ESCONDIDO

Image

Title                       : Escondido

Author                  : Luhoney77 [@chikacharlotte]

Genre                   : Bromance, Fluff

Rated                    : General

Length                  : Vignette [2.293 words]

Desclaimer          : Awalnya mau bikin FF sad ending lagi, Cuma kata author senior @Awsomeoneim, aku kaya lagi di tempalin Lay, FF ku sad ending semua rata-rata. Uuwwhh.. –abaikan- Jadilah aku nyoba bikin yang fluff. Tapi kok rada aneh ya. Anyway, Sehun dan Luhan belongs to God, SM, author senior and me, and all exotics. Storyline 100% mine. Picture and all belongs to who posted it. I just search it through Google and Tumblr. J Enjoy reading, don’t be a silent reader please. Review and leave a comment, thank you❤

This FF also had been posted on my own page LUHONEY

-‘Siblings’ is one of God’s wonderful gift-

                “Kau sudah bangun? Tidak biasanya kau bangun sepagi ini.”

Ya, sudah berada di ruang makan ketika jarum jam dinding masih menunjuk angka 7 dan 3 adalah sangat tidak biasa bagiku. Tapi hey, apa salahnya jika aku bangun pagi, apa hanya kakakku saja yang bisa bangun sepagi ini.

“Basuh wajahmu, aku masih bisa melihat bekas liur di pipi kananmu.”

Kakak sialan, kenapa harus dia yang menyadari bekas liur di pipiku.

“Oh Sehun, jangan jangan kau belum menyikat gigimu juga? Auh, anak ini jorok sekali. Pergilah bersihkan dulu tubuhmu, baru kau boleh sarapan.”

“Ya bu.”

Aku memandang sinis ke arah kakakku yang masih berkutat dengan korannya seolah dia tidak melakukan dosa di pagi hari. Aku berjalan dan memasuki kamar mandi sambil terus merutuki pemuda berusia 25 tahun itu yang berhasil membuatku harus berusaha kuat untuk tidak menjerit merasakan dinginnya air yang membasahi tubuh dan wajahku.

“Cepat sekali. Apa kau yakin telah membasuh tubuhmu dengan benar?”

Auh, rasanya aku ingin menghujamkan tinjuku pada pemuda yang bertanya dengan gayanya yang sok cool ketika menyesap lattenya. Ya, dia meminum latte di pagi hari, pemuda berusia 25 tahun yang bertingkah sok cool di hadapanku memiliki cita rasa yang setara dengan bocah sekolah menengah pertama.

“kenapa kau tidak ikut masuk ke kamar mandi tadi jika kau tidak yakin aku sudah membasuh tubuhku dengan benar atau belum.” Jawabku sebal.

Aku menyuapkan sesendok penuh bubur panas ke dalam mulutku.

“AAAAKKK..”

Bodoh, ya, aku akui. Tapi sungguh, mungkin kalian juga akan melakukan kebodohan seperti itu jika suasana pagi kalian yang indah dirusak oleh 2 statement konyol kakak kalian yang menyebalkan. Aku meneguk segelas air putih untuk meredakan mulut dan tenggorokanku yang terbakar.

“Bodoh.”

Wuah, kakak tidak tau diri.

“Oh Sehun, kau tidak mencuci rambutmu lagi?”

Ibuku mendekat kemudian mengendus rambutku.

“Auh, baunya. Kau ini jorok sekali.”

Ya Tuhaaaan, siapa suruh ibu mengendus rambutku. Bangun terlalu pagi di hari Minggu seperti ini memang kesalahan besar.

“Cuci rambutmu Oh Sehun, kau sudah berbulan-bulan tidak mencucinya.”

“Aih, kau cerewet sekali pagi ini hyung. Aku akan pergi ke salon siang nanti, aku harus merubah warna rambutku lagi.”

Aku kemudian menyesap susu coklat favoritku yang baru saja ibu letakkan di meja. Hey, jangan tertawakan aku jika seleraku lebih kekanakan dari kakakku.

“untuk terakhir kalinya Oh Sehun, ubah warna rambutmu menjadi seperti semula.”

Aku memutar bola mataku, dan menghabiskan susu coklatku dalam sekali tegak, mendengar apa yang di ucapkan pemuda 25 tahun yang sekarang sedang memandang arlojinya, kemudian menatapku serius.

“Demi Tuhan Oh Sehun, aku akan membunuhmu jika kau tidak mendengarkanku. Minggu depan kau mulai bersekolah lagi. Sekolah di Korea tidak menerima siswa dengan wambut berwarna pelangi sepertimu.”

Ia kemudian meletakkan korannya dan beranjak dari tempat duduknya. Oh ya ampun, sok sibuk sekali bahkan di hari Minggu ia tidak bisa tinggal di rumah.

“Aku berangkat bu. Pastikan Sehun tidak keluar rumah, aku takut ibu tertipu lagi, aku tidak ingin dia membuat onar di hari ketiganya di Korea.”

Aku berbalik dan membulatkan mataku tidak percaya mendengar penuturan panjang professor muda Yonsei university itu.

“YA TUHAN LUHAN HYUNG! AKU BUKAN SISWA SMP YANG SUKA MEMBOHONGI IBU HANYA UNTUK PERGI DARI RUMAH.”

Aku tahu dia tidak mendengarkanku, kakak macam apa dia masih suka menuduhku seperti itu. Ah, dia benar-benar merusak pagiku.

“dan kau Oh Sehun, jangan membuat ibu kewalahan menjagamu. Kau ini sudah 17 tahun.”

Masih saja ia berceramah panjang.

“tunggu aku kembali siang nanti jika kau ingin pergi ke salon.”

Aku berdiri, berniat untuk memprotes keputusannya, namun terlambat, pemuda berkacamata itu sudah menutup pintu sebelum aku berhasil membuka mulutku.

“Terimakasih sarapannya bu, buburnya enak sekali aku selalu merindukan bubur buatan ibu selama di Boston.” Ucapku memeluk ibuku.

Ya Tuhan, aku memang 17 tahun, tapi apa salahnya jika aku masih senang memeluk ibuku, kalian hanya iri jika kalian menertawakan aku bertingkah seperti ini.

“Begitukah? Bagus jika kau menyukai sarapannya. Naiklah, nanti ibu suruh bibi Lim mengantarkan coklat dan coco bubble tea ke kamarmu sesampainya dari berbelanja.”

Oke, ibuku membongkar semuanya. Ya, aku oh Sehun 17 tahun sangat tergila gila dengan coklat. Jangan tertawakan aku, sudah kubilang bukan salahku jika aku memiliki selera kekanakan seperti ini. Selera keluargaku memang, sedikit, ya, unik. Sudahlah.

“oke bu, aku tunggu di atas.”

“Jangan coba-coba kabur lewat jendela sehunie…”

“iya bu, aku janji.”

Aku kemudian bergegas menaiki tangga, menuju kamarku. Ketika akan melangkahkan kaki ke dalam kamarku, sekilas aku melihat 1 ruangan, ruangan yang biasanya selalu tertutup, ruangan yang terakhir kali aku masuki ketika aku berumur 8 tahun, terbuka.

Sungguh, bukan bermaksud untuk menjadi penguntit atau apa, hanya saja aku penasaran dengan bagaimana isi perpustakaan pribadi kakakku sekarang. Ya, ruangan di pojok kanan lantai atas yang sekarang terbuka itu adalah perpustakaan pribadi kakakku.

Aku menggeser sedikit pintu yang memang sejak awal terbuka itu, membukanya lebih lebar maksudku, untuk melihat lebih jelas kedalamnya.

Rapi,besih, dan uh ya Tuhan, sepertinya Luhan hyung menjadi pemburu buku andal selama 9 tahun belakangan ini, karena sungguh rak-rak buku yang 9 tahun lalu aku lihat masih setinggi kurang lebih 2 meter, sekarang sudah menjulang lebih tinggi hingga hampir menyentuh langit-langit.

Mungkin karena terlalu terpesona dengan pemandangan yang aku tidak pernah menyangka ada di dalam rumahku, aku tidak sadar kalau sekarang aku sudah masuk sepenuhnya ke dalam ruangan yang dulu selalu membuatku bertengkar dengan Luhan hyung jika aku berada di dalamnya seperti ini.

Sial, alih-alih segera keluar, kakiku malah mengajakku berkeliling memandangi buku-buku yang tertata sangat rapi, juga melihat lukisan-lukisan tua yang Luhan hyung selalu katakana memiliki banyak arti, yang bagiku lukisan itu tidak lebih dari coretan dan gambar-gambar tak berbentuk yang sangat sayang sekali jika harus di beli dengan uang jutaan won.

Aku benar-benar tersihir oleh ruangan perpustakaan yang sangat indah itu, dan kembali sadar setelah menabrak meja yang kuketahui merupakan tempat yang paling di senangi Luhan hyung.

Di belakang meja, di belakang kursi bacanya lebih tepatnya, terdapat hall of fame jika boleh aku katakan, sebuah lemari kaca besar berisi berbagai macam trophy penghargaan dan medali yang di dominasi dengan warna emas, juga beberapa potret Luhan hyung ketika menerima penghargaan-penghargaan tersebut.

Dia memang jenius gila yang sangat di banggakan oleh keluargaku.

Aku mengalihkan pandang menuju meja yang tadi membuatku tersadar dari lamunanku. So, organized. Terdapat tumpukan kertas di sebelah kiri meja, laptop hitam yang aku tau sebagai pemberian ayahku 3 tahun lalu, hadiah hari menuju kedewasaannya, sebelum ayah pergi untuk misi kemanusiaan di Kongo. 2 potret berdiri tegak di samping ipadnya yang tergeletak tak menyala.

Potret pertama merupakan potret 17 tahun lalu, ketika aku baru saja lahir, kala itu Luhan Hyung berusia 8 tahun, dan bahkan saat itu Luhan hyung terlihat sangat gemilau, cih, jenius gila.

Aku melempar pandang pada potret kedua, aku mengerutkan kedua alisku. Aku tidak percaya pada apa yang aku lihat, maksudku, untuk apa ia meletakkan potretku di usiaku yang ke-enam saat aku memasuki bangku sekolah pertama kali.

Ah, dia juga punya sisi ke-kakak-an rupanya.

Tepat di depan potretku, aku melihat sebuah buku tebal, tidak setebal kamus sebenarnya, tapi lebih tebal dari ukuran buku agenda biasa. Awalnya aku tidak tertarik dengan buku bersampul coklat tersebut, namun kemudian rasa penasaranku muncul, ‘Oh Sehun’ itu yang tertulis pada sampul depan buku itu.

Setelah memastikan Luhan hyung tidak berada di manapun di sudut ruangan perpustakaanya, aku mulai membuka buku itu.

Halaman pertama buku itu berisi foto kecilku, oh ya ampun, dengan senyum bodoh itu.

Image

Di bawahnya terdapat tulisan.

“Adikku, ayahku bilang dia laki-laki, namanya Oh Sehun, terimakasih ayah, ibu, untuk hadiah kemenangan yang pertama.”

Huuh? Jadi aku lahir bersamaan dengan kemanangan pertamanya, langkah awalnya menjadi seorang jenius gila. Dan apa? Hadiah? Dia pikir aku semacam barang atau bagaimana?

Halaman kedua juga sama, sebuah foto diriku, namun ukuranku sudah lebih besar dari aku yang berada di foto sebelumnya.

Image

“Oh Sehun kecil kini memasuki tahun kedua hidupnya, dan ia tumbuh dengan sangat cepat.”

Iya, aku tahu, aku tumbuh lebih cepat dari dia.

                Di halaman keenam, terdapat sebuah foto dengan, iuh aku tak tahu apa itu, sebuah kain dengan bercak coklat.

Image

“Oh Sehun kelelahan di hari pertamanya di sekolah, dia mimisan, ini potongan bajuku yang terkena tetesan darahnya.”

Ha? Dia bahkan menyimpan potongan bajunya yang terkena tetesan darahku. Luhan hyung…

                Halaman ke-9, masih dengan sebuah foto di sebelahnya dua buah sedotan yang aku kenali sebagai sedotan bubble tea yang dulu di jual bibi Kim di depan sekolahku.

Image

“Sehun berusia 9 tahun sekarang, dia mulai membuat onar, anak manja. Dia kabur dari rumah setelah ibu tidak mengijinkannya ikut-ikut audisi bersama temannya. Padahal aku ingin mengajaknya makan samgyeopsal. Aku menemukannya di salah satu rumah sauna, ia sedang menangis, uangnya habis karena ditipu temannya. Adik bodoh. Aku membelikannya bubble tea di kedai bibi Kim ketika kami melewati sekolahnya, bubble tea rasa cokelat, dan sejak saat itu ia menjadi maniak. Weird oh Sehun.”

Ya Tuhan, ia bahkan menulis ini. Aku ingat sekali, saat itu Luhan hyung mendapat tawaran beasiswa penuh untuk meneruskan pendidikannya di Stanford university, namun jenius gila itu menolaknya. Ia memutuskan untuk meneruskan pendidikannya di Yonsei University, dan sukses menjadi professor psikologi muda sekarang.

Halaman ke-12. Tidak seperti halaman sebelumnya, halamn ini tidak berisi fotoku. Hanya sebuah tulisan.

“Oh Sehun perlu menjadi lebih dewasa.”

Aku ingat ketika itu aku kembali membuat onar, aku di terima menjadi trainee di salah satu entertainment company, aku tidak memberitahu orang tuaku, dan pergi meninggalkan rumah berbekal dompet yang berisi 2 kartu kredit. Ah, membicarakannya sekarang membuatku sangat malu. 2 bulan setelah aku meninggalkan rumah, Luhan hyung menemukanku dan menjemputku dengan paksa. Luhan hyung memberitahuku bahwa ibu sakit dan masuk ruang ICU. Aku tahu, itu salahku.

Aku membuka halaman-halaman selanjutnya yang tetap tidak di sertai dengan foto seperti di halaman sebelum-sebelumnya, hanya catatan-catatan pendek di setiap halaman  dengan mengusap air mataku dan menahan ingusku supaya tidak jatuh dan merusak buku Luhan hyung yang baru kusadari ternyata sangat indah.

Luhan hyung, yang selalu aku sebut jenius gila, yang aku kira tidak pernah mengerti keinginanku, yang aku pikir hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak menganggapku sebagai adiknya ternyata sangat peduli, Luhan hyung mencatat setiap saat penting dalam hidupku, mencatat segala perkembanganku lengkap dengan kekuranganku yang perlu aku perbaiki.

Aku sampai pada halaman ke-17, halaman terakhir, karena saat aku balik ke halaman selanjutnya, tidak ada lagi foto yang tertempel maupun catatan yang tertulis.

Jika aku benar bahwa Luhan hyung menuliskan setiap catatannya ini setiap tahun saat aku berulang tahun, itu artinya, catatan di halaman ke-17 ini baru-baru ini saja ia tulis.

“Oh Sehun kembali hari ini.”

Ah, catatan ini ditulis 3 hari yang lalu rupanya.

“Aku harap Oh Sehun kecil sudah benar-benar belajar menjadi manusia yang lebih baik disana. Aku harap Oh Sehun kecil bisa menjadi Oh Sehun dewasa. Karena aku tidak ingin ia kembali menyusahkan ibu, sementara ayah tidak ada, dan aku harus pergi sebentar lagi.”

Apa? Pergi kemana? Untuk apa?

Aku menjatuhkan buku coklat itu, kemudian berlari keluar.

Aku melewati bibi Lim yang sedang menaiki tangga membawa nampan berisi coklat dan coco bubble tea kesukaanku. Tapi tidak ada waktu untuk itu sekarang, aku harus menemui orang yang telah membuat kepalaku pening dan berkeringat dingin.

“Sehunie, kau mau..”

Aku melewati ibuku yang melihatku dengan tatapan heran, dan terus memanggil ketika aku berhasil membuka pintu rumah.

Aku hendak menuju menyalakan mesin Volvo putih ayahku, namun niatku terhenti ketika aku mendengar suara M3 merah memasuki halaman rumah.

Aku keluar dan segera berlari menuju arah suara M3 tersebut berhenti.

Tepat ketika aku menemukannya, Luhan hyung baru saja menutup pintu mobilnya.

“Oh Sehun.”

Ia melihatku masih dengan tatapan ‘apa yang sedang kau lakukan di luar rumah?’

Alih-alih membalas pertanyaan pada tatapannya, aku menghantamkan kepalan tanganku di pipi kirinya.

Aku bisa mendengar suara pekikan di belakangku, ibu sudah keluar juga rupanya.

“KAU! Apa maksudmu kau harus pergi?”

Tanpa kusadari air mataku menetes ketika aku melontarkan petanyaanku.

“apa maksudmu Sehun-ah?”

Aku menggenggam kerahnya,

“KENAPA KAU MENULIS KAU AKAN PERGI KETIKA AKU KEMBALI HYUNG? APA? KAU TIDAK AKAN MATI KAN HYUNG? KAU TIDAK SAKIT KRONIS KAN HYUNG?”

Mata Luhan hyung membulat mendengar pertanyaanku. Kemudian tawanya meletus hebat.

“Eh? Jawab pertanyaanku hyung! Jangan tertawa, JENIUS GILA!”

Luhan hyung kemudian memegang tangaku yang masih meraih kerahnya. Saat itu juga, seorang wanita dengan rambut panjang, coklat, dan berombak keluar dari pintu M3 lainnya. Dia sangat cantik, tapi sekarang bukan saatny melihat wanita cantik.

“Oh Sehun menemukan bukuku rupanya.” Luhan hyung berkata dengan masih terus menahan tawanya dan melepaskan tanganku dari kerahnya.

Ia kemudian menepuk pipiku. Ah, ini sangat tidak biasanya, membuatku merinding. Tangisku semakin menjadi.

“Sehun-ah, sehun-ah, huuussshh.. kenapa kau menangis. Dengar, kau terlalu banyak menonton film romance picisan sepertinya, kenapa setting otakmu seperti itu. Apakah orang yang menulis ia akan pergi di bukunya berarti ia akan mati? Apakah ia selalu memiliki penyakit kronis?”

Aku tertegun mendengar ucapan Luhan hyung, menyedot ingus dan mengusap air mataku.

“Bukankah, biasanya seperti itu hyung?”

Sekarang ia mengacak rambutku.

“Kau lihat noona itu, yang baru saja keluar dari dalam mobilku. Kau lihat?”

Aku mengangguk, tapi kenapa, untuk apa ia membahas wanita ituu.. bukankah aku sudah bilang tadi sebenarnya ini bukan saatnya melihat wanita cantik.

“Namanya wendy, Sehunie. Wendy Kim. Wendy noona.”

“Lalu?”

“Ia akan menjadi kakak iparmu mulai minggu depan.”

“eo?”

Aku masih tidak mengerti apa hubungannya wanita cantik yang akan menjadi kakak iparku itu dengan… hey tunggu, aku akan menjadi benar-benar bodoh jika aku tidak mengerti,

“Ya Tuhaaaannn.. Jadi maksud hyung, hyung harus pergi sebentar lagi adalah, hyung akan menikah?”

Aku menghela nafas lega kemudian menjatuhkan diri. Rasanya aku tidak punya tenaga lagi untuk berdiri, alasan lainnya juga karena aku merasa malu telah berlari berurai air mata dan bersimbah ingus hanya karena aku salah mengerti pesan yang ada dalam buku kakakku. Terlebih, aku menunjukkan kebodohanku di hadapan calon kakak iparku.

“Bangunlah, tidak perlu merasa malu, Wendy sudah tahu kau bodoh.”

“YA!!!!”

-You need to look deeper to understand that you are precious to your siblings-

-And so is the opposite-

-FIN-

Gak jelas banget yaa?? FF marathon lagi ini. Hahaha.. lagi seneng bikin mah, dari pagi ampe siang juga di ladenin aja bikin. Enjoy reading, don’t forget to review dan leave comment ya. Terimakasih reader tersayaang.❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s