[FF Freelance] Can you Smile?

WOORONG

Judul FF: Can you smile?
Autho : NAATH98
Rating: PG-13
Length: Ficlet
Genre: General, Romance
Main Cast: Nam Woohyun & Park Chorong
Other Cast: Jang Dongwoo
Disclaimer: 100% murni dari pikiran saya. Jangan re-make atau copy tanpa izin! Harap like atau comment setelah membaca. However, Plagiarism is NEVER allowed. Jadilah pembaca yang baik. Hargai penulis. AAAAAAAAKKKK Don’t blame me if this fanfic freakin’ absurd. Dan bahkan gue aja gak tau apa yang gue tulis hufhufhufff. semoga gak jijik yah bacanya akakakaka.
CATATANItalic merah; lyricItalic hijau; flashback. Italic + Underscore grey; text message.

Can You Smile

I remember that feeling from a long ago when I looked at you

I remember that time when I knew you, you knew me

 

BRAK!

Suara keras benturan antara lantai dengan box berisi buku-buku tipis dan gulungan-gulungan kertas menggema di ruangan ini.

BRAK! –lagi–

Aku pun menjatuhkan diri pula ke lantai dan bersandar ke dinding.

“Suara benturan itu, haha.” Tawaku miris.

Aku berjalan santai menaiki tangga apartemen sambil bersiul dan menikmati segelas Starbucks Caffè Misto. Huh, pagi yang indah untuk sedikit berolahraga menaiki tangga ketimbang pengap di dalam lift. Ketika hampir mencapai anak tangga terakhir,

BRAK!

“Ah mianhae.”

Aku baru saja akan memaki orang yang menabrakku ini yang menyebabkan segelas kopi panas ini tumpah ke bajuku. Oh, dan kulihat sebuah box berisi buku-buku juga berceceran di lantai dengan keadaan seperti baru jatuh ke dalam lumpur karena terkena tumpahan cappucino-ku. Beruntung hanya cover bukunya, tidak sampai halaman dalam.

Aku menaikkan kepalaku untuk melihat siapa orang ini.

G L E K.

Demi tuhan apakah ini jelmaan bidadari? Indah sekali.

“Mianhae, mianhae, jeongmal mianhae, aku tak bermaksud.” Ia terus-terusan meminta maaf dengan suara indahnya sambil membungkukan badan berkali-kali.

“Hey agashi, tak perlu meminta maaf. Seharusnya aku yang meminta maaf sudah mengotori buku-bukumu.” Aku pun berjongkok dan mulai membereskan bukunya.

Secepat kilat ia pun ikut berjongkok dan ikut membereskan buku-bukunya. Setelah semua bukunya kembali rapih di dalam box ia kembali mengangkat box itu namun kurebut.

 

“Untuk sementara biar aku yang bawa untuk dibersihkan.”

“Errr, bajumu?”

“Tak masalah.”

“Tapi aku baru saja akan mengembalikan buku-buku ini ke perpustakaan.”

“M…Mwoya? Ini buku perpustakaan?”

“N…Ne.” Ucapnya tak enak sambil mengusap tengkuknya.

“Kalau begitu mari kita bersihkan bersama.”

 

Tak ada respon. Ia hanya menggigit bibir bawahnya.

 

“Kau tinggal di apartemen ini juga, kan?”

“Iya, aku baru pindah kemarin malam.”

“Kamar?”

“Empat-dua-delapan.”

“Wow! Kita bersebelahan. Aku empat-dua-tujuh.”

“Ah, benarkah?”

“Mari kita ke apartemenmu.” Ajakku

“M…Mwo?”

“Aish, aku harus bertanggung jawab atas buku-buku kotor ini. Jangan berfikir yang tidak-tidak.”

“Tapi apartemenku masih kacau.”

“Tak masalah. Kajja!” Aku berjalan duluan dengan box yang masih kupegang dan ia mengikutinya.

“Hey kenapa di belakangku? Sini! Aku bukan orang jahat. Santai saja.” Aku memasang senyum yang menurutku senyum tertampan yang kumiliki. Ia pun menyamakan langkahnya dengan langkahku dan kita berjalan berdampingan.

“Oh, hampir lupa.” Kataku lagi.

“Nam Woohyun.” Sambungku.

“Park Chorong.” Sahutnya sambil tersenyum.

 

Tuhan, ini kah senyum seorang malaikat?

 

Terlalu hanyut menikmati senyumnya, aku baru tersadar kami berdua sudah tiba di depan pintu dengan angka “428” besar-besar di depannya. Park Chorong mengetikan kode kamar apartemen-nya dan terdengar suara ‘ting’ lalu pintu terbuka lebar.

 

“Park Chorong…”

“Apakah sekarang kau bahagia?”

“Aku sudah pindah ke apartemen baru.”

“Sebut saja ini usahaku untuk melupakanmu.”

“Melupakan semua kenangan kita.”

“Haftt…”

 

Aku menidurkan diri dalam keadaan telentang. Di lantai dingin berdebu. Dalam keadaan perabotan yang tak karuan.

“Aku lelah mengangkuti barang-barang. Biarkan aku beristirahat sebentar.” Ucapku entah kepada siapa. Aku seperti orang gila belakangan ini, suka berbicara sendiri.

I think about those desperate times

When I wanted to be like you, hang out with you

But it’s merely a memory that’s passed by

 

Tingnong…

 

Aku menunggu di depan pintu 428 dengan gelisah. Sudah setengah jam aku memenceti bel tetapi pemilik pintu tetap tidak membukakannya.

 

Tingnong… tingnong… tingnong…

 

“Ya! Park Chorong!

 

Aisshhh

 

Tok… tokk… tingnong… tok… tingnong… tok… tokkk…

 

Karena tak sabar, akupun memencet bel dan mengetuk pintu berbarengan sehingga menimbulkan suara bising yang sangat menggangu.

 

Sudah pukul 10 pagi. Jangan bilang ia belum bangun. Hahaha. Aku tertawa geli entah karena apa. Sudah dua bulan sejak kejadian buku dan kopi itu. Aku dan Chorong semakin dekat bahkan kami saling tau sangat banyak mengenai kehidupan, pengalaman, bahkan aib masing-masing.

 

Hampir setiap hari kita bersama. Hanya untuk sekedar makan siang bersama atau membicarakan hal tak penting di apartemenku atau miliknya. Aku pun semakin jatuh lebih dalam lagi ke lubang pesonanya. Aku menyukainya saat pandangan pertama dan sekarang sudah berkembang menjadi cinta. Does love at the first sight exist? I think do. Because i totally in love with her since i first set eyes on her. Aku seperti orang stress yang setiap saat tak bisa berhenti memikirkannya.

 

Kenapa aku jadi mengingat-ngingat semua waktu yang sudah kuhabiskan bersamanya? Ahaha aku ingin menjadi lebih dari seorang teman. Tepat ketika aku sedang tersenyum seperti orang idiot –yang aku tahu pasti tetap terlihat tampan–, Chorong membuka pintu apartemennya dengan keadaan rambut acak-acakan, memakai piama, dan ia menguap sambil menggaruk rambutnya. Menggoda sekali. Tetap terlihat cantik, sangat.

 

“Heung… ada apa tuan Nam?” Tanyanya ketika sudah sadar.

 

“Ck, kalau menguap itu tutup! Kau terlihat seperti singa mengaum. Apalagi dengan rambut seperti itu.” Kataku sambil menjitak jidatnya.

 

Ia mem-pout-kan bibirnya.

 

Cute.

 

Aku pun melewati badan mungilnya yang menutupi pintu dan melongos masuk ke dalam apartemennya.

 

“Aku cuci muka dulu sebentar.”

 

“Mandi lalu ketiduran di dalam bath-up selama lima jam seperti kemarin juga tidak apa.”

 

“YA! Aku kan sudah minta maaf.”

 

“Hahaha sudah sana cepat, aku ingin membicarakan hal penting.”

 

“Yessir!” Ia menegakkan badannya, hormat, lalu berbalik 180˚ dan hilang masuk ke dalam kemar mandi.

 

Park Chorong, kenapa kau membuatku tak terkendali seperti ini.

 

Aku meletakkan tangan kananku ke dada dan merasakan detak jantung yang tak karuan.

 

Tenang! Ia pasti akan menerimanya.

 

Tapi bagaimana jika ia menolaknya dengan sadis? Ah, operasi plastik, ganti nama, pergi ke pulau terpencil, mungkin.

 

Tarik nafas Nam Woohyun!

 

I remember a long time ago when I received your heart

I think of those times when you were overflowing me and I’m thankful

 

‘YOU’VE GOT ONE TEXT MESSAGE, SIR!’ suara lucu pororo yang kusetel sebagai ringtone berbunyi.

Aku mengambil ponselku di kantung celana.

“Heyyo, dude! Ssup? Seems you’ve moved on. Keep that up, bro! Move hati move apartemen juga, lmao. Call me if you need anything. XOXO, Jjang jang dongwoo <3”

Aku sedikit tersenyum melihat pesan dari teman idiotku.

“Thanks bb! You know? I love you. So much.” Balasku

Tidak ada semenit, ia membalasnya lagi,

Eyyy, your gay side turning on again lol. Rest enough!”

Aku membalikan posisiku yang telentang menjadi tengkurap. Ah, sedikit dingin ternyata lantai ini.

Siapa bilang udah move on. Pura-pura move on iya. Haha.

Aku memejamkan mata dan tiba-tiba semua memori itu berputar kembali.

“OPPA BUING BUING!!

 

“YA PARK CHORONG!”

 

“BBBUINGGG BBUINGGG!!!

 

“YA! Jangan lari! Lemme hug you till you stop breathing.”

 

AHAHAHAHAHAHAHA.

 

Apartemenku sangat rusuh dipenuhi oleh suara dua orang yang saling berteriak dan berkejar-kejaran. Bukan, mereka bukan sedang bertengkar. Tapi sedang mengekspresikan rasa cinta mereka.

 

“Ah, aku lelah.” Ia berhenti lalu duduk di sofa sambil mengatur nafasnya.

 

“KYAA!!!!! Kena kau!” Ucapku bahagia sambil memeluk erat tubuh kecilnya.

 

“AH AKU TIDAK BISA BERNAFAS.” Teriaknya.

 

“Kan sudah kubilang tadi jika tertangkap akan kupeluk sampai kau berhenti bernafas.”

 

“Aisshhh!” Ia meletakkan kedua tangannya di belakang kepalaku lalu mengacak-ngacak rambutku dan sedikit menjambaknya.

 

“Kau mau hukuman lebih, huh?” Ucapku menempelkan dahiku ke dahinya.

 

Ia hanya mem-pout-kan bibirnya lalu menggigit ujung hidungku.

 

“Benar-benar ingin di hukum rupanya.”

 

Aku mencium pipi chubby-nya lalu makin merapatkan tubuhnya ke sofa.

 

“Tuan Nam, penyakit mesum milikmu kambuh.”

 

“Benarkah? Bukannya Nyonya Park yang memancingku, eh?” Tatapku seduktif.

 

Ia hanya memutar bola matanya lalu mencium bibirku singkat.

 

“Sudah sudah! Aku ingin menonton televisi, ada film bagus sebentar lagi.”

 

Aku pun bangkit dan membirkannya bernafas lega.

 

Sudah setahun lebih kami berpacaran. Aku mencintainya, sangat. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika saja ia tiba-tiba meninggalkanku.

 

Ia meraih remote tv di meja samping sofa lalu mememcet satu-satunya tombol berwarna merah yang terletak di pojok kanan atas remote tersebut. Ia sangat memfokuskan pandangannya pada layar televisi sedangkan aku prefer memfokuskan pandanganku pada dia.

 

Setiap detail yang ada di dirinya sangat indah. Walaupun ia bukan tipe anggun. Malah ia sering mengupil, menguap, bahkan sendawa sembarangan. Tapi entahlah, aku mencintai setiap hal yang menempel padanya.

 

“I love you.”

 

Ia melirik ke arahku.

 

“Greasy Tree, sudah jutaan kali kau mengucapkan kalimat itu kepadaku.”

 

“Dan setiap kali aku mengucapkannya aku benar-benar serius tentang itu.”

 

Ia hanya tersenyum.

 

“I love you i love you i love you i love you. So much. I really do.”

 

“Pssttt, stop being noisy.”

 

Ia menghadapkan wajahnya ke arahku lalu meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.

 

“Say you love me too, for once.”

 

Ia tersenyum malu. Wajahnya merah. Sekali lagi, ia mencium bibirku singkat.

 

“Eyyy, you do not love me.” Godaku.

 

“No. I love you too, soooooooo maawwcchhhhh.”

 

“I want more!”

 

“Eh?” Bingungnya.

 

Aku merapatkan tubuhnya ke sofa.

 

“AI – EL-OUW-VI-I-WAY-OUW – YU.” Ejaku di depan daun telinganya.

 

Hanya satu senti jarak wajah kami. Aku menatap intens ke dalam bola matanya dan ia hanya balas menatap polos. Hingga akhirnya aku menyentuhkan bibirku ke bibirnya dan ia membalasnya. Tuhan, terima kasih sudah menghadirkan sosok seorang Park Chorong ke dalam hidupku.

 

We came across a farewell when we loved the most

When we were the happiest

Because you were overflowing me

I’m sorry I couldn’t hold you back

 

Tes… tes…

Dua tetes air mata terjun dari mataku.

“WHUT DA FCKIN HELL!!! AAAAAAAAA!!!!!!!”

Tuhan kenapa kau sangat keji kepadaku. Kembalikan hidupku. Hentikan semua penderitaan ini.

Aku meyalakan handphone-ku hanya untuk sekedar melihat layar.

Saturday, Dec 15th

4.26 PM


Besok.

Secepat kilat aku memasukan kode handphone-ku dan buru-buru mengertikkan pesan kepada kontak yang ku beri nama ‘Jang Dongwoo’

Are you busy? I hope no. Can you come to her house? I’ll go there right away after fix my apparance. PS: Do not forget to buy some pretty flowers for my beloved rongie. Big thanks, bro.

Setelah ada pemberitahuan terkirim, aku bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi yang untungnya sudah siap pakai dan bersih.

Setelah mencuci muka, mengganti pakaian dan membereskan penampilanku agar tidak terlihat seperti orang stress, aku menyambar helm dan kunci motor lalu berlari menuju basement parkir dan melajukan motor dengan kecepatan yang tidak stabil.

‘St. Whilybeard Graveyard

Aku memarkirkan motorku di depan gerbang tepat di sebelah jazz merah yang sangat kukenali, kemudian berjalan memasuki pemakaman menuju ‘rumah’-nya.

Semakin dekat, figur tubuh Dongwoo makin terlihat jelas.

Aku mengusap pundaknya.

“Yo!”

Ia memukul pelan punggungku ketika menengok.

Kami berdua berdiri di sebelah makam sambil menatap dalam-dalam ke batu nisannya.

“Besok… tepat setengah tahun.”

“Setengah tahun berlalu dan kau masih gila akan kematiannya.” Sahut Dongwoo iba.

“Aku sedang mencoba.”

“Mau sampai kapan?”

“Sampai hal yang terjadi padanya terjadi padaku juga.”

“Kau gila!”

“Memang.”

Sunyi.

Tigapuluh menit berlalu. Kami masih diposisi yang sama. Tidak bergerak ataupun berbicara sama sekali.

Tes… tes…

Perlahan, air mata mulai jatuh lagi. Begitupun dengan tubuhku. Aku berlutut tepat di samping makamnya. Park Chorong, itulah nama yang tertulis di nisan ini.

Aku menangis tanpa kontrol dan menidurkan kepalaku di nisan.

Dongwoo yang tak tahan lagi, hanya mengusap punggungku dan memberikan sebuket bunga.

“Here rongie’s flowers. Tumpahkan semuanya sepuasmu. Yakinkan kepadanya kalau kau sudah hidup bahagia agar ia tenang dan bahagia juga di surga. Berjanjilah kepadaku ini adalah terakhirnya kau seperti ini. Setelah nanti keluar dari gerbang pemakaman ini, kau adalah Nam Woohyun yang selalu bahagia tanpa ada secuilpun raut sedih di wajahnya. Aku pergi dulu.”

Dongwoo pun keluar dari pemakaman. Meninggalkanku. Sendirian. Tenggelam dalam kesedihan yang sangat mendalam.

3 thoughts on “[FF Freelance] Can you Smile?

  1. whoaaahhh daebak ^_^ keren!! siapa sih authornya? pengin aku peluk😀 hahahaa.. bagus banget ff’nya aku kasih 2 jempol dehh😀 heheheee

  2. really so sad,o my god T.T awalnya seneng bgt krna alurnya kya ff genre fluff,trnyta cuma flashback n akhrnya nyesek😥 keren bgt thor

  3. wahhh daebak …ending nya nggak terkira.
    aku pkir mereka ptus ehhh ternyata….ckckckckck tau mau ngomen apalagi pkoknya ini bagusss bgett

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s