Destiny[chapter3]

 

Title : Destiny[chapter3]

Main cast : Kim Myungsoo[infinite]

            Son Naeun[apink]

Rating : PG-15

Recent post : Destiny[chapter1]>>

                        Destiny[chapter2]>>

**********

Senyuman itu bukanlah senyuman, memang dilihat sebagai senyuman yang liar dan menggoda. Hanya dibalik itu banyak sekali mengandung arti dari senyuman itu. Walaupun banyak yang harus ia lalui dan kesulitan macam apapun, dia akan mencoba untuk tersenyum pada orang yang kini didepannya.

Son Naeun.

******************

“aku menyukainya, tidak.tidak. aku tidak menyukainya”

“kau sudah ditakdirkan untuk jatuh cinta padaku Son Naeun”

“kenapa kau melakukan ini?!”

“untung ada Myungsoo, kalau tidak—“

“apa aku bilang aku jatuh cinta padamu, Kim Myungsoo”———————————

——————————

Naeun tersadar dimimpi itu, Ya. Dari semenjak ia kehilangan ingatannya, beberapa gambar tiba-tiba saja muncul. Ia yakin semuanya adalah serpihan dari ingatannya yang dulu, ia mencoba mengingatnya. Tetapi yang ia rasakan hanya sakit.

Naeun memijat sendiri kening kepalanya mengatasi rasa pening ketika ia baru saja bangun dari mimpi itu, hari ini ia memimpikan myungsoo dan seorang gadis, yang ia fikir ia tidak mengenalnya. Bahwa sebenarnya gadis itu Ara,

03.30 ia melirik jam kecil yang ada dimeja samping ranjangnya, dilihatnya Myungsoo berada di sofa kecil itu sedang menutup matanya. Dia sendiri juga tidak tahu sejak kapan Myungsoo tidur disitu?

Ia mulai bergerak kearah lemari dan mengambil selimut yang ada didalamnya, ia bersiasat untuk menghangatkan badan Myungsoo yang mungkin saja kedinginan.

Memakaikan perlahan ditubuh namja itu yang hanya dibalut dengan setelan kaos biasa dan celana  jeans, bibirnya tersenyum terangkat tanpa sadar ketika memakaikannya,

“aku tidak menyangka bahwa naluriku aku adalah orang yang sangat romantis, memakaikan ini kepadamu, seperti di film.” Kekehnya selagi memasangkan selimut itu,

Ia masih memandangi wajah tampan itu, mata yang sedang tertutup seperti tenang dan ada kedamaian, bibir yang tidak bosan untuk senyum kepadanya seakan bisa memulihkan ingatannya. Alisnya, hidungnya, pipinya, semuanya. Ia menyukai semuanya.

Ia masih bergumam asik dengan fikirannya tanpa sadar pikirannya menyuruhnya untuk mendekatkan wajahnya, hingga dekat sampai ia bisa merasakan sendiri nafas Myungsoo yang berhembus tepat diwajahnya, ia angkat wajahnya dan perlahan mengecup kening namja itu,

-cup-

“aku menyayagimu.”

.

.

Namja tampan itu mengerjapkan matanya setelah bangun dari mimpinya, ia memandang sekelilingnya untuk sekedar menyadarkan keberadaanya sekarang.

Ia sedikit kaget ketika Naeun sudah tidak ada diranjangnya, yang ada hanya selimut yang berantakan itu. Ia juga sama kagetnya merasakan hangatnya selimut menjalari tubuhnya. Detik kemudian ia tersenyum memikirkan yeoja yang ia sayangi melakukannya,

06.30 cepat sekali ia bangun? Batinnya sambil melangkahkan kakinya kedalam toilet yang berada dalam ruangan, sekedar mencuci muka dan melakukan kebiasannya. Memandangi dari kaca wajah tampannya(?)

Mungkin dilantai atas? Fikirnya ketika keluar kamar mandi, ia mendengus kesal. Kenapa ia sangat menyukai disana, sangat melelahkan harus menaiki tangga-tangga itu, umpatnya. Diliriknya kursi roda kosong tanpa pemiliknya berada didekat jendela, ia mendecak lagi dan mengambil jaketnya lalu menyusul Naeun,

.

.

Sesuai dugaanya, begitu ia menuju kelantai atas— seperti biasa— dia— ada disana. Dengan rambut panjang sepinggang yang menjuntai dibahunya dengan mata indah lengkap seperti wajah cantik walaupun hanya dari samping,

Myungsoo tersenyum mendapati gadis itu, ia langkahkan kakinya mendekat, ia kembali tersenyum ternyata Naeun sedang memegang gelas berisi susu putih, ia memang pendengar yang baik.

“aku semalam memimpikanmu,” Naeun menoleh sedikit kaget karna ia baru sadar Myungsoo sudah ada disampingnya, ia tersenyum ketika Myungsoo menoleh kearahnya sambil tersenyum,

“mimpi seperti apa?” tanyanya penasaran,

Myungsoo terlihat berfikir, akankah Naeun akan tertawa dengan mimpinya atau apapun itu yang membuatnya malu, “…aku memimpikan, kau mencium keningku..” Pada akhirnya ia mengutarakannya,

Naeun terdiam sebentar, ia langsung mengalihkan pandangannya saat tiba-tiba ia mengingat yang ia lakukan tadi malam, ia mengigit bibir bawahnya,

Kenapa dia bisa tau? Tunggu, tadi dia mengatakan ia bermimpi. Baguslah, aku tidak punya muka bila ia menyadarinya,

Bahwa itu bukan mimpi,

Myungsoo melirik bingung Naeun yang kini tidak menatapnya, kenapa ia sama sekali tidak tertawa? Atau apapun ekspresi. Kenapa ia seperti…. entahlah, dia seperti bersikap aneh. Apakah dia menyembunyikan sesuatu?

“kenapa seperti itu?” tanya Myungsoo,

Naeun menoleh, ia bingung menjawab apa. Apakah mungkin Myungsoo menanyakan ‘kenapa bisa mimpiku seperti itu?’ Ia takut bila ia menjawabnya, Myungsoo akan kembali mengatakan ‘tapi itu semua terlihat sangat nyata’ dan kemudian berujung ‘apa kau yang—‘

“m-mwo-rago?” ucapnya sedikit bergetar karna tidak sanggup melanjutkan khayalannya tadi,

“kenapa seperti itu?” tanya Myungsoo kekeh tidak mengubah sama sekali pertanyaanya,

“e… e… mun-ngkin, itu hanya mi-mpi biasa” ucapnya masih sedikit tertatah mencoba untuk setenang mungkin, tetapi ia sama sekali tidak bisa.

Myungsoo menoleh mendapati jawaban Naeun, “tatap aku.” Tuturnya membuat Naeun sedikit membeku

Bersiaplah untuk mencari jawaban ‘kenapa terlalu nyata’ dan dia akan menyadarinya

Naeun sedikit meneguk air liurnya pelan, sebelum dengan kaku ia menggerakan wajahnya, awalnya ia mengarahkan pandangannya kebawah agar tidak menatap Myungsoo. Tapi ia beranikan mencoba berlakon tidak terjadi apa-apa dan menatap Myungsoo,

Myungsoo menghela nafas, “…bukan mimpi itu yang kumaksudkan, maksudku kenapa wajahmu seperti itu? Aku kira kau akan mentertawakanku,” ucapnya sedikit mengerutkan keningnya,

Naeun terbelalak mendengarnya, sedikit malu didalam benaknya, dengan mulut sedikit terbuka ia mulai tertawa, “ahahaha… iya, kau lucu sekali bisa memimpikan ak-u aku, ya aku. Aku men-cium k-kening m-mu… ahaha” setelah itu ia kembali mengalihkan pandangannya,

Myungsoo mengerutkan keningnya sekali lagi bingung, ini pasti karna lakon Naeun yang sama sekali tak ada mahirnya,

Naeun menoleh tetapi langsung mengalihkan pandangannya ketika Myungsoo sedang menyelidiknya dari tatapannya,

“kenapa kau melihatku?” tanya Naeun masih berusaha tidak gugup sama sekali, padahal dari tadi jantungnya seraya sudah berhenti dan ia tinggal merasakan jantungnya akan copot,

Myungsoo menatap lurus dan sedikit menerawang, “… kau terlihat aneh.”

Naeun hanya terdiam tergeming, bingung disertai rasa kekhawatirannya yang memuncak, dan bingung apakah Myungsoo akan menanyakan hal yang aneh hingga membuatnya susah mencari alasan dan menutupi sgala kegugupannya,

“..baiklah, aku ada urusan sebentar. Kau tau kan, segala ujianku dan ujianmu berantakan selama beberapa minggu ini. ujianku merah semua, kau harus bertanggung jawab” ujar Myungsoo sambil melirik jam tangannya dan kemudian menatap Naeun nakal,

“bertanggung jawab? e…apa kau mau aku menciumu?” Deg! Naeun langsung menutup mulutnya beberapa detik kemudian, entah sejak kapan kenapa tiba-tiba fikirannya mesum(?)mungkin ini semua terjadi karna kejadian malam itu, dia mengutuk dirinya

Myungsoo sedikit bingung dan mengerutkan keningnya, kenapa dia tiba-tiba aneh lagi? ia ingin membalas pertanyaan itu, tapi pada seperdetik kemudian ia langsung mengingat bahwa ia akan meninggalkannya,

“akan kutagih lain waktu saat ku menginginkannya” ucapnya tersenyum nakal,

Senyuman itu bukanlah senyuman, memang dilihat sebagai senyuman yang liar dan menggoda. Hanya dibalik itu banyak sekali mengandung arti dari senyuman itu. Walaupun banyak yang harus ia lalui dan kesulitan macam apapun, dia akan mencoba untuk tersenyum pada orang yang kini didepannya.

Son Naeun.

.

.

Flashback>>

 

Myungsoo melangkahkan kakinya dikoridor serba putih itu, sudah lebih dari separuh harinya ia habisakan digedung putih itu, dan juga sudah lebih dari separuh dirinya sudah seperti mati. Tapi ia tetap bersikukuh tidak akan menampakannya pada Naeun sampai saat yang tepat, tapi itu masalahnya. Dia tidak tahu kapan ada saat yang ‘tepat’

Memandang perlahan pintu itu, ditatapnya pintu itu dengan segala siratan kebencian dengan pintu itu, seperti sudah tidak akan pernah layak ditempati,

Mulai ia julurkan tangannya dan perlahan membuka pintu itu dengan cepat, juga dengan cepat sehingga langsung terlihat olehnya sosok perempuan,

Dengan rambut panjang wajah oval, hidung mancung. Mereka saling menatap

“ada apa kau kesini? Kau ingin berubah fikiran?” Yoo Ara,dengan mata yang masih terbuka diwaktu malam, tidak ada yang tahu apa yang akan ia lakukan sendirian diruangan itu, gadis itu seketika mengulas senyum liciknya mendapati pintu kamarnya dibuka oleh Myungsoo,

Myungsoo tidak menatapnya,kemudian ia menutup pintu kamar itu dan menatap Ara tanpa pindah sedikitpun,

“jika aku berubah fikiran?” tanyanya menatap Ara yang kini sudah tidak menatapnya,Ara hanya mendengus hidungnya,

Ara melihat keluar jendela, “sudah kuduga kau akan meminta pernyataan seperti ini, baiklah. Aku akan menurutinya, walaupun kau sudah ingkar janji aku tetap menyukaimu. Kau ingin mengajukan pembatalan, baiklah. Aku akan setuju, aku juga tidak sabar dia kehilangan nafasnya.” Ujarnya ketus,

Myungsoo geram menahan amarah, yang dilakukannya adalah mengancamnya akan membunuh Naeun. Mengapa ia tidak mengajukan untuk membunuhnya saja?

“dia sudah siuman, kau tidak bisa melepas selangnya.” Sindir Myungsoo tanpa memikirkan apa yang Ara rasakan, toh apa pedulinya dengan orang yang berusaha menjadi pembunuh?

Ara tersenyum mengejek, “aku punya berbagai cara, dengan beberapa detik. Kuyakin dia akan kehilangan nyawanya dalam sekejap” jawabnya

Myungsoo menaruh sedikit ketakutan, tapi ia bersikap seolah dia tidak takut sama sekali, “dengan cara seperti apa?” tanyaya juga bersikap acuh,

Ara kemudian langsung menyorotkan matanya tepat dimata Myungsoo, “apa seorang lawan harus memberi strategi satu sama lain?” sindirnya,

Myungsoo sedikit terhenyak, bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Dalam beberapa jam lagi dia harus melakukan janjinya, sebenarnya dia bukanlah orang yang suka mengingkar janji. Dia selalu berusaha menepatinya, tapi untuk kali ini.. ia benar-benar tidak bisa meninggalkan Naeun,

“obat.” Ucap Ara tiba-tiba membuyarkan lamunan Myungsoo, “dengan obat, aku bisa membuatnya mati bukan? Lihat,aku sangat baik kepada musuhku. Malah kau bukan musuhku, apakah kau mau berteman?” ucap Ara dengan ketus seraya menyindir,

Myungsoo menelan ludahnya, kini apa juga yang harus ia lakukan? Ia ingin melihat Naeun baik-baik saja tetapi juga dengan bersamanya. Ia sangat sangat ingin bersama Naeun,

“aku juga tidak menyangka kau orang yang ingkar janji, dulu sewaktu kecil saat kita berteman dimana kau sedang mengikuti lomba dan aku menelfonmu saat ibuku kecelakaan untuk datang menemaniku sebagai janjimu akan datang kapanpun aku mau. Kau membatalkan perlombaan itu, padahal itu adalah impianmu. Tidak kusangka, seorang Son Naeun bisa mengubahmu menjadi orang yang ingkar janji.” Ucap Ara lagi,

Myungsoo mendengarkannya, ia mendengarkannya dengan jelas. Sangat jelas. Kenangan itupun tersimpan rapi diotaknya. Dulu, ia sangat menyanyangi Ara lebih dari apapun, bila ditanya siapa yang disayanginya setelah orang tuanya. Pastilah Ara. Hanya, semakin lama Ara kian berubah. Ia lebih agresif, pemarah, pendendam. Dulu, ia hanya beranggapan hanya dirinya yang menilai Ara lebih sensitif. Tapi Ara yang kenal dulu bukanlah seperti sekarang,

“baiklah…” jawab Myungsoo membuat Ara menatap Myungsoo dalam, “aku akan melakukan janjiku”

Flashback off>>

.

.

Diliriknya jam tangan yang sudah menunjukan pukul 03.45 pm itu, -Myungsoo, terakhirnya ia bertemu dengan Naeun saat pukul 07.30, dan sebentar lagi akan menunjukan pukul 4.

Dan, ia ingat.. ia ingat mempunyai jadwalnya tersendiri.

Myungsoo menghentikan ketukan jari-jarinya di meja kantin rumah sakit itu, sedari tadi ia sama sekali tidak pindah. Hanya berdiam diri didepan kaca transparan yang megah memandang mobil berlalu lalang.

03.46

Baru saja angka itu berubah, ia mengangguk yakin dan mulai menghentakan kakinya. Ia mulai berdiri

Dan ini saatnya…

.

.

#cklek

Dilihatnya, sosok itu sama sekali tidak pernah berubah. Diruangan outdoor lantai paling atas dari rumah sakit. Itu pasti sudah menjadi tempat favoritnya, lebih dari semua harinya ia habiskan disana, entah mengapa ia sangat menyukainya.

Naeun, masih dengan rambut yang menjuntai kebawah dengan indah juga dengan baju rumah sakit, serta kursi roda yang terlihat rapuh ia masih memandangi kota seoul tanpa bosan,

Myungsoo masih memandagi wajah itu, hingga ia mulai mengembangkan senyumnya ketika sosok yang ia pandang itu menoleh kearahnya.

Tapi gadis itu sama sekali tidak menjawab senyumnya, ia malah mengalihkan pandangannya. Kosong. Tidak ada arti sama sekali,

Myungsoo mulai melangkahkan kakinya mendekati Naeun, hingga mereka sudah sejajar

“dari mana?” tanya Naeun membuka pembicaraan dengan latar suasana yang seperti mencekam dan mematikan

“..dari sekolah tentu saja, aku mengurusi ujianku dan dirimu yang mulai berlangsung kau harus—“

“aku tidak tahu,”

“mwo?”

“aku tidak tahu kalau bohong atau tidak.”

“apa maksudmu?” tanya Myungsoo, entah kenapa Naeun bisa menjadi sangat dingin dan ketus padanya. Hanya dia tidak menyukainya.

“cukup, kau memperlakukanku seperti orang bodoh. Aku tau, dengan kondisiku yang menyedihkan seperti ini yang tidak mengingat siapa dirinya bahkan tidak mempunyai keluarga membuatmu harus mengasianiku. Kau memang orang baik kasian padaku, hanya.. aku tidak suka—“

“apa yang kau bicarakan Naeun-na!” Myungsoo dengan cepat menyadarkan Naeun mendekap kedua pipi yeoja itu dan menatapnya dengan lurus dan tajam,

Naeun berusaha mendorong bahu Myungsoo dengan kedua tangannya, tetapi Myungsoo tetap saja mendekap kedua pipi Naeun tanpa terlepas, Naeun masih mendorongnya sehingga Myungsoo mendorong bahu Naeun agar jatuh kepelukannya,

Tapi tetap saja. Naeun menolaknya, hingga Myungsoo akhirnya tanpa berfikir panjang mendorong tengkuk Naeun, memajukan wajahnya hingga

#plak

Myungsoo melepas dekapannya,

“kenapa kau melakukannya!” dengan nada tinggi Naeun mulai membentak, air matanya perlahan turun

“apa maksudmu melakukan apa?!” juga dengan nada tinggi ia membentak, ia tidak menyukai Naeun tiba-tiba marah tanpa alasan seperti ini, ia ingin sekali menghapus air mata itu tetapi ini lebih baik. lebih baik Naeun membencinya.

“aku tau… kau akan meninggalkanku. Setelah semua ini, kau melakukan terhadapku dan kau ingin meninggalkanku membuatku kembali menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Apa kau sedang mempermainkan perasaanku?” tanyanya sambil menatap kedua pasang mata Myungsoo,

Saling memandang mengartikan satu sama lain,

“jadi itu yang kau tau?” tanya balik Myungsoo mengalihkan pandangannya, “..darimana semua informasi yang kau dapatkan..?” tanyanya lagi

Naeun menatap jalanan sejenak berfikir, “…seorang gadis, dari rumah sakit yang sama. Dia bilang aku pernah mengenalnya juga, dan memang… aku mengingat wajah itu di ingatanku. Kemudian, dia mengatakan bahwa kau yang melakukan semua ini, mengapa aku bisa menjadi kecelakaan hingga lupa ingatan, dan kau merawatku untuk sebagai rasa maaf. Lalu, dia bilang pada akhirnya kau akan meninggalkanku karna sebuah janji. Sebuah janji yang kau buat untuk meninggalkanku…”

Yoo Ara.. diakah orang itu? Pasti.

Myungsoo tersenyum kecut mendengar ucapan Naeun, “jadi, itu yang kau tau?” tanyanya tidak mengubah pertanyaan seakan dia menyembunyikan sesuatu agar membuat gadis itu penasaran,

Naeun memandang Myungsoo yang kini hanya menatap pada pemandangan lurus, “lalu, apa yang belum kuketahui?” tanyanya

“apa yang ingin kau ketahui?” tanyanya balik,

“apa itu semua benar? Tentang janji itu?”

“kau ingin kebenaran?”

“Ya.”

Myungsoo menatap gadis itu, “semua yang dia bilang.. benar adanya. Aku yang membuatmu kecelakaan hingga lupa ingatan, dan aku memperlakukanmu baik karna sebagai rasa maaf dan—“

“kau mempermainkan persaanku. Kau tau, saat itu adalah terbahagia untukku ketika mengetahui masih ada orang yang berada disisiku ketika aku merasa sendirian. Dalam beberapa waktu saja kau membuatku menyukaimu, aku tau karna dalam diriku sudah mengenalmu. Dan dalam beberapa waktu kau sudah membuat jantungku berdegup hingga aku menyadari dalam beberapa waktu tanpa sadar aku mulai mencintaimu…”

Naeun menghela nafasnya tangannya gemetaran hingga ia meng-gigit bibir bawahnya saking ingin menangis,dilihatnya Myungsoo seperti ingin mengucapkan sesuatu tetapi ia menahannya

“..biarkan aku menanyakanmu satu hal. Kuharap ini yang paling jujur dalam semua ucapanmu. Aku mempercayaimu… Myungsoo-ssi, apa tujuanmu melakukan ini?” pertanyaan Naeun dengan susah ia keluarkan dari lidahnya yang keluh

“aku tidak—“

“biar aku selesaikan,” Naeun menarik nafas dalam…, “kau melakukannya- karna kau mencintaiku- atau kasian kepadaku.” Dengan keberanian tekad ia berhasil mengucapkan pertanyaan itu,

Myungsoo ingin berucap kemudian menahannya, ia menatap Naeun, “kau bilang kau percaya kepadaku. Alasan mana yang kauharapkan?” tanyanya kembali menanti jawaban dari Naeun,

“aku.. aku tidak bisa, kumohon.. jujurlah untuk kali ini, aku- aku-“ Naeun sejenak menutup matanya menenangkan diri untuk beberapa detik sebelum ia melanjutkan ucapannya, “..kumohon jawab dengan jujur.., hanya itu yang bisa kuharapkan..”

Myungsoo terdiam sejenak hatinya nyaris sudah seperti tersayat. Bukan. Hatinya benar-benar sudah tersayat ia memandang wajah rapuh yang berada didepannya, wajah itu kian menatapnya dengan sendu menantikan jawabannya,

“aku melakukannya karna…, bila aku mengatakan aku melakukannya karna mencintaimu apa yang kau harapkan?” tanya Myungsoo

Naeun menatap Myungsoo sedikit tersenyum, ia berfikir masih ada harapan untuk itu. Tapi ia masih sedikit takut bila Myungsoo mengatakan itu hanya untuk sekedar harapan palsu padanya,

“jangan mempermainkan perasaanku lagi, Myungsoo-ssi..” tuturnya sendu

“aku tidak—“

“baiklah…” potongnya, ia menarik nafas sambil memikirkan apa ia yakin yang ia ucapkan, ia mengangguk menandakan ia yakin dengan yang akan ia ucapkan, “..aku mengharapkan kau melakukannya karna mencintaiku.. aku berharap bahwa kau akan ada disisiku, menemaniku. Aku tidak mau sendirian lagi” tuturnya sambil menggelengkan kepala dengan sedikit merengek

“bila aku mencintaimu, haruskah aku berada disampingmu?” tanya Myungsoo memandang gadis itu,

Naeun menelan ludah, hatinya bercmpur aduk dan ia hanya ingin menangis, “..tidak bisakah tuhan bersikap adil, setelah aku kehilangan orangtuaku dan aku tidak dapat mengingat  apa yang pernah kulakukan dengan orang yang kusayangi, tidak dapatkan aku bisa mendapatkan rasa sayang dari seseorang…? aku kesepian.. apakah ini memang benar takdirku? Apa bagusya dari jalan hidupku? Apa lebih baik harus kuakhiri saja?” ucapnya menatap memohon kearah Myungsoo,

Myungsoo menatap gadis itu hatinya benar-benar sudah tak kuat dengan sandiwara ini lagi

#cklek

Myungsoo melirik jam-nya. 04.00pm… sudah waktunya,

Yoo Ara.. gadis itu berambut panjang itu membuka pintunya dan menatap Myungsoo Naeun dengan mengulas senyumnya…

.

.

“baiklah… aku akan melakukan janjiku… tapi, bisakah aku meminta tolong?”

“katakan,”

“besok, jam sepuluh pagi kau kekamarnya dan mengatakan—“

“mengatakan kau akan meninggalkannya? Lalu?”

“setelahnya.. aku yang atur, kau hanya perlu datang sesuai kesepakatan yang kita buat.”

“baiklah.”

.

.

2 tahun kemudian>>

Naeun memandang pemandangan yang terlihat jelas walaupun dengan penghalang kaca transparant yang berada didepannya, kemudian ia baru tersadar dari lanturan khayalan yang tiba-tiba terbesit difikirannya,

Ia menggelengkan kepalanya, ia edarkan matanya mencari sosok yang ia cari. Matanya terhenti ketika menangkap satu sosok yang sedang menatapnya, Naeun meghampiri sosok itu,

Saling menatap beberapa detik seakan berbicara dari hati kehati, membalas senyum satu sama lain, dan ia memajukan badannya kemudian memeluknya. Dengan lembut ia ucapkan,

“gomawo… sudah berada disisiku. Membuatku tidak merasa kesepian…”

Namja itu tersenyum dibelakang wajah Naeun, “cheodo gomawo… terimakasih sudah percaya padaku…”

Naeun merenggangkan pelukannya, “apa rencanamu hari ini, Taemin-ssi…?”

.

.

TBC

Mohon berikan beberapa komentar neee^^>>

21 thoughts on “Destiny[chapter3]

  1. Hah taemin?? Knpa bsa taemin yg nemenin naeun? Brati myungsoo bner” ninggalin naeun donk? Huhuhu😥
    terus naeun gmana? dah kembali blm tuh ingatanya?
    Aduh makin penasaran nih, ^^

    next chapt d tunggu, jangan lama” ya. . .😀

  2. feelnya ngena bgt masa thor;;_,;)/|| penasaran sama taemin yang tiba” dateng(?) next chap jangan kelamaan ya thor/? *maksa kkk╰(●ε●╰)

  3. astaga~ makin seru nih,apalagi ditambah ada taemin oppa nongol kkk~
    lah 2taun kemudian,myungsoo oppanya kemana? apakah hati naeun berpaling? ditunggu part 4 dan part-part selanjutnya thor🙂

  4. Ping balik: Destiny[chapter4] | I Love Kpop FanFiction

  5. Ping balik: Destiny[chapter5:A end] | I Love Kpop FanFiction

  6. Ping balik: Destiny[chapter5:B ENDING] | I Love Kpop FanFiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s