[ONE-SHOOT] WHEN TOMORROW COMES

Image

ttile : WHEN TOMORROW COMES

author : BADAI

main cast : son naeun

            kim myungsoo

genre : romance

rating : PG-15

length : one-shoot

 kecengan author : ini author lagi gaenak badan.. cuma pas denger lagunya geeks- how are you jadi kepengen bikin ff oneshoot._. dapet ilham kaliya, curhat dikit gapapkan hiks.. pengen coba myungeun yang udah biasanya banyak shippernya termasuk author._. enjoy read, comment! =)

dan untuk tambahan, tanpa dibuat-buat author nangis lo pas buat, apalagi diakhir cerita._. baca langsung akhir juga gapapa, cuma ga afdol lhoo..

#Not for Silent reader!!!!!

“tunggu!” seorang lelaki menahan langkah seorang gadis yang hendak keluar dari cafe daum di seoul, lelaki itu menghela nafas dan mengadahkan tangannya.

“ada apa?” tanya gadis itu bingung dengan lelaki yang ada didepannya,

“kau, bayar ganti rugi kopi yang tumpah tadi,” ucap lelaki itu mungkin ia adalah salah satu pegawai yang bekerja di cafe daum.

gadis itu masih terlihat bingung, ia sedikit memiringkan kepalanya dan mengecilkan matanya, kemudian matanya membulat, “kau bilang tadi tidak apa-apa kan,” dan gadis itu mencoba untuk melewati jalan disamping lelaki itu, tetapi lelaki itu masih tetap menghalanginya,

“tadi.. aku lupa kalau gelas yang kau pecahkan tadi harganya sangat mahal,” ujar pelayan itu, kalau bisa dibayangkan wajahnya lumayan tampan dan masih muda.

“tapi, kan tetap saja kau bilang tidak apa-apa. lagian aku disini adalah pembeli, kau harusnya menghormatiku.” balas wanita itu dan masih mencoba untuk keluar ketiga kalinya, tetapi pelayan itu masih saja menghalanginya.

“Ya! aku buru-buru bisakah, kau tidak menghalangi pintunya?”,ucap gadis itu menahan amarah. ia mungkin sedang dikejar time deadline.

“kalau gitu gampang saja, bayar ganti rugi” ujar pelayan itu dengan nada tak sopan,gadis itu ingin membalsnya tetapi ia yakin pasti pelayan itu akan menjawab dengan jawban yang sama.

“baiklah.. berapa?” gadis itu mulai mengeluarkan dompetnya yang diambil dalam tas,

“ani, aku bukan mengharapkan uangmu untuk menggantinya,” ujar pelayan itu tetap dengan nada yang dingin.

“ha?” gadis itu kemudian terdiam membelakan matanya tak percaya dengan ucapan yang menurutnya tidak sopan, “baiklah.. kau mau aku menggantinya dengan apa?!” gadis itu mulai menggunakan nada tinggi*paduan suara kali ya*lawak thor-_-*

“oke oke, tidak usah marah-marah, lagipula jika kau membayarnya dengan uang.. kau yakin bisa membayarnya?” ujar lelaki itu dengan senyuman tersembunyi,

gadis itu menatap pelayan itu dengan dingin,”berapa yang kau butuhkan?”

“kau yakin?”

“berapa yang kau inginkan?”
“baik-baik, hem… 2 juta dolar,” ucapnya seperti menantang

gadis itu membulatkan matanya, “bagimana bisa gelas semahal itu?!” gadis itu masih tak percaya.

keadaan di cafe itu sudah jam setengah sepuluh malam, sudah tidak ada pelanggan terakhir. pelanggan terakhir adalah naeun, karna ia terlalu larut dalam laptopnya untuk mengerjakan skripsinya di cafe daum tanpa menyadari waktu. saat ia melihat sekeliling sudah tidak ada pelanggan.

ia datang ke cafe itu sekitar sore pukul 4 dan ia masuk dalam keadaan mengangkat telfon tanpa menyadari saat melangkah didepannya ada seorang pelayan yang memegang gelas, dan.. #praaang!!! gelas itu pecah, pelayan itu meminta maaf dengan ringan kepada naeun, naeun tak menghiraukannya ia hanya menganggukan kepala karna menurutnya yang salah itu dirinya. dan ia langsung duduk dimeja pojokan tanpa mengubris hal tersebut,

 

“kan sudah kubilang kau yakin sanggup membayarnya dengan uangmu?”, pelayan itu mengembangkan senyum kemenangannya, “kalau kau tak sanggup bisa saja aku menguncimu disini.”

naeun melirik sedikit suasana cafe daum, gelap dan sepi. bangku-bangku sudah dinaikan diatas meja, dan hanya ada lampu dari arah dapur, mungkin pelayan yang ada hanyalah pelayan yang ada didepannya. ia tidak bisa membayangkan bahwa ia harus berada disini sendirian.

naeun mencoba membaca nametag pelayan itu ‘kim myungsoo’ “baik maaf myung… so, ajhussi. memangnya cafe ini punyamu?!”

“ya, benar. kau tak percaya? aku bisa melihatkan sertifikat cafe ini atas nama siapa,” myungsoo bersikap acuh tak acuh,

“oke-oke, tak usah.. mungkin aku tak bisa membayar saat ini tetapi ak-“

“handphone,” potong myungsoo
“mwo?”

“mana handphone mu?” ulangnya,

“buat apa? kau ingin mencu-“

“kau mau bermalam disini? sendirian?” , naeun mendelik dan mengambil telfon genggamnya yang ada ditasnya, dan memberinya ke myungsoo

myungsoo terlihat seperti mengetik sesuatu dan mencoba menelfon, dan terdengar dari kantong sakunya telfonnya bergetar dan ia mengembalikan telfon genggam naeun,

“aku sudah menyimpan nomorku di telfon mu dengan nama L, ingat kau harus mengangkatnya bila aku menelfon! kalau tidak, kau bisa aku tuntut” ancam myungsoo terhadap naeun.

naeun menatap sebal, “baik-baik.. kalau gitu, mending tidak aku angkat saja,” naeun bergumam kecil

“kalau kau tak mengangkatnya akan aku teror dan sebarkan nomormu,” ancam tragis myungsoo

“oke-oke…. mian. dan aku sekarang ingin pulang,” naeun segera keluar tetapi myungsoo masih saja menghalanginya,

“mau apalagi?! iya aku janji akan mengangkat telfonmu!” naeun mendecak, kesabarannya pastinya sudah habis dan berhubung dia sangat lelah ia sudah sangat lemas untuk marah-marah.

“bukan, sekarang ikut aku. aku harus mengantarmu pulang,aku tidak mau kau lari dari masalah ini mungkin saja kau ganti nomor,” myungsoo menarik naeun ke belakang cafe. naeun hanya ikut karna cengkraman myungsoo sangat keras dan tegas.

myungsoo dan naeun masuk kedalam ruang ganti baju, naeun membulatkan matanya karna ia juga diajak masuk kedalam ganti baju,

“kau akan tetap menyuruhku masuk?” naeun menatap bingung kesal.

“daripada kau kabur, masuk!” perintah myungsoo mendorong naeun ke ukuran kamar kecil 2×2 meter.

myungsoo menutup pintunya dan menatap naeun, “putar kebelakang,”
“mwo?” naeun mendelik,

“kau mau melihat aku ganti baju?” myungsoo sudah mengangkat sedikit bajunya, dan naeun langsung membalikan badannya,

“lagian ribet banget sih segala gini, lagian aku gabakal kabur ko” naeun kesel gimana sama myungsoo padahal dia sebenernya pengen juga ngeliat myungsoo ganti baju*dasar mesum* apalagi dengan bonus wajah myungsoo yang sangat tampan*author setuju parah-____-*

“heh! gue masih ganti, jangan coba nengok!” tegur myungsoo paska naeun sedikit noleh kebelakang,

naeun terkekeh seneng dapet hiburan, “kalo ga selesai dalam 5 detik aku bakal balikin badan!” naeun mencoba melawan myungsoo.

“dalam 5 detik kau membalik badan akan kubunuh!” ancam myungsoo.

naeun mengurungkan niatnya untuk mengerjai myungsoo, entah kenapa ia malah merasa cepat nyaman dengan namja yang menyekapnya ini, mungkin ia mulai terbiasa.. tapi aneh kenapa bisa sangat cepat.

setelah myunsoo berganti pakaian ia keluar dan menggengam naeun, sebenernya naeun juga ga sedih-sedih banget soalnya kalo dia pulang sendirian naik busway dia bakal khawatir juga kalo kenapa-napa. walaupun pastinya masih ada kemungkinan bakalan terjadi dengan namja yang tiba-tiba menahannya.

dibelakang cafe ia naeun melihat satu motor yang terpakir, motor itu bisa dibilang mahal. bukan salah lagi, ia memang benar pemilik cafe ini. tapi kenapa ia malah menjadi pelayan dan mengapa ia tidak lebih baik mengendarai mobil.

“aku benar-bener cepet, terserah kalo ditengah jalan mau turun. jangan salahkan bila kau mati,” tawar myungsoo.

“ahaha.. engga ko, alamat rumahku di-“

“aku tau.”

“ha? ehee.. kau mana tau.. di-“

“apartemen gangnam lantai 10 nomor 110,” myungsoo langsung menginjak gas.

naeun masih terbelalak mengapa cowo yang ia fikir asing ini bahkan mengetahui alamat rumahnya, ia menjadi penasaran, “em.. myungsoo-ssi .. apakah kita pernah bertemu?”, myungsoo tidak menjawab, “aha! kita pasti pernah bertemu bukan.. aneh ko, bisa kau tau alamatku… oh! mungkin kau kenal dengan orang tuaku,” tebak naeun. myungsoo hanya terdiam.

“lho… ini bukan jalan ke gangnam! bukan!” naeun menyadari bahwa jalan yang dilalui myungsoo bukanlah jalan menuju rumahnya, “kau ingin menculikku ya?!!!”

“kalau kau ingin kabur, turun dari sini” tawar myungsoo,

“oke! kalau gitu aku beneran turun ya..! aku mending mati ditemukan orang lain daripada mati olehmu!”

“jangan-jangan! okeoke,,,.. aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. nurut saja,” ujar myungsoo dengan tak sabar takut naeun akan melakukan perbuatan yang diluar kepala.

lalu mereka berdua sampai di timpat seperti ice skating, dan kedaannya sudah gelap tannpa pengunjung, berkisar jam setengah dua belas malam,

“eoh? ice skating? mau apa kau mengajakku kesini?” naeun terlihat bingung dengan keadaan sekitar.

myungsoo hanya menaruh helmnya, dan menarik tangan naeun. naeun menatap myungsoo sebal sebab ia seperti sudah menjadi ekor peliharaan myungsoo yang diseret-seret pikir naeun kenapa ga sekalian aja dibawa tali sama kalung yang ada bunyinya-_-ntar tinggal meletin lidah kaya anjing,

“permisi, myungsoo-ssi-“

“panggil aku L-“

“…”,naeun kemudian diam sejenak, “myungsoo-ssi-“

“aku bilang panggil aku L!” myungsoo mengehentakan cengkramannya, naeun sedikit meringis,

“baik-baik! L! puas?!” naeun menyerah ketika myungsoo menarik kembali tangannya untuk diseret dan mereka sampai didepan pintu masuk,

“lihat kan!! ditutup, buat apa kau kesini ha?!” naeun mendelik sampai didepan pagar dan terlulis pastinya closed.

“jangan sok tau, ikut sini!” myungsoo menarik lagi naeun._. naeun udah bosen banget beneran kalo ditarik-tarik. myungsoo membawa naeun ketempat belakang stage dari ice skating dan ia seperti mencari sesuatu,

“hem.. biasanya ditaruh diii-“ myungsoo bergumam sendirian mencari sesuatu di pinggiran pot yang ada sebagai hiasan,

“emm.. permisi.. L.. –ssi,” naeun memanggil myungsoo yang masih asik sendiri mencari sesuatu, merasa diacuhkan ia memanggil nama L tetapi tetap saja ia diacuhkan, ia berusaha memanggil lagi tapi tetap saja diacuhkan hingga keempat kalinya,

“kim myungsoo-ssi!!!!!!!” naeun sekeras mungkin ngecek apakah myungsoo conge apa engga.

myungsoo menoleh dengan kesal, “apa?! sudah kubilang panggil saja L!” myungsoo kembali mencari-cari sesuatu.

“tadi aku memangil mu L tetapi kau tak menyahut..” myungsoo tetep ga menyahut, “myungsoo-“

“L!”

naeun mendesah berat, ia malas memusingkan myungsoo atau L tidak ada yang ia pedulikan dengan aslinya siapa orang ini yang baru ia kenal dalam beberapa jam, dan ia seperti merasa disandera. naeun memutuskan untuk diam,

“nah! aku menemukannya,” myungsoo tiba-tiba mengeluarkan kunci dari salah satu tumbuhan pot yang ada disitu dan ia mngukir senyumnya, entah kenapa naeun merasa hangat dengan senyuman itu naeun tanpa sadar tersenyum,

“mengapa kau tersneyum” tanya myungsoo menyadari naeun tersenyum seketika dengan anehnya.

“eoh? engga, kebiasaan.. sering ketawa sendiri. heheh..” jawab naeun sedanya ga musingin mau ngambil alasan walaupun alasan paling absurd.

“dasar aneh,” myungsoo mendekati pintu yang terhubung dengan backstage ice skating tersebut, “kau tadi mengapa memanggil?” myungsoo mencoba memilih dari banyaknya kunci. dan ia memilih satu kunci,

“jadi kau pura-pura tidak mendegar?” naeun mendelik,

“memangnya aku bilang aku tidak mendengar sehingga kau membuat asumsi sendiri?” myungsoo  mencoba kunci kedua, tetapi tetap saja tak berhasil.

“terserah,” naeun tidak peduli dengan apa yang dilakukann myungsoo tepatnya namja sokenal yang niatnya mau nyulik atau ga aneh banget.

“kalo gajadi nanya kau kugantung,” myungsoo masih mencoba kunci keempat, dan tetap saja tak berhasil

“gantung?! iyaiya.. em.. kalo, dari tadi aku ditarik kaya gini trus kamu mau pipis aku gimana?” naeun mencoba nanyain pertanyaan yang absurd walaupun ia tahu digantung itu cuma boongan.

“nah!,” akhirnya kunci kelima berhasil, “kalo pengen pipis? kalo aku pengen pipis kau harus masuk kedalem juga, ko jadi pengen pipis ya? mungkin diingetin sih,” goda myungsoo kepada naeun dan ia membuka gerbang itu.

“kalo gitu anggep aja ga ngomong apa-apa” bantah naeun, yang seperti ditawarin untuk ketoilet sama myungsoo.

“tapi emang ada yang mau aku omongin dan itu apa-apa” myungsoo menggoda naeun dengan memininmkan jarak diantara mereka, naeun hanya kaku tidak sempat dan tak tahu melakukan apa.

lalu dengan cepat myngsoo menarik naeun untuk masuk arena ice skating,myungsoo segera mengambil sepatu di rak,

“eoh? kau mau main gratis ya?”

“anggap saja ini tempat punyaku,” myungsoo menyodokan satu pasang sepatu kepada naeun, naeun hanya bingung menerimanya.

lalu mereka memasuki arena, naeun hanya mengusapkan telapaknya saat ia merasakan angin dingin menyentuh kulitnya, ia pasti belum siap-siap sama sekali,bagaimana tidak tiba-tiba diajak dengan orang yang tidak dikenal.

“sini, cepetan!” myungsoo meneriak naeun yang masih ada dipinggir arena sedangkan myungsoo sudah berada ditengah, lampu sudah menyala.

“jangan bilang kau bahkan belum pernah kesini?!” myungsoo mencoba menebak,

naeun hanya menoleh dan menatap sebal, saat ia melepaskan pegangan dipinggiran, ia malah #bruukk

“hahaha”, myungsoo tertawa dan ia langsung mendekati naeun dan membantu naeun berdiri, “ dasar norak, sudah kubilang saat kesini kau harus sudah mahir, keras kepala.”

“mwo? apa yang kau katakan?” naeun menoleh seperti mendengar ucapan myungsoo, myungsoo hanya menggeleng.

.

“gini lho, bukan!!!!!!!” #brukkk! naeun jatuh untuk keseribu kaliya-_-dan myungsoo sudah lelah untuk mengajarkannya.

“heh, lagian siapa suruh ngajak kesini. emangnya niatmu apasih?” naeun menerima uluran tangan myungsoo yang sudah membantunya berkali-kali.

“aku hanya menetapi janji.”

“mwo?” naeun kurang menjelas pasal myungsoo berbicara dengan suara yang kecil,

“janji.” myungsoo mulai menjauh dari naeun,

“heh, jangan jauh-jauh. kalo aku jatoh gimana?” naeun makin kesel udah disuruh main tapi malah dimarahin mulu gara-gara gabisa.

“jatoh ya, kebawah!” ledek myungsoo masih asik bermain muter-muter kaya balerina-__-

“lawak-.-“ naeun masih kesel dan mencoba sedikit jalan, ia mulai menyemimbangkan dan..

#jreng! untuk pertama kalinya ia bisa jalan diatas ice skating dengan jarak pindah 5 cm, ia senang bukan main.

“heh! heh! heh! jangan terlalu seneng sampe loncat –loncat gitu,” nasehat myungsoo tapi naas ia telat, naeun yang tidak mendengar masih loncat-loncat dan pastinya.. #brukkkkk!!!!
suaranya lebih besar dari sebelumnya, naeun terdiam masih dalam keadaan terjatuh. bisa dilihat naeun menutup matanya.. sepertinya ia pingsan!

myungsoo langsung menghampiri naeun yang masih terdiam, dilihatnya naeun menutupkan matanya. manis. sungguh. itu yang ada difikiran myungsoo, dipukul ringan pipi naeun untuk menyadarkannya.

“son naeun,” myungsoo menggoyangkan badan naeun,

tiba-tiba #grepp!! naeun mendorong myungsoo untuk dipeluknya, myungsoo hanya terbelalak dan naeun hanya cengengesan.

deg

deg

deg

“heh, kenapa jantungmu berdegup?!” naeun sontak langsung melepaskannya.

myungsoo salting, “sotau- itu mah..- sudahlah, ayo kuantar kau pulang!” myungsoo mulai berdiri absurd. myungsoo mengulurkan tanggannya membantu naeun,

“tau darimana kau namaku?” naeun mulai berdiri, “oiya, kau saja tau rumahku mana mungkin tidak tau namaku kan ya.”

myungsoo langsung menuju keluar arena, meninggalkan naeun yang jalan udah kaya siput.dan myungsoo sama sekali tidak melihat kearah belakang, naeun yang masih awkward ia menatap sebal dengan cowo yang sokenal sama dia.-__-b

“lama sekali sih,” myungsoo sudah menunggu lama ia bahkan sudah selesai memakai sepatunya sedangkan naeun baru keluar dari arena,”kaya siput. lemot!”

“kau tau ha?! aku sudah jatuh berkali-kali kau ini tuli atau apa?! seharusnya kau membantuku?!” naeun cuma nyelonos langsung mengganti sepatunya.

setelah selesai naeun mengambil tasnya dan menghampiri myungsoo yang sudah memegang minuman kaleng, dan satu disampingnya. naeun yakin itu akan ditawarkan padanya-_-geer parah.

“masih mau apalagi?! ini sudah jam 2 malam! antar aku pulang!!” naeun nyungut kearah myungsoo.

myungsoo mendesah berat, “duduk. minum” myungsoo menunjuk tempat disamping tempatnya ke naeun untuk duduk dan minum terlebih dahulu.

myungsoo mendesah berat, sedangkan naeun tidak tau harus apa yang ia bicarakan ia mulai meminum minumannya,

“kau benar-benar tidak ingat dengan semua ini?” myungsoo mulai membuka pembicaraan, naeun hanya diam. ia seperti mengingat sesuatu.

myungsoo melanjutkan pembicaraan, “gelas dan ice skating ini tidak mengingatkanmu sesuatu?” tanya myungsoo lagi.

“gelas.. ice skating…?” naeun mulai membuka pembicaraan, “sebenarnya ada sih. cuma itu sudah lama sekali, apalagi dengan ice skating ini. terakhir aku bersama temanku sewaktu berumur 6 tahun.. iya.. kurasa..” naeun menggantung kalimatnya,

“lalu?”

“saat itu aku kesini bersama orangtuaku. tapi tiba-tiba saja seorang anak laki menumpahi minumanku dengan tak sengaja… ck,aku benar-benar kesal sampai aku menangis, kemudian aku benci dengannya. tapi entah kenapa ia malah tersenyum kepadaku.. dan kita bermain ice skating bersama,”

myungsoo terdiam agar naeun melanjutkan ceritanya, “….dulu aku tetap saja tidak bisa. ia menertawaiku dengan puas. dan aku benar-benar marah, tapi pada akhirnya kami kembali tertawa bersama …dan saat itu kejadiaanya ramai, yang kulihat banyak orang berlalu lalang.. dan yang terdengar hanya teriakan tawa, dan aku rasa semuanya sudah menjadi gelap.”

myungsoo tersenyum melihat naeun, naeun pun melihat myungsoo mereka saling menatap satu sama lain dengan dalam, perlahan jarak diantara mereka sirna dan.. #pip suara telfon genggam yang ada di tas naeun berbunyi pertanda batrai habis*aelah ganggu banget sih ni hape*-__-v

myungsoo dan naeun kembali keposisi semula awkward,

“kau ingat seperti apa rupa lelaki itu?” ternyata myungsoo masih mencoba menanya,

“emm dia… em..-“, naeun berdiri sontak, “sudahlah. lagipula sudah lama, ayo pulang” naeun sudah mengambil beberapa langkah. tetapi langkahnya terhenti ketika myungsoo mengucapkan sesuatu,

“akulah lelaki itu.” naeun terdiam kaku. ia benar-benar tidak salah dengar. ia sangat mendengar jelas apa yang myungsoo barusan katakan. ia kemudian membalikan badannya mendapati myungsoo menoleh kearahnya dan mengangguk tersenyum,

.

“jadi kau percaya kan akulah dia?” tanya myungsoo meyakinkan, setelah ia menceritakan semua kejadian belasan tahun yang lalu.

naeun mengangguk tersenyum, “gomawo.. sudah menepati janjimu,” naeun memandang myungsoo dalam, begitupun sebaliknya.

myungsoo mendekatkan wajahnya kearah naeun dan naeun sudah menutup matanya, dan saat bibir mereka bersatu.. myungoo menutup matanya..

.

“ayo pulang. aku benar-benar ngantuk,” ajak naeun ketika mereka sudah keluar dari ice skating, myungsoo mengangguk dan mereka menuju motornya.

naeun langsung memakai helm yang disodorkan myungsoo, “besok.. kita jalan-jalan lagi ya! aku sudah lama pengen ke festival seoul. cuma temanku sudah punya pasangan,” naeun tertawa bersama myungsoo. dan menatap satu sama lain, dan berciuman lagi,

“berarti hari ini hari jadi kita! ingat besok kita harus merayakannya besok! jangan lupa menjemputku!,” ujar naeun yang ada dibelakang myungso, myungsoo sedang mengemudi motor.

myungsoo hanya mengangguk pertanda iya, “anniversary satu bulan kita harus *bla-bla-bla*, myungsoo selalu mengangguk apa yang ia ucapkan.

“….aku ingin berbulan madu di jeju, kau?”

“terserah padamu.” myungsoo bersikap tak acuh padahal dalam hatinya ia benar-benar tersenyum.

“…dan setelah itu kita harus mempunyai anak yang banyak, dan menyisakan sisa hidup kita bersama,” naeun masih mengoceh banyak dibelakang myungsoo, hati myungsoo sungguh tersenyum,

dan ketika myungsoo menikmati betapa indahnya apa yang ia ucapkan naeun benar-benar cahaya terang datang dengan tiba-tiba melenyapkan semua senyuman itu,

#brrraaakkkkkk!!!!!!!!!!!

sebuah mobil besar menubruk motor myungsoo dan naeun keduanya tergulai di sisi kanan, lampu dari mobil masih terang mengalahkan cahaya motor myungsoo yang sudah redup gelap, darah bersimbah dimana-mana.

suara orang terdengar dikerumunan, naeun membuka sedikit matanya mendapati myungsoo berada disampingnya menatap dirinya.

naeun tersenyum pedih, keningnya sama-sama dipenuhi darah tidak berbeda dengan myungsoo, myungsoo membalas senyuman itu seakan menandakan, “son naeun,aku mencintaimu selamanya.”

dibalasnya senyuman myungsoo, “kim myungsoo, terimakasih sudah menpati janjimu.”

dan semuanya menjadi gelap.

****

myungsoo pov.

tiba-tiba ia terjatuh tergulai diatas ice skating, aku sangat bingung tiba-tiba kerumunan orang datang lalu membawanya,

“son naeun! aku janji akan membawamu kesini! aku janjii!!!”

dan aku melihat dari celah sedikit itu, ia mengangguk dan tersenyum.

5 thoughts on “[ONE-SHOOT] WHEN TOMORROW COMES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s