Love You In Silence | Chapter 3

 

ll

TITLE  : LOVE YOU IN SILENCE

Author : Bubble Ziz

Cast : – Nam Min Ji (Me)

-Luhan

-EXO

-Alex

Genre : Romance, School, Sad

Lenght : Chaptered

Discleimer : This is real my inspiration. Sorry if find typo’s. Don’t plagiat!. Bagi yang suka tolong tinggalkan kritikannya yah

 

Chapter 2 klik disini

Aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh kepalaku dengan lembut. Seperti belaian seseorang. Tapi kenapa aku tak bisa melihatnya? Ini terlalu gelap.

“hei? Sadarlah?” aku merasa tubuhku digoncang seseorang. Perlahan kucoba membuka mataku. Aku melihat sekumpulan orang mengelilingiku. Kutatap satu persatu wajah mereka. Tatapanku berhenti ketika melihat luhan. Namja yang jelas-jelas membuatku begini.

“aku harus pergi!!” aku berusaha untuk membuka infuse ditanganku. Tetapa tanganku dicegat oleh seseorang yang berbeadan tinggi, putih, dan lumayan tampan.

“jangan, kau belum pulih” ucapnya. Tanganku langsung melemas. Aku mulai bisa menahan emosiku.tapi kenapa? Setiap aku melihat luhan rasanya sangat sakit?

“siapa kau?”

Namja ini tersenyum “aku Chanyeol”

“kenapa kalian disini? Bukannya kalian senang melihatku begini bukan?! Sana pergilah!” kupalingkan wajahku. Semua member exo tampak khawatir. Mereka berusaha tersenyum ramah padaku. Terkecuali luhan. Kau benar-benar membuatku merasa bersalah! Sebenarnya apa kesalahanku pada masa lalu denganmu huh?!

Luhan maju kedepan. Ia angkat bicara “jika kau ingin pergi. Silahkan saja”

“tunggu?!  Bahkan kau yang membuatku seperti ini tak meminta maaf? Kau sungguh namja yang kasar!” setelah mengatakan itu aku langsung mencabut infuse yang menancap ditanganku. Aku berjalan dengan gontai keluar ruangan.

“kenapa kau seperti itu padanya? Ingat kau yang membuatnya seperti itu!” bentak kris juga ikut pergi

“kau keterlaluan hyung” lanjut sehun.  Akhirnya mereka semua meninggalkan luhan sendirian

Kepalaku masih pusing. Aku tak tahu sekarang aku berada dimana. Mataku terus menelusuri koridor ini. Tak ada seorangpun disini. Sekarang jam berapa?

Kuangkat lengan bajuku keatas. Jam ditanganku sudah menunjukkan pukul 10 malam. pantas saja tak banyak orang yang berkeliaran disini. Lebih baik aku segera menelpon sekretaris yong. Kurabah saku bajuku. Tapi tak ada ponsel didalamnya. Sial! Pasti tertinggal dikamar. Ah aku tak ingin kesana lagi!!

“namja itu bisa membuatku gila!” kata-kata itu selalu terpikir olehku ketika berjalan kembali kedalam kamar. Tinggal beberapa langkah lagi aku sampai kedalam kamar. Langkahku terhenti tepat didepan pintu. Kuintip kedalam. Syukurlah! Tak ada orang didalamnya. Dengan sigap aku mengambil ponsel dan seragamku tadi lalu mengirim pesan kepada jaksa yong.

“kenapa dia ada disini?” ternyata luhan berada dibalik pintu. Dia tertidur. Tunggu! Ini sepertinya bukan tertidur melainkan…

“yak!! Kau tak apa-apa?” tanyaku menampar kecil pipinya. Dia masih belum sadar. Aku langsung memanggil perawat.

.

.

.

Sudah 2 jam aku disini menunggunya. Dia masih belum sadar. Kata dokter dia mengalami trauma  yang cukup berat, traumanya ini makin menjadi sudah 2 hari yang lalu. Itu hari dimana aku pindak keseoul. Trauma ini pasti ada sangkut pautnya denganku. Aku harus mencari tahunya

Perlahan aku melihat mata luhan mulai berkedip. Aku segera memanggil suster. Mereka datang lalu memeriksa keadaanya. Dokter tersenyum “dia hanya butuh istirahat”

Aku menghela nafas lega. Kupikir sesuatu terjadi denganmu lagi. Tapi syukurlah kau baik-baik saja.

“dimana aku?” ucap luhan ketika baru sadar. Aku langsung mengambil kain dan menutup wajahku dengan itu. Kalau sampai dia melihat wajahku pasti dia sudah menendangku keluar

“kau dirumah sakit” jawabku dengan nada yang dirubah. Luhan tersenyum. Ini pertama kalinya aku melihat senyum itu “gomawo, kau menyelamatkanku” tuturnya

Aku hanya menunduk. “kalau begitu aku pergi dulu. Jaga kondisimu dengan baik” ucapku mulai berdiri. Aku berjalan sedikit gontai. Kepalaku semakin pusing. Tidak! Aku tak boleh pingsan dihadapan namja ini. Cukup sudah aku membuatnya trauma.

Brukkk!!

Aku jatuh seketika. Luhan langsung berdiri dan mencoba membangunkanku. Kami sama-sama lemas. Akhirnya luhan menyenderkanku kedinding. Dia belum melihat wajahku!

“kau baik-baik saja?” tanyanya. Aku mengangguk dengan rambut menutupi wajahku

“kenapa? Apa wajahmu ada yang luka?”luhan mencoba melihat wajahku. Ah bagaimana ini?

Perlahan rambutku semakin tertatur. Luhan mengibaskannya kebelakang. Aku menutup mataku dan berharap ini hanyalah mimpi.

“kau?!!” luhan tampak tak percaya. Ia langsung memelototiku dengan tajam

Tiba-tiba terdengar suara sekretaris yong. Tidak! Jangan sampai dia tahu bahwa luhan ada disini. Jika dia tahu pasti luhan akan dituduh sebagai orang yang membuatku terluka. Dan akibatnya luhan akan masuk penjara karena aku.

“kenapa kau disini? Siapa kau sebenarnya? Apa maumu?!”

“diamlah!! Kau harus diam!!” teriakku kecil. Luhan masih tak mendengarku. Sekretaris yong makin mendekat.

“apa yang kau rencanakan? Ada apa dengamu?! Sana pemppp”

Dengan terpaksa aku menciumnya agar dia berhenti bicara. Bagaimana tidak? Dia memegangi tanganku dengan sangat keras. Bahkan kakiku juga!

30…35…40 detik. Aku langsung melepas ciuman itu setelah sekretaris yong pergi.

“maaf, aku tak bermaksud menciummu. Itu terjadi begitu saja” ungkapku. Luhan masih diam. Tampaknya luhan kaget. Dan sepertinya itu ciuman pertamanya

“itu juga ciuman pertamaku!!” ucapku mencoba menenangkannya

Tiba-tiba luhan memelukku. Ia menangis dibahuku dengan terisak. Ada apa dengannya?

Aku mencoba mencari cara yang tepat agar luhan tak tersinggung. Bagaimana ini? Apa aku yang membuatnya seperti ini?

“geunchana?” kuperhatikan wajahnya. Ia masih menunduk.

Perlahan luhan mengangkat kepalanya. Ia menatapku dalam dan melukiskan sebuah senyuman

“apa arti senyuman itu?” tanyaku jengkel. Luhan langsung berdiri tanpa menjawab pertanyaanku. Ia menoleh sebelum benar-benar pergi “maaf” setelah mengatakan itu luhan langsung pergi. Aku terdiam mendengar kata-kata itu. Luhan? Namja aneh itu meminta maaf?

“syukurlah kau sadar!” aku juga ikut pergi mencari sekretaris yong. Tak lama aku melihatnya sedang bicara dengan seorang perawat. Dia tersenyum ketika melihatku. Kami langsung pulang setelah makan diluar.

.

.

.

Sesampai dirumah aku masih terpikir tentang apa yang membuatnya menangis. Setahuku namja itu tak cengeng tapi kenapa dia? Ah dia benar-benar aneh. Setelah mencuekanku sekarang malah membuatku pensaran siapa dirinya.

“Agassi? Ada orang mencarimu?” teriak ahjumma dari luar kamar. Aku segera berdiri dan membuka pintu. Mataku terus tertuju kebawah. Kira-kira siapa yang datang? Mungkin min ah.

“siapa?” tanyaku. Tapi ahjumma sudah pergi entah kemana. Ya maklum hari sudah menunjukkan pukul 10 malam

Aku menuruni anak tangga menggunakan baju piama diatas lutut. Rambutku digerai dan tak lupa kuselipkan bando diatasnya.

Langkahku langsung terhenti melihat siapa yang datang. Bagaimana bisa dia tahu rumahku?

“yak!! Kenapa kau kesini? Tutup matamu!!” aku langsung berlari menuju belakang sofa. Luhan! Namja ini benar-benar aneh!

“kenapa kau datang kesini?” tanyaku dari balik sofa. Luhan tampak bingung kemudian ia melemparkan sebuah syal padaku. Oh aku baru ingat bahwa syalku ketinggalan dirumah sakit.

Tiba-tiba sekretaris yong memanggilku dari ruangan sebelah. SIAL!! Kenapa disaat seperti ini dia datang huh?!

“hei? Kesini! Palli!!” aku menarik tangan luhan. Aku bawa luhan kedalam kamarku. Ini pertama kalinya seorang namja aku bawa masuk kedalam kamar.  Jinjja!!

“ada apa? Aku harus segerapulang!!” luhan mencoba berontak. Aku mendorongnya hingga jatuh keatas tempat tidur. Matanya melotot seketika

“apa yang kau lakukan huh?” lagi-lagi luhan mencoba menahanku. Dengan berat hati aku duduk diatas tubuhnya dan membekap mulutnya. Kalau sampai sekretaris yong tahu bisa mati luhan!

“Agassi? Ada apa disana berisik sekali?” teriak sekretaris yong.

“geunchana. Kau pergilah, aku sudah lelah”

Akhirnya setelah beberapa lama dan sekretaris yong sudah pergi aku langsung melepaskan tanganku dari mulutnya luhan. Ketika hendak berdiri luhan menarik tanganku hingga jarak antara wajahku dan wajahnya hanya beberapa cm

“apa yang kau lakukan?!” aku berusaha bersikap tenang

“bukankah ini yang kau inginkan?” luhan tersenyum. Sial! Bagaimana bisa aku membawa namja ini masuk kedalam kamarku?! Aissh

“apa maksudmu?! Tadi aku hanya menolongmu” ucapku membela diri. Kau benar-benar membuatku frustasi!!

Dengan sengaja luhan melingkarkan tangannya kepinggangku. Dengan pakaianku seperti ini siapa yang tak tertarik?

“apa-apaan kau?” haissh namja ini benar-benar aneh!!

“jika kau tak melepasku maka aku akan memotret ini lalu menyebarkannya keinternet!” ancamku. Luhan tersenyum “unggah saja kalau berani!”

“shoot!!” hanya dengan mengatakan itu kamera yang berada dikamarku langsung memotret kami. Kau pikir aku main-main?

“arraseo, sana pergilah!” luhan mendorongku dan hampir membuatku jatuh. Kamera ini sudah mengambil gambar tadi. Tugasku sekarang hanya menghapusnya.

“aku pergi” luhan berjalan keluar. Mati saja kau!! aku tak peduli kalau kau ketahuan sekretaris yong. Sial!!

Tapi..

“hei tunggu dulu!!” aku menari baju luhan dan membawanya kembali kekamar

“Wae?” dia tampak marah

“kau jangan bilang siapa-siapa tentang ini. Dan satu lagi ini hanya kita berdua yang tahu” setelah mengatakan itu aku langsung memencet cincin ditanganku.pintu inipun terbuka aku menarik luhan agar segera masuk

“kau turuni saja tangga itu, disana ada pintu kau akan langsung tiba didepan pagar. Ingat jangan bilang siapa-siapa”

Luhan tersenyum “kau baik”

Aku baik? Kau salah, aku tak pernah berpikir kalau aku baik. Maaf jika suatu saat aku mengecewakanmu.

Kulihat luhan pergi dengan baik. Hari ini memang menegangkan. Bagaimana bisa dia menemukan rumahku? Jelas-jelas aku tak pernah member tahu siapapun kecuali… MIN AH!

.

.

.

Keesokannya aku kembali pergi sekolah dengan biasa. Tak satupun dari siswi-siswi ini yak tidak membicarakanku bahkan mereka menatapku dengan tatapan sinis. Ya aku tahu mungkin ini terdengar aneh jika penampilanku seperti ini. Tapi apa itu menjadi masalah?

“kau dari mana?” min ah muncul dengan nafas yang tersengal-sengal

Aku menatapnya heran “kau kenapa?”

“lihat dimading! Alex, dia menantangmu bernyanyi”

Santai, aku tak boleh menampakkan bahwa aku terkejut dengan tantangan itu

“terserah dia saja. Aku tak akan pernah datang” aku kembali berjalan. Ketika hendak memarikirkan sepeda tiba-tiba alex muncul didepanku dengan segerombolan yeoja lainnya. Aku tersenyum dan melewatinya begitu saja

“kau!!”

Tanpa peduli lagi aku menoleh dan menarik min ah yang masih diam membisu

“kau akan mati diterkan harimau jika kau masih ada disana” tegasku. Min ah mengangguk ia masih tampak tak percaya dengan kejadian barusan

“kenapa alex mendatangimu seperti tadi eoh?” keluh min ah menghapus keringat yang mulai jatuh dipelipisnya. Aku tersenyum “kau memang bodoh”

Pelajaran dimulai, ketika jam istirahat ingin berbunyi seonsangnim atau walikelasku member pengumuman.

“3 hari lagi seluruh kelas akan melaksanakan lomba menyanyi. Setiap kelas harus mengirim kandidatnya. Jika kelas kita menang maka kita akan mendapatkan keuntungan yang besar. Tapi sayang, kelas kita belum pernah menang sama sekali dalamlomba apapun. Pasti selalu anak  A yang memenangkan segelanaya. Terlebih masuknya EXO dan Alex kedalam kelas tersebut” seonsangnim tampak pasrah.

“oleh karena itu aku akan mengikut sertakan Min Ji sebagai kandidat utama kita. Aku dengar kau mahir bermain piano dan bernyanyi bukan?” seonsangnim tampak berharap

“maaf aku tak bisa” tepat setelah mengatakan itu bel istirahat berbunyi. Aku langsung keluar tanpa permisi, bagaimana bisa aku bernyanyi setelah 2 tahun lamanya?

Kuambil makan siang kemudian duduk ditaman menikmatinya tanpa ada seorangpun yang menganggu. Makan disuasana seperti ini mengingatkanku kenangan tentang eomma dan appa ketika kami pergi piknik.

“kenapa sendiri?”

Aku menoleh melihat siapa yang berani menganggu kesendirianku. Haissh ternyata luhan

“ada apa kau kesini? Jika itu penting katakan sekarang jika tidak lebih baik kau pergi” ketusku. Luhan tertawa. Tak bisanya dia seperti ini. Pasti ada yang aneh.

Tiba-tiba ia meraih tanganku. Spontan aku kaget dan berusaha melepaskannya tapi tekanannya cukup kuat. Ia meletakkan tanganku didadanya dan berkata “aku ingin merasakan cinta”

“a..apa maksudmu? Kau bisa merasakannya jika kau menyukai seseorang” aku berusaha untuk tak terlihat gugup. Jujur ini namja yang sangat lancang

“apa kau pernah merasakan cinta?” tanyanya

“itu…a..itu.. aku belum pernah merasakannya!! Kau kenapa huh?!!”

“menurutmu cinta itu bagaimana?”

“dari yang aku ketahui setelah aku baca dari berbagai ahli cinta itu membuat kita merasa ingin selalu didekatnya. Cinta itu penuh kecemburuan, dan cinta itu selalu membuat kita khawatir” jelasku panjang lebar. Luhan mengangguk

“APA YANG KALIAN LAKUKAN!!” alex menghempaskan tanganku. Kenapa dia marah? Memang aku yang mulai?!

“baiklah, aku akan pergi” ucapku sedikit menunduk sambil memberikan sebuah senyuman

“kenapa kau menolak untuk ikut lomba bernyanyi? Kau takut bukan setelah eomma appa mu meninggal?”

Langkahku terhenti diikuti dengan sekujur tubuhku menggigil mendengarnya. Bibirku langsung berubah pucat. Aku berbalik badan dan menatap alex cukup lama

“itu bukan urusanmu!” bentakku. Alex tertawa

“kau memang seorang pengecut! Dari umur 14 tahun kau selalu dekat dengan orangtuamu. Bahkan kau tak berani menrima tantanganku. Anak cengeng!!”

“baiklah!! Kalau itu maumu, kita buktikan siapa yang akan menang!!” aku tersenyum dan kembali berjalan. Lagi-lagi aku terpancing omongan iblis ini!!

Ketika masuk kelas seonsangnim dan semuanya sudah berada dikelas. Sepertinya mereka menungguku. Dengan berat hati aku masuk menunggu makian dari mereka karena aku tiba-tiba pergi tadi.

“tolong ikutlah lomba itu…” mereka semua menunduk memohon padaku. Jujur aku sangat senang mereka mengharapkanku

“baiklah, tapi tak usah seperti ini” tuturku pelan. Min ah tersenyum ia berlari memlukku

“kau memang benar-benar yeoja baik hati” ungkapnya

“jadi kau akan mulai latihan hari ini denganku” seonsangnim menunjuk dirinya sendiri. Aku mengangguk setuju, kali ini aku harus bisa mengalahkan alex!

Jam pulang berbunyi. Aku ingin pergi keloker dulu sebelum memulai latihan. Lagi-lagi dia membuatku kaget

“kenapa kau menolak untuk bernyanyi?” luhan muncul dari sampingku

“apa kau perlu tahu?  Sana pergi?!” kututup loker ini dengan kasar dan kembali berjalan menuju ruang latihan

“EXO nanti akan tampil di seoul, kau datang ok? Aku tinggalkan ticketnya dilokermu!” teriak luhan sebelum aku benar-benar menghilang.

“apa-apaan dia menyuruhku begitu saja?!”

Ketika melangkah masuk keruang latihan aku kembali berbalik dan berlari sekncang-kencangnya menuju loker. Kubuka loker itu dan melihat 2 buah ticket konser. Ah aku sangat ingin melihat pertunjukan mereka. Mungkin aku bisa mengajak min ah bersamaku.

Pikranku masih saja memikirkan konser exo. Aku benar-benar ingin melihat mereka.

“min ah?” kulambaikan tanganku. Min ah langsung menghampiriku

“ada apa? Tak biasanya kau memanggilku seperti ini?”

“kau mau pergi melihat konser exo bersamaku?”

Min ah sedikit berfikir kemudian ia menjawabnya “maaf, hari ini aku harus pergi ke amerika bersama appa. Maaf ya?”

“ah gunchana, berhati-hatilah?”

Min ah kembali pergi. Mungkin selama beberapa hari ini aku tak akan melihat min ah. Ah bagaimana aku bisa melwati hari-hariku tanpa min ah?

.

.

.

Sekarang sudah menunjukkan jam 7 malam. 1 jam lagi konsernya akan berlangsung. Ah aku harus pergi, tapi dengan siapa?

“lebih baik aku pergi sendiri?!!” aku berjalan mengambil beberapa pakaian untuk dikenakan saat konser. Baju kaos putih dan rok mini sudah aku kenakan. Ditambah rambutku yang terkucir kuda

“sekretaris yong? Antarkan aku ke sini!” aku memberikan alamt konsernya. Sekretari yong mengangguk mengerti

Beberapa saat kemudian aku sampai disini. Aku menyuruh sekretari yong untuk tak menungguku. Setahuku istrinya sedang sakit jadi aku harus memberinya kebebasan sedikit

“kau yakin Agassi?”

“ya” aku mengangguk dan langsung masuk

Ketika masuk kedalam aku melihat semuanya sudah berkumpul. Konsernya juga sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Aku terlmbat 10 menit.

“woooooo” entah kenapa aku juga ikut bersorak. Ini pertama kalinya aku melakukan ini

SKIP

Akhirnya konsernya selesai. Sekarang hanya perlu memanggil taksi dan langsung pulang.

“kau datang juga?”

Aku menoleh “aku hanya lewat dan melihat konser ini jadi aku mampir” ucapku mebela diri pada luhan. Dia tersenyum

“selagi kau masih disini, aku akan mengajakmu kesuatu tempat”

“kemana? Aku harus pulang karena sudah jam 10 malam” elakku. Luhan masih bersikeras dengan memasukkanku kedalam mobilnya

“kau tak lelah?” tanyaku

“tidak!” jawabnya santai

“kemana kau akan membawaku?”

“ditempat hanya ada kita berdua” jelansya

Jangan-jangan dia akan membawaku kesebuah hotel? Ah tidak. Mana mungkin dia seperti itu!

“yak!! Kau mau membawaku kemana? Aku tak akan diam kalau kau tak memberitahuku!!” ketusku menatap tajam matanya

“hahaha” luhan tertawa

“ada yang lucu?”

Luhan menggeleng. Tiba-tiba ia menancap rem tiba-tiba. Untung saja kepalaku tak engeluarkan cairan merah. Awas saja kalau aku terluka gara-gara dia.

Kami berhenti disebuah tebing. Disini bintang-bintangnya sangat indah, bahkan aku sampai tak bisa berkedip gara-gara indahnya sinar bintang ini. Bagaikan bibit yang ditaburkan ditanah

Kutatap luhan sedang menutup matanya. Dia tersenyum.

“apa aku sangat mempesona?” ungkapnya. Aku tersenyum

“kau kepedean!” teriakku seraya keluar dari mobil

“tunggu!!” luhan juga ikut keluar dari dalam mobil. Ia duduk disampingku sebentar lalu merebahkan tubuhnya ditanah

“gomawo” ucapku kecil. Luhan menoleh seraya melukiskan senyumnya “ini sisi yang paling aku suka darimu”ungkapnya

SKIP

Perjalanan tadi sungguh menyenangkan. Aku tak bisa melupakan kebaikannya. Mungkin aku juga salah karena aku bersikap acuh padanya.

“Agassi? Kita besok akan pergi ke inggris” sekretaris yong langsung berkata seperti itu. Aku terkejut menatapnya

“ada apa?”

“perusahaan disana sedang memerlukanmu. Untuk lebih jelasnya saya akan mengatakannya dipesawat” sekretaris yong tersenyum kemudian pergi. Aku masih mencoba mencerna kata-kata sekretaris yong

Bagaimana ini? Aku harus menghadiri lomba menyanyi disekolah besok. Aku harap disana tak akan berjalan lama, aku tak boleh mengecewakan orang-orang yang percaya padaku.

Selama di perjalanan menuju inggris aku sibuk melatih suaraku. Dengan begini aku bisa yakin bahwa aku akan lolos.

Sekretaris yong tiba dan langsung duduk disampingku

“permasalahannya ada pada dirimu Agassi” ucapnya tiba-tiba. Kutantang matanya karena marah

“aku tahu apa yang kau bicarakan, dalam 3 hari akan kuselesaikan. Aku hanya perlu menyewa seseorang”

“baiklah, saya mengerti”

Perjalanan pulang keseoul menghabiskan waktu berjam-jam. Disini aku habiskan waktuku untuk tidur tanpa sedikitpun pekerjaan.

“bagaimana ini?! 2 jam lagi acaranya akan dimulai!”gerutuku

“kapan kita mendarat?”

“paling cepat 1 jam paling lama kita akan menghabiskan waktu 2 jam. Jika cuaca tak bersahabat”

“huh?” sungguh aku tak percaya dengan apa yang aku dengar. Ah sial! Aku bisa terlambat.

Cukup lama aku berfikir akhirnya aku tertidur.

Tiba-tiba sedikit guncangan membangunkanku. Langsung saja aku melirik jam yang ada ditanganku.

“jam 7 sore?!” sial, setengah jam lagi acaranya akan dimulai.

“kau bisa turun sekarang Agassi”

Aku tersenyum dan berlari dengan cepat menghentikan taksi

“aku akan naik taksi, kalian urus barang-barangku” teriakku sebelum taksinya  melaju. Ereka semua mengangguk seraya melambaikan tangannya

Setiba di sekolah aku kembali berlari menuju aula tempat acara berlangsung. Kursi sudah terisi penuh oleh ribuan manusia. Aula ini bisa dibilang sangat besar.

“kau terlambat! Sesudah ini giliranmu” teriak min ah. Ya wajar saja min ah berteriak. Disini suasananya sangat ramai, mungkin karena kehadiran EXO

“cepat, ikut aku” min ah menarik tanganku dan membawaku masuk kedalam. Sepertinya ini backstage

“kau terlambat,” ucap luhan seraya merapikan bajunya

“ya, maaf, aku …. Ah lupakan”

Min ah menyuruhku untuk mengganti pakaianku dengan gaun berwarna putih. Aku menyanggupinya walaupun sebenarnya aku tak menyukai gaun. Anggap saja ini tebusan permintaan maafku karena telat

“selanjutnya, Min Ji!!” MC meneriaki namaku. Karena melamun min ah mendorongku hingga terkejut

“sana!!” gerutunya kesal

“kau harus menang! Demi kelas kita! Jangan biarkan mereka terus yang berkuasa” min ah mencoba mensuportku

Kulangkahkan kakiku diatas panggung. Semua orang terdiam. Aku tak tahu kenapa mereka tiba-tiba diam. Suara kegaduhan itu lenyap seketika. Peserta yang lain juga sudah duduk didepan, termasuk EXO dan Alex.

Aku masih terdiam,padahal musik sudah sejak tadi berbunyi. Entah apa yang aku pikirkan saat ini, yang jelas ini demi kemenangan kami.

“uuuuu” perlahan terdengar  suara sorakan yang mencemoohku. Aku berlari kebelakang panggung untuk mengambil gitar. Sepertinya aku akan menyanyi acoustic

““““““““

““““““““

“““““““`

“““““““`

Tanpa sadar aku menteskan airmataku. Bayangan eomma dan appa tiba-tiba saja muncul dengan sendirinya.

“““““““`

“““““““

“““““““

Kulihat mereka semua meneteskan airmata. Terkecuali para namja yang aku tahu hati mereka memang beku. Dan juga prinsip mereka untuk tak pernah menangis

Tiba-tiba alex tersenyum

Mereka semua berdiri memberikan tepuk tangan padaku. Aku merasa pusing. Dan…..

To Be Continiue..

Aduh maaf ya kelamaan postnya :v ane ada ujian yang numpuk bulan lalu #hehe . BTW thanks udah baca….

6 thoughts on “Love You In Silence | Chapter 3

  1. AAAA……… kok pingsan lagi????? min ji kenape?????
    thor, updatenya jangan lama-lama napaaa……. penasaran ama kepo berkumpul jadi satu nihhhhhh…… di tunggu next chapternya…. ya……. fighting!!!!!!

  2. Luhan knapa sih thor.,?
    Nggak ada angin, nggak ada hujan, plus nggak ad petir.. Kok lgsung brubah gtu…!!

    Apa karena d cium oleh min ji????

    Lanjut baca aja ya th0r..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s