Destiny[chapter1]

Image

Title  : Destiny

Main cast : Kim Myungsoo (infinite)

                        Son Naeun (apink)

Rating : PG-15

*************

Myungsoo hanya terdiam, “lalu kau tau, mengapa kau melakukan semua ini?” tanya Myungsoo rendah,

“karna aku mencintaimu.”

“itu bukan alasan yang kuat.”

“tapi itu yang menguatkanku untuk bertahan sampai saat ini.”

Image

ini dia main cast kita^^ Myungeun couple!

*************

“hei,” sapa seorang gadis sambil menepuk pundak kanan namja yang kini terduduk dan sedang membuka satu halaman sebuah buku diruang perpustakaan,namja itu menoleh kaget kemudian rautnya berubah menjadi hangat ketika mendapati bahwa yeojanya yang menyapanya,

“apa yang kau lakukan, Kim Myungsoo?” tanya gadis itu seraya mengambil kursi itu untuk duduk disampingnya,

Namja bernama Myungsoo itu menoleh, “cara agar tidak ketahuan selingkuh,” candanya sambil menyentil ujung hidung yeoja disampingnya yang sudah memajukan bibirnya dan menatapnya kesal

Yeoja itu kian cemberut dan memukul ringan namja itu, “oke, terserah, silahkan kau cari yeoja lain. Kalau gitu kita putus,” ucapnya seraya bangun

Namja itu malah menahan gadis itu dan memaksanya duduk disampingnya, memajukan wajahnya dengan cepat, dan dalam beberapa detik

-cup-

Namja itu mencium bibir gadis itu, dan membuat semburat merah dipipi gadis itu dengan malu,ia kembali memukul ringan bahu namja itu,

“micheosso?? Kalau ada yang melihat bagaimana?!aish~” keluh yeoja itu agar menutupi rasa semborat meronanya gadis itu,

“ya~ Son Naeun,naega arra…,” malah jawab Myungsoo sambil menatap gemas naeun yang menatapnya bingung,

“mwo?” tanya naeun,

Myungsoo tersenyum, dan lebih tepatnya tersenyum nakal,

“kau merindukan ciumanku.”

.

.

Myungsoo masih asiknya menggoda naeun yang tengah membaca buku didepannya, mulai dari mengelus pipinya, beberapa kali menyentuh dagu naeun, juga menarik ujung hidung naeun dengan gemas, membuat si-punya kian kesal,

“chagiya~ apa yang kau lakukan dengan…” tiba-tiba seorang yeoja meraih bahu Myungsoo dengan mesra dan menatap naeun dengan merendahkan,

“gwenchanna~ dia tidak semenjijikan itu,Yoo Ara,” jawab Myungsoo kemudian ia mencium pipi gadis itu seperti sudah menjadi kebiasaan, dan untuk keberapa kalinya juga naeun hanya menahan amarah,

Ya. Memang seperti ini hubungannya, sudah menjadi seperti kekasih gelapnya. Bila tidak ada orang, Myungsoo menjadi sangat sering mencubunya, sedangkan didepan orang ia menjadikan dirinya orang yang paling menjijikan,

“oh, geurae? Aku kira dia akan menggigit layaknya anjing,” ucap Ara lagi membuat naeun tambah menahan amarahnya,

“mungkin sebutan anjing terlalu bagus untuknya,benar kan son naeun?” timpal Myungsoo seraya memajukan wajahnya kedepan wajah naeun, kemudian menariknya lagi.

“hei, kau gadis miskin. Kau fikir kau pantas apa sekolah disini?” tanya yeoja itu menaikan alisnya, naeun hanya terdiam mencoba untuk tak terpancing amarah, toh dia tau kalau dia marah Myungsoo tidak akan membelanya,

Tidak ada jawaban, yeoja itu meraih dagu naeun agar menatapnya jelas, “ku ulang. Pantas kah kau disini, gadis miskin?” ulang yeoja itu masih memegang dagu naeun keras, kemudian ia lepaskan cengkraman itu juga dengan keras hingga tersirat merah didagu naeun,

Naeun sedikit meringis, dan melihat Myungsoo dari sudut matanya. Mengharapkan lelaki itu akan sedikit iba dengannya. Tapi toh, tetap sama saja, lelaki itu hanya diam, dan.. melihatnya tersakiti. Memang ia tak mencintainya,

Naeun menatap Myungsoo lurus, kemudian ia melirik yeoja disampingnya bergantian, hingga yeoja itu seperti tersindir,

“kenapa kau menatapku seperti itu ha?menyindir rupanya?” tantang yeoja itu dengan menaruh kedua tangannya didepan dadanya,

Naeun menatap yeoja itu dengan tajam, “aku tidak menyindirmu,mungkin hanya kau saja yang merasa tersindir, Yoo Ara,”ucap Naeun seakan dia sudah tidak punya ketakukan untuk melawan Ara,

Ara mendengar ucapan sindirian itu baru saja ingin memberontak, ia mengangkat tangan kirinya dan mengarahkannya kearah Naeun, Naeun sudah menutup mata hingga Ara menggerakan tangannya dan,

“geumanhe,”tiba-tiba Myungsoo menghentikan apa yang Ara lakukan,Ara menaikan sebelah alisnya dan menatap Myungsoo,

“sayang bila tanganmu nanti terkena pipi gadis miskin ini,”ucap Myungsoo lagi dan membuat Ara sedikit lega,Ara menurunkan tangannya, mendengar itu Naeun juga mulai membuka matanya dan menatap Myungsoo seakan ‘gomawo’, ‘aku tau kau mencintaiku.’,’tapi aku juga tau kau tak mencintaiku’.

Yoo Ara menyenderkan badannya disenderan kursi dan menatap Myungsoo-Naeun bergantian dengan menyelidiki dari sorot mata kedunya,

Hingga Myungsoo mendekatkan wajahnya kearah Ara, lebih tepatnya ke telinganya, sedikit ada hembusan nafas dan, “biar aku urus.” Ucap Myungsoo dengan seduktif membuat Ara sedikit tersenyum menerima perlakuan nakal Myungsoo,

Ara melirik kearah Myungsoo yang sudah sedikit menjauh darinya, ia tersenyum nakal beberapa detik, hingga dia mengalihkan pandangannya kearah Naeun yang daritadi menatapnya sehingga Naeun melemparkan pandangannya keluar jendela,

“untung saja ada Myungsoo arra, kalau tidak sudah habis kau.” Ujar Ara dengan menatap rendah kesekian kalinya kearah Naeun, kemudian dengan cepat ia menatap Myungsoo, “oppa, aku pergi dulu ya. Kau jangan lama-lama dengan gadis busuk ini, arraseo?” Myungsoo mengangguk kemdian Ara bangun dari kursinya dan keluar kelas,

Setelah memastikan Ara keluar kelas, Naeun menatap Myungsoo kesal dan menyenderkan badannya serta mengalihkan pandangannya lagi keluar jendela,

“kau marah?” tanya Myungsoo ketika Naeun tak menatapnya lama,

Naeun sontak menoleh kearah Myungsoo dengan cepat yang sudah tersenyum kearahnya, “jangan tersenyum seperti itu kim Myungsoo,” Myungsoo tetap saja menetapkan senyumnya membuat Naeun menghela nafas, “aish, kenapa bisa aku….” Naeun menanggalkan kalimatnya ketika menelungkupkan wajahnya kedalam kedua telapaknya,

“…kau memang ditakdirkan jatuh cinta denganku Son Naeun,” timpal Myungsoo seolah menggoda,

Naeun mengangkat kepalanya, dan menatap Myungsoo, “memangnya aku bilang aku jatuh cinta denganmu?” tanya Naeun,

“ya mungkin, kau lebih tepat dibilang ‘cinta mati’ denganku.”jawab Myungsoo masih dengan senyuman seksinya,

Naeun hanya menatap Myungsoo aneh dan malu, dan ia akhirnya hanya menghembuskan nafas panjangnya dan mengalihkan pandangannya lagi,

Myungsoo kemudian mengetuk ujung meja dengan ujung jarinya dengan frekuensi yang tak tepat, “hari ini aku kerumahmu,” ucap Myungsoo tiba-tiba,

“mwo?” Naeun tak percaya,

“seharusnya aku sudah kerumahmu malam kemarin, hanya aku mengerti bahwa kau lelah dengan namja-namja yang membayarmua untuk malamnya,” ujar Myungsoo menyindir Naeun yang kesal,

“bilang apa kau?! Apa maksudmua bilang dengan namja membayarku, apa aku wanita murahan dipandanganmu,” umpat Naeun pastinya tidak terima dengan ucapan Myungsoo,

“aku tau kau sudah melakukannya— dengan namja-namja— dengan uang—nya.” Jawab Myungsoo sambil lebih menjauhkan jaraknya dengan Naeun,

Naeun membulatkan matanya, tanpa ia sadari tangannya sudah ia genggam dengan kuat sendiri, “kenapa kau seperti ini? kenapa kau melakukan ini? dan kenapa aku yang harus merasakan ini?” tanya Naeun dengan ucapan setenang ini,

“memangnya apa yang kulakukan?” Myungsoo memajukan jaraknya lagi hingga hidungnya hanya berjarak 5 cm dari hidung Naeun,

Naeun menutup matanya tak sanggup menatap wajah Myungsoo apalagi matanya yang terlalu dekat dengannya, dengan mata tertutup ia mengucapkannya, “kau bersikap manis bila dibelakang Ara, lalu kau menganggapku seperti hewan menjijikan didepan Ara, apa aku semenji—“

~CUP~

Tek…

Tek…

Tek..

 

Myungsoo melepaskan tautannya dibibir Naeun, kemudian ia malah menatap Naeun seperti membunuh,

“sudahku bilang, jangan jatuh cinta denganku.” Ucap Myungsoo bangun dari kursinya meninggalkan Naeun dengan jeritan yang mendalam,

.

.

Naeun Pov.

“jangan jatuh cinta denganku.”

Sudah gila apa rupanya dia? dia menciumku dengan seenaknya, tapi dia menyuruhku untuk tidak jatuh cinta dengannya. Tunggu, apa barusan aku mengaku jatuh cinta padanya? Tidak. aku tidak mungkin jatuh cinta dengan orang sepertinya.

Aku tidak akan pernah jatuh cinta. Aku tidak akan pernah jatuh cinta. Aku tidak—

“AAAAAAAAA——“

#BRUKKK

.

.

Tit—

Tit—

Tit—

Suara indikator dari rumah sakit bergema diruangan serba putih itu, Rumah Sakit. Seorang gadis terbaring sendiri dikasur dengan selang dimana-mana, wajahnya pucat. Perban menempel diseluruh badannya . terlihat lukanya sudah cukup parah,

#cklek

Yeoja yang menggunakan sama, menggunakan pakaian rumah sakit. Perlahan ia melangkahkan memandang gadis yang berada diatas ranjang itu, pelahan… hingga ia sudah berada didekatnya. Ia memandangnya,

Yeoja itu memandangnya sekitar 3 menit, cukup lama… hingga sudut bibirnya mulai menaikan seulas senyuman,

“Son Naeun… eorinmanayo~ (sudah lama tak berjumpa) …bagaimana keadaanmu? Apa kau sakit?” gadis itu tersenyum lagi,Yoo ara

“—pasti sakit.. tapi apa kau tau? Rasa sakit yang kau rasaakan tidak jauh lebih sakit dari sakit yang kurasakan… perban ini.. walaupun aku juga harus kehilangan banyak darah, tapi dengan melihatmua merasakan apa yang kurasakan… sudah cukup.” Ujarnya mengembangkan senyumnya lagi sambil menunjukan perban yang ada dikepalanya,

“—aku tau aku sudah gila, tapi bila kau tak melakukan ini padaku kau tidak akan seperti ini, kenapa kau melakukannya, kenapa kau melakukan ini padaku?!!” teriaknya kemudian turun air mata dari matanya,

“—aku sungguh mencintainya! Sungguh! Aku Sungguh mencintainya hingga aku sakit mencintainya!! Aku yakin cintaku ini lebih besar daripada rasa cintamu kepadanya, tapi kenapa dia memilihmu!! Aku-aku—“ selanjutnya suara yang terdengar adalah suara rintihan tangisan keras, yang mengandung banyak arti.

Yoo Ara, menangis diruangan Naeun dengan rintihan kesakitan. Ia menyesal, bukan karna ia sengaja menabrak Naeun, tetapi ia menyesal menyadari tidak akan ada yang berubah, orang yang ia alasankan melakukan ini tidak akan mencintainya. Kim Myungsoo.

.

.

Wajahnya kian sembab seperti matanya yang kantongnya seperti sudah membendung banyak air mata, Yoo Ara. Gadis itu masih saja menangis ditempat semulanya, tidak bergerak seinchipun.

Ia mengangkat wajahnya, dilihatnya dari lengsernya dia dilantai, Naeun masih menutup matanya diatas ranjang sana, ia bangun dari duduknya.

Menyentuh tangan Naeun yang tersambungkan dengan beberapa suntikan infusan yang melekat di punggung tangannya, ia melepaskan sentuhannya dan kembali menatap Naeun,

Tatapannya kian berubah menjadi yakin, ia  tersenyum nanar dan mengangguk,

Perlahan ia mengangkat tangan kananya menuju wajah Naeun, perlahan… hingga mengenai wajah Naeun, sedikit merapikan poninya,

Menjulurkan jarinya diwajah Naeun, dari dahi.. mata.. pelipis..pipi…hingga ia berhenti disatu titik fokusnya, sebuah alat oksigen yang merangkup hidung Naeun,

Ia tersenyum lagi sebelum menggerakan tangannya, dan dalam satu hentakan

#plek

Alat itu menjadi putus, terdengar bunyi komputer diruangan itu seperti mengalami kerusakan, ia kembali tersenyum..

Ia melihat remote kecil yang ada disamping Naeun, ia mengambilnya dengan tersenyum dan perlahan ia menekannya.

Dalam beberapa detik terdengar suara beberapa orang dengan frekuensi yang tidak tetap mendekat dan terburu-buru.

#brak.

Ara menarikan sudut bibirnya ketika seorang dokter diikuti beberapa pasien membuka pintunya, sang dokter kaget begitu pula dengan suster,

“Nae— Apa yang kau lakukan?!” terdengar suara Myungsoo ketika ia sudah memasuki ruangan itu,sang dokterpun hanya sekilas melihat Ara dan fokus dengan Naeun,

Segera, setelah Ara menekan tombol darurat itu, para dokter dan suster menuju ruangan sana. Mengingat, saat ini Naeun sangat memerlukan oksigen tambahan. Menyadari bahwa hidupnya tidak dapat dipastikan,

Myungsoo dengan kaget ia menghamiri Ara dan memegang bahu Ara dengan cengkraman kuat untuk sahabat kecilnya ini, bahwa ia tak akan menyebutkan apa yang ia fikrikan,

“apa yang kau—“

“geumanhae!” (hentikan) Ara berteriak kepada sang dokter dan suster, tetapi mereka tidak mendengarkannya dan masih fokus dengan beberapa selang yang harusnya menempel pada Naeun terlepas berantakan,

“ikuti aku!!” bentak Myungsoo sambil menarik tangan Ara dengan kuat dan sakit,

#plak

Ara menghentakan tangannya menolak untuk mengikuti ajakan Myungsoo, ia tidak sama sekali menatap Myungsoo, ia malah menatap dokter yang ada didepannya,

“appa….(ayah) geumanhae…” dokter itu seperti mendengar ucapan putrinya, Ara. Sekilas dokter itu memberhentikan kegiatannya, sebelum ia melanjutkannya lagi putrinya berucap,

“biarkan dia mati appa…” Ara memohon lagi,

“Appa…”, tetap saja tak ada respon seperti tak ada yang mendengar suaranya,

“dengarkan— Kalau begitu aku akan bunuh diri!” Ara mengambil gunting yang dipegang sang suster dan menunjukan pergelangan tangannya didepan ayahnya, bahwa ia berniat akan memotong nadi-nya,

“Apa maksudmu melakukan ini?! tidak puas kau menyakiti Naeun!” Myungsoo mulai cemas ketika melihat sang dokter mendengar ucapan Ara dan menghentikan penyembuhannya kepada Naeun yang sedang kritis,

“Terserah! Lebih baik melihat dia mati atau anak-mu sendiri, darah dagingmu. Mati didepanmu.” Ujar Ara sambil mendekatkan gunting berujung tajam itu semakin mendekati urat nadinya,

#plak

Myungsoo melempar gunting itu dari dekat Ara, ia segera menarik tangan Ara dengan keras agar menjauh,

“lanjutkan saja, aku akan bertanggung jawab untuknya” ucap Myungsoo sambil membawa keluar Ara dari ruangan itu,

.

“Apa kau gila?!!”

Segera setelah Myungsoo berhasil membawa Ara keluar dari ruangan Naeun, ia menariknya kekamar rawat Ara. Myungsoo juga harus lebih meladeni Ara dirumah sakit, ia akan membawa banyak alasan bila ia ingin menjenguk Naeun. Mengingat, keluarga Naeun tidak ada yang tahu tentang kejadian ini. jadi tidak ada yang menemaninya,

“…….” tidak ada jawaban dari Ara, ia hanya menatap lantai yang ada dibawah dan tak bergerak sama sekali membuat Myungsoo bingung harus melakukan,

“aku tanya… mengapa kau melakukannya?” tanya Myungsoo mencoba tenang disegala suasana mencekat saat ini, ia memegang kedua bahu Ara dengan lembut,

Perlahan Ara mulai mengankat kepalanya dan menatap Myungsoo lekat, “apa yang kau tuduhkan aku melakukan apa?” tanyanya balik,

Myungsoo menatap Ara berharap, kemudian ia melepaskan tangannya dibahu Ara, “naega Ara.. kau melepaskan selangnya. Kan?” ucap Myungsoo seperti menerawang sesuatu

Ara menatap Myungsoo menunggu Myungsoo akan membalas tatapannya, “..aku melakukannya karna dirimu.” Ucapnya membuat Myungsoo menatapnya,

Myungsoo menatap Ara heran, ia menaikan sebelah alisnya. Sedikit berfikir kemudian ia baru menyadari apa maksud Ara,

“karna kau berfikir aku membecinya?! Aku tidak pernah membencinya asal kau tau.” Ucap Myungsoo, ia melirik ruangan Naeun yang masih ditutup dan ia bersenderkan ditembok putih itu

Ara menggeleng, “bukan itu. Tentang hubunganmu dengannya. Asal kau tau, aku tersakiti selama ini..” rintih Ara sambil menundukan kepalanya lagi,

Myungsoo mengangkat kepalanya melirik Ara yang menudukan kepalanya, ia mendecak tidak percaya, kemudian ia bangun dan mendekati Ara, “asal kau tau! Dia, Naeun yang selama ini tersakiti. Aku akan jujur, jujur saja. selama ini aku berpacaran dengannya. Kau bisa bayangkan dia harus dipermalukan oleh pacarnya sendiri didepan orang lain. Kau harusnya menger—“

“arra…” Ara memotong ucapan Myungsoo membuatnya menaikan sebelah alisnya,

“…mwo??” tanya Myungsoo heran,

Ara menagngkat kepalanya dan menatap Myungsoo, lurus,

“hubunganmu. Hubunganmu dan Naeun, aku dapat melihatnya dari sorotan matamu.” Ucapnya dan menujuk mata Myungsoo,

Myungsoo hanya terdiam, “lalu kau tau, mengapa kau melakukan semua ini?” tanya Myungsoo rendah,

“karna aku mencintaimu.”

“itu bukan alasan yang kuat.”

“tapi itu yang menguatkanku untuk bertahan sampai saat ini.”

.

.

Kepalanya terbentur cukup keras, ditambah dia kehilangan banyak darah.. hal yang kutakutkan adalah hal seperti ini akan terulang lagi, dan yang paling buruk adalah…

Myungsoo menatap keluar jendela dari kamar rawat Naeun, ia yang selama kecelakan ini mengurusi Naeun. Dia bahkan yang membayar semua tagihan rumah sakit ini. walaupun ayah Ara sendirilah dokternya,

“mianhae Naeun na…” tutur Myungsoo sedih sambil menatap Naeun yang masih terbaring memejamkan matanya dari dekat jendela,

Perlahan ia mendekat kearah Naeun dan memandangi wajah cantik itu, dan menghela nafas,

…..itu kemungkinan terburuknya ketika dia terbangun. Dia akan…

“melupakan semua yang terjadi.” Ucap Myungsoo dengan sedih dan menatap Naeun yang masih memjamkan matanya,

Dia ingin melihat mata gadis itu terbuka. Tapi dia tidak mau mengakui kenyataan akan apa semua yang terjadi,bahwa dia…

#sret

Myungsoo terbelalak dengan apa yang barusan saja ia lihat. Ia yakin ia melihatnya dengan jelas. Ia yakin. Sangat yakin. Ia melihat, jari Naeun bergerak!

Segera ia mengambil reomote itu dan menekannya, kemudian beberapa dokter dan suster datang dengan cepat,

“dia menggerakan jarinya!” ucap Myungsoo, dan dokter melirik kearah Naeun dan mengangguk serta menatap Myungsoo,

“dia akan terbangun.”

Tapi masih ada kemungkinan itu tidak akan terjadi…

.

.

Sudah 2 hari sejak Naeun diberitahukan sudah sadarkan diri. Myungsoo. Pasti orang yang menjadi paling bahagia, hanya sampai saat ini ia belum sama sekali menjenguk Naeun,

Ia bisa bertanya kepada sang dokter apa hasil dari ingatan Naeun. Apakah dia mengidap amnesia atau hal baiknya adalah dia mengingat semuanya. Hanya.. masih ada rasa takut dibenaknya yang menempel di dirinya,

Myungsoo mengetuk-ngetukan jarinya kesekian kalinya dengan cepat, pandangannya tertuju pelanggan lain yang ada di cafe tempat ia duduk, ia melirik tempat duduk sebelahnya.

Sebuah buket mawar merah dan kopi panas america kesukaan Naeun saat ia pernah berkencan dengannya dulu, ia menatap barang itu lama kemudian ia berdiri,

Ia mengangguk yakin dan mulai mengambil kopi itu dan bunga kesukaan Naeun itu dan melangkahkan kakinya keluar dari cafe tersebut.

.

.

Gadis berambut panjang menjuntai sampai dadanya itu melirik keluar jendela, dipegangnya buku yang terbuka dikedua tangannya,

Myungsoo masih memandangi yeoja itu. Matanya tidak pernah berhenti untuk menatapi lebihnya paras cantik yeoja itu, yeoja yang ia cintai.

Ia menatap gagang pintu itu,rasa berkecamuk ada dibenaknya. Perlahan ia mendekatkan tangan kanannya dan mulai memegang gagang pintu yang dingin itu.

Ia memutar kenop itu sehingga sedikit berbunyi, dibukanya pintu itu dengan pelan walaupun sedikit terdengar bunyi decitan,

Dilihanya.

Mata itu, mata yang ia rindukan, hidung, bibir yang ia sering kecupi sembarangan, poni yang selalu menjuntai kapanpun… dan wajah poros Son Naeun.

Apakah ia mengenalku? 20% untuk mengenalku.

Naeun menutup bukunya dan melirik kearah Myungsoo yang datang kekamarnya, ia menatap Myungsoo lama. Begitupun dengan Myungsoo. Tidak sama sekali melepas tatapannya hingga,

Tersenyum.

Naeun tersenyum.

40% ia mengenaliku.

Perlahan ia langkahkan kaki kananya, diikuti kaki kirinya begitu selanjutnya dengan derap suaranya.

Myungsoo masih menatap lekat Naeun yang tersenyum kearahnya, ia menyerahkan kopi yang ada ditangan kirinya. Bunganya masih disimpan dibelakang dengan eratan tangan kananya,

Naeun memadang kopi itu, kemudian ia menatap Myungsoo. Tersenyum. Dan ia mengambilnya, sedikit menghirupnya. Dan perlahan ia mulai mencicipi kopi itu…

“aku menyukai ini,” ucapnya dan menatap Myungsoo, tersenyum

51% untuk mengenaliku.

Myungsoo dengan yakin ia hendak mengeluarkan bunga yang ada ditangan kananya ketika,

“tapi… anda siapa?”

.

_TBC_

************

komen untuk melanjutkan part ini=)

 

 

19 thoughts on “Destiny[chapter1]

  1. aaaaa ini keren, pas mau TBC kata katanya ituh loh “Tapi… ada siapa ?” haduh >< kayaknya part selanjutnya seru, ahayde, cepet dilanjutin ya thor😀 DAEBAK!!

  2. Ping balik: Destiny[chapter2] | I Love Kpop FanFiction

  3. Ping balik: Destiny[chapter3] | I Love Kpop FanFiction

  4. Ping balik: Destiny[chapter4] | I Love Kpop FanFiction

  5. Ping balik: Destiny[chapter5:A end] | I Love Kpop FanFiction

  6. Ping balik: Destiny[chapter5:B ENDING] | I Love Kpop FanFiction

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s