Our’s Life [Chapter 1]

our's life

Author     : LittleRabbit

Cast     :

  • Huang Zi Tao (EXO)
  • Zhang Yi Xing (EXO)
  • Park Chan Ra (OC)

Genre   : Family, Romance, Friendship

Length  : Chaptered

Rating   : General

Pernah di post di wp pribadi

—___—___—___—

[Chan Ra POV]

HIDUP SEPERTIKU ITU MEMBOSANKAN!

Satu kalimat dari beberapa kalimat yang aku tulis dalam kertas hitungan PR Fisika –yang membuat otakku panas— itu aku baca berulang kali. Memang membosankan, bukan sekedar bosan, tapi sangaaatttttt membosankan. Seberapa membosankannya? Yaah seperti rumus Fisika, terlalu rumit untuk dijelaskan kecuali mengalami sendiri. Bisa kau bayangkan? Setiap hari –kecuali hari Minggu— dengan aktifitas yang sama, waktu yang sama, dan dengan orang yang sama. Pergi ke sekolah, lalu belajar hingga siang, dan pulang sekolah dilanjut dengan les hingga malam. Fiuuhh, mengingatnya saja sudah merasa bosan kan?

“Ku mohon, Appa. Izinkan aku beristirahat dari kegiatanku sebentar saja. Aku lelah.” Rengekku dengan memasang aegyo gagal karena Appaku tetap saja memandangi layar notebooknya.

“Tidak, Chan Ra-ya! Kau tetap harus seperti itu. Apa kau ingin mengecewakan Appa? Kau tak ingin membahagiakan Appa dan Eommamu?”

“Bukan begitu. Aku hanya ingin beristirahat sebentar. Mungkin sekitar satu bulan? Memang bermain piano itu menyenangkan, Appa. Tapi jika belajar terus menerus aku merasa bosan. Lagipula sudah tak ada yang diajarkan, aku sudah menghafalnya diluar kepalaku. Dan les piano itu membuat tanganku gatal jika melihat piano yang menganggur. Appa ingat kan keja—“

“Cukup, Park Chan Ra. Akan appa bicarakan dengan eommamu dulu. Jika gitar dan piano saja yang berhenti, appa mungkin bisa menghentikannya. Tapi jika pelajaran, jangan harap. Sekarang, kembalilah ke kamarmu, dan belajar!” ucap appa panjang lebar –tapi tetap— dengan menghadap layar notebooknya.

Aku hanya mendesah pelan sambil berjalan keluar dari kamar orangtuaku –dan berkomat-kamit agar permintaanku dikabulkan—. Yang aku inginkan hanya sebuah izin untuk berhenti dari les alat musik yang sudah ku pelajari sejak aku masuk bangku SMA itu, tapi yang ku terima malah omelan cukup panjang dan permintaanku belum tentu terkabul. Kakiku melangkah menuju balkon kamar yang menghadap ke arah belakang rumah –menampilkan pemandangan jalanan yang terlalu sepi jika diatas pukul tujuh malam serta sebuah rumah dengan kamar yang sama denganku, kecuali pemiliknya—.

“AKU INGIN SESEORANG MEMBEBASKANKU DARI KEBOSANAN INI!”

Ku teriakkan kalimat yang ingin sekali ku katakan di hadapan orangtuaku. Namun aku masih sayang dengan nyawaku –karena mereka akan mendepakku keluar dari rumah ini dan menghapus marga ‘Park’ dari namaku— untuk tidak melakukan itu. Sesaat setelah aku berteriak dengan cukup kencang –kurasa terlalu kencang jika dibandingkan dengan keadaan yang sepi— tirai balkon kamar rumah seberang terbuka dan pemilik kamar itu melihatku dengan tatapan –apa-yang-kau-lakukan-hingga-berteriak-kencang-. Oh tidak, ku rasa aku mendapat masalah dengan si ‘pemilik kamar’ itu.

Noona, apa yang kau lakukan malam-malam begini? Teriakanmu terlalu kencang, Noona.” Teriak pemilik kamar itu sambil berjalan menuju balkonnya sendiri.

“Aku hanya melampiaskan amarahku, tuan Wu.” Balasku sambil berteriak.

Biar aku perjelas siapa si ‘pemilik kamar’ itu. Dia adalah Wu Yi Fan, orang-orang biasa memanggilnya Kris. Dia namja keturunan China-Kanada –bisa kau bayangkan betapa, errr, tampannya dia?— dan tinggal di Korea. Dia satu tingkat diatasku, tapi dia sering memanggil noona untuk menggodaku. Satu sekolah denganku, menjadi idola seluruh yeoja di sekolah –tetapi tidak untuk aku karena aku tidak tertarik padanya— karena dia pemain basket, oh tidak bahkan dia adalah kapten dari tim basket di sekolahku! Itu cukup membuatnya terkenal bukan?

“Bisakah jika kau tidak berteriak? Aku terganggu dengan teriakanmu, noona berkacamata.”

“Bisakah jika kau tidak memanggilku ‘noona’?” teriakku dengan sedikit penekanan pada kata ‘noona’. “Tuan Wu, aku setingkat dibawahmu, tapi kau memanggilku noona. Menyebalkan!”

“Hahaha. Salahkan dirimu sendiri yang selalu marah-marah dengan berteriak.” Ujarnya sambil melangkah masuk ke kamarnya sendiri.

Kini hanya tinggal aku sendiri di luar balkon dan jalanan terasa sepi. Apa aku takut? Jawabanku tentu saja, iya. Hahaha, aku terlalu takut dengan gelap, jadi ku putuskan untuk masuk kamar juga dan menutup pintu balkon. Ku lirik jam kecil di meja samping tempat tidurku, pukul 21.35. “Oh tidak, ini bahkan 35 menit melewati batas tidurku! Cepat tidur!”. Segera ku pasang lagu-lagu instrumennya Yiruma untuk mengantarku tidur. Jaljayo.

—___—___—___—

Sinar matahari menembus tirai tipis balkon kamarku yang membuat aku harus bangun karena terganggu dengan cahaya itu. “Ugh! Menyebalkan! Aku masih mengantuk.” Dengan cepat, ku tarik selimut ungu muda untuk menutupi wajahku dari silaunya cahaya matahari itu dan segera tidur kembali untuk lima menit lagi –mungkin—.

“Chan Ra, kau sudah bangun kan? Cepat bersiap untuk sekolah, Nak.” Itu suara eomma“Agghh! Kenapa pagi ini semua orang menggangguku? Apa tak ada yang menginginkanku bahagia?”

Segera ku melangkah menuju kamar mandi untuk bersiap menuju sekolah. Setidaknya air dingin bisa menyadarkanku pagi ini. Sambil melangkah, ku putar playlist bergenre rap dan hip-hop untuk membangkitkan semangatku di pagi ini. Lagu pertama? Tentu saja lagu Bounce-nya JJ Project, itu membuatku semangat, hahaha.

Setelah membersihkan diri dan berdandan secukupnya, segera ku ambil tas sekolah dan tak lupa menyambar jaket berhoodie diatas ranjangku dan segera menuju ruang makan. Sesampainya di ruang makan, hanya appaku yang ada sambil membaca korannya. Dia bahkan tidak menyadari aku datang. Dan, hei kemana eommaku?

Appa, uri omma eodiga?” tanyaku sambil mengedarkan pandanganku sekeliling ruang makan.

“Masih memasak. Kau minum susu coklatmu dulu ya? Atau kalau kau terlalu lapar, kau bisa makan roti tawar itu sambil kau celupkan ke susu coklatmu itu.” Ujarnya pelan sambil tetap membaca koran.

Karena takut terlambat, aku hanya sarapan dengan tiga roti tawar ukuran sedang dan segelas susu coklat hangat. Cukup hingga istirahat makan siang nanti. Segera ku habiskan menu sederhana sarapanku itu dan berangkat dengan berjalan kaki. Jarak sekolahku cukup dekat, sekitar satu kilometer mungkin. Hahaha.

Appa, bilang eomma aku hanya sarapan roti dan susu. Tapi tenang saja, aku akan makan siang dengan banyak di kantin nanti siang. Aku berangkat.” Ujarku sambil memakai jaket hoodieku yang berwarna pink dengan corak ungu.

Ne. Akan ku sampaikan, jaga dirimu sayang.”

Setelah mengucapkan kata perpisahan pagi ini, aku segera berjalan keluar rumah dengan tergesa-gesa yang berakibat aku –hampir— menabrak seseorang yang cukup tinggi.

“Tuan Wu!”

“Ada perlu apa kau, noona? Terburu-buru sekali?” tanyanya dengan santai.

“Tak ada perlu apa-apa. Aku tidak ingin terlambat masuk sekolah. Permisi.” Jawabku cepat sambil memasang hoodieku untuk menghindari sinar matahari. “Ini masih pagi, kenapa kau sudah bersinar terang? Apa kau bahagia hari ini, Sunnie-ya?” gerutuku sambil mendongak keatas melihat matahari –yang ku panggil Sunnie— sedang bersinar cerah.

“Chan Ra-ya, kau tak apa? Kenapa kau mengomel dengan melihat ke atas? Apa ada yang mengganggumu?” tanya Kris sambil menjajari langkahku. “Dan kenapa kau memakai jaket? Apa kau tak merasa panas dan berkeringat? Ini musim semi, noona. Apa kau tak menikmatinya?” celotehnya panjang lebar.

“Fuuuhhh~ sudah mengomelnya Tuan Wu? Kau ingin aku menjawab keanehanku?”

“Tentu saja. Ini pertama kalinya aku menemukan gadis yang memakai jaket tertutup di musim semi.”

“Aku tak suka sinar matahari!” jawabku dengan singkat, dan ku rasa itu cukup membuatnya terdiam. Segera ku langkahkan kakiku cepat-cepat karena gerbang sekolah hampir terlihat.

Mungkin ini hari sialku. Saat akan mencapai gerbang sekolah, lagi-lagi aku ditabrak oleh seseorang yang bersepeda dan membuatku terjatuh dengan indahnya di depan pintu gerbang sekolah. Apakah ada kesialan lagi hari ini? Hei, bahkan ini minggu pertama di musim semi!

“Maaf, aku tak melihatmu. Apa ada yang sakit?” tanya si penabrak sambil mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.

“Tak apa, tak ada yang sakit.” Ujarku sambil menerima uluran tangannya. Ku bersihkan rok bagian belakangku sebelum aku melihat si penabrak. “Oh, sunbae-nim. Maaf aku tak tahu.” Ucapku sambil membungkukkan badan.

“Tak perlu seformal itu padaku. Mari ikut aku.” Ajak si penabrak sambil membawa sepedanya.

“Kemana, sunbae?”

“Tsk! Sudah ku bilang kan, jangan formal padaku. Kita ke ruang kesehatan, kau ku obati sebagai permintaan maafku karena telah menabrakmu. Bagaimana?”

“Tak perlu, sunbae. Aku tak apa. Aku permisi dulu. Annyeong.” Pamitku dengan berlari kecil menuju kelas.

Kyaaaa~ apa kalian tau? Kalian tau? Itu Tao sunbae! Dia terkenal sejak kepindahannya dari China, dia langsung mendapat jabatan sebagai ketua organisasi kesiswaan –dia pindah waktu kelas 2— dan bisa masuk dalam tim basket inti hanya dengan satu kali tes. Selain dia tinggi—mungkin hampir sama tingginya dengan Kris, si kapten basket itu— dia juga pintar wushu maupun pelajaran. Apa dia kembaran jauhnya Kris? Hahaha, itu tak mungkin. Kris kan pintar bahasa Korea, sedangkan Tao? Meskipun dia mengerti maksud lawan bicaranya, tapi dia tak bisa mengucapkannya, eh bisa sih tapi kadang perkataannya itu salah. Bedanya jika Kris kapten basket, Tao adalah ketua organisasi kesiswaan yang disegani oleh seluruh siswa di sekolah karena kedisiplinannya yang tinggi. Karena terlalu asik memikirkan Tao sunbae, aku tak menyadari jika aku telah masuk dan duduk di bangkuku sendiri.

“CHANRA-ya! APA KAU TAK MENDENGARKANKU?” teriak Baekhyun tepat ditelingaku.

“Baekhyun-ah. Kenapa kau berteriak ditelingaku?” omelku setelah mendapat kesadaran penuh.

“Habisnya, kau ku panggil dari tadi, tapi kau tak mendengarkanku. What’s wrong with you?” tanyanya dengan aksen bule yang kental.

I’m OK. Why?”

Biar ku perkenalkan siapa Baekhyun itu. Dia sahabatku, sahabat dari aku masuk TK hingga aku bersekolah di Seoul International High School. Dia anak tunggal sepertiku dari keluarga Byun. Right! Dia bernama Byun Baekhyun. Semua teman kami heran, kenapa kami bisa berteman sangat lama. Karena sifatnya berbeda 180° denganku, dia itu ceria –hei, aku juga ceria lho— tapi dia melebihi ceriaku, dia suka musim panas karena saat itu dia bisa makan ice cream strawberry kesukaannya, dia sering bercerita kepadaku, sedangkan aku? Kalian baca lagi sifat-sifat Baekhyun itu dan pikirkan tentang lawannya. Haha.

Tentu saja ada temanku yang lain lagi, namanya Kim Jongdae. Dia mempunya seorang kakak bernama Kim Jonghyun, dan adik laki-laki juga bernama Kim Jongsuk. Diantara kami bertiga, memang aku yang paling pintar. Tapi masalah kedisiplinan dan ketelitian, Jongdae-lah pemenangnya. Selain itu, dia juga yang paling diam diantara kami. Tapi saat dia mulai berbicara, semua yang mendengarnya akan tertawa.

“Kau melamun sejak datang, Park Chan Ra. Apa yang sedang kau pikirkan, hm?”

“Tak ada.” Jawabku cepat.

“Benarkah? Ku lihat ada kebohongan di matamu. Hahaha.”

“Byun Baekhyun, jika kau tidak segera diam, keluar dari kelas Fisika.” Ujar Kyuhyun seonsaengnim mengagetkan Baekhyun.

Aku hanya bisa tertawa dalam hati melihat Baekhyun kaget begitu. Keluar dari kelas fisika? Mengikuti pelajarannya saja sudah susah, apalagi tidak mengikuti pelajarannya. Ku lihat Baekhyun sedang mengerucutkan bibirnya dengan sebal. Ini pertama kalinya dia ditegur oleh Kyuhyun seonsaengnim. Dia guru yang pendiam, jika dia berbicara tak ada yang berani untuk ramai karena nilai yang akan menjadi taruhannya.

Setelah dua jam pelajaran fisika dan tiga jam pelajaran kesenian, bel istirahat berbunyi dengan nyaringnya. Membuat semua semua siswa berhamburan keluar kelas untuk mengisi perut yang kosong, begitu pun denganku. Tapi kenapa Baekhyun? Biasanya dia akan ramai sendiri untuk menyuruhku cepat berkemas dan segera pergi ke kantin bersama, tapi sekarang dia sedang duduk di bangkunya sambil tetap mengerucutkan bibirnya, lucu.

“Byun Baekhyunku kenapa? Masih sebal dengan Kyuhyun seonsaengnim?” tanyaku sambil duduk di depannya. “Apa Byun Baekhyun tidak lapar? Ayo ke kantin.”

“Berhentilah memakai aegyomu padaku, Chan Ra-ya. Telingaku gatal mendengarmu berbicara seperti itu. Hahaha.” Ujarnya sambil berlari keluar kelas.

“YA! Baekhyun-ah! Tunggu aku.” Kejarku sambil berlari pula meninggalkan kelas.

BRAKK!

Karena mengejar Baekhyun, aku –lagi-lagi— menabrak seseorang. Aaahhhh! Hari ini kesialan belum berakhir. Segera aku bangkit dari tempat jatuhku dan memandang sekitar –setelah sebelumnya mengambil kacamataku yang terjatuh—. “Hei, kenapa tak ada yang menolongku? Kenapa mereka semua diam saja?”. Setelah melihat sekeliling dahulu, barulah aku melihat siapa yang ku tabrak tadi. Oh tidak, itu Tao sunbae lagi yang kutabrak. Dan dia memandangku dengan tajam. Kini aku tau kenapa tak ada yang menolongku.

“Oh Tao sunbaemollaseo jwesonghamnida. Aku tak tau, sunbae.” Ujarku sambil membungkukkan badan. “Matilah hidupmu, Park Chan Ra”

“Kenapa kau selalu menabrakku?” tanyanya datar.

Ugh! Jika saja dia bukan ketua kesiswaan di sekolah ini, aku mungkin sudah berteriak-teriak sejak tadi. Dia bilang aku selalu menabraknya? SELALU katanya? Hanya satu kali aku menabraknya.

“Maafkan aku, sunbae. Aku benar-benar tak sengaja.” Aku meminta maaf padanya didepan siswa banyak. Agh! Huang Zi Tao membuat harga diriku rendah.

“Jika lain kali kau menabrakku lagi, kau tak akan selamat!” Ujarnya sambil melangkah pergi.

Suasana disekitarku masih hening akibat acara tabrak-dan-omelan tadi. Aku sendiri masih terdiam di tempat, tak berani melangkah. Dari kejauhan, Baekhyun menghampiriku bersama Jongdae. Mereka membawa sebotol air putih dan dua gelas moccacino.

“Hey, kau kenapa melamun? Ayo masuk kelas.” Baekhyun menyenggol lenganku.

“Ha? YA Byun Baekhyun! Aku membencimu!” teriakku pada Baekhyun yang melongo.

Setelah meneriaki Baekhyun dengan lantang, aku berjalan cepat menuju taman belakang untuk berdiam diri, mungkin menangis sendiri. Ketika sampai di depan lapangan basket, -lagi-lagi- aku menabrak seseorang. Hell! Ini masih setengah hari, tapi aku sudah menabrak orang tiga kali. Semoga ini bukan Tao sunbae lagi.

Agasshigwaenchanayo?” tanya seseorang yang menabrakku –atau lebih tepatnya aku yang menabraknya—.

“Eung? Ah, gwaenchana. Nan gwaenchana.” Ujarku sambil berdiri dan melihat siapa yang menabrakku.

“Syukurlah kalau begitu.” Wajahnya terlihat lega dan tersenyum tulus. Demi Janggah anjing Kai yang lucu, dia lebih lucu! Jangan lupa dia juga tampan dan manis.

Biar ku deskripsikan bagaimana dia. Memang aku belum tau namanya, tapi dia mempesona. Dia tak terlalu tinggi tapi lebih tinggi dariku, rambutnya berwarna pirang –sekolahku membebaskan memakai pewarna rambut—, berkulit putih pucat, jangan lupa ketika dia tersenyum terdapat lesung pipi pada pipi kanannya.

“Maaf sebelumnya, aku tak pernah melihatmu. Apa kau siswa baru?” tanyaku ketika melihatnya tak memakai blazer tingkat kelas.

Ne. Aku baru masuk hari ini. Apa kau mau mengantarku menuju ruang kepala sekolah?” ujarnya –masih— dengan tersenyum.

“Baiklah. Waktu istirahat masih lama berakhir.” Jawabku sambil memulai berjalan mendahuluinya.

Agasshi, boleh aku tau namamu? Ah kenalkan, aku Zhang Yi Xing.” Ujarnya memperkenalkan diri sambil mensejajari langkahku.

“Park ChanRa imnida. Kau orang Cina?” tanyaku kaget.

Ne. Bukankah namaku sudah jelas?” tanyanya sambil memandang lurus ke arah depan.

“Ah ne.” Ujarku sambil melihat ke arah lain. “Kenapa aku selalu berurusan dengan laki-laki Cina?” omelku pelan.

“Kau bilang apa, agasshi?” Ups. Ternyata dia mendengarnya.

“Tidak ada. Eum, bisakah kau memanggil namaku? Aku punya nama!” Mungkin tanpa sadar aku melakukan kebiasaanku saat sebal, mengerucutkan bibir dan menghentak-hentakkan kaki.

“Haha. Maafkan aku, noona Park. Kau lucu jika marah.”

Dia bilang aku lucu? Mungkin wajahku telah memerah saat ini, jadi ku putuskan untuk diam. Hei kenapa ini terasa lama? Jika bersama Baekhyun, dari lapangan basket menuju kantor kepala sekolah hanya memakan lima menit, tapi ini terasa lebih dari sepuluh menit. Untunglah, pintu ruangan kepala sekolah telah di ujung pandangan mataku.

“Yi Xing-ssi, ruangan kepala sekolah di sini. Permisi.” Ujarku dari luar setelah sebelumnya mengetuk pintu.

“Masuklah.” Sahut suara dari dalam. “Oh Chan Ra. Ada apa?” tanya Park Jungsoo, kepala sekolah Seoul International High School.

“Ada siswa baru, samchon.” Yup! Dia pamanku, sudah jelas dari marganya kan? Dia kakak appaku.

“Chan Ra, ini sekolah! Ah kau, siapa namamu?” hardik tuan Jungsoo, namun berkata lembut pada seseorang di sebelahku.

“Zhang Yi Xing imnida.”

“Ah, pindahan dari Cina itu?” tanya Jungsoo samchon sambil membuka file. “Kau berada di kelas 3-B. Chan Ra, antarkan dia menuju kelasnya.”

Ready, Sir.” Ucapku sambil memberikan hormat seperti tentara.

“Ah, bagaimana kalau kau menemaninya berkeliling sekolah?” tambahnya saat kami akan membuka pintu.

“Tapi, samchon, setelah istirahat aku masih ada pelajaran matematika.” Aku teringat Prku yang belum ku salin.

“Tenang saja, aku akan mengizinkanmu pada Joon Myun.”

“Uwaahh, gomawo samchon. Geure, annyeong.” Jawabku sambil menarik tangan Yi Xing –tanpa sadar—.

Agasshi, agasshi, lepaskan tangaku.” Teriak Yi Xing saat kami berdua berlari kecil meninggalkan ruang kepala sekolah.

“Ah, hehe. Maaf, itu karena aku terlalu senang. Eum, Yi Xing-ssi, apa kau lapar?” tanyaku. Sesaat setelah bertanya, aku jadi malu sendiri. ‘Ugh! Kau mempermalukan dirimu sendiri, Park Chan Ra!’.

“Apa kau sendiri lapar?” tanyanya sambil menahan senyum.

“Sebenarnya iya, tapi bukankah jika wanita harus menjaga imagenya jika di depan pria? Makanya aku menahannya.” Jawabku sambil memandang ke arah lain, malu.

“Haha, kau benar-benar lucu, noona Park.”

“Jangan memanggilku noona Park. Panggil aku Chan Ra, atau yang lainnya. Jangan margaku.”

“Bagaimana jika memakai margaku? Zhang Chan Ra, tak jelek.” Godanya sambil mengerlingkan mata padaku.

Spechless! Ketika dia tersenyum saja, rasanya seperti ribuan kupu-kupu berterbangan didalam perutku. Sekarang dia menggodaku seperti itu, mungkin aku semakin terlihat bodoh dihadapannya karena aku membuka mulut –tak lebar memang— dan dan mengedip-ngedipkan mata. Dan demi Tuhan, saat dia tertawa lepas itu indah. Jika aku bertingkah bodoh dapat membuatnya tertawa seperti itu, aku mau bersikap bodoh selamanya. Eh jangan ding, predikat murid pandai akan jatuh pada D.O Kyungsoo. Andwae!

“Noona Zhang, bagaimana jika kau menunjukkan kantin padaku? Bukankah bel berbunyi 20 menit lagi?” suara Yi Xing menyadarkanku dari lamunan aneh dan gila itu.

Eo? Kantin? Baiklah.” Aku berjalan mendahuluinya dengan ekspresi masih tak sadar.

Setelah berjalan agak jauh, ku dengar tawa keras berasal dari belakangku. Sontak ku tolehkan kepalaku dan mendapati Yi Xing tertawa terbahak-bahak hingga banyak siswa yang melihat –tentu saja, saat ini kami berdua hampir mencapai kantin—.

“Yi Xing-ssi, jika kau tak menyusulku, ku tinggalkan kau di sini!” teriakanku sukses membuat tawanya berhenti, yaah meskipun tidak berhenti total karena dia menghampiriku masih dengan tertawa.

“Apa yang kau tertawakan?” tanyaku saat kami berdua memasuki kantin. Baiklah, kami menjadi pusat perhatian dengan Zhang Yi Xing sebagai tersangka utama. Dia tertawa keras dan dia siswa baru.

“Aku menertawakanmu.” Jawabnya sambil duduk di salah satu bangku panjang yang berada di kantin.

“Ugh! Menertawakanku? Ku dengar alasanmu nanti, sekarang kau mau pesan apa?” Itu sudah menjadi kebiasaanku ketika makan bersama Baekhyun dan Jongdae, bahkan dengan Kai –sepupuku— untuk memesankan makanan.

“Bolehkah aku ikut denganmu? Aku ingin mengetahui makanan di kantin ini.” Dia menatapku dengan pandangan memohon –yang lagi-lagi— ku akui itu sangat menggemaskan.

“Baiklah. Ayo, setelah itu beri tau aku kenapa kau menertawakanku.” Aku segera berbalik menuju kounter makanan Lee ahjumma.

Kami berdua berjalan beriringan menuju kounter Lee ahjumma dengan diam. Aku terdiam karena aku merasa aneh dengan dia, aku jarang cepat akrab dengan seseorang yang baru ku kenal namun Zhang Yi Xing adalah pengecualian. Dan dia terdiam karena, entahlah.

Ahjumma, ramen masih ada?” tanyaku pada Lee ahjumma.

“Ada, nona cantik. Pesanan seperti biasa? Tanpa rasa pedas dan segelas susu coklat.” Terka Lee ahjumma.

“Yup. Tapi cuaca saat ini panas, segelas susu coklat dingin ya?”

“Baiklah. Dan kau pesan apa anak muda?” tanya Lee ahjumma kepada seseorang disebelahku.

“Eum, aku seperti dia saja.” Jawabnya sambil menunjukku.

“Kau yakin? Dia pesan ramen tanpa rasa pedas dan segelas susu coklat, itu pesanan anak kecil.” Ledek wanita yang mungkin seumuran dengan eommaku itu.

Ahjumma! Itu bukan pesanan anak kecil!” protesku sambil menghentak-hentakkan kaki.

“Haha, iya-iya, Park Chan Ra. Apa dia kekasihmu? Kasihan sekali kau mendapatkannya, dia masih sangat anak kecil.” Bisik Lee ahjumma pada Yi Xing.

Ahjumma! Cepat buatkan pesananku, aku lapar. Dan aku bukan kekasihnyaaa!” Aku segera kembali menuju tempat dudukku dengan diiringi tawa keras dari Yi Xing dan Lee ahjumma. 

Wajahku terasa panas. Hari ini memang menyebalkan karena Tao sunbae, tapi hari ini juga menyenangkan karena Yi Xing, pria Cina yang tampan. Kekasihnya? Haha, baru bertemu hari ini dengan pertemuan pertama yang tidak mengenakkan, menjadi sepasang kekasih? Demi Byul anjing Baekhyun yang menggemaskan, demi boneka bebek Jongdae yang baru, itu mustahil.

Ketika sampai di tempat duduk kantin, ku lihat tempatku sudah ada yang menempati. Ku percepat langkahku untuk mengusir siapa yang berani duduk di tempatku. Namun niatan itu ku urungkan ketika mengetahui siapa yang duduk.

“Park Jongin!” teriakku.

“Noona, teriakanmu terlalu kencang. Berbicara saja dengan normal.” Sahut Jongin, atau yang biasa dipanggil Kai, dengan santai.

“YA! Kenapa kau tak pernah ke rumah? Rumahku sepi, Jongin-ah.” Ya kami berdua memang sepupu, dan sama-sama anak tunggal. Dia anak Park Jungsoo, dunia terlalu sempit bukan?

“Tugasku banyak, noona. Menjadi siswa SMA tak seperti yang kubayangkan selama ini.” Keluhnya.

“Kau bisa bertanya padaku, Jonginnie. Apa kau lupa? Aku penyandang siswa terpandai pada semester lalu!” sombongku sambil menepuk-nepuk pelan dada yang dibusungkan.

“Kau benar. Ah, kenapa tak terpikirkan olehku.” Ujarnya sambil menepuk jidatnya.

“Noona Zhang, pesananmu.” Tiba-tiba sebuah suara memotong percakapan kami.

“Yi Xing! Omo, aku lupa jika ada kau. Duduklah sini.” Ujarku saat mengetahui siapa yang memanggilku, dan menyuruh Yi Xing untuk duduk di sebelahku.

“Noona, dia siapa?” tanya Kai sambil memandang Yi Xing.

“Ah, Zhang Yi Xing imnida. Aku siswa baru di sini. Kau?” tanpa disuruh pun dia mengenalkan dirinya terlebih dahulu. Pria yang manis.

“Park Jongin imnida.” Syukurlah Kai menjawabnya dengan ramah, karena dia termasuk anak yang tidak peduli dengan lingkungan.

“Apa kau adiknya?”

“Tidak. Dia saudara sepupuku.” Jawabku mengambil alih.

“Apa dia kekasihmu, noona?” tanya Kai padaku. Sudah dua orang yang mengatakan Yi Xing adalah kekasihku.

“Bukan, Jonginnie. Dia siswa baru, dan samchon menyuruhku untuk menemaninya berkeliling sekolah. Aku dibebaskan dari pelajaran Joon Myun seonsaengnim hanya karena menemaninya! Waah, betapa beruntungnya aku.”

“Tapi kau terlihat cocok dengannya. Eum, bolehkah aku memanggilmu hyung? Boleh ya?” Kai memohon pada Yi Xing. Terlihat raut wajahnya yang berubah saat mendengar permintaan Kai, terkejut.

“Jonginnie, apa-apaan kau? Eum, Yi Xing-ssi, maafkan dia, dia sela—“

“Ah, tak apa. Kau bisa memanggilku hyung jika kau mau.” Jawab Yi Xing sambil tersenyum.

“Wah, gomawo hyung. Noona, dia saja mengizinkan, masak kau tidak? Eh kalian hanya memesan dua porsi saja? Untukku?” tanyanya tanpa rasa malu. Dia memang sepupu yang menyebalkan, tapi aku menyayanginya.

“Jonginnie, ketika kami pesan makanan kau belum datang.” Omelku padanya. “Kau bisa memesan makananmu sendiri.”

“Terlalu lama jika aku menunggu, noona. Makananmu saja ya?” tanpa persetujuanku, tiba-tiba Kai mengambil mangkok ramen kepunyaanku.

Shireo! Pesan saja sendiri!” tolakku dengan cara menepuk punggung tangannya. Refleks mengambil mangkuk ramenku kembali dan memakannya.

“Kau bisa makan porsiku, Jongin-ah.” Ujar Yi Xing sambil menyodorkan mangkuk ramennya.

Gomawo hyung. Jeongmal gomawoyo. Noona, kalian berdua jadilah sepasang kekasih. Kalian berdua cocok, dan aku menyukainya.” Ujar Kai cepat lalu memakan makanan –milik Yi Xing—.

Aku terbatuk mendengar perkataannya. Yi Xing memberikan segelas susu coklatku dan menepuk-nepuk pelan punggungku untuk menghentikan batukku. ‘Menjadi sepasang kekasih? Ugh Park Jongin, kau mempermalukanku!’

“Chaa. Makananku sudah habis noona. Aku kembali ke kelas dulu, hyungAnnyeong.” Dasar sepupu tak tau malu dan hanya bisa bikin malu! Selesai makan dia langsung berlari menuju kelasnya meninggalkan kami berdua.

“Sudah merasa baikan?” tanya Yi Xing saat aku mengatur napas agar teratur kembali. Aku mengangguk. “Bisa kau mendekat padaku?”

“Kita menjadi pusat perhatian saat ini, dan aku tak terlalu menyukainya. Kau tau tempat yang sepi?” bisik Yi Xing tepat ditelingaku saat aku mendekat padanya.

Tanpa menunggu terlalu lama, segera ku tarik pergelangan tangannya dan berlari kecil menuju taman belakang sekolah, tempat favoritku ketika ada masalah. Sesampainya di sana, aku segera berbaring di hamparan rumput dan tertidur.

[Yi Xing POV]

Hari pertama tiba di sekolah baru menyenangkan. Memang awalnya aku sudah menabrak seorang gadis yang ku tau bernama Park Chanra karena sibuk mencari ruang kepala sekolah. Hari pertama bertemu dengannya, entah aku merasa nyaman dengannya, jangan lupa dengan sepupunya, Kai. Kai juga menerimaku dengan baik, bahkan meminta izin untuk memanggilku hyung. Mereka berdua saudara yang seru, ramai meskipun hanya berdua.

Saat ini kami berdua berada di taman belakang, suasana hening menyelimuti kami. Namun angin musim semi yang berhembus pelan membuat daun-daun bergesekkan dan sesekali menimbulkan bunyi. Gadis ceria itu saat ini sedang tertidur pulas di bawah pohon, sedangkan aku duduk dengan bersandar di batangnya, melihatnya tertidur. Entah kenapa, tapi ku rasa aku menyukainya.

“Noona Zhang, apa kau tertidur?” tanyaku sambil mencolek-colek pipinya.

“Eum?” erangnya tanpa membuka mata.

“Apa kau mau mendengar alasanku menertawakanmu tadi?” Ku harap dengan mengungkit-ungkit masalah ini dia akan membuka matanya dan berbicara denganku lagi.

“Ceritakan. Aku mendengarkanmu.” Jawabnya masih dengan mata tertutup.

“Aku tak mau cerita jika kau tak membuka matamu.” Ujarku sebal.

“Haha, baiklah Yi Xing-ssi, ceritakan.” Jawabnya sambil duduk di sebelahku.

“Apa kau tak merasa aneh?” pancingku berharap dia akan merespon dengan baik.

“Aneh? Memangnya aku kenapa?” jawabnya dengan memeriksa tubuhnya. ‘Kau baik-baik saja, cantik.’

“Sejak tadi aku memanggilmu ‘Noona Zhang’. Apa kau tak merasa?” Akhirnya, aku mengatakannya.

“Benarkah? Aku merasa sih, karena aku merasa seperti terbiasa dipanggil ‘Noona’ makanya aku tak merasa terlalu aneh. Memangnya kenapa?” Baiklah. Sampai saat ini ku putuskan dia terlalu jujur dan polos.

“Apakah akan aneh jika aku bilang aku menyukaimu?” Kau memang terlalu jujur, Zhang Yi Xing!

“Ye? Tapi kita baru hari ini bertemu.”

“Kau benar, kita baru bertemu.” Desahku pelan, putus asa.

“Tapi, aku juga menyukaimu.” Jawabnya sambil memandang arah lain.

Karena tak percaya dengan jawabannya, ku putar badannya untuk menghadapku. Namun dia masih tak mau memandangku. Apa dia merasa malu dengan jawabannya sendiri?

“Noona Zhang, lihat aku.” Berhasil, dia mendongakkan kepalanya dan, hei wajahnya merah. “Apa kau menerimaku?”

“Aku tak tau, ketika bertemu denganmu aku seperti bertemu teman lama. Dan jangan lupa dengan Kai.”

“Kenapa dengannya?” potongku saat mendengar nama Kai. Aku penasaran dengan dia, sungguh.

“Sst! Jangan memotong ceritaku!” gertaknya sambil mengerutkan keningnya, sebal.

“Ah, baiklah. Kau bisa lanjutkan.” Jawabku sambil bersandar kembali pada batang pohon.

“Dia adalah adik sepupuku yang sangat cuek. Dia terbiasa hanya bersamaku, Baekhyun, Jongdae, dan Taemin, temannya. Dan aku heran, sangat-sangat heran ketika dia bisa ramah denganmu, oh bahkan dia meminta izin untuk memanggilmu ‘hyung’. Itu tandanya kau termasuk istimewa, karena bisa mencuri perhatiannya. Baekhyun saja harus berteman dengannya selama sebulan lebih dan baru bisa sedikit akrab. YA Yi Xing-ssi­, jangan tertidur!” dia menggoyang-goyangkan lenganku. Sungguh, ceritanya sangat panjang.

“Aku tak tidur, noona Zhang. Aku mendengarkanmu meskipun mataku terpejam.” Jawabku sambil memandangnya.

“Kau tau, dia jarang memperlihatkan sikapnya seperti tadi di depan orang lain. Dia selalu bersikap acuh dengan sekitarnya, tak jarang dia hanya tersenyum tipis saat Baekhyun dan Jongdae berkolaborasi untuk meramaikan kantin dengan leluconnya yang membuat semua orang di kantin tertawa terbahak-bahak. Dan dia hanya tersenyum sebentar saat seluruh sekolah bertepuk tangan untuknya yang telah menari dengan sangat baik.” Dia melanjutkan lagi dengan cerita yang panjang, tentang Kai.

“Kau bilang dia bisa menari?” hei, aku tertarik dengan topik ini.

“Ya. Ketika SMP, dia bahkan ketua klub dance di sekolahnya dan sekarang dia diterima di klub dance tanpa test! Bukankah saudaraku sangat hebat?” ujarnya sambil menyombongkan Kai.

“Kalau begitu, bisakah aku memintanya untuk bergabung diklub dance itu?”

“Tapi kau sudah tingkat akhir. Siswa tingkat akhir dilarang ikut kegiatan ekstrakurikuler.” Jawabnya pelan.

Baiklah, jawaban Chanra sukses membuat moodku menurun. Kini aku merasa suasana diam menyerang kami kembali. Entah apa yang membuat gadis ini terdiam.

“Eung Chanra-ya, kau belum menjawab pertanyaanku. Apa aku diterima?”

“Kau bisa menanyakannya pada Jongin.” Dia mulai memejamkan mata lagi.

“Eum? Jongin? Kenapa aku harus bertanya padanya?” Jujur, mereka saudara yang aneh!

“Karena sejak kecil aku sudah terbiasa bertanya pendapatnya. Hei jangan meremehkan dia, selera seorang Park Jongin itu tinggi.”

“Tapi ini tentang perasaanmu, noona Zhang. Astaga, belum sehari aku disini, tapi aku merasa banyak kejutan padaku.”

“Jika kau bertemu denganku, hidupmu akan pe~nuh kejutan.” Ujarnya sambil mendeskripsikan ‘penuh’ dengan membentangkan tangannya. Seperti ‘imajinasi’ yang didefinisikan oleh Spongebob yang ditonton Yi Mei, adikku.

“Ya, ya. Terserahmu sajalah.” Bosan.

“Eum, Yi Xing-ssi, apa kau tak akan ke kelasmu? Ku rasa setelah ini ada pergantian jam pelajaran, lalu pulang.” Ujarnya sambil bangkit.

“Baiklah. Antarkan aku ya?”

“Iya. Ayo.” Dia mendahuluiku dengan berjalan dahulu di depan.

“Eum, Chanra-ya, apa kau nanti siang mau ikut denganku?” aku membuka percakapan lagi saat suasana hening.

“Kemana?” Baiklah. Dia berubah, menjawab pertanyaanku sesingkat-singkatnya.

“Kenapa kau menjawab pertanyaanku singkat? Apa kau lelah menemaniku?”

[Chanra POV]

Berdekatan dengannya membuat jantungku berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya. Apa aku menyukainya? Dia istimewa, tapi aku tak tau apa yang membuatnya istimewa bagiku. Baru sehari kami bertemu, tapi seperti sudah mengenal bertahun-tahun lamanya.

Saat ini kami berdua berjalan menuju kelasnya. Sengaja ku perlambat sih, agar aku lebih terlambat sampai kelasku sendiri dan segera pulang. Haha, bukankah ide seorang Park Chanra sangat jenius?

“Eum, Chanra-ya, apa kau nanti siang mau ikut denganku?”Dia memulai percakapan saat kami berdua berjalan berdampingan.

“Kemana?”

“Kenapa kau menjawab pertanyaanku singkat? Apa kau lelah menemaniku?” Tanyanya dengan ekspresi berbeda dari sebelumnya.

‘Apa aku membuat kesalahan?’

“Tidak. Kenapa?”

“Kau menjawab pertanyaanku dengan singkat, Noona Zhang. Yi Mei menjawab seperti itu jika dia sedang marah padaku.”

“Yi Mei? Siapa dia?”

“Dia adikku. Oh iya, aku akan mengajakmu menjemput adikku sepulang sekolah. Apa kau mau?”

“Dengan senang hati, tuan Zhang. Haha.” Tentu saja aku tak menolak jika ada anak kecil. Ingin sekali rasanya mempunyai adik.

“Baiklah. Aku tunggu kau di pintu gerbang saat pulang sekolah. Eung Noona, apa itu kelasku?” tunjuknya pada sebuah ruangan di depan kami.

“Ah iya. Ayo cepat kesana.” Ujarku sambil menarik tangannya.

[Normal POV]

Tok…Tok…Tok…

Pintu kelas 3-B berbunyi nyaring karena kelas sedang dalam keadaan sepi. Pelajaran Jung seongsaenim –pelajaran Sejarah— sedang berlangsung, dan membuat seluruh siswa menghentikan kegiatannya.

“Ya, masuklah.’ Ujar Jung seongsaenim.

“Permisi, saem. Aku mengantarkan siswa baru.” Jawab Chanra sambil menarik tangan Yi Xing.

“Ah kau yang baru pindah dari China itu ya?” tanyanya pada Yi Xing.

“Eum, ya.” Jawab Yi Xing dengan singkat.

“Kau boleh masuk dan memperkenalkan dirimu. Ah, Park Chanra, kau bisa kembali ke kelasmu. Jangan lupa, kembali ke kelas secepat mungkin, noona Park.” Jung seongsaenim adalah guru yang termasuk dekat dengan murid-muridnya.

“Aku mengerti. Bukankah setelah ini bel berbunyi?” setelah mengucapkan itu, Chanra segera berlari menuju kelasnya tanpa mengucap salam.

“Dasar Chanra, tetap saja seperti itu. Ah kau bisa memperkenalkan dirimu.” Ujar Jung seongsaenim pada Yi Xing.

“Eum, perkenalkan Zhang Yi Xing imnida. Kalian bisa memanggilku Yi Xing atau Lay. Aku pindahan dari China.” Tepat setelah Yi Xing memperkenalkan dirinya, seseorang yang sedang duduk di bangku deretan belakang memperhatikan tajam padanya.

“Kau bisa duduk dengan Tao. Tao, singkirkan tasmu. Siswa baru ini akan duduk bersamamu.”

Dengan berat hati, Tao memindahkan tasnya agar Lay bisa duduk bersamanya. Setelah membungkukkan badanya, Lay segera menuju tempat duduk barunya dan tersenyum pada Tao.

“Hei aku Yi Xing. Siapa namamu?” Tanya Lay dengan ramah, bahkan dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

“Panggil aku Tao.” Balas Tao dingin. Uluran tangan Lay tak ditanggapinya hingga Lay menarik kembali tangannya dengan kikuk.

—___—___—___—

Sementara itu di kelas 2-B, Chanra memasuki kelas tanpa perasaan bersalah –karena dia memang tak melakukan kesalahan—, hingga seseorang menegurnya.

“Sudah selesai berjalan-jalannya, Tuan Puteri?” Tanya seseorang yang menegur Chanra itu.

“Ah, Kim seongsaenim. Aku mengantarkan siswa baru untuk keliling sekolah dan mengantarkannya lagi menuju kelasnya.” Jawab Chanra panjang lebar. Hei dia bahkan masih berdiri di depan pintu untuk menjelaskan pada Kim Joon Myun, guru matematikanya.

“Baiklah. Tapi kau harus mengerti materi yang baru saja ku ajarkan. Kau bisa bertanya pada D.O.”

“Ya. Bolehkah saya masuk?”

“Silahkan.”

Sesaat sebelum Kim seonsaengnim melanjutkan pelajarannya, bel berbunyi panjang tiga kali, tanda pelajaran berakhir. Semua siswa serentak berteriak untuk mengekspresikan kelegaannya, terbebas dari mata pelajaran matematika.

“Kau menghabiskan waktuku. Gara-gara kau, materi hari ini tidak habis, Chanra.” Omel Kim soengsaenim pada Chanra yang hanya bisa meringis tak jelas.

“YA! Kenapa kau jalan-jalan tak mengajakku? Enak sekali kau tak mengikuti pelajaran matematika?” Baekhyun menepuk pelan pundak Chanra yang sedang membereskan bukunya.

“Ini semua karenamu, Baekki. Ah, gomawo.” Chanra memeluk Baekhyun saking senangnya.

“YA! Lepaskan pelukanmu!” Baekhyun menepuk-tepuk punggung Chanra dengan brutalnya.

Eo? Waeyo?” Tanya Chanra dengan wajah tak berdosanya.

“Kenapa? Apa kau mau membuatku mati sekarang juga? Pelukanmu terlalu erat. Aku tak bisa bernafas!” omel Baekhyun dengan satu helaan nafas.

“Apa kalian tetap disini hingga malam? Teman-teman bahkan telah keluar semua.” Tiba-tiba suara Jongdae terdengar dan membuat dua anak manusia itu berhenti berdebat.

“Ah kau benar. Kajja, kita pulang.” Ajak Jongdae pada Baekhyun dan Chanra.

Mereka bertiga keluar kelas dengan saling bercerita. Seluruh sekolah juga tau jika mereka bertiga adalah sahabat sejak TK. Dan ketiga sahabat yang selalu bertingkah seperti anak kecil itu berjalan pulang menuju pintu gerbang.

“Hey, apa kalian melihat dia?” tunjuk Baekhyun pada seseorang yang berdiri di samping gerbang.

“Apa dia yang berambut kuning?” terka Jongdae. Chanra yang mendengar percakapan mereka, juga ikut melihat siapa yang mereka maksud.

“Oh itu, dia siswa baru disini. Soenbae kita.” Jawab Chanra dengan pelan.

“Kau mengenalnya?” Baekhyun bertanya sambil menjerit-jerit layaknya seorang gadis yang bertemu idolanya.

“Tentu saja. Bahkan aku tadi menemaninya berkeliling sekolah.”

Tiba-tiba saja, orang yang sedang dibicarakan sudah di depan mereka. Tentu saja Baekhyun dan Jongdae tersentak kaget.

“Apa kau Zhang Yi Xing?” Tanya Baekhyun tiba-tiba.

“Eum. Apa aku mengenalmu?” balas Lay sambil tersenyum ramah. Dia berpikir harus bisa mendapatkan teman sebanyak-banyaknya.

“Apa kau yang memakai nama samaran Lay saat sedang menari?” Kali ini Jongdae yang bertanya. Bahkan ia dan Baekhyun sudah memegang tangan masing-masing. Sementara Chanra yang tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan hanya melihat dengan tampang konyol.

“Ya, itu aku. Tapi bisakah kalian tidak memberi tahu siapa-siapa?” Lay hanya bisa tersenyum perlahan saat ada yang mengerti tentangnya.

“Aku adalah penggemarmu, soenbaenim.” Omong Baekhyun pada Lay.

“Ah, kamshahamnida. Apa aku boleh mengajak teman kalian yang cantik ini?” Tanya Lay sambil menunjuk Chanra.

“Ah, ne. Ini bawalah.” Masih dengan tak sadar, Baekhyun dan Jongdae mendorong Chanra pada Lay. Chanra yang tak siap, akan terjatuh jika Lay tidak menahan tubuhnya.

“Kalau begitu kami pergi dulu ya. Annyeong.” Lay membungkukkan badannya dan segera menarik Chanra pergi.

Sementara Baekhyun dan Jongdae yang masih tak percaya bahwa idola mereka selama 3 tahun, berbicara dengan mereka. Hingga Kai datang untuk bertanya pun tidak mereka hiraukan.

Hyeong. Apa kau tau dimana Chanra noona?” Masih tak ada jawaban hingga Kai berteriak di depan mereka. “HYEONG, APA KAU TAU DIMANA NOONAKU?”

Eo, Kai. Sejak kapan kau disitu?” Baekhyun yang pertama kali sadar, sedangkan Jongdae masih merawat telinganya yang terganggu teriakan Kai.

“Apa kau melihat noonaku?” Tanpa menghiraukan pertanyaan Baekhyun, Kai mengulangi pertanyaannya.

“Tadi dia disini. Tapi sekarang, err sepertinya dia sudah pergi dengan Yi Xing soenbaenim.” Jawab Baekhyun masih dengan kesadaran yang tertinggal.

Karena terlalu kesal, akhirnya Kai meninggalkan dua sahabat noonanya itu. Dengan setengah berlari, dia menuju pintu gerbang dan berbelok kiri, arah rumah Chanra. Karena esok adalah Minggu, Kai berencana untuk menginap di rumah Chanra.

Sementara itu, Chanra dan Lay berada di taman kanak-kanak dekat sekolah mereka. Sesampainya disana, Lay tanpa ragu menuju sebuah ruangan yang diyakini sebagai ruang kelas. Sedangkan Chanra menunggu di depan gerbang.

Noona!”

TBC…

—___—___—___—

Hai~ (lambaikan tangan)

Aku author baru disini^^ nama penaku LittleRabbit^^

One thought on “Our’s Life [Chapter 1]

  1. Ping balik: Our’s Life [Chapter 2] | I Love Kpop FanFiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s