OVERDOSE

4. Overdose

Title                : Overdose

Author            : Luhoney77 (@chikacharlotte)

Cast                : Krystal F(x) –Jung Soojung

                          Kai (Exo) –Kim Jongin

Genre             : Romance, AU

Rated              : PG-15

Length            : Vignette [1.914 words]

 

Disclaimer       : Ini ff pertama yang aku post di page ini ^^. Seperti biasa, cast belongs to Almighty God dan agency masing-masing. Storyline 100% dari otak saya yang terinspirasi dari title track EXO yang baru ‘Overdose’ dan teaser picturenya Jongin-Soojung buat f(x)’s Pink Tape. Enjoy the story dan jangan lupa leave comment ya. Thank you so much. ^^ 

“I drew you in closer with all I had
Now I can’t turn it back

The only thing I want is his love
His fatal fantasy”
      —

                “Cukup kali ini soojongie, aku harus segera berangkat, kau tidak ingin aku mendapat surat peringatan karena terlambat lagi kan?” ucapnya, kemudian mengecup pipiku.

Aku berusaha tidak mendengarkan apa yang ia katakan, aku semakin mengeratkan pelukanku. Semakin menanamkan kepalaku ke dalam dadanya.

“Soojongie, aku akan segera kembali usai bekerja, aku tidak akan lama, aku berjanji.”Ia mengelus rambutku kemudian mengecup puncak kepalaku, terus berusaha meyakinkanku untuk mengijinkannya pergi bekerja.

“Apa kau mencintaiku?Kenapa kau begitu ingin meninggalkanku?” ucapku melepaskan pelukanku, dan menggulingkan tubuhku membelakanginya.

“Soojongie, kau tau aku mencintaimu, selalu, dan selamanya, bagaimana bisa kau berkata aku ingin meninggalkanmu, aku hanya harus pergi bekerja, itu saja.Bagaimana kita akan hidup jika aku tidak bekerja, aku bekerja untukmu, untuk kita Soojongie.”Ucapnya kemudian merengkuhku kembali dalam pelukannya, kembali mengecup puncak kepalaku, meyakinkanku supaya mengijinkannya pergi meninggalkanku dan kembali setelah 10 jam.

“Tidak, kau bekerja untuk dunia, bukan untukku.Kau tahu, aku bisa bertahan hidup hanya dengan berada di sampingmu, aku bisa bertahan hidup dengan cintamu.”Jawabku keras kepala.

“Soojungie, kau tau aku mencitaimu, selalu, tapi kau tidak akan merasa kenyang hanya dengan cintaku bukan?” tandasnya, yang kemudian melepas pelukannya dan bangkit dari ranjang.

“Kau benar-benar akan meninggalkanku lagi hari ini.” Ucapku lirih, kemudian memebenamkan diriku dalam selimut tebal.

Ia tidak membalas ucapan terakhirku, kemudian aku bisa mendengar suara percikan air shower yang jatuh, ia sedang mandi rupanya. Ia benar-benar akan meninggalkanku lagi.

Aku menyibakkan selimut yang aku gunakan untuk membenamkan diriku, kemudian bangkit dan beranjak menuju ruang makan. Aku menyiapkan 2 roti panggang untuk sarapan kami, ya aku tahu dia benar, kami tidak bisa merasa kenyang hanya dengan memakan apa yang kami sebut cinta.

Usai menyiapkan sarapan, aku mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, dan bergegas menghampirinya, aku memeluknya dan menghirup aroma tubuhnya yang selalu menjadi favoritku setelah ia selesai membersihkan diri, aroma tubuhnya segar, sangat segar, seperti aroma yang keluar dari peppermint dan rumput di pagi hari, aroma tubuhnya..memabukkan.

“Aku mencintaimu Soojungie.”Ucapnya, membisikkan setiap kata kata tepat di telingaku.

Aku selalu menyukai suaranya yang renyah seperti buah pir segar.

“Aku juga, aku juga mencintaimu, selalu.” Balasku, kemudian mencium bibirnya yang juga selalu menjadi favoritku, bibirnya yang lembut dan begitu manis seperti permen kapas.

Ia bernafas panjang, melepaskan diri, kemudian melepas pelukanku.

“Aku harus bergegas Soojungie.”Ucapnya.

Kembali, aku terdiam, kemudian menempatkan diri duduk menunggunya di ruang makan.Ia muncul setelah 10 menit, sudah lengkap dengan dasi yang masih menggantung tidak terikat di lehernya, aku kemudian bangkit dan bergegas memasangkannya.

“Terimakasih.” Ucapnya kemudian, setelah aku selesai memasangkannya.Ia merangkulku menuju meja makan, mempersilahkanku duduk, mengecup keningku kemudian menempatkan dirinya di hadapanku.

Aku menatapnya lekat, aku begitu mencintai semua yang ada pada dirinya, rambutnya yang hitam dan selalu tertata sedikit tidak rapi, alisnya yang tebal dan panjang, matanya yang bulat yang selalu berbentuk bulan sabit ketika tersenyum dan tertawa, hidungnya yang panjang dan datar, bibirnya yang tebal dan lembut, lehernya yang jenjang dan begitu menggiurkan bagiku, pundaknya yang lebih lebar dari jalan raya manapun di Seoul, dadanya yang lebih luas dari samudera Pasifik. Segalanya, bahkan warna kulitnya yang sedikit lebih coklat dibanding kulitku, sangat indah di mataku.Ia memabukkan.

“Makanlah Soojungie. Berhenti memandangiku, apa kau tidak bosan?” ucapnya dengan senyum manis yang juga sangat aku cintai, segera membuyarkan pengamatanku terhadap dirinya.

“Kenapa aku harus merasa bosan?Aku bahkan tidak pernah merasa cukup memandangimu, aku tidak perlu lagi makanan ini, perutku sudah penuh dengan hanya memandangimu.”Jawabku.

Jongin bangkit, menarik kursinya hingga berada di sampingku, kemudian mulai mengiris roti panggang yang masih belum aku sentuh sama sekali.

“Buka mulutmu, aku tidak ingin kau sakit.”Ucapnya berusaha menyuapiku.

Alih alih membuka mulutku, aku kembali tercengang melihat tangannya yang juga sangat indah, aku menyentuh tangannya.

“kau lembut. Aku mencintaimu.”

Jongin meletakkan garpu yang di pegangnya, kemudian menyentuh pipiku.

“Kau tahu, kau bahkan lebih lembut dari apapun di dunia ini, dan kau tahu lebih dari siapapun bahwa aku juga mencintaimu.” Jawabnya, kemudian, lagi ia mencium puncak kepalaku.

“Sekarang aku benar-benar harus pergi, aku akan kembali Soojungie. 10 jam lagi.” Ucapnya dihadapanku yang menghadang pintu.

Aku tidak menjawab, air mataku mengalir, semakin lama semakin deras, kemudian aku menangis dengan sangat keras seperti seorang bayi yang sedang melakukan imunisasi.

Ia menghela nafas, kemudian meletakkan kopernya, lalu merengkuhku kedalam pelukannya.

“Soojungie, kau tahu, aku selalu bertanya, sampai kapan kau akan begini. Aku selalu bertanya, apakah kau akan tetap seperti ini esok, lusa, minggu selanjutnya, tahun selanjutnya, 10 tahun lagi, dan bahkan 70 tahun lagi ketika aku sudah menjadi seorang kakek tua dan tidak berguna.” Ucapnya.

Aku terdiam, mengatur nafasku.

“Akan, selalu, aku akan selalu seperti ini sampai kapanpun, selama kau mencintaiku, selama kau mencurahkan seluruh jiwamu untuk mencintaiku, aku akan selalu seperti ini, karna cintamu memabukkan Jongin, cintamu membuatku gila, Kim Jongin, cintamu.” Jawabku.

Kim jongin kembali mengecup puncak kepalaku, meyakinkanku ia akan kembali 10 jam lagi setelah semua pekerjaannya selesai.

Aku terdiam, setelah Jongin meninggalkan rumah, aku terdiam, dan seperti biasa duduk menghadap jendela, dan akan menunggu hingga 10 jam berlalu, termenung.

Lamunanku terpecah oleh suara bel pintu. Aku melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 10.30, dan aku sangat yakin ini masih pagi, karena warna langit belum berubah, masih tetap biru cerah. Apa mungkin Jongin berhasil mendapat ijin untuk pulang lebih awal dan akan menemaniku selama sehari penuh? Apa mungkin Jongin memutuskan untuk kembali dari perjalanannya dan memilih untuk menemaniku selama sehari penuh?

“Love is a sickness, an addiction, overdose
It’s harder to control as time goes by
I’m falling deeper into him”

                Aku membuka pintu kediaman kami dengan semangat, menyunggingkan senyuman termanisku, yang segera berubah menjadi senyuman getir setelah aku mendapati orang yang menekan bel pintu kediaman kami bukanlah Jongin, melainkan 2 orang berseragam polisi dengan 1 orang yang aku kenali sebagai dokter keluarga kami.

“Ada apa? Untuk apa kalian datang kemari? Apa sesuatu yang buruk terjadi pada Jongin?” ucapku, dengan suara bergetar menahan rasa takut, cemas, dan panik.

Aku tidak mengerti, alih-alih menjawab, 2 polisi di hadapanku malah memperlihatkan ekspresi bingung, sementara dokter keluarga kami memperlihatkan ekspresi prihatin.

“Soojungie, bukankah Jongin ada di dalam?” ucap dokter tersebut, yang kemudian merangkul, dan mengusap bahuku.

“Apa maksudnya? Jonginie baru saja pergi bekerja 2 jam yang lalu.” Jawabku.

“mm.. kalau begitu, bolehkah kami masuk?” Tanyanya lagi.

“bukan kami, tapi dokter lee saja, aku tidak ingin 2 polisi ini memasuki rumahku, selagi Jongin tidak ada.”

“Baiklah.” Ucapnya, kemudian berbalik dan sepertinya meyakinkan kedua polisi itu untuk tetap di luar, sementara ia masuk.

Aku mempersilahkan dokter lee duduk.

“Ada apa dokter?Apa ada sesuatu yang terjadi pada Jongin?” tanyaku.

“Soojungie, bukankah Jongin ada di sini?” jawabnya.

“hmm..?” aku mendengus dan mengangkat kedua alisku, tanda tidak mengerti.

“Bolehkah aku melihat ruangan kalian?” tanyanya.

Sebenarnya aku tidak mengerti untuk apa dokter lee ingin melihat ruanganku, namun aku hanya mengangguk mengijinkan dokter lee melihat kedalam ruangan kami.

Aku membukakan pintu ruangan kami untuk dokter lee, kemudian terkejut melihat Jongin berada disana, sedang berbaring, ya dia sedang berbaring dengan kedua mata terpejam, dan bibirnya menyunggingkan senyum.

“Wah, iya ternyata Jongin ada di rumah, padahal tadi sepertinya ia berpamitan untuk pergi bekerja.”Ucapku kemudian berniat untuk mendekati Jongin dan membangunkannya, namun dokter lee menahanku.

“Soojungie, Jongin terlihat pucat sekali ya?” ucapnya.

Iya, kulit Jongin tidak terlihat coklat seperti biasanya, ia terlihat sangat putih, terlalu putih seperti..pualam, putih

“Soojungie, bukankah Jongin terlihat seperti ingin beristirahat?Bolehkah kami membawanya ke rumah orang tuanya?Kau juga ikutlah, mereka mengkhawatirkanmu.”

“Untuk apa? Untuk apa Jongin pulang ke rumah orang tuanya? Aku bisa merawatnya.Aku bisa.”Ucapku melepas genggaman tangan dokter lee yang menahanku kemudian menghampiri Jongin.

Aku hendak membangunkan Jongin yang terlihat sangat lelap tertidur, kemudian terkejut ketika menyentuh kulitnya yang begitu dingin. Aku terdiam, berusaha menyadarkan diri, mengingat apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Jongin bisa begitu putih dan dingin seperti…

“Soojungie, berhenti memungkiri kenyataan, biarlah Jongin mendapat perlakuan yang wajar, tidak kah kau melihat, ia ingin istirahat Soojungie. Ayolah Soojungie, kita harus segera memakamkan jenazahnya…”

“Jenazah…. Kulitnya terlalu putih dan dingin seperti mayat.” Ucapku lirih, masih termenung menggenggam tangan Jongin.

Kilasan-kilasan memori 4 hari yang lalu mulai bermunculan.

“His love is like poison to me
I can’t escape
It’s like he’s nailed into my heart
My world is filled with him”

                -flashback-

“Sekarang aku benar-benar harus pergi, aku akan kembali Soojungie. 10 jam lagi.” Ucapnya dihadapanku yang menghadang pintu.

Aku tidak menjawab, air mataku mengalir, semakin lama semakin deras, kemudian aku menangis dengan sangat keras seperti seorang bayi yang sedang melakukan imunisasi.

Ia menghela nafas, kemudian meletakkan kopernya, lalu merengkuhku kedalam pelukannya.

“Soojungie, kau tahu, aku selalu bertanya, sampai kapan kau akan begini. Aku selalu bertanya, apakah kau akan tetap seperti ini esok, lusa, minggu selanjutnya, tahun selanjutnya, 10 tahun lagi, dan bahkan 70 tahun lagi ketika aku sudah menjadi seorang kakek tua dan tidak berguna.” Ucapnya.

Aku terdiam, mengatur nafasku.

“Akan, selalu, aku akan selalu seperti ini sampai kapanpun, selama kau mencintaiku, selama kau mencurahkan seluruh jiwamu untuk mencintaiku, aku akan selalu seperti ini, karna cintamu memabukkan Jongin, cintamu membuatku overdosis, Kim Jongin, cintamu.” Jawabku.

Kim jongin kembali mengecup puncak kepalaku, meyakinkanku ia akan kembali 10 jam lagi setelah semua pekerjaannya selesai.

Aku menutup pintu, kemudian segera berlari ke arah jendela tempatku biasa duduk dan menunggu kedatangannya.

Hari mulai gelap, namun belum juga ada tanda-tanda kedatangan Jongin, aku melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 5.10 malam.Aku berusaha berfikir positif, mungkin banyak hal yang perlu Jongin selesaikan di kantornya.

Aku menunggu, terus menunggu, hingga akhirnya aku menyerah, kembali menengok jam dinding yang menunjukkan pukul 10.13, sudah 5 jam lebih Jongin terlambat pulang, aku mencoba menghubunginya.

Tersambung, teleponku tersambung.Anehnya, samar-samar aku bisa mendengar suara handphone Jongin, aku pikir aku berhalusinasi, namun semakin aku melangkahkan kaki mendekati pintu rumah kami, suara handphone Jongin terdengar semakin nyaring. Aku memutus sambungan teleponku, kemudian menekan tombol password rumah kami, apa Jongin bermaksud untuk memberiku kejutan? Kenapa dia tidak segera masuk saja, percuma, aku sudah mendengar suara handphonenya.

Aku membuka pintu, dan sangat terkejut hingga nyaris terjerembab mendapati Jongin tergeletak tepat di depan pintu rumah kami, memegangi dadanya. Kulitnya pucat, bibirnya membiru, aku terkejut, namun aku tidak berteriak.

Aku membawa tubuh Jongin masuk dan menidurkannya di ranjang, membalutnya dengan bertumpuk-tumpuk selimut tebal, kemudian bergegas merebus air, aku berusaha menghangatkannya.

-flashback off-

“Someone call the doctor, hold me and tell me
Love is a sickness, an addiction, overdose
It’s harder to control as time goes by
I’m falling deeper into him”

                Kejadian hari itu benar-benar telah membuat mentalku bermasalah sepertinya, aku hidup dalam ilusi selama 4 hari belakangan, aku hidup bersama jasad Jongin selama 4 hari belakangan ini.

“Aku tidak menyangka Jongin benar-benar meninggalkanku, dokter Lee.”Ucapku.

“4 hari yang lalu, sebelum ia pergi, aku berkata bahwa aku akan terus menunjukkan cintaku selama jiwa dan raganya bersamaku.”Tambahku, kemudian hening sejenak.

“Dia memabukkan, dokter Lee, bahkan keberadaan raganya tanpa jiwa pun mampu membuatku hidup dalam ilusi. Hanya dengan melihat sosoknya aku merasa kenyang, hanya dengan melihat sosoknya aku merasa bahagia, hanya dengan melihat sosoknya aku merasa masih bisa bertahan hidup hingga esok hari, dan hal itu yang membuatku tidak pernah merasa puas berada bersamanya, hal itu yang membuatku tidak ingin Jongin pergi meninggalkanku meski hanya untuk bekerja.” Aku bernafas, mengambil jeda, menahan supaya air mataku tidak tumpah, kemudian melanjutkan.

“Hal itu yang membuatku bertahan dengan hidup bersama jasadnya, haruskah kau membawanya pergi, dokter Lee?” tanyaku mengakhiri segala alasan untuk tetap mempertahankan jasad Kim Jongin yang tetap sangat memabukkan untukku.

“too much, it’s you, your love, this is overdose
too much, it’s you, your love, this is overdose”

—Fin—

Singkat, padat, dan ga jelas ya? Mianhae… ini ff bener2 di bikin tiba-tiba setelah ada yang ngingetin aku foto teasernya jongin-krystal buat pinktape. Awalnya pengen bikin yang main castnya Luhan, Cuma ga tau kenapa tiba-tiba author’s block. Hahaha. Anyway, don’t forget to review and leave a comment ya. Thank you.❤

This also had been published on my page LUHONEY

4 thoughts on “OVERDOSE

  1. Pertama gue udah senang thor ini ff kaistal tpi mkin kesini kok makin gak beres ya. Eh taunya yg gue tkutin pun tejadi, sad ending thor jaat banget😥 kirain tdi happy ending. Tpi bagus thor romance keluaganya ddapet bnget, bahasanya juga enak. Karna gue yg perrtama boleh req ff kaistal yg romance gak thor😀 tpti jan yg sad ya :p

    • muhaha.. mianhae precious reader, kemaren author habis ditempelin sad auranya lay. oke, tar kalo ada inspirasi nempel pasti author bikinin. thank you udah baca dan leave comment yaaa…❤

  2. Woah, daebak ^^v
    Feel nya kerasa gila -_______-
    Awalnya mikir, set dah Krystal kenape -_- kok kekanak2an gitu
    Endingnya sedih banget zedihz thor T.T

    Keep writing authorrrr ‘v’)b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s