Destiny[chapter2]

Image

Title  : Destiny[chapter 2]

Main cast : Kim Myungsoo (infinite)

                        Son Naeun (apink)

Rating : PG-15

 

recent post : destiny(chapter1)>>

 

*************

.

hatinya berdesir,

Aku mungkin tidak mengenalimu. Tapi, hatiku mengatakan aku mengenalmu. Aku hanya berharap, jangan tinggalkan aku…..

***************

Cerita sebelumnya :

Myungsoo masih menatap lekat Naeun yang tersenyum kearahnya, ia menyerahkan kopi yang ada ditangan kirinya. Bunganya masih disimpan dibelakang dengan eratan tangan kananya,

Naeun memadang kopi itu, kemudian ia menatap Myungsoo. Tersenyum. Dan ia mengambilnya, sedikit menghirupnya. Dan perlahan ia mulai mencicipi kopi itu…

“aku menyukai ini,” ucapnya dan menatap Myungsoo, tersenyum

51% untuk mengenaliku.

Myungsoo dengan yakin ia hendak mengeluarkan bunga yang ada ditangan kananya ketika,

“tapi… anda siapa?”

.

.

Myungsoo melangkahkan kakinya perlahan sesuai dengan urutan tangga yang ia lalui, disetiap pijakan tangga baru ia selalu memikirkan hal yang berbeda. Seperti semua menyerang dirinya,

Fikirannya menjadi terbebani, ia mengingat ucapan Yoo Ara setelah kejadian yang membuat Naeun hampir kehilangan nyawanya,

“aku tau kau membenciku, hal yang kau pasti inginkan adalah melihatku mati. Aku tau itu, tapi aku tidak akan menyerah,” yoo Ara memandang Myungsoo yakin,

Myungsoo meletakan mangkok putih berisi bubur yang bahkan belum habis setengahnya diatas meja sampingnya,ia mengambil beberapa pil yang berada didekat piring itu, dan mengambil gelas air putih itu dan menyodorkan keduanya kepada Ara,

Ara menatapnya benci, ia tidak suka bahwa Myungsoo mengacuhkan ucapannya, “kau tau Kim Myungsoo, aku bisa melakukan segala cara.” Ara mendorong beberapa pil yang ada ditelapak Myungsoo yang ia sodorkan,

Myungsoo hanya menurut dan ingin kembali meletakan obat itu setelah Ara menolaknya untuk meminum obat, tetapi Ara tiba-tiba menahan pergelangan Myungsoo ketika ia ingin menaruh obat itu di nampan,

“ayahku menjadi dokternya, kau ingat bukan?” ucap Ara dan mengambil obat dan gelas yang ada ditangan Myungsoo kemudian meminumnya,

Myungsoo menaruh gelas yang sudah kosong itu ketika Ara selesai meminum obatnya, ia tidak menatap Ara. Melainkan menatap gelas kosong itu, fikirannya sama seperti gelas itu. Kosong.

“aku bisa saja melakukan seperti yang kemarin,” tantang Ara mengingkan raut yang akan dilukiskan Myungsoo

Tapi tetap saja, raut itu tidak tergambarkan, Myungsoo masih saja tidak menatapnya,

“aku akan meminta ayahku untuk tidak merawatnya lagi dan bahkan tanpa bantuan ayahku aku bisa membuat Naeun kehilangan nyawanya.” Ucapnya seperti agar menekan Myungsoo,

Myungsoo menatapnya dengan tatapan kosong, “maksudmu?”

Ara menggidikan kedua bahunya, “kau tahulah, seperti aku bisa melakukan hal yang sama seperti kemarin,”

Myungsoo menatapnya tidak percaya, “terlalu kekanak-kanakan,”

“maka dari itu aku membenci anak-anak, karna sifat mereka kekanak-kanakan,”

“lalu?”

“lalu… aku tidak suka—“

“lalu, kau ingin aku melakukan apa?”

Lamunanya terhenti ketika ia menyadari sudah ada dilantai paling atas, diihatnya pintu yang ada tepat dekat didepannya, ia memandang gagang itu. Rasanya seperti saat itu. Saat menyakitkan ketika ia menyadari Naeun melupakan semuanya,

Dengan tekad akhirnya ia menyentuh kenop itu dan mulai memutarnya sehingga timbul beberapa suara decitan,

Angin menerpa langsung begitu saja ketika ia baru sedikit membukanya. Mengingat sebentar lagi akan musim dingin, pasti angin sudah mulai terhembuskan

Naeun, dia sedang menatap keluar sana. Sangat tenang, damai, beda seperti apa yang ada didalam hati Myungsoo. Berkecamuk, beraduk-aduk seperti membuat beban yang sangat berat untuknya, hingga untuk menyesal saja sudah sangat berat karna terlalu terlambat,

Ia masih memadangi gadis itu dengan seksama, tidak ada gerakan yang menonjol dari gadis itu, menggunakan kursi rodanya dan pakaian rumah sakit berwarna putih itu terlihat ia sedang kesakitan,

Myungsoo mendekatinya beberapa langkah, hingga ia cukup sekarang sudah berada disamping Naeun,

Naeun menoleh kaget kehadiran Myungsoo, ia menatap Myungsoo lama kemudian ia tersenyum, “apa anda juga menyukai ketenangan? Bila iya, anda mungkin sepertiku. Juga, didalam terlalu membosankan dengan ruangan tertutup serasa aku tidak bisa bernafas” ucap Naeun,

Myungsoo mendengarkannya dan menatap Naeun, hatinya terasa tersayat mendengar gadis yang dicintainya mungkin sedang mengalami sesuatu yang lebih berat dari siapapun itu,

Myungsoo mengangguk, “apa ketenangan seperti ini yang kau sukai?” tanyanya sambil menatap Naeun yang kini memandangnya,

Kenapa dari dulu kau tak mengatakannya?aku bisa membawamu ketempat yang lebih indah daripada ini, Son Naeun…

“….anda yang membawakan kopi itu bukan? Betul kan, kurasa aku sudah bisa mengingat dengan baik. untuk kopinya, terimakasih.” Ucap Naeun ketika menyadari ia merasa seperti mengingat sesuatu ketika ia melihat wajah Myungsoo,

Kau terlalu baik mengucapkan terimakasih kepada orang sepertiku,

“saat aku bangun saat itu aku tak mengerti kenapa bisa ada disana, hanya dokter dan suster yang mengunjungiku. Aku merasa kesepian—“

Sama denganku Son Naeun, kosong.

“—hingga aku menanyakan ke dokter apakah aku mempunyai keluarga dan mengapa bisa aku disni, tetapi ia tidak menjawabnya dan hanya tersenyum. Membuatku bingung,”

Sekali lagi, maafkan aku..

“aku benar-benar— tunggu, kenapa kau sangat diam?” tanya Naeun menoleh ketika sedari tadi orang yang ia ajak berbicara tidak sama sekali meresponnya,

Myungsoo tersenyum mendapati gadisnya itu setidaknya bisa ceria dihadapannya walaupun tidak  mengerti apa yang sama sekali terjadi,

Perlahan Myungsoo melepaskan mantel coklat yang menempel ditubuhnya dan ia lekatkan dikedua sisi bahu Naeun,

“cuaca akan memburuk mengingat ini akan musim dingin. Jaga pakaianmu bila kau sering keluar,” ucap Myungsoo setelah memasangkan mantelanya dikedua bahu Naeun,

Naeun tersenyum dan mengangguk seakan adalah ucapan terimakasih, “mengapa anda begitu baik padaku?” tanyanya sambil menatap Myungsoo,

Myungsoo menatap pemandangan didepannya menerawang, menikmati angin yang berhembus dengan lembut hingga membuat beberapa suara yang indah untuk dinikmati,

“ini masih kurang cukup dengan apa yang aku perbuat padamu.”

Naeun menaikan sebelah alisnya, “memangnya apa yang kau perbuat kepadaku? Apakah kita saling mengenal sebelumnya?” tanya lagi Naeun,

Myungsoo mengangguk, “kita lebih dari saling mengenal.”

.

.

Tok.tok.

Yeoja itu menghentikan lamunannya dan menoleh ketika mendengar suara ketukan pintu dari kamarnya, wajahnya menarik senyuman ketika mendapati siapa yang mengetuknya,

Namja bernama Kim Myungsoo.

Myungsoo mulai membuka pintu itu dan menutupnya kembali ketika sudah berada didalam, ia menatap Naeun beberapa detik hingga membuat Naeun sadar dan menaikan sebelah alisnya,

“…jadi hari ini kita akan ke sungai han?” tanya Naeun ketika Myungsoo mengalihkan pandangannya beberapa detik kemudian,

Beberapa hari lalu mereka menjadi dekat, apalagi ketika Naeun mengetahui dia dulu pernah mempunyai kenalan, yaitu dengan Myungsoo. Ia menjadi lebih ceria lagi mengingat setidaknya ada orang yang bisa ia ajak bicara,

Myungsoo mengangguk, “kau bilang kau menyukai tempat yang tenang bukan? Aku rasa disana tempat yang terbaik,” jawab Myungsoo dan mulai mendekati ke ranjang Naeun dan duduk ditempat dikursi yang berada didekatnya,

Naeun menghela nafas dengan tersenyum kemudian ia menatap Myungsoo, “aku tidak peduli, yang penting aku peduli masih ada orang yang berada di sisiku. Benar kan?” tanya Naeun masih menatap Myungsoo,

Myungsoo menerawang, kemudian perlahan ia mengangguk,

Kenapa tidak kau katakan untuk menyuruhku disisimu? Apa saja selama ini yang sudah kau sembunyikan? Kau terlalu rapuh untuk menjalani semua ini Naeun-na…

“baiklah, tunggu apa lagi?!” ucap Naeun dengan semangat membawa senyum diwajah Myungsoo yang nanar,

.

.

“minum ini,” Myungsoo menyodorkan segelas kopi hangat yang baru saja ia beli,

“….”

Myungsoo melirik Naeun yang tidak menyadari kehadirannya, ia memajukan kepalanya menatap gadis itu, dia sedikit tersenyum mengingat dulu ia mungkin melakukan ini terlalu sering hingga bahkan tidak menyadari betapa cantiknya Naeun, atau. Dia sangat menyadari betapa parasnya yang menawan dari gadis itu,

“apa kau melamun lagi?” tanyanya ketika Naeun sudah tersadar dari lamunanya, dan kembali membuat jarak diantaranya,

Kini mereka berdua sedang duduk didepan sungai han, menatapi perjalanan derasan genangan air menawan itu ditemani dengan hembusan angin dingin yang seakan menyelimuti mereka berdua,

Naeun menggeleng dan menoleh memandang Myungsoo, “seperti yang kau katakan, kita sangat saling mengenal, kau pasti tahu, apakah aku mempunyai keluarga? Bila iya, aku.. sangat ingin menemui mereka,” tutur Naeun tanpa mengalihan padangannya yang kini menatap sungai han,

Myungsoo menghela nafas dan mengikuti pandangan Naeun. Sambil memikirkan sesuatu, memang sudah seharusnya Naeun juga menanyakan keluarganya. Tapi apa yang harus ia bilang? Ayah ibunya sudah meninggal. Selama ini ia hidup dengan bekerja paruh waktu disebuah cafe, apakah dia harus mengatakan itu juga?

Bayangkan saja kau tak ingat siapa dirimu? Kau pasti mengharapkan bahwa kau mempunyai banyak orang yang menyanyangimu. Tapi ternyata itu salah, tidak ada yang menyayangimu, semua orang seperti tidak menginginkanmu hidup. Layaknya tidak ada yang terjadi bila kau ada ataupun tidak,

Myungsoo berdehem setelah beberapa waktu ia terdiam, sambil memandang sungai han ia mulai berucap,

“…. ayah ibumu sudah meninggal saat penerbangan menuju rumah nenekmu, saat itu kau masih kecil dan saat kau bercerita kepadaku, kau mengatakan bahwa ingatanmu tidak terlalu jelas…” ujarnya sambil mengingat pada masa dulu Naeun pernah menjelaskan tentang keluarganya, saat dia masih ingat siapa dirinya,

Naeun menoleh kearah Myungsoo, kemudian ia kembali meluruskan pandangannya, terlihat ia menaikan sudut bibirnya dan menunduk,

Ia mengangguk, “itu lebih baik… aku mungkin akan berfikir mereka jahat bahwa mereka tidak menemaniku yang sedang kesulitan, …aku menyanyangi mereka…” ucapnya kemudian menatap Myungsoo yang kini juga memandangnya dengan nanar.

Senyumnya kembali ia pacarkan, berbeda dengan air matanya yang kini mengalir dipipinya, ia sedikit tertawa, “…aku rasa ini debu yang dibawa angin, sangat perih,” ucapnya berbohong sambil menghapus air matanya dengan jarinya sendiri,

Myungsoo mengerti arti dari semua tangisan itu, perlahan ia ulurkan tangannya menuju tangan Naeun yang masih berada dipipinya membuat gadis itu terhenyak,

Ia tersenyum, sebelum ia mendekatkan wajahnya dengan perlahan. Perlahan.. perlahan hingga hidung mereka saling bersentuh ditemani suara angin masih berembus… mendekatkan kembali bibir mereka hingga… tersentuh.

Naeun sama sekali tidak menolak kecupan itu, hatinya berdesir,

Aku mungkin tidak mengenalimu. Tapi, hatiku mengatakan aku mengenalmu. Aku hanya berharap, jangan tinggalkan aku…..

.

.

Kedua pasang mata itu masih asik tertawa menikmati indahnya pemadangan yang kini mereka saksikan, dengan jelas menggunakan mata mereka, mereka melihat seoul sebenarnya. Walaupun hanya dari atas gedung rumah sakit yang terkesan meninggalkan kesan seperti ‘semua orang mempunyai kenangan buruk tersendiri digedung ini’ mereka masih dapat menikmati apa yang kini mereka rasakan,

Selama dirumah sakit, Naeun diwajibkan untuk menggunakan kursi roda mengingat tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya,

Myungsoo menyodorkan satu cangkir yang ada ditangannya kearah Naeun, gadis itu melirik cangkir itu dan menaikan sebelah alisnya,

“meminum kopi tidak terlalu baik untukmu, apalagi dipagi hari seperti ini. menikmati susu hangat, apalagi disuasana seperti ini sangat bagus bukan?” ucap Myungsoo tetap menyodorkannya,

Naeun menimang sebentar, kemudian mengambil cangkir berisi susu putih itu setelah berfikir bahwa apa yang dikatakan(Myungsoo) ada benarnya,

“kenapa kau tidak menolaknya?” tanya Myungsoo tiba-tiba,

Naeun sedikit menyeruput susunya dan melirik Myungsoo bingung, “menolak apa maksudmu?” tanya balik Naeun sambil mengelap sisa susu yang ada dibibirnya dengan punggung tangannya,

Myungsoo sedikit berfikir sebentar dengan matanya yang reflek mengecil, bibir atasnya sedikit terangkat, “ciuman itu, ..kenapa kau tidak menolaknya?” ucap Myungsoo pada akhirnya,

Reflek semburat merah juga tersirat dipipi Naeun ketika mendengar itu, sedikit salah tingkah ia meletakan cangkir itu dibawahnya dan seperti mendesis tersenyum memikirkan apa jawaban yang harus ia katakan,

“ molla.. ” jawabnya dengan malu pada akhirnya,

Mendengar itu Myungsoo sedikit terkekeh pelan dan menatap Naeun bingung, “ molla?” tanyanya mengulang jawaban Naeun,

Naeun mengalihkan pandangannya ketika Myungsoo menatapnya, entah seperti hatinya ingin copot ketika memandang mata indah itu,

“ ehm,” jawab Naeun mengangguk tanpa membalas Myungsoo,

Myungsoo hanya tersenyum melihat tingkah Naeun yang lucu itu, tangannya ia pangkukan pada pagar didepannya,

“molla.. aku hanya merasa, bahwa aku mengenalmu.. tapi pada kenyataanya aku masih belum dapat mengingatmu..” ujar Naeun seraya perlahan mengangkat kepalanya,

“sudah kubilang kita memang saling mengenal bukan?” Myungsoo menoleh kearah Naeun dan menyertakan senyumannya lagi,

Naeun menggeleng, “tapi rasanya berbeda, seperti… seperti didalam sini, aku mengenalnya,” ucapnya sambil menepuk dadanya, “…seperti aku pernah merasakannya…” ucapnya lagi sambil memikirkan sesuatu perasaan,

Sambil menatap Naeun,Myungsoo juga memikirkan sesuatu dengan fikirannya, “..aku senang kau tak melupakannya. Membuatku sedikit,bahagia ”  ucapnya tidak bosan mengukir senyum pada gadis itu,

“ sedikit? “ pancing Naeun sambil memajukan bibirnya,

Myungsoo memutar tubuhnya sehingga berhadapan dengan Naeun, “ kau mau membuatku lebih merasakan dari sekedar bahagia?” Myungsoo menatapnya dalam.

Naeun mengangguk yakin, “ tentu saja, berkatmu aku menjadi lebih ceria. Aku rasa, aku juga perlu membalasnya, “ ucapnya sambil membalas tatapan mata Myungsoo,

Myungsoo mensejajarkan badannya rendah agar bisa menatap Naeun yang kini duduk dikursi roda, perlahan ia mengenggam tangan Naeun. Merasakan sengatan seperti listrik yang tiba-tiba menjalar,

“…jika aku ingin menciummu, apakah kau akan setuju?” tanya Myungsoo mengangkat tangan Naeun yang ia pegang, dan mengarahkannya kewajahnya, lalu… mengecupnya.

Naeun membulatkan matanya menyadari tangannya kini berada digenggaman namja bernama Myungsoo yang kini mengecup punggung tangannya, serta menatapnya dengan matanya begitu yakin,

Tidak tahu harus menjawab apa Naeun hanya mengalihkan pandangannya dari mata yang melekat itu dan mengigit bibir bawahnya,Myungsoo tersenyum dan menurunkan tangan Naeun, ditatapnya gadis itu, ia julurkan tangannya perlahan meraih dagu Naeun lalu menuntunnya agar menatapnya,

Ia kembali tersenyum, “…aku anggap kau menyetujuinya,” dengan cepat memajukan wajahnya, lebih tepatnya memajukan mendekati bibirnya hingga

#CKLEK

Mereka terhenti membuka kedua mata mereka saat ada suara yang janggal, mengikuti arah suara berasal mereka melihat,

Didepan pintu yang terbuka, seorang gadis berambut panjang kecoklatan sedikit tebawa angin dengan mata terbuka merah diikuti mata berkaca-kaca menatap pemandangan didepannya.

Dan gadis itu, tak lain bukan, Yoo Ara.

.

.

Yoo Ara, gadis itu masih saja menaikan senyum kebenciannya sambil menunduk diri tidak menatap namja didepannya yang juga tidak menatapnya hanya menatap keluar jendela dari ruangan gelap itu,

“ kau ingat kau akan melakukannya…” ucap Ara tetap tidak menatap Myungsoo,

Tidak berbeda dari Ara, Myungsoo juga sama sekali tidak menatapnya, “ aku tau apa yang ku lakukan.”

“ kau ingat, seusuai yang kau ajukan aku menyetujuinya. Satu minggu, itu waktu yang kau ajukan dan aku sama sekali tidak keberatan untuk itu, ia akan dirawat disini sampai ia sembuh total dan ditempatkan disebuah apartemen mewah, juga aku tidak pernah akan muncul didepannya. Bukankah itu terlalu menguntungkanmu? ,tapi aku hanya memintamu satu hal untuk—“

“aku mengingat semuanya dengan jelas, tidak perlu kau memberitahuku berulang-ulang” potong Myungsoo dan mulai menatap Ara yang sekarang juga menatap dirinya,

Ara mengangguk mengerti dan berjalan mendekati jendela,

“ kau ingat, satu minggu bukan?” ucapnya bernada penekanan sambil mengarahkan jarinya dipenggerek jendela itu dan membukanya,

“ aku tau itu.” Jawab Myungsoo bangun dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya menuju pintu untuk keluar dari ruangan itu sebelum

“ tunggu sebentar,” tahan Ara membuat Myungsoo kembali berbalik dan menatap yeoja didepannya yang kini menaikan sebelah alisnya,

Yeoja itu menaruh kedua tangannya didepan dadanya, “…kau tidak salah menghitung bukan, waktu 7 hari-mu itu. Berakhir pada—“

“ satu hari dari sekarang.” Potong Myungsoo masih menatap gadis itu lurus,

Ara mengangguk tersenyum senang Myungsoo dapat mengerti bahwa dengan fikirannya, bahwa semuanya akan berakhir esok hari,

“ aku tunggu kau dilantai paling atas, pukul 4 sore.” ucapnya sambil melangkahkan kakinya menuju meja yang ada disampignya dan mengambil sebuah buku yang tergeletak,

“ apa ada hal yang lain(ingin kau katakan)” Myungsoo menatap Ara penuh dengan arti kebencian,

“ tidak ada, aku hanya memastikan bahwa besok kau harus meninggalkannya.”

Myungsoo terdiam sebentar, kemudian menatap kembali Ara,

“Aku tahu itu.”

.

_TBC_

 

Tolong berikan beberapa komentar setelah membaca

 

 

26 thoughts on “Destiny[chapter2]

  1. Ping balik: Destiny[chapter3] | I Love Kpop FanFiction

  2. ihh yang namanya Ara nyebelin ya? kalo bisa aku santet da :p kasian naeun. myungsoo juga,ngapain sih nurut sama ara? huh nyebelin.
    ceritanya makin bikin aku emosi thor🙂

  3. Ping balik: Destiny[chapter4] | I Love Kpop FanFiction

  4. Ping balik: Destiny[chapter5:A end] | I Love Kpop FanFiction

  5. Ping balik: Destiny[chapter5:B ENDING] | I Love Kpop FanFiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s