[OneShoot] Hello Appa

      Author: Im Soo Jung (mauren Okta fahira)
      Cast :
      Oh Sehun,
      Oh Jungyu(OC) _ Sehun Son
      Oh Hara (OC)
      And other
      Rating :
      Genry: family, friendship, comedy
      Disclaimer:
      Saya hanya meminjam nama. Dilarang palagiat. Cerita ini milik saya seutuhnya.
      Warming: Typo, gaje, dan kontroversi yang tidak memuaskan, namun saya harap reader tidak kabur.
      Note:
      FF ini agak aneh dan gaje, tapi semoga reader suka, maklum author baru. FF juga masih dalam pengembangan tahap belajar. Gamsahamnida. Ini FF udh pernah dipublish di http://www.koreanfanficindo03.wordpress.com jadi jangan salah paham ya ?😉
      _NO PLAGIAT_
      _Happy Reading_
      _Please Leave your Coment_
      Sehun berjalan diantara orang yang berlalu lalang. Ia berjalan riang layaknya seorang anak SD yang mendapat permen(jika ia benar benar membawa permen). Ia menarik ponsel yang tersembunyi dibalik sakunya, kemudian menekan tombol hijau tanpa melirik kearah layar.
      ”Halo!” Sehun menyapa antusias, “siapa disana?!”
      ”Aku istrimu!” Sehun terhenti dari kegiatan lompat lompat riangnya. “Kau dimana sekarang?!”
      Sehun menggaruk kepalanya kemudian menjawab, “dijalan?”
      ”Kenapa malah balik bertanya!” Sehun kebingungan, sungguh ia tak tahu dimana.
      ”Aku lupa aku mau kemana,” Sehun menunjukkan cengiran sia sianya itu, tentu saja(bagaimana mungkin istrinya melihat itu?).
      ”Aku mengadopsi seorang anak,” Istrinya terkikik disana bersama tawa seorang yang mungkin masih berumur 4 tahun.
      ”Apa?!” Sehun tersedak, dengan ludahnya sendiri. Kemudian ia terbatuk keras, sampai orang orang memperhatikannya heran. “Apa maksudmu?”
      ”Sudahlah, cepat pulang saja.”
      ”Tut… Tut…”
      Sehun terkesima ditengah tengah orang orang. Ia menatap kelangit, wajahnya datar dan kemudian berubah.
      ”Aku punya anak!!!” Sehun tak gencar berlarian menerobos orang orang lewat, “horee!!”
      Baiklah, entah bagaimana ia akan mengajari anaknya. Jika saja tingkahnya masih melewati batas kadaluarsa seorang balita. Namun terkadang ia bisa menjadi seorang pemimpin yang baik, dan bertanggung jawab tentunya. Kadang. Namun sudahlah, ia sudah senang. Mau bagaimana lagi? Itulah cita cita Sehun semenjak ia menikah dengan Kwon Hara.
      Ia bersenandung riang, menggoyang goyangkan koper kerjanya tak kalah bersemangat. Ia melihat kearah sekitar mengabaikan bagaimana orang menatapnya, yang jelas ia senang (cukup optimis).
      Sehun mengejar sebuah bus, sampai kakinya tersandung dan membuatnya terjerembab. Ia meringgis, bagaimana tidak? Hidungnya bahkan memerah dan pipinya tergores. Dan saat berdiri ia baru sadar kalau kakinya terkilir.
      Ia masih menyandang senyumnya walau itu masih tampak seperti sebuah ringgisan, ia berjalan tertatih tatih menuju bus. Untunglah bus itu masih mau menunggunya.
      ”Syukurlah,” Ia memegang hidungnya saat tubuhnya sudah berhasil ia dudukkan dikursi penumpang, “paling tidak aku masih punya hidung dan wajahku masih tampan.”
      Bagaimana ia tahu kalau ia masih tampan? Lihat! Pasir berserakan diwajahnya, dan ia masih menganggap dirinya rapih seperti diacara pernikahannya dulu.
      Tunggu! Dimana sebelah sepatunya lagi?! Astaga, Oh Sehun. Bisa bisanya kau meninggalkan sepatumu disana, diluar sana. Ia menepuk dahinya kemudian menghela napas panjang, alih alih mengurangi bebannya (sebenarnya itu tidak membantu).
      Ia menyembunyikan kaki kanannya kebelakang, malunya benar benar tak tertahan. Sampai 15 menit kemudian bus berhenti, ia menunggu. Paling tidak setelah tersisa 2 sampai 5 orang di bus ia baru keluar.
      ”Ah,” Sehun menghela napas – untuk kesekian kalinya – kemudian melangkah mantap menuju rumahnya.
      Hei, Oh sehun! Kau meninggalkan kopermu di Bus! Sehun baru menyadarinya saat ia megoyang goyangkan tangannya, namun ia merasa tak memegang apapun. Astaga, ada apa dengannya hari ini.
      Ia melepas sepatunya, tentu saja. Ia akan terlihat lebih waras dengan tanpa sepatu. Kemudian mengejar bus itu berusaha mengejar kopernya yang tertinggal, namun sia sia. Biarlah, semoga ia bertemu bus yang sama besok agar ia bisa mengambil tasnya kembali (pemikiran seperti apa itu? Apa dipikirnya bus hanya satu di Seoul?).
      ”Huh,” Sehun bergumam, kemudian ia berkata lagi sembari menatap rumahnya, “rumahku tersayang…”
      Ia memantapkan kakinya menuju rumah tersayangnya, menyungging senyum. Ia tersenyum (sangat besar), pada saat istrinya membukakan pintu. Ia melirik kebawah menengok apakah ada gadis kecil disana, namun nyatanya tidak.
      ”Dimana dia sayang?” Sehun masuk kerumah, tak sadar istrinya tengah mempelototi pakaiannya. Namun Sehun hanya terkekeh saat melihat tatapan istrinya, “Aku kesini penuh perjuangan lo.”
      Istri yang biasa ia panggil ‘Hara’ itu menghela, mencoba menenangkan kepenatannya. Ia melirik kearah suaminya, berantakan.
      ”Ohhh!!!” Sehun tiba tiba datang kembali, membawa seorang anak. “Wahh ini anak kita Hara-ya?”
      ”Iya,” Hara tersenyum merekah menatap kepada bocah kecil itu.
      ”Wahh aku mengira kau perempuan,”
      Hara mengangkat sebelah alis matanya dan menganga kecil. Bagaimana mungkin suara bass anaknya itu bisa dibilang ‘keperempuanan’.
      ”Ayo katakan ‘appa’,” Sehun berbicara seolah anak dihadapannya adalah anak berumur 2 tahun yang masih harus diajari berkata kata. “Katakanlah..”
      ”Emm chagiya,” Hara bergumam nyaring dan memanggil nama suaminya. Hara menatap suami aneh, “Dia berumur 5 tahun, chagiya.”
      ”Huahh,” Sehun ber-huah ria dan memandang wajah anaknya takjub (entah karena apa). “Dia seperti berumur 3 tahun chagiya.”
      ”Appa,” Anak itu bergumam dan memandang Sehun, yang dilakukan Sehun hanya menatap istrinya penuh kebanggaan. “Namaku Jungyu.”
      ”Ya, aku tahu Jungyu-ah,” Sehun menepuk pipi chubby Jungyu lucu. “Kau sangat menggemaskan.”
      ”Omong omong,” Istrinya berkata dan menggaruk kepalanya. “Bisakah kau tinggal dengannya sebentar. Aku mau membeli beberapa bumbu untuk kita nanti malam.”
      ”Ohh,” Sehun berkata dan mengangguk kemudian meninggalkan istrinya (sikap seperti apa itu?!). “Cepat beli sana, aku sudah lapar.”
      ”Huh, dasar merepotkan,” Hara menggerutu dan membalik tubuhnya mangambil tas yang tergeletak didispenser. Sejak kapan ia menaruh tasnya di dispenser? Arrggh, Oh Sehun! Hara yakin lelaki itu terlalu malas tadi saat Hara memintanya untuk menaruh tasnya dilemari.
      ”Heh?” Hara kembali membuka mulutnya, saat ini lumayan lama juga. Ia ternganga selang beberapa saat dan menatap sepatu suaminya yang tergeletak diteras hanya sebelah. “Dasar bodoh.”
      _._
      ”Jungyu-ya,” Sehun bergumam, “appa bosan, mari jalan jalan.”
      ”Tidak boleh,” Jungyu menggeleng dan mulutnya kembali berbicara, “eomma bilang jalan bersama appa harus hati hati kalau tidak bersama eomma.”
      ”Benarkah eomma mu mengatakan itu?!” Sehun berdecak membayangkan tingkah istrinya yang meragukannya. “Appa janji akan menjagamu baik baik Jungyu-ah.”
      ”Baiklah,” Jungyu mengangguk cepat dan berdiri. “Belikan Jungyu es krim!”
      _”_
      Sehun menjilati lolipopnya. Tangannya yang lain asik memainkan ponselnya. Ia berjalan mendahului Jungyu (hanya berbeda dua atau tiga langkah).
      ”Appa, Jungyu juga mau lolipop!”
      ”Heh?” Sehun tersentak dan kemudian menatap lolipopnya yang tinggal setengah. “Baiklah, ayo kita beli.”
      _._
      ”Terima kasih.”
      Penjaga toko itu tersenyum ramah dan memberikan sebuah lolipop kepada Sehun. “Ini.”
      Jungyu terdiam dan menatap lolipop yang diberikan ayahnya. Ia menggerutu dan mengomel seperti sedang kehilangan mainannya. Apa apaan ini?!
      ”Tidak mau!” Jungyu melipat tangannya dan memalingkan muka.
      ”Ayolah, katanya kau ingin lolipop.” Lolipop bekas jilatannya dan membuka lolipop yang baru dibelinya untuk dirinya sendiri.
      Baiklah Sehun keterlaluan. Bagaimana mungkin ia memberikan lolipop ‘bekas’ pada anak itu dan memakan yang baru hanya untuknya (sikap seperti apa itu eh?).
      ”Ayo,” Sehun membujuk anaknya lagi.
      ”Tidak!” Anaknya menghentakkan kakinya dan pergi dari sana, kemudian ia pergi meninggalkan ayahnya.
      ”Jungyu-ya.. Tunggu!” Sehun berlari mengejar Jungyu. “Aishh anak ini.”
      Jungyu menghilang seiring cepatnya anak itu berjalan meninggalkan Sehun. Sehun panih, tentu saja. Ia berlari kesana kemari mencari anaknya.
      Saat ia mencoba pulang kerumah mencari anaknya disana, disana tetap tak ada orang. Istrinya bahkan belum datang. Dan saat itu juga ia mulai ketakutan.
      _H.A_
      Sehun mencari ketempat tempat sebelumnya. Meminta bantuan Chanyeol dan Luhan agar bisa membantunya. Sayangnya tak ada yang berhasil menemukan anak itu.
      ”Hua!” Sehun hampir pingsan saat ia menatap sebuah tas dijalanan dekat dengan kios. Ia sangat khawatir.
      ”Jungyu-ya, kau dimana?!”
      Dan sebuah deringan muncul disaat ia sedang kebingungan.
      ”Ya?”
      ”Kau ingin anak dan istrimu kembali Sehun-ssi?”
      ”Si..siapa kau ini?” Sehun gemetaran. “Kau ini siapa?”
      ”Kami perlu beberapa uang untuk menebus anak dan istrimu,”
      “APA?!”
      Sehun serasa ingin menangis namun kemudian ia berkata.
      ”Kau berada dimana sekarang?!”
      ”Digedung XXX, kau harus datang sebelum sore, atau anakmu akan menghilang.”
      ”Tunggu?!” Sehun memekik.
      ”Kenapa?!!” Yang menelpon terdengar marah.
      ”Bagaimana kau bisa hilangkan anakku kalau sekarang anakku sudah hilang?!” Sehun menanti jawaban dan yang terdengar disana hanya umpatan marah.
      ”Datang atau anakmu mati!!”
      ”Tut…tut…”
      Sehun terkesima ia menatap ransel anaknya dengan nanar. Ia berharap bisa mengulang waktu dan memberikan lolipop yang baru untuk anaknya. Ia tersenyum miris dan kemudian berkata.
      ”Aku harus jadi pahlawan! Untuk anakku dan juga istriku!!” Ia berseru dan berlari kencang hingga tanpa sadar ia kembali tersandung.
      ”AUU!!” Sehun berseru begitu merasakan sebelah kakinya pincang (baiklah sekarang kedua duanya pincang karena yang satunya sudah ia buat terkilir tadi pagi).
      ”Kenapa aku selalu memilih sepatu yang sial!” Sehun menghentakkan sepatunya marah. “Dasar sepatu bodoh!”
      _.._
      ”Luhan? Bagaimana ini?!” Sehun mondar mandir sebelum akhirnya berhenti dihadapan Luhan.
      ”Ke gedung XXX tentu saja!” Luhan berteriak menahan marah. “Kau mau anak mu benar benar mati?!”
      Sehun terdiam. Ia kemudian berkata “bukankah gedung XXX itu dulunya pemandian orang tua?!”
      Luhan terdiam ia hendak menjitak kepala soulmate nya itu namun ia terlalu kasihan.
      ”Astaga kau ini banyak bicara sekali!” Luhan berkacak pinggang, “cepat!”
      ”Ahh, ya!” Sehun teringat dan berjalan melaju meninggalkan Luhan, “Hara-ya! Jungyu-ya! Appa datang!!”
      Luhan menepuk dahinya.
      ”Astaga.”
      _._
      ”Ini gedungnya,” Sehun keluar dari mobilnya, seliwiran angin menerpanya. Ia terdiam. Dalam beberapa saat ia seperti berada dalam iklan sampo dimana rambutnya berkibar penuh makna.
      ”Jungyu-ya! Hara-ya!!!” Sehun memekik, membiarkan suaranya habis tertelan angin, “biarkan appa menyelamatkan kalian!!!”
      ”Hei!”
      Sehun terdiam. Tunggu itu suara Hara? Dan ia termangu, sebelum akhirnya Luhan datang kesampingnya.
      ”Kami diatas sini!” Hara, ya itu Hara! Lihat istrimu diatas gedung Sehun!
      ”Huaa!! Hara-ya??!!” Sehun memekik kembali dan berlari menuju gedung. Ia berhenti sebentar untuk memberikan beberapa kata. “Apa yang kau lakukan diatas sana Chagiya??!”
      ”Astaga Oh Sehun selamatkan mereka!!” Luhan menjitak kepala sehun dengan ponselnya, “tentu saja mereka diculik!”
      ”Selamatkan kami!!”
      Tanpa basa basi Sehun pergi meninggalkan Luhan walau pada akhirnya Luhan mengikutinya menuju atap.
      ”Ya ampun kenapa kau harus lewat tangga?!” Luhan berteriak prustasi sambil mengacak rambutnya. “Sekarang tidak mati lampu! Liftnya hidup!”
      Sehun tersadar ia segera menggagalkan rencananya naik tangga. Ia kemudian menekan tombol Lift. Kemudian lift dapat terbuka setelahnya.
      ”Kenapa tidak bilang?!” Sehun mengumpat dan menatap Luhan kesal (sebenarnya siapa yang harus marah).
      ”Terserah kau sajalah,” Luhan bergumam kemudian masuk kelift.
      Ting!
      Suara lift terdengar memacu jantung Sehun. Mereka sekarang telah berada dilantai atas. Ia begitu takut hingga lupa cara berjalan dari posisinya.
      ”Sehun-ah?” Luhan khawatir menatap wajah pucat kawannya, “kau baik baik saja?”
      ”Luhan,” Sehun bergumam, “aku mau ke toilet.”
      Luhan mematung wajahnya memerah menahan amarahnya. Ia menarik tangan Sehun dan berjalan menuju atap. Pintu terbuka dan disana mereka dapat melihat namja yang tengah memegangi leher anaknya.
      ”Jungyu!” Sehun berteriak histeris hingga Luhan merasa bising. “Ah bagaimana ini Luhan?!!”
      ”Kau bawa uangku?”
      Namja itu terdengar lembut. Namun matanya menatap mereka licik. Ia menatap pistol ditangannya.
      ”Pst!” Luhan membisik ditelinga Sehun. “Kita harus telpon polisi!”
      ”Hah?” Sehun bergumam pelan pula, “dengan apa? Ponselku di mobil dan aku yakin ponselmu juga.”
      ”Kau tidak lihat ponsel itu,” Luhan melirik ke arah ponsel yang terjatuh di tengah tengah mereka. “Kita bisa menggapainya.”
      ”Ohh,” sehun mengangguk, “hmm.”
      ”Eh, paman apa ponselmu terjatuh?” Sehun menunjuk ponsel itu sembari berbicara pula pada namja penculik itu. “Kami boleh pinjam?”
      ”Astaga,”
      Luhan menepuk dahinya mengumpat dan langsung berlari mengejar ponsel yang tengah berdiam itu sebelum Sehun melakukan hal memusingkan lainnya. Namun namja penculik itu juga tak mau kalah ia berlari mengejar ponselnya dan menggapainya serempak dengan Luhan.
      ”Kemarikan!” Luhan menarik ponsel yang tengah terpegang antara dua tangan berbeda itu.
      ”Tidak kau yang kemarikan!” Namja itu menarik balik.
      ”Hihh!!” Luhan menghentakkan kakinya kesal, “pelit sekali!”
      ”Apa?!” Namja itu melotot.
      Mereka asik pada kegiatan masing masing. Dan Jungyu telah lepas dari ikatannya ditolong oleh Sehun, “Wah, appa pistol ini sungguh sungguh mirip dengan pistol sungguhan! Boleh aku memainkannya?”
      Sebelum Sehun sempat mengatakan ‘jangan’ Jungyu sudah membidik pistol itu kearah si pelaku tepat di pergelangan lengannya.
      ”Hua!!” Luhan terpekik, pergelangan tangannya juga dekat dengan tangan namja itu karena mereka sama sama merebutkan satu benda dan peluru itu nyaris menembus kulit mulusnya. Ia mengumpat marah marah sambil menekan 119 pada ponselnya.
      ”Cepat datang polisi!” Teriak Luhan, suaranya terdengar terlalu dipenuhi emosi, “aku tidak peduli dengan alamatnya pokoknya datang ke gedung XXX!! SEKARANG!!!”
      Semua terdiam dan termasuk dengan namja tadi. Ia memegangi tangannya sakit dan melenguh menahan sakit.
      ”Ya!” Hara berteriak berusaha berjalan menuju Sehun dengan tangan terikat. “Lepaskan tanganku,”
      Sehun melepaskan ikatan Hara dan tertawa. “Aku berhasil jadi pahlawan Chagiya.”
      ”Appa,” Jungyu berdemo memanggil nama appanya berulang kali hingga semua orang menoleh.
      ”Jungyu mau lolipop!”
      ”Ah ya Jungyu-ya,” Sehun mengeluarkan sepotong lolipop baru dalam kantong celananya. “Appa berikan kau lolipop yang baru ne?”
      ”Aku sayang appa.”
      _._
      Namja itu tertangkap dan dibawa ke kantor polisi (tentu saja). Dan Sehun menjadi senang dapat menyelamatkan istri juga anaknya. Luhan juga senang bisa melihat keluarga temannya bahagia.
      Sehun tersenyum dan mengecup pelan pipi anaknya. Ia tersenyum sumringah. Lalu mencubit pipi Jungyu gemas.
      ”Appa,” Jungyu tersenyum, kemudian ia tertawa, “Aku mencintai appa!”
      ”Heh?” Sehun mendelik, “dari mana kau belajar kata Cinta?!”
      ”Ah, eomma berkata lelaki di panti asuhan sangat tampan hingga eomma dibuat jatuh cinta,”
      ”MWO?!”
      ”Aniya!” Hara berdalih dengan malu. “Hanya kau yang kusayangi Sehun-ah.”
      Hara mengecup pipi kanan Sehun dan bersamaan dengan Jungyu mengecup pipi kirinya.
      Luhan tersenyum.
      ”Ah, ia membuatku iri.”
      .
      .
      .
      .
      END

jangan lupa tinggalkan jejak kalian dibawh ya. . .

2 thoughts on “[OneShoot] Hello Appa

  1. Bener bener somvlak ceritanya thor😄
    apa lagi si sehun wkwkwk~ gila ngakak weh
    Tapi suka kok sama ceritahya.. next bikin yg komedy gini lagi yakk..
    aku tunggu😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s