[FF Freelance] What Love is For Her

FF2

Judul FF : What Love is For Her

Author : dreamcatcher

Rating : PG-13

Length : 1485words

Genre : yuri

Main Cast : taeyeon, tiffany

Other Cast : yoona

Disclaimer : well, i own the plot, anything else, especially the characters are not mine to begin with (thou i really want ’em to be, y’kno. lol) i thought it will be great if i could share my things to people out there instead keeping it all inside my wordpress.

posted here: laffism.wordpress.com

What Love is for Her

 

 

Pertama kali Taeyeon melihat perempuan itu adalah ketika ia sedang mencatat tulisan di whiteboard dan mendengarkan celotehan dosen di depan kelas tentang sesuatu yang berbuhungan dengan moral. Perempuan itu pun sedang mencatat di buku bindernya dan terlihat begitu fokus, membuat Taeyeon merasakan sesuatu yang mulai bergejolak di dalam perutnya yang Taeyeon yakin bukanlah rasa lapar karena ia melewatkan makan paginya.

 

Taeyeon melihat perempuan manis itu dari sudut matanya. Kontur wajah sang perempuan begitu menarik perhatiannya. Ia baru menyadari bahwa perempuan itulah yang selama ini teman-temannya bicarakan ketika mereka berkumpul di kafe langganan mereka. Teman-temannya selalu berkata bahwa perempuan ini begitu cantik, kulitnya putih, wajahnya manis dan terlihat sangat muda untuk ukuran mahasiswa sepertinya. Taeyeon hanya mengerutkan kening. Ia bukan sosialita dan tidak terlalu mengenal semua orang di salah satu kelasnya di perkuliahan. Namun, ketika matanya, secara tidak sadar, menatap sisi wajah perempuan itulah Taeyeon merasa begitu bodoh tidak mencari tahu perempuan yang selama ini teman-temannya katakan.

 

Selama tiga minggu berturut-turut Taeyeon hanya dapat menatap profil samping perempuan itu tanpa tahu siapa namanya atau bahkan jurusan apa dia berkuliah. Bertanya pada teman-temannya saja ia tidak berani, takut-takut teman-temannya akan mengejek dan malah bertingkah laku berlebihan setiap kali perempuan itu berjalan di depan mereka.

 

Hingga akhirnya pada minggu keempat, setelah ia kehilangan konsentrasi untuk mencatat pelajaran belakangan ini, sang dosen memberikan tugas kelompok dengan satu kelompok berjumlah tiga orang saja. Taeyeon menelan ludah. Apakah ini kesempatan yang diberikan Tuhan padanya? Ia tetap mencuri pandang ke arah perempuan itu hingga ia yakin perempuan itu masih belum mendapat kelompok sebelum akhirnya ia mengajak seorang temannya yang lain untuk mengajak perempuan manis itu.

 

Taeyeon akhirnya tahu nama perempuan itu. Tiffany. Tiffany namanya. Tiffany yang kini terukir di otak Taeyeon selama yang otak Taeyeon ijinkan.

 

Taeyeon berhasil mendapatkan nomor telepon Tiffany dengan kedoknya untuk dapat menghubungi anggota kelompoknya dengan lebih mudah. Jantung Taeyeon berdegup kencang.

 

Beberapa hari kemudian ia tertegun. Teman sekelompoknya yang ia terpaksa ajak untuk menemani dirinya dan Tiffany malah mengatakan bahwa sebenarnya ia juga tertarik dengan perempuan berparas manis itu.

Taeyeon ingin berteriak dan menarik kerah Yoona keras-keras supaya jauh-jauh membuang perasaan itu karena Taeyeon merasa ia-lah yang lebih dahulu merasakan hal tersebut sebelum Yoona.

 

Taeyeon menarik nafas. Tidak boleh. Taeyeon tidak ingin menjadi egois. Semua orang berhak untuk merasa tertarik kepada orang lain dan ia tidak punya hak untuk membatasi perasaan seseorang karena merasa perasaannya lebih penting dari siapapun. Jadi ia melipat tangan dan memendam tubuhnya di bantalan sofa di belakang punggungnya.

 

“Tiffany” panggil Yoona, “Apa kau sibuk nanti malam?”

“Kenapa?”

“Mau menemaniku makan malam? Selesai tugas ini”

“Bagaimana dengan Taeyeon?” Tiffany menatap Taeyeon yang sedang menunduk, pura-pura membaca soal, padahal sebenarnya berdoa dalam hati supaya Tiffany mengatakan tidak.

“Maksudku, Taeyeon juga boleh ikut” Yoona diam-diam menyentuh kaki Taeyeon dengan ujung sepatunya, seakan berkata supaya Taeyeon menolak ajakannya.

Jika Taeyeon bisa, ia pun ingin ikut supaya Yoona tidak mengatakan apapun yang mengandung kata ‘suka’ dan ‘sama kamu’, apalagi gabungan kedua kata itu, ‘aku suka sama kamu’. Taeyeon menelan ludah dan menimbang-nimbang lagi. Mata Tiffany yang bulat menatap matanya seakan meminta konfirmasi atas pertanyaan Yoona. Sekali. Dua kali. Taeyeon berkedip.

 

“Aku.. aku ada urusan, jadi maaf tidak bisa menemani kalian” tiba-tiba saja dada Taeyeon memberat tanpa sebab yang jelas. Mungkin sebab yang sedikit agak jelas tetapi Taeyeon memilih untuk tidak meniliknya lebih lanjut, takut kalau-kalau ia melakukan hal itu malah membuatnya semakin terluka.

Taeyeon menyiapkan hati mendengar persetujuan Tiffany terhadap ajakan Yoona, tetapi kata ‘iya’ atau bahkan ‘boleh’ tidak pernah terucap dari bibir tipis perempuan yang duduk di seberangnya itu. Perlahan tapi pasti, degup hangat jantungnya kembali terdengar hebat, apakah ini pertanda? Pertanyaan itu tidak pernah terjawab karena Tiffany di lain pihak hanya kembali menyibukkan dirinya pada sebundel pertanyaan yang harus mereka jawab.

 

Seminggu berlalu, tugas sudah setengah yang selesai. Namun perasaan Taeyeon belum setengah yang terbereskan. Tiffany jelas-jelas berkata pada Yoona kalau ia tidak tertarik padanya. Tapi Tiffany tidak pernah berkata apapun tentang kesediaannya memiliki pacar atau bahkan apakah sudah mempunyai pacar nun jauh disana.

Jadi Taeyeon memutuskan untuk giliran mendekati perempuan manis berambut gelombang itu. Tidak mudah untuk seorang Taeyeon melakukan itu semua. Taeyeon bukan seseorang yang dapat mencari topik pembicaraan dengan mudah, hanya ketika dengan orang-orang dekatnya saja. Bahkan untuk mengatakan ‘halo’ kepada orang asing begitu sangat susahnya. Tapi Taeyeon sudah membulatkan hati, jadi mau tidak mau harus ia lakukan.

 

“Tiffany, uh, maksudku, uh, apa kau sibuk hari ini?” Taeyeon menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak benar-benar gatal.

“Tidak terlalu, kenapa?” Mereka sedang duduk berdua di bawah pohon akasia di taman universitas, Yoona tidak datang karena sedang ada kelas yang tidak mungkin ia tinggalkan.

“Maksudku, uh, itu—“ Taeyeon menarik nafas, berharap degup jantungnya sedikit mereda supaya ia dapat berkonsentrasi dengan apa yang ingin ia katakan, “Aku tahu kafe bagus yang baru buka tak jauh dari sini”

“Kafe yang mana?” Tiffany mengangkat alis, pertanda perhatiannya kini tertuju ke Taeyeon seorang.

“Yang dekat kampus sebelah” Taeyeon tersenyum kecil, “Aku ingin ke sana tetapi belum ada teman yang mau menemani”

Tiffany tersenyum rapat dan menimbang-nimbang keputusan yang akan ia ucapkan. Taeyeon diam-diam berdoa, berharap supaya Tiffany setuju dengan ajakannya. Bilang iya, aku mohon.

“Okay”

Mendengar kata itu, Taeyeon ingin sekali berteriak penuh kemenangan dan menarik kerah Yoona dan mengguncangnya keras seraya berkata ‘Aku menang! Aku menang!’

“Sekarang?”

“Boleh” Tiffany mengambil tasnya dan Taeyeon segera memasukkan segala yang ada di atas bangku asal ke dalam tas punggungnya.

 

Perjalanan mereka di dalam mobil Taeyeon rata-rata hanya dipenuhi dengan diam dan alunan music perancis dari CD lagu favorit Taeyeon. Tetapi Taeyeon tidak dapat merasa lebih bahagia dari ini. Sebuah progress tetaplah sebuah progress, sekecil apapun itu.

 

Tiffany adalah perempuan yang sopan dan bersahabat, dan Taeyeon menemukan fakta itu ketika ia berbicara dengannya. Ia tahu kapan harus menjawab pertanyaan canggung Taeyeon dan kadang malah berusaha mencairkan suasana dengan obrolan ringannya.

 

Taeyeon memilih untuk memesan secangkir cappuccino hangat dan Tiffany memilih secangkir caramel macchiato dingin. Pembicaraannya mereka dipenuhi oleh kecanggungan, tetapi seiring berjalannya waktu Taeyeon mampu membuka dirinya sehingga mereka dapat berada dalam tahap pertemanan nyaman. Tiffany ternyata lebih bersahabat dari apa yang ia pikirkan selama ini.

 

Taeyeon tertawa renyah. Tiffany perempuan menyenangkan. Dan lebih menyenangkan ketika hanya ada mereka berdua dan obrolan ringan mereka. Taeyeon ingin agar keadaan ini bisa selamanya terjadi, ketika hari-harinya hanya dipenuhi oleh telepon dengan Tiffany, SMS dengan Tiffany, bertemu dengan Tiffany, tertawa dengan Tiffany, belajar dengan Tiffany, jalan dengan Tiffany, ikut kuliah, termenung di rumah, lalu telepon lagi dengan Tiffany.

 

Suatu hari yang cerah, dengan awan putih mengambang di birunya langit dan matahari tersenyum manis, seakan semuanya keluar dari buku cerita bergambar untuk anak balita, Taeyeon memutuskan untuk mengatakannya. Taeyeon mengajak Tiffany untuk sekedar berjalan-jalan sore di taman dekat kompleksnya sampai sekitar sepuluh menit sebelum ia mengajaknya untuk duduk di salah satu bangku di sudut taman yang menghadap air mancur kecil di tengah taman itu.

“Tiffany” Taeyeon menyiapkan hati, “Maksudku, uh, dengar—“ Taeyeon melirik sekilas wajah Tiffany, menurutnya, tidak menatap wajah Tiffany adalah salah satu opsi terbaik saat ini, setidaknya hingga ia telah mengatakannya. “Maksudku—“

“Ada apa Taeyeon?” Tiffany menyentuh sikut Taeyeon dan menatapnya penuh cemas.

“Aku..—aku menyukaimu” Taeyeon menutup mulutnya dengan cepat. Ia telah mengatakannya. Tangannya yang berkeringat ia tempelkan di ujung lututnya.

Tiffany tertegun. Berkedip sekali. Dua kali. Dan tersenyum.

“Aku menyukaimu Taeyeon” Tiffany melipat tangannya di pangkuannya. “Hanya sebatas teman dekat”

 

Dan hati Taeyeon jatuh ke atas tanah, terkubur oleh debu cokelat dan terhempas oleh angin keras.

 

Taeyeon tidak tahu apa yang ia rasakan sekarang, atau apa yang sebenarnya harus ia lakukan, atau apa yang seharusnya ia katakan, karena sebenarnya, di ujung otaknya, Taeyeon sudah menyiapkan diri untuk menerima kenyataan itu, kenyataan bahwa sebenarnya Tiffany tidak menganggapnya lebih dari seorang teman.

 

Ketika kata ‘kecewa’ sudah tidak dapat menggambarkan perasaan hatinya dan ketika kata ‘sedih’ merupakan bagian dirinya yang baru, Taeyeon hanya dapat tersenyum kecil, dan sedikit merasa agak terpaksa.

 

“It’s okay” Taeyeon tesenyum lebar dan menepuk-nepuk dadanya yang masih terasa berat. “Satu pelukan terakhir?” Taeyeon membuka lebar tangannya dan Tiffany memeluknya hangat. Taeyeon tidak dapat merasa lebih bahagia dari ini meski ada sedikit sedih yang ia rasakan.

 

“Kamu perempuan baik, Taeyeon” Tiffany berbisik dari balik kerah Taeyeon, “Maaf telah mengecewakanmu” Tiffany menepuk-nepuk sebuah bagian kecil dari punggung Taeyeon dan menghela nafas kecil.

“Tidak, kamu tidak mengecewakanku. Tak apa” Taeyeon memendam kepalanya di pundak kurus Tiffany yang terasa begitu hangat.

“Untuk kau tahu,” Tiffany mengeratkan pelukannya, “Kau boleh memelukku kapan saja”

“Terima kasih” Taeyeon sekali lagi tersenyum. “Aku pasti akan melakukannya”

 

 

Sebenarnya, cinta bukan sekedar saling memiliki. Cinta bukanlah perasaan ingin memiliki dan dimiliki. Cinta adalah perasaan tanpa batasan. Cinta adalah ketika kau menemukan apa yang membuatmu bahagia dan kau bahagia berada di dekatnya. Cinta adalah melepaskan apa yang harus kau lepaskan. Dan, cinta adalah membiarkan yang kau cintai menjadi apa yang ia cintai.

 

Taeyeon mengerti akan hal itu, atau setidaknya Taeyeon mulai belajar menerimanya. Ketika cinta ingin memiliki, saat itulah cinta terkotori oleh keegoisan.

-end-

One thought on “[FF Freelance] What Love is For Her

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s