Love You In Silence | Chapter 5 [End]

ll

TITLE  : LOVE YOU IN SILENCE

Author : Bubble Ziz

Cast : – Nam Min Ji (Me)

-Luhan

-EXO

-Alex

Genre : Romance, School, Sad

Lenght : Chaptered

Discleimer : This is real my inspiration. Sorry if find typo’s. Don’t plagiat!. Bagi yang suka tolong tinggalkan kritikannya yah

Aku dan luhan berjalan menuju perkemahan. Selama diperjalanan luhan sellau menanyakan hal yang aneh-aneh tentang diriku, inilah itulah. Yang paling parah dia menanyakan apakah aku masih punya hati?! Tepat! Aku langsung memukulnya. “palli, kita harus membangun tenda” “kita?! Kau saja yang bangun tendamu sendiri, aku juga akan membangun tendaku” ketusku Luhan menyentuh kalungnya. Aku tahu dia pasti berencana mengancamku lagi. Sial! “baiklah, aku akan melakukannya!!”

– – – Setelah semuanya benar-benar selesai. Aku dan luhan beserta murid yang lain makan bersama. Untung saja aku cukup membawa baju hangat jadi aku tak perlu khawatir akan kedinginan “kau tak makan banyak?” tanya luhan menantang mataku “tidak, aku sedang tak ingin makan banyak” “apa kau takut gendut?” luhan tertawa “hei! Aku tak pernah takut gendut, lagian seberapa banyakpun aku makan aku tak akan pernah gendut. Karena tiap malam akun nge-gym “jinjja?’’ luhan tampak tak percaya “kalau begitu aku akan datang setiap malam kerumahmu agar kau tak bisa pergi ke gym” “apa-apaan kau?! Sana cepat makan!” aku kembali melahap makananku. – – – Kini sudah menunjukkan pukul 8 malam. Kuputuskan untuk segera istirahat. Semua orang masih sibuk bercengkrama. Sedangkan aku ingin segera tidur Beberapa kali aku gulingkan badanku kesana kemari. Hari ini aku sungguh gelisah. Tiba-tiba pintu tendaku terbuka. Aku tak melihat orang yang masuk. Palingan hanya seonsangnim yang memastikanku apa aku ada didalam atau tidak “kau sudah tidur?” tiba-tiba luhan melingkarkan tangannya kepinggangku “hei! Lepaskan!” gerutuku menatapnya tajam. Beberapa kali kupukul tangannya. Luhan masih memelukku dan semakin lama semakin erat “sudah aku bilang aku akan tidur denganmu” tuturnya pelan. Aku tertegun mendengarnya. Tapi ini tak boleh terjadi, jika sampai orang-orang melihat kami pasti mereka berfikir macam-macam “tenang, aku sudah memberinya  gembok, agar mereka tak bisa melihat kita” luhan tertawa terbahak-bahak. Aku benar-benar terjebak dengan namja gila “jika kau ingin tidur disini, maka lepaskan tanganmu! Aku tak ingin kau melakukan ini padaku” “kenapa? Kita juga akan menikah” “mwo? Menikah? Seenaknya saja kau bilang begitu!” “kenapa? Kau tak ingin menikah denganku? Kau yakin akan menyia-nyiakanku?” luhan menatapku seolah-olah akulah yang membutuhkannya “aku mau tidur!!” elakku membelakanginya “kau tahu? Sepertinya aku menyukai seseorang yang jelas-jelas tak pernah menyukaiku.. apakah aku salah? Haruskah aku berhenti mengejarnya?” ucap luhan. Aku masih mendengarnya. Nada suaranya terlihat sangat sedih “maaf, tapi aku belum bisa mencintaimu” batinku. Jujur aku belum bisa merasakan apa itu cinta. Entah kenapa karena cinta mereka bahagia. “kau sudah tidur?” luhan mencoba menatapku. Ia berpindah tempat. Kini wajahku dan wajahnya cukup dekat, aku bisa merasakan deru nafasnya “hei? Sepertinya hari hujan” ujarnya pelan. Ya benar! Aku bisa mendengar suara petir Buarrr!!!!! Tanpa sadar karena ketakutan bibirku dan bibir luhan menempel. mataku melotot seketika. Begitupun dengan luhan. Aku benar-benar malu. Dengan cepat aku melepaskan ciuman itu. “itu ciuman pertamaku” ucapnya tersenyum “aku juga!” ucapku pelan. Kenapa aku jadi malu seperti ini? “apa kita bisa melakukannya lagi?” “Kau MESUUUM!!!!!” Dengan rasa marah aku menendang luhan keluar tenda. Luhan jatuh tersungkur hingga mencium tanah. Lama aku memperhatikannya luhan tak kunjung bangun. Aku berlari melihatnya, kepalanya berdarah. Apa aku keterlaluan? “luhan? Kau tak apa?” tanyaku memastikan. Luhan masih bisa menampakkan senyumnya “aku baik-baik saja. Aku pergi dulu” luhan berjalan dengan pincang. Ini membuatku merasa bersalah. Aku berlari menghampirinya dengan membawanya ketendaku lagi. Seonsangnim menghentikan kami “kenapa kau membawanya kedalam? Jangan-jangan kalian sudah berencana melakukan ssuatu?” seonsangnim mulai curiga. Aku menghela nafas panjang siap menggunakan jurus ampuhku “tunanganku terluka, aku harus segera mengobatinya” ucapku sedikit kesal. Seonsangnim terdiam kemudian tersenyum “kalian pasangan serasi” ucapnya kmudian pergi. Luhan masih menatapku heran “aku hanya asal bicara” koreksiku dengan nada sedikit bingung “itu akan terjadi” bisiknya ketelingaku. Aku terdiam. “kajja” aku membawa luhan kembali kedalam. Untunglah aku membawa kotak obat, disaat seperti ini kau memang membutuhkan kotak obat “tahan, jangan meringis” godaku. Luhan tersenyum “kau pikir aku semanja itu? Cepat lakukan” Kulilit kepala luhan dengan perban. Sebelum itu aku membersihakan lukanya. Luhan terlihat sangat lelah. Ditambah lagi badannya juga cukup panas “tak biasanya kau menyentuhku” “kau demam, lebih baik kau istirahat” dengan sigap aku membaringkan tubuh luhan. Dia masih menatapku. Tentusaja aku canggung dengan tatapan itu. “kenapa?” tanyaku “rambutmu wangi” “yeoja rambutnya memang harus wangi” jelasku “tapi kebanyakan yeoja yang aku kencani rambutnya tak sewangi rambutmu” “huh? Kau berkencan?! Terserah!  Aku tidur dulu” entah kenapa aku marah dengannya. Ingin rasanya aku menangis saat ini. Tapi ayolah, aku tak ingin luhan mengetahuinya “kau cemburu?” Dengan sigap aku berbalik menatapnya. Kudekatkan wajahku hingga berjarak sekitar 2 cm didepanku. Aku tersenyum “kau benar! Aku cemburu!” tuturku pelan Luhan terdiam. Ia menatapku cukup lama. Yes aku berhasil membuatnya salah sangka “aku hanya bercanda!!” aku tertawa. Dan ketika hendak berbalik kembali luhan menarik tubuhku “kau yang memulainya” ujarnya sungguh menakutkan. Aku menelan ludah ketakutan “apa maksudmu?” “kau ingin punya anak berapa?” lagi-lagi ia tersenyum “KAU BENAR-BENAR MAKHLUK MESUUUUM!!!!” “aku serius, kau ingin anak berapa?” luhan memasang wajah serius Aku terdiam melihat keseriusannya “kalau dipikir-pikir aku akan memiliki anak 6  orang. 3 yeoja 3 namja. Tapi itu tidak denganmu!!” “hahaha” luhan tertawa, ia kembali menatapku “tapi kau akan memiliki anak denganku” Aku kembali terdiam, bagaimana bisa dia berkata seperti itu? “huh, aku kedinginan” tutur luhan memelukku. Benar!tubuhnya basah karena aku tendang keluar tadi. Untungnya aku memakai payung, jadi aku tak kebasahan. “dimana  bajumu?” “bajuku ditenda sebelah, kau mau mengambilnya?” “menurutmu?” aku segera keluar dan masuk ketenda sebelah. Isinya namja semua. Aku menunduk meminta maaf “mana tas luhan?” tanyaku ketakutan “disudut sana” mereka menunjuk ransel berwarna hitam. Aku langsung mengambilnya dan bergegas pergi Aku kembali ketenda. Luhan sudah tertidur dengan baju yang basah. Bagaimana ini? Haruskah aku yang menggantinya sendiri? Tapi pasti dia akan mengira aku yang mesum “maaf” ucapku dan mulai membuka bajunya perlahan agar luhan tak terbangun Ketika hendak memakaikan buju luhan terbangun. Ia menahan tanganku dan meraihku kedepakanpannya. Bayangkan saja, dia tak memakai baju?!!!! Ini gila!!! “apa-apaan kau!!” aku mencoba untuk melepaskan dekapannya. Ia menahanku cukup kuat hingga aku tak bisa bergerak “diamlah disini, aku kedinginan” ucapnya dengan suara menggigil. Aku tertegun dan menghentikan aksi berontakku “kau benar-benar sakit?” aku kembali memeriksa keningnya. Benar! Luhan demam, ini semakin panas. Semua ini pasti gara-gara aku. Kenapa bisa seperti ini? “aku akan memakaikan bajumu” ucapku pelan “tidak, jika kau kulepaskan maka kau akan kabur dariku” ucapnya seraya menutup mata “tapi,,,” “barjanjilah kau akan disisiku” “baiklah aku janji” Luhan melepaskanku. Aku langsung memakaikan bajunya kembali. Setelah terpakai aku menatapnya dengan penuh rasa bersalah Tanpa basa-basi kini aku yang memeluknya. Luhan menghela nafas berat dan membalas pelukanku. Aku yakin dia pasti kedinginan “hei? Kurasa ini yang terkahir kalinya” bisikku “kenapa?” “aku akan kembali ke inggris. Aku akan melanjutkan sekolah disana” Tak ada balasan dari luhan. Kurasa dia tertidur. Syukurlah luhan tak mendengarkanku tadi. – – – Pagi menjelang. Kulihat luhan sudah tak berada ditenda. Aku langsung bangun dan menanyakannya kepada seonsangnim. Tapi seonsangnim juga tak mengetahui keberadaan luhan. Dia pergi!! “luhan??!” teriakku. Tak ada jawaban. Kemana dia? Aku terus mencarinya. Tapi dia benar-benar menghilang tanpa jejak. Pandanganku terhenti ketika melihat seseorang tergeletak tak berdaya dibawah pohon. Aku berlari menghampirinya “LUHAN!!!” tanpa sadar aku menangis ketika melihat luhan tak sadarkan diri Kupeluk tubuhnya pelan. Dan menangis tersedu-sedu dipelukannya “jangan menangis” luhan terbangun “kau sadar?” “kau pikir siapa yang tak terbangun mendengar teriakanmu huh?” gerutunya. Aku tersenyum dan emnghapus airmataku “kau menangis bukan?” “tidak, mataku hanya kelilipan. Disini banyak debu” elakku Luhan bangun dan memelukku “jangan pernah berbohong padaku” luhan mengusap rambutku pelan “aku tak berbohong” “berjanjilah kau akan selalu tersenyum Miss. Smart” “sejak kapan namaku menjadi Miss Smart eoh?” “sejak sekarang” luhan tertawa “hei? Bolehkah aku menciummu?” tanyanya membuatku kaku. Seharusnya dia tak perlu meminta izin begitu. “jangan berharap!!” ketusku “aku ingin kau memberiku 3 permintaan” “maksudmu?” “jawab saja iya atau tidak!!” “baiklah, tapi hanya untuk kebaikan” “oke, siapa bilang untuk kejahatan?. Kalau begitu aku akan menagihnya 5 tahun lagi” luhan tersenyum dan mulai berdiri. Ia menawarkan tangannya dan aku meraihnya. Kami berjalan bersama menuju tenda “tunggu?! 5 tahun lagi? Jangan-jangan ia berencana untuk….” “jangan berpikiran macam-macam” suara luhan menyadarkanku dari pikiran mesum ini. Aku memeluknya “kau kenapa?” “aku hanya ingin memelukmu” ucapku masih ingin merasakan pelukannya “apa aku boleh menciummu?” “tidak!!” tolakku “boleh ya?” “tidak!!!” “aku mohon, aku ingin menciummu lagi” Lagi-lagi luhan menampakkan wajah kecewanya “aku mohon” pintahnya lagi. Haissh!! Kenapa harus minta izin dulu coba? Aku membawa luhan kembali keperkemahan. Besok mungkin hari terakhirku bersamanya. Walaupun begitu aku akan membuat besok hari bersejarah untuknya. Ya aku akan membuatmu bahagia. – – Pagi hari menjelang. Perkemahan belum selesai dilaksanakan. Aku harus minta izin untuk segera pergi. Tapi, kuharap luhan ingin pergi kerumahku agar aku bisa membuatnya melepas kepergianku. Tunggu? Mungkin dia tak peduli jika aku pergi. Ya lebih baik aku membatalkan membuatnya bahagia hari ini. “seonsangnim, aku harus pergi sekarang” Seonsangin menatapku lama “sayang sekali, padahal kau murid berprestasi. Baru 2 minggu kau sudah pindah sekolah” seonsangnim hanya tertawa kecil “maafkan aku. Kalau begitu aku pamit” Aku berjalan menjauh dari seonsangnim. Mataku terus menelusuri perkemahan ini tapi aku tak melihat luhan berada disini. Mungkin dia sudah pergi duluan, dari yang kudengar EXO mempunyai konser hari ini. “min ah? Aku pergi ya? Jangan lupa kunjungi aku diingris jika kau kesana” satu senyuman kulukiskan pada min ah. Dia hanya tersenyum seraya memelukku dengan erat “aku pasti akan merasa kesepian” ucapnya lirih “kau bodoh. Bagaimana kau bisa menangisi aku? Sudahlah lebih baik kau menyimpan airmata itu” aku menepuk bahunya pelan dan kembali berjalan menajuh menuju mobil sekretaris yong yang sudah terparkir didepan. Selagi aku berjalan menuju sekretari yong aku melihat luhan sedang bicara dengannya. Mereka berdua tersenyum bersamaan. Ini aneh. Benar-benar aneh “apa yang kalian tertawakan?” suaraku membuat mereka terdiam “kau sudah ingin pergi?” “ya, aku ingin pergi” “berhati-hatilah. Jangan nakal dengan namja lain” luhan mengusap rambutku pelan. Ia tersenyum seakan melepaskan kepergianku. Apakah itu hanya berpura-pura? Tanpa menoleh aku langsung masuk kedalam mobil. “kau kenapa agassi? Kau tak bisa melepaskannya?” “siapa maksudmu?” tanyaku jengkel. Jelas-jelas aku tahu yang dimaksud sekretaris yong adalah luhan “jika kalian berjodoh pasti kalian akan bertemu lagi” sekretaris yong tersenyum. Aku menghela nafas berat. Tanpa sadar bulir airmataku jatuh tepat ketika sekretaris yong melihat.   Sesampai dirumah aku langsung mengemasi baju-bajuku untuk segera pergi dari sini. Argh kenapa aku memikirkan namja itu eoh? Sebelum pergi aku membeli beberapa syal untuk kuberikan padanya. Kuharap dia menyukai pemberianku. Sekitar 4 hari lagi diseoul akan musim salju. Jadi kurasa dia membutuhkan syal. “aku ingin keluar sebentar…” teriakku kepada semuanya Kuambil kunci mobil dan berlari membuka pintunya. Kukendarai mobil dengan kekuatan penuh. Aku berencana untuk kerumahnya sekarang. Rumah seorang aktor tak sulit diketahui. Yang sulit itu memasuki rumahnya yang banyak pengawal. Tapi…. huh? Rumahnya tak jauh dari rumahku? Kubelokkan stir mobilku dan berhenti tepat didepan rumahku sendiri. Maksudnya didepan rumah luhan karena rumahnya berseberangan dengan rumahku. Aneh. Kenapa aku baru mengtahuinya sekarang? Ting..nong…. Seseorang membukakan pintu untukku. Seorang yeoja yang sangat manis dan cantik “oppa, apa kau kenal dia?!” teriak yeoja ini Oppa? Oppa? Apa itu berarti luhan sudah memiliki yeojachingu? Apa benar? Luhan keluar memakai handuk yang hanya menutupi setengah badannya. APA? Mereka tinggal serumah? Dan mereka buka-bukaan seperti ini? “kenapa kau kemari?” pertanyaan itu membuatku semakin terpojok. Ia tak mengharapakan kehadarianku “aku…aku… hanya lewat. Kalau begitu aku pergi dulu!!” tanpa basa-basi aku berlari menjauhi mereka. Airmataku jatuh begitu saja. Apa ini? Apa aku sakit hati? “oppa? Dia siapa?” “Sera, kau akan tahu pada waktunya. Aku pergi dulu” luhan berlari hanya memakai handuk yang menutupi setengah badannya. “kau mau kemana?” luhan menahan tanganku “aku mau pulang. Rumahku disana” ucapku tanpa menatap matanya Aku melihat orang yang berlalu lalang memandangi kami. Aku langsung menghapus airmataku dan menoleh kebelakang “ASTAGA!! KENAPA KAU TAK MEMAKAI BAJUUUUUU!!!” “kenapa emang? Inikan seksi” luhan tak mempedulikan bentakanku. Ia sibuk dengan para yeoja yang datang menghampirinya. Sial, yoeja-yeoja itu menyentuh tubuh luhan. Bahkan luhan hanya membiarkan mereka begitu saja. Awaaaas kau!! “minggiiiirr!!!!!” kudorong semua yeoja itu. Mereka menatapku dengan penuh kemarahan. “kau siapa? Beraninya kau mendorong kami!!” bentak salah satu dari mereka Aku menunduk “maafkan aku” ucapku “kau pikir semudah itu minta maaf? Kalau benar maaf bisa menyelesaikan masalah tak akan ada penjara!!” “tapi… kalian sudah kelewatan!!” “luhan oppa saja tak marah. Kenapa kau yang marah? Kau juga tak memanggilnya oppa” Huh? Oppa? Yang benar saja. Aku memangilnya oppa sungguh tak memiliki naluri kemanusiaan. Bagaimana bisa aku memanggilnya oppa? Seumur hidup aku paling anti menyebut seorang namja oppa. Walaupun dia lebih tua dariku “terserah padaku..” “kau BERANINYA!!..” mereka hendak memukuliku. Aku merasakan pelukan seseorang yang mencoba melindungiku. “oppa? Kau kenapa?” “jangan sakiti dia” ucap luhan sedikit gemetaran. Aku sadar bahwa disini cuacanya dingin. Luhanpun hanya memakai handuk “siapa dia oppa?” mereka terlihat geram “dia.. dia itu sepupuku” luhan tergagap ketika mengatakan bahwa aku sepupunya. Aku diam. Berarti dia hanya menganggaku sebagai sepupunya? “terimakasih. Aku pergi dulu..” kulepaskan pelukannya llau berjalan gontai kerumah. “kalian pulanglah. Aku harus bicara dengannya” pintah luhan kemudian berlari mengejarku yang sudah masuk kedalam rumah. Terdengar suara gedoran pintu. Aku yakin itu pasti luhan. Tak lama suaranya menghilang. Aku langsung turun kebawah dan menemukan luhan sudah tergeletak dilantai. Tubuhnya sangat dingin “hei sadarlah!!!” airmataku mengalir dengan deras Aku menyuruh pembantuku membawanya kedalam kamarku. Mereka memberikan baju namja kepadaku agar aku segera memasangnya pada luhan atau luhan akan mati membeku ucap mereka “maafkan aku telah membuatmu seperti ini” lirihku seraya memasangkan bajunya perlahan. Kunyalakan pemanas ruangan agar luhan tak kedinginan. Ia masih belum sadar. “bangunlah!!!” kugoyang tubuhnya berkali-kali. Tak ada sahutan. “aku minta maaf. Aku tak bermakud meninggalkanmu. Aku hanya… hanya tak suka melihatmu disentuh seperti itu…” kata-kata yang kutahan sedari tadi akhirnya terucap. “bangunlah… aku mohon!!” Luhan membuka matanya. Aku menatapnya. Matanya yang sayu menampakkan kesedihan. “kau ingin pergi? Lebih baik kau segera pergi sekarang” tiba-tiba luhan mengatakan itu. Jantungku terasa berhenti berdetak. Dia hanya ingin aku pergi. Ya! Hanya itu! “maafkan aku…” aku segera beranjak dan berjalan menjauh. Kupanggil pelayanku. “tolong jaga dia. Jika dia sudah kuat antar dia kerumah depan” pintahku. Dia mengangguk mengerti “kau benar-benar ingin pergi!!!” luhan berteriak kencang dengan nafas memburu Aku menoleh. Mataku berkaca-kaca menatapnya “bukannya kau sendiri yang menyuruhku pergi” ujarku pelan “kau bodoh!! Aku tak bisa kehilanganmu!!” “tapi kau seperti orang yang tak mempedulikan aku!!” kini giliranku yang membentaknya “apa cinta itu hanya sekedar peduli? Cinta itu berasal dari hati!!! AKU MENCINTAIMU! JADI TETAPLAH DISISIKU!!” Aku terdiam. Mungkin pernyataan ini yang aku tunggu dari seorang luhan. Aku mendekatinya perlahan. Luhan masih terbaring lemah ditempat tidur. “bahkan disaat terburukku kau ada disisiku” aku tersenyum lemah didepannya. Luhan menampakkan wajah sayunya. “kalau begitu tetaplah disisiku” Aku ingin sekali berada disisimu. Tapi kenyataan berbalik. Aku tak bisa berada disisimu untuk sekarang ini. Aku benar-benar harus pergi. Ini menyangkut masa depan perusahaanku. Masa depan palayanku. Masa depan orang yang mempercayaiku. Dan ada alasan yang paling penting yang harus membuatku pergi. “aku tak bisa…” aku duduk disampingnya lalu menyentuh telapak tangannya dengan lembut “tangan ini yang membuatku bertahan disana” sekolah yang kuanggap membosankan. Karena dia aku bertahan Kini aku menyentuh dadanya “dada ini membuatku tersadar bahwa aku mencintaimu.” Ketempelkan telingaku didadanya. Terdengar suara detak jantung luhan yang begitu cepat “aku yakin kau juga mencintaiku” segores senyuman aku berikan padanya. Khusus untuknya senyuman tulus dari hatiku. Aku beralih menyentuh bibirnya “ bibir ini selalu membuatku sadar” hanya dengan perkataan luhan semua yang tak mungkin menjadi mungkin bagiku. Terlebih ketika dia membuatku tertawa dengan ucapan yang keluar dari bibirnya. aku menyentuh rambutnya dan menciumnya penuh kasih sayang “ini yang selama ini aku impi-impikan. Mencium rambut orang yang aku cintai. Kau wangi” aku tersenyum. Luhan menatapku dengan bulir airmata yang sudah membasahi pipinya. “kau seperti orang yang tak akan pernah kembali” luhan terisak. Aku langsung menutup rapat bibirnya “seberapa buruk keadaanku. Hanya satu keinginanku. Melihatmu bahagia walau hanya sesaat” Luhan menarikku kedalam dekapannya. Ia memelukku sangat erat. Airmataku terus saja mengalir tanpa hentinya seolah-olah ada yang mendorongnya keluar. “apa yang terjadi.??” Pertanyaan ini membuatku tersadar. Kulepaskan pelukannya. “kau tahu? Didunia ini hanya kematian yang bisa memisahkan manusia. Aku tahu jika aku mengatakannya kau pasti akan berbuat yang tidak-tidak” “jika kau berpikiran seperti itu. Aku mohon. Aku mohon tetaplah disini” luhan menggenggam tanganku erat. Aku berusaha melepaskannya tapi luhan masih menahannya dengan tenaga yang sangat luar biasa. “jangan seperti ini!!” lirihnya. Tentu saja aku menangis terisak. Baru kali ini aku melihatnya menangis “aku harus-“ “apa yang harus kulakukan agar kau tak pergi?!!” lagi-lagi luhan melemparkan pertanyaan yang membuat hatiku bergetar tak sanggup untuk menjawabnya “berdoalah. Aku sangat menantikan doamu” Luhan menghela nafas berat. Ia menatapku. Tatapannya sangat dalam. Bahkan aku sampai tak bisa berpaling dari tatapannya itu. “Apa ini!!!” luhan tampak frustasi “sebenarnya…sebenarnya… aku… aku hanya BERCANDA!!!” seketika itu juga aku tertawa lebar. “HAPPY BIRTHDAY!!” aku tersenyum lalu memberikan sebuah hadiah kepada luhan. Luhan masih diam tanpa kata. “kau mempermainkanku” tampaknya luhan benar-benar marah padaku. Aku menunduk. “kau sangat hebat berakting..” luhan memelukku. Aku menghela nafas lega bahwa ia tak marah padaku “AKU MENCINTAIMU. MENYUKAIMU. MENYAYANGIMU” teriakku berkali-kali. Luhan langsung menempelkan bibirnya dengan bibirku. Kali ini aku tak menolak sama sekali. Dua  hal yang aku tahu. Luhan mengakuinya bahwa dia menyukaiku. Dan Rencanaku membuatnya menangis berhasil!!! END   Komen Seikhlasnya aja yah ^_^

4 thoughts on “Love You In Silence | Chapter 5 [End]

  1. Ini keren banget thor sumpah daebak ff nya😀
    ditunggu ff yg lebih menarik yg lainnya lg yah😉
    Keep writing🙂
    I LIKE YOUR FANFICTION

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s