[FF Freelance] Between Us

Between UsJudul :

Between Us

Author:

Ahra Ahn

Cast :

Kim Ryeowook Super Junior (Out Of Character), ‘aku’ as you, other cast.

Genre :

Sad, Angst, Romance, Hurt, Alternate Universe,

Rating :

General

Length :

Oneshoot

Summary:

Ribuan hari telah kita lewati. Namun serasa kemarin kita melepas semua

Desclaimer:

Idea of FF is mine. Kim Ryeowook milik Tuhan dan saya hanya minjam nama. Pernah di publish di Riri & Rara’s Room

Np: Listen Girls Day_I Miss You/AKMU_Eyes, Nose, Lips/Juniel_Illa Illa

❤ Between Us❤

Detak jarum jam mengalun di telinga. Bersama uap cokelat panas di dalam cangkir putih milikku, dan angin musim hujan yang mengetuk jendela kayu dengan nakal.

Meregangkan kedua tangan, aku beranjak dari dudukku. Meninggalkan kasur berwarna hijau itu sejenak sembari bersenandung ria. Langkahku terhenti begitu menatap lembaran berwarna yang tergantung manis tepat di hadapanku. Lantas menyentuhnya pelan, membuka lembaran itu dengan perlahan.

Awal Desember. Itu berati tepat 2 tahun 6 bulan aku melajang di dunia ini.

Tawaku meledak seketika, mengingat kata ‘lajang’ yang tertempel jelas di atas jidat lebar milikku ini. Lucu sekali mendengar diriku telah melajang selama itu sementara teman-temanku yang lain sibuk berkutat dengan pasangan masing-masing. Dalam tawaku aku merendah sedikit dari posisi awalku. Mengambil buku berwarna kuning usang di hadapanku, lalu pergi menuju kasur tempat posisiku berada.

Jalan-jalan selesai, tepat jam 12 malam. Semua indah, berujung melelahkan. Namun ada satu hal menarik yang membuatku terbayang hingga sekarang.

Kim Ryeowook.

Kau tahu nama itu? Pria pemilik lesung pipi itu terngiang di pikiranku. Bukan maksud aku tiba-tiba menyukainya atau apapun seperti itu, tidak. Aku hanya ingin membahasnya, itu saja.

Tepat setelah matahari terbenam, aku melangkah menuju bagian atas balkon kapal. Mencari-cari posisi yang tepat untuk bersenandung ria di tengah keriuhan sorak sorai para penari yang hendak battle dance. Bermaksud hati ingin ikut, namun tak jadi. Gemerlap bintang terlanjur menarikku untuk menyendiri menatap laut tanpa ujung ini.

Bagian sudut kanan kapal, aku terdiam bersandar menatap bintang yang kontras dengan hamparan hutan yang terlihat gelap bak ruangan tanpa lampu. Bersenandung sembari menyibakkan anak rambut yang menari di udara dengan nakal, sebelum sebuah earphone melekat manis di telingaku.

Jemari yang menyentuh telingaku pelan, Kim Ryeowook.

Kami terdiam menyimak lagu bergenre rock yang mengalun di telinga. Menikmati semilir angin malam menerbangkan surai rambut kami dan hamparan langit bertabur bintang yang membias di atas air bak cermin. Sebelum akhirnya ia membuka suara dan melakukan percakapan ringan.

Tidak sampai disitu.

Aku melakukan kesalahan fatal yang bodoh. Kesalahan seperti apa, kau ingin tahu? Perjalanan pulang menuju Seoul, tepat berada di dalam bus pariwisata yang sekolah sewa untuk liburan sekolah, kami duduk bersebelahan dan meneruskan bercengkrama sesekali saling bersahut-olok. Bukan masalah besar, awalnya. Setelah itu? Aku tertidur tepat di atas pundaknya. Pundak seorang Kim Ryeowook! Bagaimana bisa? Ya Tuhan, maafkan aku.

Aku terkekeh membaca halaman pertama pada buku kuning kecil usang di tanganku. Membayangkan kejadian dua setengah tahun silam sembari menutup wajah dengan kedua tanganku. Terbayang di pikiranku wajah panikku seusai turun dari bus pariwisata dan berlari menuju rumah dengan wajah ditangkup. Ya Tuhan.. Lucu sekali.

Jangan tanyakan aku mengenai hal ini.

Pria mungil itu, Kim Ryeowook, menyatakan cinta padaku.

Ini gila. Demi apa, seorang Kim itu selalu menggangguku dimana pun berada. Melemparku dengan sepatu, saling bersahut-olok, dan sebagainya. Namun, bagaimana bisa ia menyatakan hal tabu yang tak aku mengerti?

Aku tak mengenal baik tentangnya. Tidak juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Tapi kenapa aku menerimanya?

Jangan tanyakan aku mengenai hal ini.

Sepertinya otakku konslet. Terbentur sesuatu, atau bagaimana? Aku bahagia, entah mengapa. Jantungku berdegup kencang membayangkan sendiri wajahnya yang manis itu seolah mengucap cinta tepat di hadapanku. Padahal tidak. Ia hanya mengirimiku surat. Itu saja.

Jangan tanyakan aku mengenai hal ini.

Dengan bodohnya, aku, siswi paling berbakat dalam hal kenakalan dan tomboi, berteriak kencang seperti diintip ajusshi hidung belang sewaktu mandi. Hanya karena membaca surat berisi beberapa patah kata, aku berteriak girang. Ya Tuhan.. ada apa dengan hamba-Mu satu ini?

Wajahku seakan memanas usai membaca lembaran kedua. Menyentuh pipi dengan kedua tangan sembari bersenandung bait demi bait lagu yang mengalun di dalam earphone. Sedikit terkekeh membaca pengandaian ‘diintip ajusshi hidung belang’ yang terdengar tidak elite sama sekali.

Sepertinya aku sudah gila.

Bibirku tak berhenti terangkat ke atas usai meninggalkan bioskop yang kami kunjungi bersama. Bukan karena film romantis yang terputar di dalam studio yang membuatku berbunga-bunga seperti ini. Tidak. Namun ada hal lain yang jauh lebih mewah dari hal itu.

Ia menatapku heran melihatku mentertawai sekumpulan zombie yang ditembaki dengan sadis. Membuatku terpaksa menahan tawa sembari menggidikkan bahu ke arahnya. Ia mengarahkan tangannya menuju sebuah sudut ruangan di sebelahnya padaku. Seperti mengisyaratkanku untuk berada di sudut ruangan yang ia tunjuk. Mengangguk saja, dengan kikuk aku mengikutinya berada di sudut ruangan yang ia tunjuk.

Di dalam nuansa horornya adegan pembunuhan yang membuat beberapa teman kami histeris, kami berdua terdiam di salah satu sudut ruangan. Duduk bersebelahan sembari menunggu jaringan internet melaju kencang membuka hal yang ingin ia tunjukkan padaku. Bukan sebuket bunga, sebuah lagu, ataupun sekedar puisi dan kata-kata romantis.

Hanya sebuah akun sosial media untuk dipakai kami berdua, dan dengan bodohnya aku bahagia.

Memang bukanlah hal yang spesial. Tapi entah kenapa aku tak bisa menghentikan kebahagiaanku begitu mendengar Ryeowook berkata ‘kita bisa memakainya bersama’ yang terdengar manis di telingaku.

Sepertinya aku sudah gila.

Bagaimana bisa aku bahagia mendapatkan hal yang tidak romantis seperti itu? Bagaimana bisa aku, yang notabenenya anti terhadap hal berbau cinta malah terperangkap dalam hal sederhana seperti itu?

Tuhan, kemana diriku yang dulu? Kenapa pria mungil itu begitu manis?

Mentari sepertinya kini telah menghilang dariku. Terlihat jelas tawaku yang memudar begitu membaca kalimat terakhir pada lembar ketiga ini. Teringat jelas dalam bayangku perilaku diriku yang dingin dan masih ragu pada Ryeowook kala itu.

Menghela nafas perlahan, aku menuju lembar ke-empat.

Dia cemburu padaku? Kenapa dia mengacuhkanku?

Aku tak ingin mengungkit masalah ini, tapi hal ini selalu mengusik pikiranku.

Tiga bulan berlalu, dan dia mulai mengacuhkanku.

Aku tidak butuh perhatian, aku bukan gadis lemah. Namun setelah dua bulan terakhir aku membaca pesannya membahas beberapa pria membuatku terusik dan bertanya-tanya.

Apa dia cemburu?

Jika mengingat kembali dua bulan terakhir, aku memang banyak dekat dengan pria selain dirinya. Seperti Jo Kwangmin, pria yang sering ia sebut Lee Jae Joon, dan satu pria yang dengan terpaksa aku sebut namanya, Kim Youngmin. Aku memang berteman baik dengan Kwangmin, namun aku sama sekali tidak mengenal siapa Jae Joon dan Youngmin. Haruskah ia cemburu pada temanku sendiri? Seorang Jo Kwangmin?

Jika membahas Kim Youngmin, jujur saja ada perasaan tak enak begitu sebuah pesan dari pria setahun lebih muda dariku itu mengganggu ketenangan ponselku. Pria itu―usai memperkenalkan namanya dan memulai percakapan ringan― secara spontan menyatakan cinta dan membuatku terusik.

Ini baru tiga bulan, haruskah aku menghadapi sebuah kerikil dalam hubungan yang baru seumur jagung ini?

Aku bimbang.

Pertama kalinya dalam hidupku aku mengalami hal seperti ini. Ingin sekali aku ceritakan hal ini kepadanya, namun aku takut. Takut ia akan terbebani. Takut ia akan berpikiran sama denganku. Melepas hubungan ini, demi kebaikannya.

Mengapa aku jadi membahasnya? Apa tak ada hal lain yang patut aku kerjakan selain membahasnya?

Maafkan aku Tuhan, jika membuat pria berparas manis itu terbakar api cemburu. Katakan padanya bahwa aku masih menyayanginya.

Aku ikhlas melepasmu dan memberikan senyuman terakhirku untukmu, walau berat untuk melepasmu.

Ingin rasanya aku merobek halaman ke-empat ini begitu membaca nama ‘Kim Youngmin’ yang tertulis di dalamnya. Teringat sekali pesan “Terima aku” yang ia kirimkan usai memulai percakapan. Ia tahu aku memiliki pasangan, namun mengapa bertindak seperti itu?

Menghela nafas, aku kembali membaca kalimat terakhir yang aku tulis bersama gambaran gadis yang tengah menangis di dalam buku usang ini. Aku berdecih pelan. Sebegitu melankolisnya kah hal ini? Mengapa dadaku serasa sesak?

Bolehkah aku menangisi sesuatu hari ini? Walaupun sudah seminggu, tidak mengapakah bila aku masih menangisi hal ini?

Pria itu, Kim Youngmin, demi apapun aku tidak akan memaafkannya sampai kapanpun.

Ya Tuhan, lihatlah pria tidak tahu malu sepertinya. Sebegini pantasnya kah ia memfitnah orang yang bukan dalam posisi ‘bersalah’ sepertiku? Mengapa ia sebegitu tega memfitnahku dengan sebutan yang memilukan tersebut?

Aku akan menceritakan kronologinya.

Selama malam Sabtu ponselku dipegang oleh Im Seulong, sahabatku sekaligus pria yang sudah kuanggap kakak sendiri. Aku berkelana mengitari Lotte Mart mencari beberapa barang bersama Minah, sahabat sekaligus adik dari Seulong, sementara Seulong sibuk dengan pekerjaannya mengganggu wanita yang bekerja di klub malam dengan air bercampur kotoran yang telah diikat dalam kantong plastik.

Pagi harinya, aku mendapati beberapa pesan masuk dari orang tak dikenal beserta Youngmin yang memakiku seolah-olah aku telah melakukan dosa besar padanya. Air mataku menetes. Aku menangis, menodai hariku yang indah ini dengan air mata sakit hati karenanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku pertanyakan hal itu pada Seulong.

Pria berpostur tinggi itu, Seulong, berkata padaku ia menerima pernyataan Youngmin melalui balasan pesannya dengan maksud bermain-main. Ia mengirimi hal itu lalu beberapa jam kemudian ia memutuskan ‘hubungan’nya dengan Youngmin yang percaya sekali cintanya diterima olehku.

Aku marah. Tapi kenapa aku menangis?

Aku marah pada Seulong. Aku marah pada Youngmin. Aku marah pada diriku sendiri. Sampai kapan aku menangisi hal ini? Haruskah aku cerita padanya? Haruskah aku berkata tentang ucapan Youngmin bahwa hubungan ini hanya sebatas taruhan saja?

Tuhan, beri aku petunjuk. Aku tidak ingin membebaninya. Tidak juga ingin membuatnya terusik karena menceritakan pria lain lagi. Tidak ingin membuat hubungan ini rusak.

Aku menyayanginya.

Tidak ada perempuan yang ingin menjadi barang taruhan.

Aku… tertawa. Ya, tertawa. Mentertawakan hatiku yang begitu lunak untuk marah pada orang lain. Air mataku menetes. Terbayang goresan kehancuran yang mungkin akan menghancurkanku selama beberapa waktu jika mengingatnya.

Ini barulah awal.

Kurang dari 100 hari.

Setelah Youngmin kuhadiahi cacian, hubungan kami meregang.

Hanya aku yang merasa…. atau memang seperti itu adanya?

Sepertinya ini hukuman untukku.

Seulong overprotektif. Ryeowook mengacuhkanku.

Aku tidak mengerti mengapa Seulong suka sekali mencampuri hubunganku dengan Ryeowook. Aku sudah memarahinya, namun sepertinya ia tak memiliki telinga. Kau tahulah apa yang kumaksud.

Sepertinya ini hukuman untukku.

Perasaanku tiba-tiba menghilang. Usai ucapan Youngmin yang tak diketahui kebenarannya, perasaanku menghilang. Aku ragu. Benarkah ia mencintaiku?

Tapi hanya air mata yang kudapat. Kemana hilangnya perasaanku? Berikan padaku agar aku tidak menjadi lemah seperti ini.

Ia sudah seperti oksigen.

Tuhan.. kembalikan perasaanku. Aku tidak ingin menjadi orang jahat.

Air mataku mengalir semakin deras. Nafasku terasa sesak. Kembali terbayang diriku yang ‘tersenyum’ padanya di hari ke-100 kami, meskipun hanya sebuah pesan. Aku telah membohonginya. Aku munafik, bukan?

Maafkan aku. Aku bukanlah wanita yang baik.

Aku tidak menyukainya. Namun aku mencintainya.

Ini sudah lima bulan. Aku takut.

Aku takut ia tak mencintaiku. Aku takut hubungan ini hanya akan menjadi cinta sepihak.

Aku percaya padanya. Tapi hati ini ragu, karena perilakunya. Aku tak dapat menghentikan ketakutanku karena aku tak tahu apakah ia mencintaiku atau hanya menganggapku ‘seorang sahabat’.

Aku tahu aku kejam. Itu membuatku membenci diriku.

Aku ingin menangis, tapi keadaan tertekan ini melarangku untuk menangis. Bukankah itu kejam?

Aku tak ingin menjadi orang jahat. Aku harap aku dapat melepas keraguan ini.

Andai kau tahu isi hatiku… Dapatkah kau menghangatkan hati yang sedingin es ini?

Sudut bibirku terangkat ke atas. Membentuk senyum getir di tengah air mata yang membasahi pipiku. Pikiranku dipenuhi rasa bersalah. Hatiku kalut. Ini kurang dari setengah, namun mengapa sesakit ini?

Aku takut.

Takut pada perasaanku. Takut pada hatiku sendiri.

Sudah setengah tahun lamanya kucoba ‘tuk kembali seperti saat pertama kami menjalin hubungan. Saat mencoba menyayanginya. Seperti bunga bermekaran di musim semi.

Tapi tak bisa. Terlalu sakit, di hatiku..

Aku ingin melepasnya. Namun aku tak bisa. Karena itu membuatku merindukannya.

Katakanlah aku egois. Katakanlah aku terlalu mementingkan perasaanku sendiri. Namun jika seperti itu kenyataannya, apa yang bisa aku lakukan?

Wanita macam apa aku ini? Manusia macam apa aku ini?

Apakah ini cinta? Adakah cinta yang egois seperti ini?

Aku lelah mentertawai kebodohan dan kemunafikanku. Lembaran ini telah basah. Mataku memanas dan sedikit sakit karena kembali menjadi sosok yang mendramatisir keadaan.

Aku harap setelah ini air mataku dapat berhenti.

Tersisih.

Aku pantas mendapatkan ini.

Pria itu, Kim Ryeowook, duduk berdekatan dengan Kim Hyuna, teman sekelas kami. Bersenda gurau, terkadang melakukan skinship, dan lainnya mereka lakukan tepat di depan mataku.

Ya.. aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.

Aku tidak marah pada Hyuna. Aku tidak cemburu pada mereka. Aku mentertawakan kebodohanku sendiri.

Tuhan, aku iri. Aku rindu masa-masa itu. Walau tanpa skinship seperti berpegangan tangan, berpelukan, atau apalah itu, aku rindu. Aku rindu cara kami bersenda gurau. Terlibat dalam perbincangan tidak berati sesekali berbalas olok satu sama lain. Aku rindu cara ia mengkhawatirkanku. Menemaniku meskipun aku sering mengacuhkannya.

Aku rindu dirinya.

Manik mata kehitaman yang menatapku teduh. Segaris senyum manis yang terukir manis di paras bersinarnya. Suaranya yang membuatku nyaman. Tawanya yang memperlihatkan deretan gigi yang membuatku turut tertawa. Perilaku jahilnya yang membuatku sakit kepala sekaligus terhibur.

Bodoh. Pada akhirnya aku menyesali semuanya. Dasar bodoh. Aku bodoh.

Mereka sepertinya lebih cocok. Ah, apa yang aku pikirkan? Tapi mereka sangat dekat. Seperti… hubungan sesungguhnya. Apakah tuan Kim itu akan bahagia bersamanya? Aku seperti orang ketiga, hahahaha.

Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Haruskah aku mengakhirinya? Aku tidak ingin menjadi orang jahat. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga.

Walaupun pada akhirnya rasa cinta yang susah payah kubangun kembali selama dua bulan ini mungkin akan menyiksaku seumur hidup, aku ikhlas. Walaupun hatiku akan tersakiti untuk kesekian kalinya, tidak masalah. Aku pasti bisa menghadapinya. Semangat ^^

Aku rasa aku akan memutuskan hubungan kami dalam waktu dekat.

Bodoh. Predikat yang pantas diberikan untukku. Air mataku habis. Aku lelah untuk menangis. Aku lelah mengingat ribuan kata maaf yang kukirimkan padanya secara tak langsung.

Aku dan Ryeowook.. kami putus.

Kutorehkan itu begitu mudahnya. Semudah merobek kertas.

Kami putus.

Aku tidak menangis. Aku tidak bersedih. Sekalipun hal ini salah, tidak masalah. Aku pantas mendapatkannya.

Cukuplah banyak yang membuatku merasa gila. Aku tak perlu memikirkan hubungan Ryeowook dan Hyuna. Aku tak perlu memikirkan wanita itu menginginkanku untuk menjadi kekasihnya. Jangan tambah pemikiranku lagi. Aku tidak ingin mengonsumsi obat penenang karena menjadi gila.

Ini gila. Dan aku tertawa.

Setelah aku meminta tuan Kim itu menjadi seorang kawan, kedekatan antara Ryeowook dan Hyuna menghilang. Terbawa angin, entah kemana. Mereka menjadi jaga jarak, tidak seperti dulu lagi.

Kenapa menjadi seperti itu, Tuhan? Mengapa Engkau tidak menyatukan mereka saja? Mengapa mereka berjauhan tidak seperti saat aku masih menjalin hubungan dengannya?

Aku tidak menangis. Aku gadis kuat. Aku tidak akan menangis karena hal ini. Salahkan saja air mata yang dengan nakalnya membasahi pipiku.

Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menceritakan semua? Tapi kami sudah tidak berhubungan.

Jangan buat aku menjadi orang jahat. Aku tidak ingin menjadi orang jahat.

Goresan hitam itu terhenti. Tepat di lembaran akhir buku kuning usang itu, sebelum cover belakang menutup semuanya.

Air mata ini mengalir. Delapan bulan yang panjang. Penuh kesalahpahaman, namun berbalut kenangan manis yang membuat bibirku masih mengulum senyum dalam sesaknya dada dan terbukanya luka lama.

Aku menyukai perjalanan malam karena dirinya. Aku menyukai langit malam berbalut bintang karena dirinya. Aku menyukai hal-hal sederhana karenanya. Aku menghargai dan bersabar karenanya. Dia mengajariku banyak hal, walaupun kami terpaut beberapa bulan dan aku lebih tua darinya.

Aku akui aku menyesal. Aku masih mencintainya. Tapi penyesalan itu tidak akan membuatku terpuruk. Walau nyatanya aku terpuruk dan menangisinya. Salahkan air mata yang dengan nakalnya turun mengalir membasahi pipiku.

Derasnya hujan perlahan berubah menjadi rintik gerimis yang membasahi gulitanya malam. Merebakkan aroma tanah yang mengisi relung dadaku. Aku menghirupnya banyak. Menahannya sejenak, lalu melepaskannya perlahan.

Setelah perpisahan itu, ribuan hari telah kita lewati. Namun serasa kemarin kita melepas semua. Manik mata itu, senyum itu, suara itu, aku bisa merasakannya. Aku bisa menggambarkannya. Teringat jelas dibenakku. Dan seharusnya bersyukur saat itu.

Bersyukur kita ditemukan saat pendaftaran calon siswa baru.Berada di kelas yang sama masa orientasi siswa, bahkan duduk bersebelahan selama setahun pertama sekolah. Maaf..

Hubungan kita mungkin telah berakhir. Kisah cinta itu mungkin telah tertumpuk jutaan debu hingga berkamuflase seperti bunglon di antara tanah.

Tapi ingatlah.

Kita pernah menjadi peran utama di dalam goresan kisah cinta dunia ini, juga di mata Tuhan.

Aku menyayangimu.

.

.

.

.

_THE END_

Thanks sudah baca. RCL juseyo J

3 thoughts on “[FF Freelance] Between Us

  1. ceritanya bagus unn. penggambaran suasana sama latarnya juga perfect. aq suka. tapi, aq msh gk ngerti maksud ceritanya unn. hehehe #plakk*di gampar author*

    # debakk thor.. keep writing :*🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s