Our’s Life [Chapter 2]

ours life

Author : LittleRabbit

Tittle                 : Our’s Life

Main Cast         :

  • Huang Zi Tao (EXO)
  • Zhang Yi Xing (EXO)
  • Park Chan Ra (OC)

Support Cast    :

  • Zhang Yi Mei (OC)
  • Kim Jong In (EXO) as Park Jong In
  • Wu Yi Fan (EXO)
  • Byun Baek Hyun (EXO)
  • Kim Jong Dae (EXO)

Genre               : Family, Romance, Friendship

Length              : Chaptered

Rating               : General

Note                  : pernah di post di wp pribadi^^

Previous Part

[1]

—___—___—___—

Noona!”

Dari kejauhan, seseorang memanggil Chanra. Chanra yang sedang tak memakai kacamata hanya bisa memincingkan matanya agar dapat melihat lebih jelas. Dan seseorang itu lebih dekat dengannya.

“Jonginnie, ada apa?”

Ternyata seseorang yang memanggil Chanra adalah Kai yang menuju padanya dengan setengah berlari.

“Kau kenapa disini? Aku tadi mencarimu.”

“Aku menunggu Yi Xing menjemput adiknya. Mencariku? Ada apa?”

“Aku ingin kerumahmu. Sudah lama aku tak main kesana. Boleh ya?” Kai memohon sambil menggosokkan kedua tangannya, cara ampuh untuk merayu Chanra.

“Boleh saja, adik kecilku.” Ujar Chanra sambil tersenyum kecil dan mengusap rambut Kai penuh sayang.

“Kalau begitu, ayo kita pulang.” Ajak Kai dengan menggandeng lengan Chanra. Seperti anak kecil merengek meminta balon.

“Kalian akan pulang dengan meninggalkan kita begitu saja?” Sebuah suara dari belakang mereka tiba-tiba memotong pembicaraan saudara sepupu Park itu.

Hyeong! Kenapa kau berada disini juga? Dan siapa itu?” Tanya Kai dengan menunjuk anak kecil disamping Lay.

“Yi Mei, perkenalkan dirimu.”

“Aku harus memperkenalkan diriku dengan bahasa Korea atau China, Ge?” Tanya gadis kecil itu dengan bahasa Chinanya.

“Tentu saja kau harus memperkenalkan dirimu dengan bahasa Korea, Yi Mei! Mereka orang Korea!” ujar Lay dengan memutar bola matanya.

“Ah baiklah.” Yi Mei memutar tubuhnya menghadap dua saudara Park itu. “Perkenalkan, namaku Zhang Yi Mei.” Lanjutnya sambil membungkukkan badan.

“Panggil aku Chanra eonni, dan dia Kai oppa.” Balas Chanra sambil tersenyum manis.

“Kenapa aku harus dipanggilnya ‘oppa’? Dia kan bukan adikku?”

“Apa itu impas jika kau memanggil kakaknya dengan sebutan ‘hyeong’, sedangkan kau tak mau dipanggil ‘oppa’?”

Dua bersaudara Zhang hanya melihat Chanra dan Kai yang bertengkar. Entah kenapa, tapi itu adalah kebiasaan mereka saat bertemu, memaki satu sama lain. Chanra yang memang bermulut pedas sanggup membuat Kai hanya bisa mengalah, karena ia tau, siapapun tak akan menang melawan Chanra.

“Baiklah, Noona. Hei gadis kecil, panggil aku Kai oppa. Tapi aku bukan ‘oppa’mu.”

Sementara gadis kecil, atau Yi Mei hanya melongo saat Kai berbicara padanya. Bukan karena ia tak suka pada Kai, bukan, tapi tak mengerti apa yang Kai bicarakan. Kosakata bahasa Koreanya masih rendah. Beruntung gurunya mengerti bahasa China, sehingga dia mengerti apa yang disuruh oleh gurunya.

“Eum, Ge. Ayo kita pulang saja. Sepertinya Gege yang itu tidak mau kenal dengan Yi Mei.” Ajak Yi Mei sambil menarik-narik ujung tas Lay dan menunjuk-nunjuk Kai dengan wajah takutnya.

“Apa yang dia katakan?” Tanya Chanra.

“Dia senang berkenalan dengan kalian, tetapi dia masih malu.” Sepertinya Lay harus menjadi penerjemah, meskipun artinya berbeda jauh.

Aigoo. Kau gadis yang manis. Kyeopta.” Ujar Chanra sambil mencubit pipi Yi Mei.

Noona! Ayo kita pulang.” Ajak Kai tak sabar.

Lay hanya tersenyum tipis saat Kai tidak suka pada adiknya. Memang dia tidak bicara langsung, tetapi dari sikapnya saja sudah membuat Lay tau jika adik sepupu Chanra itu tidak menyukai adiknya.

“Kai.” Panggil Lay pelan sambil berjalan menuju Kai. “Kau tak menyukai adikku, eo?” lanjutnya.

“Bukan begitu, hyung. Tapi aku tak suka jika nanti Chanra noona melupakanku.” Rupanya ia bersikap ketus hanya karena cemburu pada gadis berusia TK!

“Kau tidak terlupakan, Jonginnie. Kau tetap adikku.” Balas Chanra yang mendengar ucapan Kai. Sementara Kai hanya tersenyum malu atas sikap konyolnya itu.

“Kalau begitu, kami pulang dulu. Yi Mei kalau ingin berkunjung ke rumah Chanra eonni, tinggal berjalan lurus saja. Rumah eonni yang berwarna biru muda itu. Kau bisa lihat kan?” jelas Chanra sambil menunjukkan letak rumahnya.

Gege, apa yang dia katakan? Aku hanya mengerti, ‘rumah’, dan ‘Chanra eonni’ saja.”

“Dia bilang, jika Yi Mei ingin kerumahnya, Yi Mei hanya berjalan lurus saja. Rumah Chanrajiejie yang berwarna biru muda itu. Mengerti?” ulang Lay dalam bahasa China. Yi Mei hanya mengangguk paham.

“Yixing-ssi, Yi Mei-ah, kami berdua pulang dulu ya? Annyeong.” Pamit Chanra sambil menarik Kai dengan paksa.

Sekarang dua Zhang bersaudara hanya melihat kepergian Chanra dan Kai hingga mereka masuk rumah. Bukankah Chanra sudah bilang jika rumahnya dekat? Dan Yi Mei serta Yi Xing juga berjalan menuju halte untuk menunggu bis dan pulang.

.

Noona, aku ada banyak PR hari ini.” Keluh Kai saat baru memasuki halaman rumah Chanra.

“Kalau begitu, kau datang di tempat yang tepat, Jonginnie. Kau bisa bertanya padaku.” Ujar Chanra sambil membuka pintu rumah.

Annyeonghaseyo, Noona Muda.” Sapa seseorang pada Chanra.

“Oh! Bibi Jung! Aigoo, kapan datang?” Sorak Chanra sambil memeluk bibi Jung. “Aku kangen.” Lanjutnya dengan suara manja.

“Waktu Noona bersekolah, saya sudah datang.” Jawab bibi Jung dengan membalas pelukan Chanra. “Oh, ada Tuan Muda.” Lanjutnya sambil membungkukkan badan pada Kai.

Annyeonghaseyo, bibi Jung.” Balas Kai dengan membungkukkan badannya 90 derajat.

“Sudah lama sejak Tuan Muda datang kesini. Apa kalian satu sekolah lagi?” Terka bibi Jung. Mereka memang dekat dengan pengasuh Chanra sejak kecil itu.

“Dia yang mengikutiku!” jawab Chanra dengan menunjuk muka Kai.

“Bukankah kau senang jika adikmu yang tampan ini selalu dekat denganmu?” Ujar Kai sambil menyingkirkan tangan Chanra. “Aku mau tidur saja dulu. Jika sudah sore, bangunkan aku. Permisi bibi.” Lanjut Kai sambil berjalan dengan santainya. Sedangkan di belakangnya, Chanra merasa kesal. Ingin ia lempas ranselnya pada Kai jika ia tidak ingat sesuatu.

“Jongin! Park Jongin! Aku ingin bertanya padamu.” Teriak Chanra sambil berlari menyusul Kai yang sudah menaiki tangga. Bibi Jung hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat dua saudara Park itu.

Chanra segera berlari menyusul Kai yang hampir membuka pintu kamarnya. Iya, pintu kamarnya, kamar Kai. Karena di rumah Chanra ada kamar milik Kai, begitu pula sebaliknya. Dan untuk barang-barang milik mereka juga ada. Karena seringnya mereka saling berkunjung, maka dibuatlah satu kamar.

“Ada apa?” Tanya Kai malas. Bahkan dia menguap di depan Chanra yang memandangnya sebal.

“Kelakuanmu! Jika fans-fansmu tahu kalau kau seperti ini, ku yakin mereka takkan menyukaimu lagi!”

“Terserah kau sajalah, Noona. Aku capek.” Ucap Kai dengan membuka pintunya.

“YA! Aku mau bertanya tentang Yi Xing, Jonginnie!” Teriak Chanra sambil menggedor pintu kamar Kai yang telah tertutup.

Kai yang mendengar nama Yi Xing disebut, dia segera keluar dan mendapati Chanra yang memandangnya dengan memutar bola mata.

“Ayo Noonaku yang cantik.” Rayunya dengan menarik tangan Chanra. Sedang Chanra hanya mengikutinya dengan tertawa pelan.

“Jonginnie, tadi Yi Xing menyatakan perasaannya padaku. Apa yang harus ku lakukan?” Tanya Chanra dengan duduk di ranjang Kai yang rapi.

“Kau yakin? Bukankah kau bilang jika kau akan dijodohkan?” Tanya Kai sambil melepas seragamnya. Untungnya saja dia memakai kaos sebagai dalaman.

Kai memang benar. Chanra sudah dijodohkan oleh seseorang, bahkan sejak ia berumur satu tahun. Tentu saja itu permintaan kakeknya yang sudah turun padanya, karena kakeknya tidak mempunyai anak perempuan.

“Tapi aku belum tau siapa yang akan dijodohkan denganku, Jongin!” Teriak Chanra sebal. Dia tidak suka jika seseorang mengingatkannya pada perjodohan, yang menurutnya sangat konyol itu.

“Kemarin orangtuamu datang pada appaku, Noona. Mereka bilang jika malam ini kau akan dipertemukan. Makanya aku datang kesini untuk menemanimu persiapan.” Oceh Kai panjang lebar.

“Apa kau yakin?” Teriakan Chanra terdengar lagi.

“Ups, sepertinya aku kelepasan.” Desis Kai. Ia bahkan tak berani melihat Chanra dibelakangnya.

“Park Jongin. Berbaliklah.” Ucap Chanra dengan penekanan disetiap katanya.

Dengan ragu, Kai berbalik menghadap Chanra. Bukan apa-apa, tapi Chanra jika mengamuk, mengerikan. Tetapi Kai mendapati Chanra yang sedang tersenyum manis padanya.

“Noona, kau tak marah padaku kan?” Tanya Kai dengan hati-hati saat melihat Chanra masih tersenyum padanya.

“Kau bilang kalau kau kesini untuk menemaniku persiapan kan?” Kai hanya mengangguk sebagai jawabannya. “Kalau begitu, ayo kita pergi membeli gaun.” Ajak Chanra bersemangat.

“Apa kau yakin, Noona? Apa kau menerima perjodohan konyolmu itu? Lalu bagaimana dengan hyungku?” Tanya Kai bertubi-tubi.

“Kurasa dia akan mengerti. Cepatlah mandi dan memakai baju. Aku akan minta uang padaeommaku.” Ujar Chanra cepat, dan dengan melangkah keluar kamar Kai. Sedangkan pemilik kamar hanya tersenyum tipis.

“Tidak sulit untuk merayunya.” Gumam Kai sambil melangkah menuju kamar mandi.

.

Saat ini dua Park bersaudara sedang berjalan berputar-putar di sebuah mall di kawasan Gangnam. Raut wajah mereka sangat berbanding terbalik, dengan bahagia di Chanra dan mendung di Kai.

“Jonginnie, apa kau tak suka menemaniku belanja, eum?” Tanya Chanra saat mereka berdua sedang di food court, menunggu pesanan.

“Kita sudah berjalan hampir dua jam, noona. Tapi kau belum menemukan gaunmu. Aku capek.” Keluh Kai sambil menopang kepalanya diatas meja.

“Seperti inilah rasanya jika kau menemani seorang yeoja berbelanja.”

Seperti tak mendengar, Kai tetap mempertahankan posisinya. Dia merasa kakinya sebentar lagi akan lepas masing-masing. Kai yang sedang menggerutu tak jelas di balik lengannya, tak menyadari jika ada seseorang telah duduk di sampingnya.

“Noona, ayo kita pu—“ Ucapan Kai terhenti saat dia mendongakkan kepalanya. “Hyung!” Sorak Kai dengan memeluk Lay, seseorang yang datang dengan tiba-tiba.

Nǐ hǎogege.” Sapa seseorang di hadapan Kai.

 hǎomeimei.” Balas Kai dengan senyum manisnya. Tentu saja Yi Mei, yang menyapa Kai, menjadi senang, karena tadi siang Kai bersikap ketus padanya.

“Waaah, kau bisa memanggilnya adik?” Pukau Chanra dengan muka konyolnya.

“Apa kau lupa? Bukankah kita juga pernah belajar bahasa Mandarin?”

“Kenapa kalian tak bilang jika kalian bisa bahasa Mandarin? Uuh~ tau begitu, aku tak akan menjadi penerjemahnya lagi!” Gerutu Lay dengan menatap Yi Mei. Baiklah, sampai saat ini dia, Yi Mei, selalu menjadi bahan amarah tak jelas.

“Ngomong-ngomong, kenapa kalian bisa di sini, hyung?”

“Ini semua gara-gara Yi Mei yang ingin membeli baju.” Jawab Lay dengan gontai. “Kalian sendiri?”

“Aku mengantarkan seseorang di depanmu itu.” Kekesalan Kai kembali lagi saat ditanya apa tujuan mereka disini. Sedangkan sang tertuduh, Park Chanra, hanya tersenyum seolah tak berdosa.

Obrolan mereka berlangsung tak lama, karena pesanan Chanra dan Kai telah sampai. Memang saudara yang aneh, meskipun saat pesan mereka hanya dua orang, tapi porsi yang mereka pesan untuk enam orang! Tentu saja meja makan kecil itu penuh dengan pesanan mereka berdua.

“Ini kalian semua yang memesannya?” Tanya Lay tak percaya.

“Tentu saja. Apa ada yang aneh?” Chanra kembali bertanya pada Lay dengan memegang sumpitnya, bersiap untuk makan.

“Tentu. Kalian hanya berdua, tapi makanan yang kalian pesan? Astaga, ini menu makanan keluargaku.”

Jiejie, bolehkah aku mencoba makanan itu?” Tiba-tiba Yi Mei menunjuk sebuah makanan di depannya.

“Ah, Yi Mei ingin makan sujebi? Ini sangat enak, buka mulutnya.” Ujar Chanra dengan sebuah sendok ditangannya.

Tak menunggu lama, Yi Mei segera membuka mulutnya lebar-lebar. Dan bertepuk tangan setelah dia menelannya, tanda jika ia menyukai masakan berkuah itu. Jika dilihat dari kejauhan, mereka seperti keluarga kecil yang sedang bersantai. Tentu saja dengan Kai sebagai keponakannya.

“Ah, apa kalian memesan makanan?” Tanya Kai pada Lay yang melihat Yi Mei makan dengan enak. Bahkan dia sekarang sudah makan samgyupsal yang telah dipanggang oleh Chanra.

“Tidak, ah sebenarnya belum memesan. Aku langsung kesini saat melihat Chanra.”

“Kalau begitu, bergabunglah.” Ajak Chanra. “Tapi kurasa porsinya akan kurang.” Lanjutnya dengan suara rendah.

“Kurang? Astaga Noona Zhang, memang seberapa besar porsi makanmu?” Sepertinya Lay belum tahu tentang kebiasaan makan keluarga Park yang aneh itu.

“Hanya sedikit. Aku makan banyak jika ada beban pikiran saja.” Jawab Chanra dengan entengnya, dan melanjutkan makan.

Hyung, setelah makan pergi bermain. OK?” Ajak Kai secara tiba-tiba.

“Bagaimana dengan adikku?” Tanya Lay dengan mengambil samgyupsal dan memakannya dengan nasi.

“Biarkan dia denganku. Kita akan berbelanja banyak sekali, benar kan Yi Mei?” Jawab Chanra dengan penuh semangat.

“Kalau begitu, ini uangnya.” Kata Lay dengan mengambil dompetnya.

“Tidak perlu. Biar aku yang membayarnya. Eommaku memberi uang lebih tadi.” Tolakan Chanra tidak bisa disanggah lagi, karena dia telah mengembalikan uang Lay kepada pemiliknya.

“Tapi dia akan membebanimu.” Bantah Lay dengan menunjuk Yi Mei yang dengan santainya meminum milkshake milik Chanra.

“Tidak, tuan Zhang. Aku tidak merasa terbebani.” Putus Chanra dengan senyum manisnya. “Kau sudah makannya, sayang?” Tanya Chanra pada Yi Mei dengan memakai bahasa China.

Hyung, ayo kita pergi. Noona, aku ke game center, OK?” Tanpa menunggu jawaban Chanra yang sedang membersihkan sisa makanan ditepi mulut Yi Mei, Kai segera menarik tangan Lay.

.

Tiga jam telah berlalu. Kai dan Lay yang menunggu di food court hingga bosan, karena Chanra dan Yi Mei tak kunjung kembali. Kai telah menelpon Chanra puluhan kali, namun hanya suara operator yang terdengar.

Noona, kau dimana?” Terdengar suara Kai yang sedang menelpon Chanra.

“Aku sedang di kasir, Jonginnie. Kenapa?” Jawab Chanra dari seberang ponsel.

“Aku dan Lay hyung menunggu kalian di food court.” Ujar Kai dengan memainkan sedotan digelasnya.

“Ya, sebentar lagi aku kesana.”

“Cepatlah ke sini, acaramu akan dimulai 3 jam lagi. Dan kita belum pulang dan bersiap-siap.” Karena kesal, Kai segera menutup sambungan teleponnya.

“Kalian akan ada acara?” Tanya Lay setelah menyeruput cappucinonya.

“Eum, ya. Acara keluarga.”

Gege!” Dari kejauhan, seorang anak kecil memanggil keduanya, Lay dan Kai.

“Yi Mei.” Ujar Kai pelan. Sementara itu Chanra berjalan di belakang Yi Mei dengan membawa dua tas belanja berukuran besar.

“Ini milik Yi Mei.” Ujar Chanra dengan memberikan salah satu tas besar itu pada Lay.

“Apa? Bagaimana dia membeli baju sebanyak ini?”

“Tidak hanya baju. Aku membelikannya gaun, sepatu, dan aksesorisnya. Dia sangat cantik.” Ujar Chanra dengan duduk di sebelah Kai. “Jonginnie, ayo pulang.”

Hyung, kami pulang dulu. Sampai jumpa di sekolah.” Pamit Kai dengan sopannya. “Yi Mei, bye.”

“Hei, ini bagaimana, Chanra-ya?”

“Aku mentraktirnya. Bye tuan Zhang.”

Setelah dua Park bersaudara meninggalkan Lay, bahkan suara mereka masih terdengar meskipun jaraknya telah jauh, Lay menatap Yi Mei dengan pandangan heran. Tentu saja Yi Mei hanya memandangnya kembali dengan wajah tak berdosa.

Tanpa banyak bicara, Lay segera mengajak Yi Mei untuk pulang. Karena senja telah datang, dan Lay sudah lelah setelah melawan Kai di dance machine tadi.

.

“Chanra pulang!” Teriak Chanra setelah menutup kembali pintu rumahnya.

“Untunglah kalian pulang. Cepat mandi dan pakai baju terbaikmu.” Perintah tuan Park, ayah Chanra.

“Ada apa?” Tanya Chanra tak mengerti. Kai yang sudah mengerti akan ada acara penting, segera memasuki kamarnya dan membersihkan tubuh.

“Kau akan bertemu tunanganmu. Dan ingat, kalian berdua tidak bisa menolaknya.” Ujar tuan Park dengan tegas. Ia bahkan telah memakai pakaian resmi, telah siap untuk berangkat.

Tak menunggu lama, Chanra segera menuju kamarnya dan bersiap untuk menemui ‘tunangan’nya. Dia hanya menuruti apa perintah orangtuanya. Termasuk pertunangan yang menurutnya konyol ini.

Setelah bersiap-siap, Chanra dan keluarganya menuju rumah calon ‘tunangan’nya itu. Sepanjang perjalanan, dia hanya menggenggam erat tangan Kai yang dipaksa ikut oleh Chanra. Sebagai teman perjalanan dan bicara, katanya.

“Silahkan, Nona Muda.” Sambut pelayan yang membuka pintu mobilnya.

“Tuan Besar dan Nyonya Besar telah menunggu Anda di ruang makan, Tuan.” Ujar seseorang yang bisa dikatakan sebagai ketua pelayan pada tuan Park.

Mereka berempat, termasuk Kai, segera memasuki rumah tuan Huang. Chanra mengetahui nama ‘calon mertua’nya saat perjalanan menuju rumahnya. Sedangkan Kai berdecak kagum, melihat interior rumah yang sangat indah itu. Terkesan anggun dan mewah.

“Akhirnya kalian datang.” Sambut seorang lelaki paruh baya, yang diyakini Chanra sebagai tuan Huang.

“Apa kami datang terlambat?”

“Tidak. Bahkan kami baru saja turun dari lantai atas.” Ujar nyonya Huang. “Apa ini yang namanya Chanra?” tanyanya dengan menunjuk Chanra.

Annyeonghasimikaeommonim. Park Chanra imnida.” Ujar Chanra sopan memperkenalkan dirinya.

“Dan kau, anak tampan?” Tanya nyonya Huang sekali lagi pada Kai.

“Park Jongin imnida. Saudara sepupu Chanra noona.”

“Ah, kalian berdua sangatlah sopan. Betapa beruntungnya putraku nanti, menikah dengan gadis cantik yang sopan.”

Kamshahamnidaeommonim. Saya hanya gadis biasa.” Ujar Chanra dengan merendahkan diri.

Jwesonghamnida, saya terlambat.” Tiba-tiba suara seseorang terdengar dari belakang keluarga Park, yang membuat seluruh orang mengalihkan perhatiannya.

Dan itu membuat Chanra seperti masuk kedalam freezer di rumahnya. Dia adalah ketua organisasi kesiswaan Seoul International High School!
.
.
.
.
TBC

—___—___—___—

4 thoughts on “Our’s Life [Chapter 2]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s