti”
Aku sontak mebuka mata mendengar ucapan Jongin oppa. Mengapa dia seolah bisa membaca pikiranku.

“Aku..aku menginginkan ddeokbokki dan juga lemon tea. Bisakah kau membawanya untukku?”

“Ne, tentu saja aku akan membawanya. Kau mau berapa porsi hm??”

“Hya! Apa kau mau meledekku?! Aku bukan beruang yang hidup di Seoul oppa” ucapku kesal

“Hahaha..baiklah, akan kubawakan 1 porsi saja”

“Eung? Andwe! Berikan aku 3 porsi ddeokbokki. Satu porsi untukmu dan 2 porsi untukku. Aku tak mau makan sendirian,aku ingin makan denganmu. Jangan coba-coba tertawa sebelum aku menutup telefonnya. Oppa saranghae. Annyeong!”
Bip

Huft..aku sungguh tak sanggup mendengarnya menertawakanku. Aku mulai menggerakkan kursi roda ke arah kamarku.

At night

Saat ini aku terus tersenyum sambil memakan ddeokbokki yang barusan dibawa oleh Jongin oppa. Moment seperti ini mengingatkanku pada saat pertama kali kami pergi berdua ke pantai. Sekarang hanya ada aku dan Jongin oppa di ruangan ini.

“Oppa, sebenarnya oprasi apa yang sudah ku jalani? Eomma bilang itu oprasi kecil. Tapi saat aku bertanya apakah itu oprasi usus buntu, eomma tak mengatakan apapun?”

Jongin oppa mengulum senyumannya kemudian menatapku lembut. Oh tuhan, aku merasakan jutaan kupu-kupu bertebangan di perutku saat menerima tatapan seperti itu.

“Habiskan dulu makananmu, maka akan kuceritakan semuanya”

Aku langsung menghabiskan sisa ddeokbokki yang kini tinggal sedikit lagi.

“Geure..aku sudah menghabiskannya” ucapku sambil mengelap bibir dengan tissue.

Kulihat tatapan Jongin oppa berubah menjadi sendu, tersirat kesedihan di dalam sana.

“Hyunsoo-ya..sebenarnya, malam itu kau mengalami pendarahan parah”

“MWO?” pekikku

“Kau hamil hiks, usia kandunganmu sudah 4 bulan. Darah yang kau keluarkan beberapa minggu yang lalu, bukanlah darah menstruasi. Itu adalah darah yang disebabkan oleh kontraksi pada kandunganmu hiks hiks”

Aku masih diam terpaku mendengar ucapan Jongin oppa, dadaku terasak sesak mendengar penjelasan darinya. Pikiranku melayang pada pembicaraan para suster yang kudengar tadi siang.

“Mereka kembar Hyunsoo-ya hiks..bayi kita kembar sepasang, perempuan dan laki-laki. Hiks karena kerusakan rahimmu sangat parah hingga membuat salah satu dari mereka harus dikorbankan. Aku harus menentukan pilihanku saat itu, agar kau bisa tetap hidup. Aku..aku harus mengorbankan salah satu dari mereka”

“Bayi mana yang kau korbankan?” ucapku dingin. Air mataku benar-benar sudah tak bisa ditahan lagi, aku benar-benar merasa menjadi wanita paling bodoh di dunia ini.

“Maafkan aku Hyunsoo, aku mengorbankan…

Aku mengorbankan putri kita”

Tangisku langsung pecah saat itu juga. Aku menangis sejadi-jadinya, Jongin oppa membawaku dalam pelukannya. Tapi itu tak berlangsung lama, aku mendorongnya dengan kasar sehingga pelukan kami terlepas. Aku merasa kesabaranku sudah habis untuknya, aku marah..sangat marah.

“Lepaskan aku! Kau..kau melupakan satu hal. Kehamilan ini adalah kehamilan yang pertama dan bisa jadi yang terakhir untukku kan?” kataku sambil mengusap air mata dengan kasar.

“Soo-ya bagaimana kau bisa tau?”

“Tadi siang, aku mendengar beberapa perawat yang membicarakan tentang gadis yang bernasib malang. Gadis itu mengandung bayi kembar sepasang. Ia juga harus kehilangan salah satu dari bayinya itu. Mereka juga mengatakan bahwa akibat pendarahan yang dialami oleh gadis itu, membuatnya susah untuk mendapatkan keturunan setelah proses persalinan. Awalnya aku merasa iba dengan gadis itu, bagiku dia adalah gadis yang sangat menyedihkan. Aku tak menyangka bahwa gadis itu adalah Shin Hyun Soo. Aku sendiri” ucapku sambil menahan rasa pengap di dada.

“Soo-ya jeongmall mianhe”
Jongin oppa semakin bergetar mendengar ucapanku.

“JIKA KAU TAK MENGHEMPASKAN TUBUHKU DI SOFA BEGITU SAJA. JIKA KAU TAK MEMBENTAKKU PADA SAAT ITU!! TENTU SAJA SAAT INI PUTRIKU MASIH ADA”

Emosiku benar-benar sudah tak terkendali, aku benar-benar merasa sakit hati padanya. Namun disisi lain, aku merasa tak tega pada Jongin oppa. Aku tahu dia juga sedang terpuruk saat ini.

“Aku minta maaf Soo-ya hiks…jika saja aku bisa menukar nyawaku dengan putri kita, maka aku akan menukarnya dengan senang hati. Asalkan dia bisa lahir dan merasakan hidup di dunia. Aku rela menukar nyawaku Soo-ya”

“Pergi! Tinggalkan aku sendiri! Aku janji setelah luka oprasiku sudah pulih, maka aku akan mengakhiri pernikahan kita. Aku akan menyewa pengacara untuk mengurus semuanya”

“Andwe! Soo-ya kumohon jangan ceraikan aku, kumohon! Aku janji akan berubah, aku bersumpah untukmu Kim Hyun Soo. Kumohon”

“Kau…kau sudah membunuh putriku” kataku sambil menatap matanya tajam

“Bunuhlah aku jika itu bisa membuatmu puas Hyunsoo. Bahkan jika saat ini kau menyuruhku untuk bunuh diri, maka aku akan melakukannya. Aku lebih baik mati dari pada bercerai denganmu. Kumohon maafkan aku Soo-ya”
Jongin oppa bersimpuh dihadapanku dan itu membuat hati ini terasa semakin perih.

“Kau hiks..kau tidak tau apa yang kurasakan. Aku merasa menjadi wanita paling bodoh di dunia ini, tuhan telah memberikanku anugrah paling indah, dengan cara mengijinkanku untuk mengandung bayi kembar hiks. Namun karena kebodohanku, aku menyia-nyiakan mereka. Aku sering makan telat hiks, aku tak mempedulikan rasa sakit yang sering menjalar pada perutku, bahkan hiks dengan tidak tau diri aku justru bertengkar dengan Songhwa tanpa mempedulikan janin yang ada di rahimku. Secara tidak langsung aku bahkan berusaha membunuh mereka, selama 4 bulan terakhir dengan kebodohanku. Oppa, apakah aku bisa menjaga putra kita hingga akhir huh? Bagaimana jika kecerobohanku bisa melukainya? Apa aku bisa menjaganya setelah putra kita lahir ke dunia? Aku merasa menjadi ibu yang paling buruk di dunia ini. Hiks”

Aku terus terisak saat mengatakan hal itu, aku benar-benar merasa bersalah dengan kedua bayiku.

Chu~

Jongin oppa segera bangkit dan menciumku, kami menangis bersama saat ciuman itu berlangsung. Berbagi rasa sakit, beban dan tekanan yang barusan menimpa kami. Jongin mulai menempelkan tangannya pada perutku. Ia mengusap perutku dengan lembut tanpa melepas pautan bibir kami. Ciuman ini terasa lembut dan tanpa napsu, entah mengapa aku menyukainya.

“Aku yakin kau pasti bisa menjaganya, aku akan selalu berada disampingmu untuk mendampingi setiap langkahmu. Kita mulai semua dari awal ne? ada jagoan kecil disini yang membutuhkan kita. Dia adalah kesempatan kedua untuk memperbaiki semua kesalah kita Soo-ya” kata Jongin sambil terus membelai perutku. Aku sendiri merasakan ada yang bergerak di dalam sana. Perlahan aku mulai menaikkan kedua sudut bibirku membentuk sebuah senyuman. Aku mengangguk singkat, pertanda bahwa aku menyetujui perkataannya.

“Apa kau merasakannya? Dia terus bergerak oppa” kataku sambil tersenyum dan menghapus sisa air mata di pipiku.

“Eoh..aku merasakannya. Terimakasih Soo-ya, terimakasih atas semuanya. Aku benar-benar mencintaimu. Aegi-ah..cepatlah tumbuh dan lahir ke dunia..appa tak sabar untuk bertemu denganmu”

“Aegi-ah…mulai sekarang eomma janji akan menjagamu dan merawatmu dengan baik. Kau harus tumbuh dengan sehat ne” kataku sambil ikut membelai perutku yang sudah agak membesar. Tadinya kukira itu adalah lemak, namun ternyata aku salah.

Jongin oppa kembali memelukku, melepas segala beban yang kami rasakan. Aku mulai membalas pelukannya sambil tersenyum.

“Jadi, apakah kau sudah memaafkanku?” ucap Jongin sambil melonggarkan pelukannya dan menatap wajahku.

“Apa menurutmu aku mau untuk berciuman seperti tadi, jika aku belum memaafkanmu hm?” jawabku santai sambil membelai wajahnya.

Jongin oppa kembali menempelkan bibir kami, sesekali ia melumat bibirku dengan lembut. Aku tersenyum di tengah ciuman kami. Ya..kesempatan kedua memang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Aku bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan kedua, padaku dan Jongin oppa melalui jagoan kecil yang saat ini masih bertahan di rahimku. Dan aku berjanji akan menjaga dan merawatnya sebaik mungkin.

TBC

Gimana reders?? Angst-nya dapet gak? Maaf banget ya kalo bahasanya masih sangat berantakan dan banyak typo bertebaran. Sebenernya masalah inti ada di chapter ini, bukan di chap yang sebelum-sebelumnya yang menceritakan tentang Kris. Sebenernya masalah Kris dan baekyeon Cuma selingan aja. Hehehe…tapi aku gak yakin 100% kalo kalian bakal nangis gara-gara baca part ini. Bahkan keyakinanku gak sampe 50% kalo ada reders yang nangis gara-gara baca ini. Kekeke…sekali lagi maaf banget ya kalo cerita ini terkesan datar banget. Tapi walaupun gitu, aku juga seneng masih ada reders yang mau komen. Chingu, aku mau kita jujur-jujur an aja deh… aku jujur seneng banget baca komen kalian d FF ini. Tapi disisi lain aku juga kesel sama SIDER, aku gk pernah kecewa sama SIDER tapi aku kesel aja sama mereka. Kesel sama kecewa beda kan?? Hehehe..absurd banget curhatan gue -_____- berhubung aku masih jadi author amatir, maka dari itu aku tetep butuh saran dan kritik dari kalian. Coment juseyo ne ^^

18 thoughts on “Ooppss !! Chapter 12

  1. Jong kau tegaaa tp kasihan juga 😢
    Hall yg diharapkan didunia para perempuan yaitu bisa memiliki bayi kembar omg dngan sbgtu mya kau lempar kebahagiaan ini astaga jong sakittt nih sakit

  2. HWAAAA…. AUTHOR!! Aku nangis bacanya T.T
    Aku suka banget baca yg part ini!! Feelnya dapet banget!! Aduh… susah deh buat ngomongnya!! Author kalau buat cerita keren banget, berasa jadi nyata klo baca hehe!!!
    KEEP WRITING AUTOR :*
    NEXT!!! Jangan Lama-lama!!!!! Soalnya aku penasaran ama kelanjutannya!!
    #FIGHTING^_^

  3. HWAAAA…. AUTHOR!! Aku nangis
    bacanya T.T
    Aku suka banget baca yg part ini!!
    Feelnya dapet banget!! Aduh… susah
    deh buat ngomongnya!! Author kalau
    buat cerita keren banget, berasa
    jadi nyata klo baca hehe!!!
    KEEP WRITING AUTOR :*
    NEXT!!! Jangan Lama-lama!!!!!
    Soalnya aku penasaran ama
    kelanjutannya!!
    #FIGHTING^_^

  4. HWAA…. AUTHOR!! FFnya keren banget!! FEELnya tuh dapet banget!! Ahh… aku sampe nangis tau bacanya!!! Semoga aja Hubungan Jongin sama Hyunsoo baik2 aja!!
    KEEP WRITING AUTHOR: *
    #FIGHTING^^

  5. HWAA… Author~
    Aku nangis bacanya!!! Feelnya dapet banget!! Aku suka deh. Semoga hubungan Jongin dan Hyunsoo baik-baik aja deh!! KEEP WRITING AUTHOR~ Cepet di Next yah!!

  6. HWAA… Author~
    Aku nangis bacanya!!! Feelnya dapet
    banget!! Aku suka deh. Semoga
    hubungan Jongin dan Hyunsoo baik-
    baik aja deh!! KEEP WRITING
    AUTHOR~ Cepet di Next yah!!

  7. HWAAAA…. AUTHOR!! Aku nangis
    bacanya T.T
    Aku suka banget baca yg part ini!!
    Feelnya dapet banget!! Aduh… susah
    deh buat ngomongnya!! Author kalau
    buat cerita keren banget, berasa
    jadi nyata klo baca hehe!!!
    KEEP WRITING AUTOR :*
    NEXT!!! Jangan Lama-lama!!!!!
    Soalnya aku penasaran ama
    kelanjutannya!!
    #FIGHTING^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s